Miyagi Ada di Sampingku
Pukul sebelas lewat empat puluh eman malam, beberapa menit sebelum tahun berganti. Di atas meja yang sudah dibereskan dari sisa nabe dan puding, kini hanya ada keripik kentang yang tinggal setengah, teh barley, dan soda yang belum habis diminum. Dan di sampingku yang bersandar pada ranjang, duduk Miyagi dengan ekspresi yang tidak terlihat senang maupun kesal.
“Sendai-san pernah mukul lonceng tahun baru di kuil nggak?”
Setelah suara datarnya terdengar, bunyi keripik diambil dari bungkusnya menyusul.
“Belum pernah sih. Emang pengin pergi?”
“Dingin. Nggak usah. Aku cuma kepikiran, orang yang pergi hatsumode mungkin pernah mukul lonceng juga.”
“Kalau aku cuma pernah berdoa sama ambil omikuji.”
“Oh.”
Padahal dia sendiri yang bertanya, tapi suaranya terdengar sama sekali tidak tertarik saat memakan sepotong keripik. Ini benar-benar aneh. Miyagi makan nabe dengan tenang, mau duduk di sampingku sambil makan puding bersama, bahkan memulai obrolan nggak penting sendiri. Walaupun ini malam tahun baru, tetap saja itu terasa mustahil.
Belum lagi hari ini dia datang sampai ke tempat kerjaku, dan tetap pulang bersamaku meskipun aku gagal menepati janji untuk menghentikan Mio dan Noto-senpai mendekatinya. Benar-benar aneh. Miyagi bukan tipe orang yang akan melakukan hal baik untukku hanya karena ini malam tahun baru. Mau cuacanya cerah ataupun hujan, dia tetap akan memasang wajah kesal, menendangku, atau menggigitku.
Aku mengulurkan tangan dan menyentuh pipinya. Alisnya sedikit berkerut, tapi dia tidak menjauh. Aku mengusap bibirnya dengan ujung jari, seolah memastikan rasanya, lalu mengecupnya pelan. Setelah menyentuh antingnya dan mencium telinganya seperti tadi mencium bibirnya, bahuku didorong.
“Aku nggak bilang kamu boleh melakukan hal begitu. Sambut tahun baru dengan tenang sana.”
Suara rendahnya menggema di kamar, tapi dorongan di bahuku tidak kuat. Berbeda denganku, Miyagi tidak terlihat menganggap malam tahun baru sebagai sesuatu yang istimewa. Tapi dia tetap mau menghabiskan waktu bersamaku di kamar ini. Dan itu membuatku bahagia sampai ingin semakin dekat dengannya.
Aku kembali mencium bibirnya, memindahkan kehangatan tubuhku pada dirinya yang tadi dipanggil “Shiori-chan” oleh Mio dan “Miyagi-chan” oleh Noto-senpai. Mio dan senpai memang tertarik pada Miyagi, tapi maknanya berbeda denganku. Mereka tidak ingin menciumnya seperti yang kuinginkan, dan tidak ingin menyentuhnya seperti yang kuinginkan.
Aku paham itu. Mereka cuma penasaran seperti apa teman sekamarku dan ingin berteman dengannya. Tapi walaupun aku tahu mereka tidak punya maksud lain, hatiku tidak cukup lapang untuk diam saja melihat Miyagi mulai membangun hubungan baru. Aku ingin melepaskan benang yang mulai menghubungkan Miyagi dengan Mio dan senpai, lalu mengikatkannya pada orang asing yang bahkan tidak kukenal.
Bahkan sekarang pun perasaanku masih belum tenang. Aku takut Miyagi pergi ke tempat yang tidak kuketahui. Aku sadar rasa cemburu ini egois dan kekanak-kanakan, tapi aku tetap ingin menenangkan diriku dengan melakukan hal-hal yang hanya dia izinkan untuk kulakukan.
Kehangatan dari bibir kami yang bertemu terasa nyaman. Tapi itu masih belum cukup. Aku menyentuh bibir Miyagi dengan ujung lidahku. Aku ingin lebih banyak lagi darinya, tapi bibir itu tetap tertutup dan malah menjauh dariku. Aku langsung menggenggam lengannya dan menariknya mendekat, lalu membungkam bibirnya yang terbuka hendak protes dengan ciuman lain sambil menyelipkan lidahku ke dalam mulutnya.
Tanganku masuk dari bawah blusnya, mengusap sisi tubuhnya, dan saat lidahku bertaut dengan lidahnya, Miyagi yang tak bisa protes dengan kata-kata malah menggigit lidahku kuat-kuat dan mendorong bahuku.
“Sendai-san.”
Namaku dipanggil dengan suara rendah.
“Sedikit aja nggak apa-apa kan. Tahun ini juga bentar lagi selesai.”
“Itu tadi bukan ‘sedikit’. Aku udah bilan, sambut tahun baru dengan tenang.”
Miyagi menarik keluar tanganku dari balik bajunya lalu menekannya ke lantai.
“Kalau gitu Miyagi aja yang cium aku.”
“Kita tadi udah ciuman.”
“Tapi bukan Miyagi yang mulai. Kalau pengin aku diam menyambut tahun baru, ya kerja cium aku dong.”
“Menyebalkan.”
Dengan wajah kesal, Miyagi berdiri. Aku sempat panik mengira dia akan keluar kamar, jadi refleks menarik bajunya. Tapi ternyata dia cuma mengambil boneka penguin di atas ranjang dan tidak pergi ke mana-mana.
“Kalau pengin ciuman banget, sana cium aja penguinnya.”
Dia duduk lagi di sampingku sambil mendorong boneka penguin itu padaku. Aku menerimanya dengan pasrah, tapi tentu saja tidak menciumnya. Penguin ini memang nyaman disentuh, tapi tidak hangat ataupun lembut seperti bibir Miyagi, jadi jelas tidak bisa menggantikannya. Kalaupun jadi pengganti, itu cukup saat Miyagi tidak ada di dekatku.
Aku memeluk boneka penguin itu sambil melihat waktu di ponsel. Pukul sebelas lewat lima puluh tujuh. Tahun baru tinggal sebentar lagi.
“Miyagi, lihat ini.”
Aku menampilkan jam besar di layar ponsel lalu menunjukkannya padanya.
“Kenapa harus lihat jam?”
“Aku cuma pengin lihat pergantian tahunnya bareng.”
Sebenarnya aku ingin Miyagi yang menciumku, tapi kalau kami terus berdebat begini sampai tahun berganti, rasanya sayang sekali. Entah nanti aku bisa menyentuh tubuhnya lagi atau tidak, tapi untuk ciuman, itu masih bisa dilakukan setelah tahun baru tiba.
“Aku nggak mau countdown.”
“Nggak perlu countdown. Lihat detik pergantiannya aja bareng, yuk.”
Aku mengembalikan penguin ke atas ranjang lalu meletakkan tangan yang memegang ponsel di atas pahanya. Saat kulihat wajahnya, alisnya sedikit berkerut. Tapi dia tidak berkata apa-apa dan menatap layar ponsel. Kami menatap jam bersama. Waktu terus berjalan, dan tinggal kurang dari lima belas detik menuju tanggal satu Januari. Sesuai ucapannya, Miyagi tidak menghitung mundur. Aku menghitungnya diam-diam dalam hati.
Lima, empat, tiga, dua, satu.
“Selamat tahun baru.”
Saat aku mengucapkannya, Miyagi membalas pelan,
“Selamat tahun baru.”
Aku menarik ponsel mendekat lalu diam-diam mengambil fotonya.
“Bukannya aku udah bilang nggak boleh foto sembarangan?”
Tangannya langsung mencoba merebut ponselku, dan aku buru-buru menyembunyikannya.
“Ini tahun baru, jadi nggak apa-apa dong.”
“Itu bukan alasan.”
“Buat kenang-kenangan satu foto aja nggak apa-apa kan. Sekalian foto berdua juga yuk.”
“Nggak mau,” “curang,” dan berbagai protes bernada tajam keluar dari Miyagi yang mengernyit kesal, tapi aku tidak peduli. Kalau hari terakhir dalam setahun terasa spesial, maka hari pertama tahun baru juga spesial. Bukan berarti semua hal boleh dilakukan, tapi setidaknya mengambil foto seharusnya diperbolehkan.
“Miyagi.”
Aku menarik lengannya dan mendekatkannya. Dia menghela napas panjang dengan sengaja lalu berkata,
“Cuma satu foto.”
Aku pura-pura tidak mendengarnya dan terus memotret kami berdua.
Klik. Klik.
Jumlah fotonya bertambah jadi tiga, lalu empat. Di sela-sela itu beberapa pesan masuk berdatangan. Ponsel Miyagi juga berbunyi, menandakan pesan tahun baru datang.
“Tunggu bentar ya. Aku mau balas pesan dulu.”
Saat aku berkata begitu, Miyagi membalas,
“Aku juga.”
Kami berdua pun menunduk melihat layar masing-masing. Layar ponsel dipenuhi ucapan selamat tahun baru. Pengirimnya teman-teman kampus, Utsunomiya, juga Umina dan yang lainnya. Aku membalas semuanya dengan ucapan serupa.
“Mio sama Noto-senpai bilang titip salam buat Miyagi.”
Tentu saja mereka juga mengirim pesan. Dan di sana bukan cuma ada ucapan untukku, tapi juga untuk Miyagi.
Dari Mio: Tolong bilangin juga selamat tahun baru buat Shiori-chan.
Dari senpai: Tolong sampaikan selamat tahun baru juga buat Miyagi-chan.
Karena aku tidak ingin menyebut “Shiori-chan” ataupun “Miyagi-chan”, aku menyampaikannya secara garis besar saja. Tapi wajah Miyagi malah jadi rumit.
“…Bilangin salam balik aja.”
Suara rendahnya terdengar malas. Aku paham kalau Miyagi sebenarnya tidak terlalu ingin akrab dengan mereka berdua. Mereka memang tipe orang yang sulit dihadapinya.
“Aku balas sekarang.”
Walaupun sebenarnya tidak perlu-perlu amat, aku tetap menyampaikan kata-kata Miyagi pada mereka. Balasannya langsung datang lagi. Mio bahkan bilang ingin ngobrol dengan Shiori-chan, tapi aku mengabaikannya begitu saja.
“Di sini Ami juga bilang selamat tahun baru buat Sendai-san.”
“Bilang nanti ngobrol lagi ya.”
“…Iya.”
Miyagi menjawab pelan lalu terdiam. Aku sebenarnya tidak membenci orang cerewet seperti Mio atau senpai. Kalau suasana terlalu sunyi, aku malah jadi kepikiran apa yang sedang dipikirkan lawan bicara, jadi lebih nyaman kalau ada yang terus mengobrol. Mio memang sering ikut campur dan bikin masalah, tapi keributan seperti itu justru terasa menenangkan.
Tapi kalau bersama Miyagi, rasanya berbeda. Walaupun dia diam atau sedang bad mood, berada di sampingnya tidak terasa melelahkan. Aku memang penasaran apa yang dipikirkannya, tapi aku juga bisa menikmati keheningan bersamanya.
Aku menggenggam tangan Miyagi yang tetap diam.
“Miyagi, mau lihat matahari pertama tahun baru?”
“Mau pergi ke mana?”
“Nggak pergi.”
“Kalau lihat dari rumah masih disebut matahari pertama tahun baru?”
“Nggak tahu juga sih. Tapi harusnya nggak masalah kan kalau lihat dari rumah?”
“Asal banget.”
“Asal juga nggak apa-apa. Kita cari jamnya terus lihat bareng yuk.”
“Nggak usah. Aku mau mandi terus tidur.”
Miyagi berkata tegas sambil melepaskan tangannya dariku lalu mencoba berdiri. Aku memang ingin melihat matahari pertama tahun baru bersama Miyagi, tapi kalau dia tidak mau, aku juga tidak berniat memaksanya. Hanya saja... aku belum ingin waktu berdua kami berakhir begitu saja.
“Kalau gitu nanti aku mandi juga. Setelah selesai, boleh aku ke kamarmu lagi? Kita ngobrol sedikit lagi yuk.”
“Aku ngantuk. Mau tidur.”
“Kalau tidur nanti kubangunin.”
“…Terserah.”
With suara kesal yang sama sekali tidak terasa seperti awal tahun baru, Miyagi keluar dari kamarku. Tak lama kemudian terdengar ketukan pelan di pintu.
“Aku mandi dulu.”
“Oke.”
Saat kujawab sedikit keras, kehadirannya di balik pintu pun menghilang. Walaupun hari terakhir tahun telah berubah menjadi hari pertama tahun baru, Miyagi tetap saja dingin seperti biasa.
Aku merebahkan diri di atas ranjang dan mengambil ponsel yang terus dipenuhi ucapan tahun baru. Setelah membalas beberapa pesan singkat, aku meletakkan boneka penguin di atas perutku lalu mengetik: “Resep ozoni.”
“Kalau osechi terlalu susah sih.”
Walaupun kami tidak melihat matahari pertama tahun baru, masih ada banyak hal bernuansa tahun baru yang bisa dilakukan. Kalau ingin melakukan sesuatu bersama Miyagi yang malas keluar rumah, memasak sepertinya pilihan paling mudah. Aku mulai mencari resep ozoni yang sederhana dari deretan hasil pencarian.
Aku tidak tahu apakah Miyagi mau memakannya, tapi waktu kami belanja bersama dia tidak menolak saat aku membeli mochi. Jadi kalau kubuatkan, mungkin dia akan memakannya. Setidaknya aku ingin percaya dia tidak akan berkata tidak suka makanan khas tahun baru.
Setelah memilih beberapa resep, aku membuka foto Miyagi yang baru saja kuambil tadi. Di foto berdua kami, dia terlihat mengernyit atau memasang wajah cemberut, sama sekali tidak tampak bersenang-singang. Tapi fakta bahwa dia mengizinkanku menyimpan foto-foto itu berarti dia tidak benar-benar menolakku.
Di ponselku sudah ada banyak foto Miyagi. Aku membuka satu demi satu, menelusuri masa lalu. Dan setiap kali sampai terlalu jauh ke masa lalu, aku kembali lagi melihat Miyagi yang sekarang.
Saat aku terus melakukan itu, terdengar ketukan pintu dan suara Miyagi.
“Sendai-san, kamar mandinya kosong.”
“Miyagi, tunggu.”
Aku buru-buru bangun lalu membuka pintu sebelum dia pergi.
“Kalau kamu mau tidur sih nggak apa-apa, tapi nanti habis aku mandi aku bakal ke kamarmu.”
Begitu aku mengumumkan keputusan sepihak itu, kakiku langsung diinjak kuat-kuat. Tapi dia tidak mengeluh apa-apa dan kembali ke kamarnya.
Aku mandi secepat mungkin lalu mengeringkan rambut. Masih mengenakan sweatshirt yang kupakai sebagai piyama, aku pergi ke depan kamar Miyagi dan mengetuk dua kali.
“Masih bangun?”
Tidak ada jawaban dari dalam, tapi pintunya segera terbuka dan Miyagi muncul dengan sweatshirt yang mirip denganku.
“Apa?”
dishonesty “Selamat tahun baru.”
“Tadi juga udah bilang.”
“Bilang berkali-kali juga nggak apa-apa kan.”
“…Selamat tahun baru.”
Dengan nada pasrah, Miyagi membalas ucapan itu lalu menendang kakiku dan menambahkan,
“Ada perlu apa?”
“Tadi aku bilang mau ngobrol lagi kan. Aku kasih pilih—di kamarku atau di kamarmu.”
“Aku udah nggak punya bahan obrolan.”
“Kalau nggak ada ya diem aja juga boleh. Ini hari pertama tahun baru loh, sesekali melakukan hal beda dari biasanya nggak apa-apa kan?”
“Emang tanggal satu Januari spesial banget? Sama aja kayak hari libur biasa. Minimarket sama family restaurant juga tetap buka.”
Miyagi berkata ketus sambil menendang kakiku lagi.
“Ini hari pertama dalam setahun, jadi secara umum termasuk hari spesial dong. Kalaupun nggak spesial, mumpung lagi libur juga, begadang sedikit nggak masalah kan? Pokoknya masukin aku dulu.”
“Kenapa aku harus masukin Sendai-san ke kamarku?”
“Kalau gitu ke kamarku aja.”
Aku tersenyum kecil, dan Miyagi langsung menatapku tajam. Tapi saat kutarik lengannya, dia tetap ikut ke kamarku tanpa protes. Hanya saja mood-nya sedang buruk. Dia memang duduk di sampingku, tapi sama sekali tidak terlihat akan tersenyum.
“Sendai-san. Aku ngantuk.”
Suara datarnya terdengar di telingaku saat kami sama-sama bersandar pada ranjang.
“Kalau ngantuk ya tidur aja di sini.”
“Di ranjang ada penguinnya, nggak ada tempat buat tidur. Aku balik kamar aja.”
“Pen-chan malam ini tidur di lantai kok, jadi aman.”
“Pen-chan itu boneka ini?”
“Iya.”
Aku mengambil boneka penguin yang tergeletak di ranjang lalu memeluknya sambil duduk. Saat aku menepuk kepala boneka itu dan melihat Miyagi, dia malah mengelus kepala penguin tersebut lalu berkata seolah menyalahkanku,
“Kasihan tau.”
“Aku tiap hari sayang sama dia kok, jadi hari ini pasti dimaafin.”
Karena penguin itu hadiah dari Miyagi, aku memang menjaganya baik-baik. Penguin yang biasanya disayang setiap hari seharusnya tidak akan marah cuma karena malam ini tidur di lantai. Dan kalau lantai terasa terlalu kasihan, aku juga bisa menaruhnya di atas meja atau lemari.
“Kalau aku tidur, Sendai-san mau ngapain?”
Miyagi berkata sambil menarik tangan—atau mungkin lebih tepat disebut sayap—boneka penguin itu.
“Kalau Miyagi tidur, aku ikut tidur.”
“Di mana?”
“Di sebelahmu.”
Begitu kujawab, Miyagi langsung memasang wajah tidak suka secara terang-terangan.
“Cuma tidur doang, nggak usah pasang muka begitu.”
“Katanya cuma tidur, tapi Sendai-san gampang banget melanggar janji. Jangan bilang lupa kalau gara-gara kamu melanggar janji hari ini Noto-san jadi datang ke tempat dudukku?”
“Itu bukan hari ini lagi. Udah kemarin.”
“Aku nggak lagi bahas detail kayak gitu. Aku lagi bilang gara-gara Noto-san aku jadi sengsara.”
“Aku tahu. Maaf.”
Kalau kejadian kemarin dibahas lagi, yang bisa kulakukan cuma minta maaf. Tapi buatku sendiri, itu juga bukan kejadian yang menyenangkan. Miyagi bilang kalau Mio atau Noto-senpai datang ke meja kami, dia akan langsung pulang. Jadi saat aku melihat senpai sedang bersama Miyagi, aku benar-benar merasa terpuruk karena kupikir dia akan pergi begitu saja. Aku juga terus kepikiran mereka sedang membicarakan apa, dan itu membuat waktuku terasa seperti neraka.
Sebenarnya Miyagi mau bicara dengan siapa pun tidak masalah. Tapi setiap kali melihat dia bersama orang lain, sisi diriku yang seharusnya tidak ditunjukkan di depan orang muncul begitu saja. Itu adalah diriku yang dipenuhi debu bernama kecemburuan. Diriku yang ingin meninggalkan pekerjaan, menarik tangan Miyagi, membawanya pulang, lalu menanyainya terus-menerus tentang apa yang tadi dia bicarakan.
Sisi diriku yang seperti itu benar-benar buruk. Memikirkan hal begini di hari pertama tahun baru juga rasanya nggak bagus.
Aku menaruh boneka penguin di lantai lalu menggenggam tangan Miyagi. Tapi tangan yang kugenggam segera terlepas saat Miyagi mencoba berdiri. Aku buru-buru menarik sweatshirt miliknya yang tampak ingin kembali ke kamar.
“Selamat tahun baru.”
Kalau dia mau pergi dari kamar ini, setidaknya dia harus memberiku lebih banyak suaranya.
“Itu udah berapa kali sih diucapin?”
“Berapa kali pun nggak apa-apa. Rasanya senang aja waktu aku bilang ‘selamat tahun baru’ terus dibalas ‘selamat tahun baru’ juga.”
Hari pertama tahun lalu. Tahun sebelumnya lagi. Dan tahun-tahun sebelumnya juga. Aku tidak punya ingatan tentang keluargaku membalas ucapan selamat tahun baru untukku. Kalau ke teman memang ada yang membalas, tapi rasanya cuma seperti bel pintu—ditekan lalu berbunyi begitu saja, tanpa makna khusus.
Karena itu, ucapan “selamat tahun baru” dari Miyagi membuatku senang. Ucapan yang dia katakan berkali-kali khusus untukku terasa berbeda dari ucapan orang lain. Kalau dia memang tidak ingin mengatakannya, Miyagi pasti tidak akan mengucapkannya. Dan itu saja sudah cukup bagiku. Aku tidak butuh lagi ucapan yang sama dari siapa pun selain dirinya.
“…Selamat tahun baru.”
Miyagi mengatakannya dengan nada malas lalu menghela napas kecil. Setelah itu, dia melepaskan tanganku yang mencengkeram sweatshirt-nya dan bergumam pelan,
“Aku mau tidur.”
“Tidur di sini aja.”
Walaupun aku mungkin tidak bisa menahannya, aku tetap ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama Miyagi yang mau membalas ucapan selamat tahun baru untukku. Tapi Miyagi malah mengambil boneka penguin dan berdiri.
“Itu kan punyaku.”
Kalau Miyagi benar-benar ingin kembali ke kamarnya, aku memang tidak punya hak untuk menghentikannya. Tapi aku juga tidak mau penguin itu dibawa pergi. Boneka itu pengganti dirinya. Kalau Miyagi tidak ada, setidaknya boneka itu harus tetap ada di ranjangku.
“Soalnya itu wilayah Sendai-san.”
Miyagi meletakkan penguin di atas bantal lalu menunjuk sisi ranjang dekat dinding.
“…Garis batas?”
“Iya. Jangan lewat dari penguin itu.”
Dengan suara kesal, dia menambahkan,
“Pokoknya jangan.”
“Oke.”
“Kalau gitu Sendai-san duluan ke sana.”
Sepertinya aku memang sudah tidak diberi pilihan untuk tetap bangun lebih lama. Sebenarnya aku belum mengantuk, tapi kalau bilang ingin tetap terjaga sedikit lagi, Miyagi pasti akan keluar kamar. Jadi aku menurut saja, mematikan AC lalu masuk ke dalam selimut. Aku menyerahkan bantal pada Miyagi and mengembalikan penguin yang menjadi “garis batas” ke tempat semula. Setelah itu Miyagi ikut berbaring di sebelahku dan mematikan lampu.
“Beneran mau tidur?”
Aku memutar tubuh menghadapnya dan bertanya, lalu suara datarnya langsung menjawab.
“Mau.”
“Terus matahari pertama tahun baru?”
“Nggak lihat.”
Suaranya larut ke dalam gelap, dan kamar pun menjadi sunyi. Aku menutup mata lalu membukanya lagi. Dalam gelap, yang terlihat bukan Miyagi, melainkan siluet penguin.
──Pergi sedikit aja dari situ dong.
Aku menarik boneka penguin masuk setengah ke dalam selimut. Bagian belakang kepala Miyagi jadi terlihat jelas, dan aku mengulurkan tangan. Saat kusisir rambut hitamnya yang seolah menyatu dengan gelap malam sepekat kopi pahit tanpa susu dan gula, Miyagi malah meringkuk seperti ingin menjauh dariku.
“…Sendai-san.”
Suara kecil terdengar.
“Apa?”
“Seinit masuk kuliah──”
Kalimatnya terputus di sana, lalu kamar kembali sunyi. Aku menunggu lama, tapi Miyagi tidak melanjutkan ucapannya. Jadi aku bertanya,
“Luntungannya?”
“Nggak jadi.”
“Ngomong aja. Aku jadi penasaran.”
“Nggak penting juga.”
Selimut ditarik, dan tubuh Miyagi menjauh dariku. Mungkin sekarang dia sudah berada di ujung ranjang sampai hampir jatuh. Aku menarik sweatshirt-nya.
“Kalau nggak penting ya bilang aja.”
Aku menarik sweatshirt itu lebih kuat seolah mendesaknya untuk menjawab, dan akhirnya suara pelan terdengar.
“…Aku cuma kepikiran kalau sejak masuk kuliah, pasti banyak orang ngajak Sendai-san pergi ini itu.”
“Ngajak pergi?”
“Makan atau yang lain.”
“…Jangan-jangan Mio atau Noto-senpai ngomong sesuatu?”
Hal yang baru saja diucapkan Miyagi jelas bukan sesuatu yang biasanya akan dia katakan. Dan fakta bahwa dia sengaja mengungkitnya setelah bilang mau tidur berarti pasti ada alasannya. Kalau dipikir-pikir dari kejadian kemarin, penyebabnya pasti Mio atau senpai.
“Aku nggak dengar apa-apa.”
“Dua orang itu memang suka lebay.”
Aku memang tidak tahu apa yang mereka katakan pada Miyagi, dan mungkin dia juga tidak akan memberitahuku. Tapi aku bisa menebaknya. Dari caranya bicara, salah satu dari mereka—atau bahkan keduanya—pasti mengatakan bahwa aku populer atau sering diajak makan oleh banyak orang.
“Aku nggak peduli kok.”
Suara rendah itu terdengar lagi. Tapi itu jelas bukan suara orang yang benar-benar tidak peduli, dan membuat dadaku terasa nyeri. Namun bersamaan dengan itu, ada sedikit rasa bahagia juga. Miyagi ternyata memikirkanku. Bahkan memikirkan soal banyak orang yang mengajakku pergi. Jantungku berdetak keras. Rasanya seperti Miyagi sedang mengatakan bahwa dia menyukaiku, dan itu membuatku senang.
“Miyagi, lihat ke sini.”
Aku memanggilnya dengan suara selembut mungkin.
“Nggak mau.”
“Jangan peduliin omongan mereka kemarin. Aku nggak bakal jadi milik siapa pun selain Miyagi.”
Aku meletakkan tangan di punggungnya sambil mengucapkan janji itu. Tapi punggungnya malah menjauh dari tanganku. Aku mencoba melingkarkan tangan ke pinggangnya untuk menahannya, tapi langsung ditepis.
“Aku nggak bilang Sendai-san boleh masuk ke wilayahku.”
Miyagi bergerak pelan lalu membalik tubuh menghadapku dan mendorong penguin yang setengah masuk selimut ke arahku.
“Kalau gitu Miyagi aja yang masuk ke wilayahku.”
Aku menaruh penguin di dekat dinding lalu menggenggam tangan Miyagi. Kubiarkan dia menyentuh anting biru di telingaku, lalu kutahan tangannya cukup kuat sampai telingaku terasa sakit sambil berkata dengan jelas,
“Yang bisa mengatur aku cuma Miyagi.”
Aku tidak butuh siapa pun selain dirinya. Dan satu-satunya orang yang bisa masuk ke dalam hatiku hanyalah Miyagi.
“…Nggak bohong?”
“Nggak.”
Setelah aku melepaskan tangannya, Miyagi mengusap antingku seolah memastikan ucapanku. Dalam gelap, ujung jarinya merayap ke leherku, meluncur di atas sweatshirt-ku, lalu berhenti tepat di atas jantungku. Telapak tangannya menempel di sana, dan detak jantungku berdetak begitu keras sampai rasanya bisa terdengar olehnya.
“Janji sekali lagi.”
“Aku nggak akan jadi milik siapa pun selain Miyagi.”
Aku mengucapkannya perlahan agar terdengar jelas olehnya. Tapi sebelum aku sempat mendekat untuk memberikan ciuman janji pada antingku, Miyagi justru lebih dulu mendekat. Napasnya menyentuh leherku, membuat tubuhku menegang. Sesuatu yang hangat dan lembut menempel di kulitku lalu mengisap pelan. Aku menghela napas kecil karena hangat tubuhnya terasa nyaman.
Namun sesaat kemudian rasa sakit menyusul. Ciuman janji dari Miyagi tidak pernah lembut. Dia menggigit leherku kuat-kuat seolah ingin mengukirnya ke dalam ingatan. Refleks aku mencengkeram bahunya. Tapi gigitannya tetap semakin dalam sampai rasanya aku hampir bersuara. Aku menggigit bibir sendiri, kesulitan bernapas, dan semakin menguatkan genggamanku di bahunya.
Baru setelah itu giginya perlahan terlepas dari kulitku, dan tenaga di tubuhku ikut menghilang.
“Aku tidur sekarang. Selamat malam.”
Mungkin dia sudah puas, karena suara kecil itu terdengar santai. Saat kubalas, “Selamat malam,” Miyagi kembali membelakangiku.
◇◇◇
Satu jam. Atau dua jam. Mungkin lebih sebentar, mungkin juga lebih lama. Aku tidak membawa ponsel ke ranjang, jadi aku tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu. Aku mengulurkan tangan ke samping dan menyentuh rambut Miyagi.
Hari ini aku memanggilnya ke kamar, dan di hari pertama tahun baru yang seharusnya berkesan ini, kami tidur bersama. Tapi aku tidak bisa tidur. Entah menatap langit-langit, boneka penguin di dekat dinding, atau bagian belakang kepala Miyagi, rasa kantuk tetap tidak datang sama sekali. Aku memainkan rambutnya dengan ujung jari lalu menariknya pelan. Miyagi tidak bangun. Saat kulepaskan, rambut halus itu meluncur dari sela jariku.
Aku menghela napas kecil lalu memanggilnya pelan.
“Miyagi.”
Mungkin dia tidur terlalu nyenyak, karena tidak ada jawaban. Di atas ranjang tempat kami berbaring bersama, melihat Miyagi yang mungkin sedang berada di dunia mimpi membuatku sadar betapa besar perbedaan perasaan kami. Dalam situasi seperti ini, aku selalu terlalu memikirkan Miyagi sampai tidak bisa tidur.
Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri hanya karena merasakan suhu tubuh yang tidak akan ada kalau aku sendirian. Aku juga bisa mendengar suara napas tidurnya yang kecil, dan itu membuat detak jantungku semakin berisik. Lalu imajinasi-imajinasi yang seharusnya tidak perlu muncul ikut bermunculan, membuat rasa kantuk terbang jauh entah ke mana.
Aku mengambil penguin yang duduk di belakangku lalu memeluknya. Boneka itu terlalu kecil untuk dijadikan guling peluk. Dibandingkan Miyagi yang tertidur lelap di depanku, rasanya tidak bisa diandalkan. Kalau ditekan sedikit saja, tubuhnya langsung penyok pelan, tapi tentu saja dia tidak akan mengeluh seperti Miyagi.
Aku memejamkan mata erat-erat. Akan lebih mudah kalau aku bisa langsung tertidur. Kalau aku bisa menghabiskan waktu sampai pagi bersama Miyagi di dalam mimpi—Miyagi yang selalu sesuai keinginanku—matahari terbit pasti terasa cepat.
Satu penguin. Dua penguin. Tiga penguin. Saat menghitung sampai lima belas, aku malah berpikir kalau penguin itu burung yang tidak bisa terbang, jadi mungkin harus dihitung pakai “ekor” bukan “burung”. Dan karena memikirkan hal tidak penting seperti itu, aku malah jadi semakin segar.
Miyagi benar-benar keterlaluan. Dia membuatku bersumpah tidak akan jadi milik siapa pun selain dirinya, tapi dia sendiri malah tidur nyenyak di sampingku tanpa terlihat akan bangun. Padahal dia orang yang seharusnya “mengaturku”. Dia seharusnya bangun, membuka mata, melihatku, lalu berbicara padaku. Kalau perlu, menciumku juga nggak masalah.
Aku membuka mata lalu menempelkan tangan ke punggung Miyagi. Tapi dia tidak bangun, bahkan tidak bergerak sedikit pun. Kenapa dia bisa tidur senyenyak itu?
──Aku sebenarnya tahu jawabannya.
Karena aku jauh lebih menyadari keberadaan Miyagi dibanding Miyagi menyadari keberadaanku. Mungkin memang begitu. Menyebalkan. Benar-benar menyebalkan.
Aku mengembalikan penguin ke dekat dinding lalu bangun perlahan. Dalam gelap yang bahkan tidak akan memperlihatkan keberadaan kucing hitam sekalipun, aku mencium telinga Miyagi. Aku mengusap bahunya yang keluar dari selimut lalu membisikkan,
“Shiori.”
“Hn...?”
Jawaban samar terdengar, dan Miyagi yang tadi diam akhirnya bergerak. Tubuhnya yang tadinya menghadap samping kini berubah telentang, membuatku refleks menahan napas. Keinginanku agar dia membuka mata malah berubah menjadi keinginan agar dia tetap tertidur saja.
“Nggak apa-apa. Tidur aja.”
“Uhn...”
Mungkin dia sebenarnya tidak memahami perkataanku, tapi suara mengantuk itu tetap membalas. Aku jadi menyesal meninggalkan ponsel di meja. Walaupun memotret dalam gelap pasti sia-sia, aku ingin mengambil foto Miyagi yang sedang tidur. Atau mungkin lebih bagus video. Kalau video, meskipun wajahnya tidak terlihat jelas dalam gelap, aku tetap bisa mendengar suara mengantuknya saat merespons panggilanku kapan saja.
Aku sempat berpikir untuk mengambil ponsel. Tapi saat aku bergerak sedikit di atas ranjang, Miyagi kembali bergerak pelan lalu membalik tubuh menghadapku.
Nggak bisa. Kalau aku ingin mengambil ponsel dari sisi dinding, aku harus melewati Miyagi, dan kalau terlalu banyak bergerak dia pasti bangun. Jadi aku menyerah mengambil ponsel dan kembali berbaring.
“…Shiori.”
Aku memanggil pelan Miyagi yang kini menghadap ke arahku. Kalau terlalu sering memanggil, mungkin dia akan bangun. Tapi aku tetap ingin memanggilnya lagi.
Shiori. Shiori. Shiori.
Karena biasanya aku tidak bisa memanggilnya begitu, aku jadi ingin mengulanginya berkali-kali.
“Shiori.”
Saat kubisikkan lagi, Miyagi—mungkin tanpa sadar—mendorongku dengan kesal. Aku menggenggam tangannya dengan lembut lalu mengecup ujung jarinya. Dan di awal tahun baru seperti ini, aku malah memikirkan hal-hal yang tidak baik, berharap tangan itu akan menyentuhku lagi.
Ranjang memang tempat yang berbahaya. Karena di sini aku teringat pada masa lalu, dan jadi ingin mengulang semua yang pernah terjadi. Aku melewati batas wilayahku dan masuk ke wilayah Miyagi. Aku mendekatkan tubuh lalu mengecup bibirnya pelan. Aku menyentuh pipinya dan mengusap lehernya. Lalu aku ingin menyentuh lebih banyak lagi, jadi tanganku menyelinap ke dalam sweatshirt-nya dan menyentuh sisi tubuhnya. Aku mengusap kulit lembutnya perlahan, lalu menempelkan tangan sedikit di bawah dadanya.
Tapi Miyagi mulai bergerak-gerak, membuatku buru-buru menarik tanganku keluar dari bajunya.
Hari itu aku seharusnya membuat janji baru. Miyagi memang menepati janjinya saat Natal, tapi aku tidak membuat janji lanjutan setelahnya. Hal-hal seperti itu memang bukan segalanya dalam hubungan kami. Tapi kalau bisa terjadi lagi, aku pasti akan senang. Rasanya dengan terus mengulangnya, jarak di antara kami perlahan bisa menghilang.
Mungkin dengan menyentuh tempat-tempat yang tidak diketahui siapa pun, kami sedang meruntuhkan sesuatu yang memisahkan kami. Itu mirip seperti menghancurkan dinding yang memisahkan kamarku dan kamar Miyagi. Semakin banyak kami saling menyentuh, kedua kamar itu seperti semakin melebar dan menyatu, membuat kami bisa melihat sisi satu sama lain yang sebelumnya tidak diketahui. Dua kamar itu akan saling bertemu dan suatu hari menjadi satu.
──Aku ingin itu terjadi.
Agar itu terjadi, aku ingin menyentuh Miyagi lagi. Dan aku juga ingin disentuh olehnya lagi.
“Ayo lakukan lagi kapan-kapan.”
Aku mengucapkan kata-kata yang pasti akan langsung ditolak kalau kusampaikan saat dia sadar penuh. Miyagi mengusap matanya dengan kantuk.
“…Apa?”
Suara seraknya terdengar saat aku membelai rambutnya. Entah aku yang membuat janji atau Miyagi yang membuatnya, aku tidak peduli. Aku cuma ingin ada janji baru di antara kami. Tapi ini bukan janji yang pantas dibuat dengan Miyagi yang setengah tertidur.
“Nggak apa-apa.”
“Ngantuk...”
“Tidur yang nyenyak.”
Setelah mengatakan itu, aku mencium dahinya. Dan Miyagi membalas pelan,
“Mm.”