←
Shuu ni Ichido Kurasumeito wo Kau Hanashi Bab 106 · Chapter 8 — Sendai-san Tidak Membangkang
☰

Chapter 8 — Sendai-san Tidak Membangkang

Shuu ni Ichido Kurasumeito wo Kau Hanashi

CHAPTER 8: Sendai-san Tidak Membangkang

Melihatku yang terus-terusan berusaha tampil sesederhana mungkin, dia bergumam, "Kayaknya aku mau beli syal deh."

"Anget, lho."

Aku menggenggam erat syal yang kupakai. Kepada Maika, aku berbohong dan bilang kalau syal ini kubeli sendiri. Syal ini tak bisa kulepas; ia melindungiku dari angin pagi yang menusuk tulang maupun angin kencang di sore hari.

"Ya iyalah, kelihatan anget banget gitu. Aduh, kapan sih liburan musim semi mulai? Di luar dingin banget, aku cuma pengin santai-satnai di rumah."

"Maika, liburan musim semi nanti kamu nggak pulang, kan?"

"Iya, aku bakal tetap di sini. Main bareng, yuk?"

"Tadi katanya mau santai-santai di rumah, gimana sih?"

"Ya beda dong, main sama santai di rumah itu dua hal yang beda. Ajak Sendai-san juga ya, kita pergi ke mana gitu."

Nama yang seharusnya tak masuk dalam percakapan ini tiba-tiba disebut, membuatku tak bisa dengan mudah bilang "Oke". Namun, mau menolak pun tak bisa, jadi aku hanya menjawab "Iya" seolah itu bukan masalah besar.

"Eh, ngomong-ngomong, kemarin kamu bilang sempat ke kebun binatang bareng Sendai-san, kan? Katanya lihat burung paruh sepatu (shoebill)?"

Syukurlah pembicaraan tidak berlanjut ke rencana liburan musim semi bertiga. Aku pun menjawab apa adanya.

"Iya, lucu banget."

"Seru ya. Aku juga pengin lihat."

"Kapan-kapan kita pergi bareng, yuk."

"Boleh tuh.”

“Bagus juga,” ujar Maika dengan ringan, mengucapkan kata yang tadi tidak sempat keluar dari mulutku. Sendai-san selalu membuat mulutku terasa berat untuk bicara. Tapi, berat itu berbeda dengan saat SMA dulu. Waktu itu, lima ribu yen yang ada di antara kami menjadi semacam belenggu. Apa pun yang terjadi sepulang sekolah tidak boleh diceritakan kepada siapa pun. Aturan seperti itu terasa menyesakkan, membuatku selalu menahan diri untuk membicarakan hal-hal tentang dirinya.

Sekrasang kami sudah kuliah. Tak ada lagi aturan seperti itu. Maika tahu kalau aku dan Sendai-san tinggal bersama. Kalau mau, sebenarnya aku bisa mengatakan apa saja. Tapi tetap saja, ada banyak hal yang tak bisa kuucapkan. Bahkan, aku juga tidak ingin mengatakannya. Tentang Sendai-san adalah rahasia milikku sendiri, sesuatu yang ingin kusimpan hanya untuk diriku. Aku sadar, sikap seperti itu mungkin bukan diriku yang paling baik.

“Maika, kalau ke kebun binatang nanti, kamu pengin lihat apa?”

Aku sengaja mengeluarkan suara ceria, seolah ingin mengusir bayangan Sendai-san dari kepalaku.

“Eh, apa ya? Burung shoebill mungkin, terus harimau sama singa?”

“Harimau dan singa kedengarannya biasa banget.”

“Justru yang klasik itu paling bagus, tahu.”

“Kalau gitu, hewan favoritmu apa?”

“Hm… tupai kali ya. Dulu aku pernah pelihara soalnya.”

Setelah berpikir sebentar, Maika menjawab pertanyaanku tanpa sedikit pun ragu. Berbeda dengan Sendai-san. Dia punya hewan favorit dan bisa langsung menjawabnya. Itu bukan sesuatu yang spesial. Bukan cuma Maika, siapa pun seharusnya bisa menjawab pertanyaan seperti itu. Harusnya hal yang mudah. Semua orang pasti bisa menyebutkan apa yang mereka sukai.

Yang aneh itu──. Aku menarik ujung syalku. Bayangan Sendai-san yang muncul lagi tanpa diminta kusisihkan ke sudut pikiranku, lalu memaksa kakiku yang hampir berhenti untuk terus berjalan.

Kami masuk ke toko buku, dan Maika membeli dua manga. Aku juga ikut membeli satu manga dan satu novel, lalu setelah itu kami pergi membeli kue.

“Katanya Asakura-san, toko yang dimaksud itu yang ini.”

Di depan toko yang lebih cocok disebut menjual perhiasan daripada kue, Maika berkata begitu lalu masuk ke dalam. Aku mengikuti di belakangnya, meski kalau datang sendirian mungkin aku sudah putar balik dan pulang. Tampilan luar dan interiornya terlalu elegan sampai membuatku ragu untuk masuk. Sambil berpikir syukurlah ada Maika, aku menatap etalase penuh kue yang tampak seperti permata.

“Semuanya kelihatan enak, jadi bingung milih.”

Suara Maika terdengar bersemangat. Memang semua kue yang berjajar itu terlihat lezat, sampai sulit menentukan pilihan. Tapi aku sudah memutuskan untuk membeli dua cheesecake.

“Shiori, kamu mau beli apa?”

“Cheesecake──. Eh iya, Maika. Menurutmu, orang yang kelihatannya suka cheesecake bakal benci kue apa?”

“Hah? Pertanyaan apaan itu ribet banget. Kenapa nggak sekalian tanya kue yang mungkin dia suka aja?”

“Item itu juga boleh sih.”

Bukan berarti aku ingin mengerjai Sendai-san. Aku hanya ingin dia makan kue yang enak. Jadi sebenarnya aku tahu, akan lebih baik kalau aku membeli rare cheesecake yang kemungkinan besar memang dia suka. Tapi di sisi lain, aku juga sempat berpikir bodoh… kalau aku menyajikan sesuatu yang dia benci di depannya, mungkin dia akhirnya akan mengatakan apa yang benar-benar dia sukai, bukannya terus mengelak seperti biasanya.

“Daripada main tebak-tebakan begitu, kenapa nggak langsung tanya aja orangnya mau makan kue apa? Lebih gampang daripada nebak-nebak dia nggak suka apa.”

“Orangnya siapa?”

“Sendai-san. …Atau aku salah?”

“…Nggak, benar sih.”

Perkataan Maika memang masuk akal, tapi percuma juga bertanya langsung pada orangnya. Karena Sendai-san selalu bilang dia suka semuanya. Waktu aku pernah bertanya mana yang lebih dia suka, rare cheesecake atau baked cheesecake, dia menjawab suka keduanya. Dia tidak pernah memberitahu yang sebenarnya.

“Aku ambil rare cheesecake sama shortcake.”

Aku memutuskan pilihan kue tanpa melakukan hal sia-sia seperti bertanya langsung padanya.

“Kalau gitu aku mau fruit tart sama lemon pie deh.”

Maika membeli dua. Aku membeli empat. Setelah membeli kue, kami meninggalkan toko yang terlalu elegan itu. Seharusnya Sendai-san masih belum pulang, jadi setelah berpisah dengan Maika, aku langsung menuju rumah.

Aku terguncang pelan di dalam kereta, lalu berjalan melewati jalan tempat Mike-chan—kucing favorit Sendai-san—sering muncul, hingga akhirnya sampai di rumah yang kosong. Kue-kue itu kumasukkan ke kulkas, lalu aku makan seadanya dan mulai merapikan laporan di kamar. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu.

Dok. Dok.

“Masuk aja.”

Begitu aku menjawab dengan suara sedikit lebih keras, pintu langsung terbuka.

“Aku pulang.”

“Selamat datang. Ada kue di kulkas, boleh dimakan kok.”

“Kue? Tumben banget.”

Sendai-san yang baru masuk dan hampir duduk di sebelahku menatapku dengan ekspresi terkejut.

“Karena kamu udah beliin lip tint.”

“Jadi ini ucapan terima kasih?”

“Aku juga lagi pengin makan manis sih.”

“Kamu sendiri udah makan belum?”

Sendai-san bertanya sambil tetap berdiri.

“Belum.”

“Kalau gitu aku bikinin teh, terus kita makan bareng yuk.”

Suara cerianya terdengar ringan, wajahnya pun tampak senang.

“Boleh. Tapi kamu udah makan malam?”

“Aku makan sebelum berangkat kerja part-time tadi.”

“Kalau gitu kita makan kuenya bareng.”

Aku pergi ke ruang bersama mengikuti Sendai-san. Sesuai ucapannya, dia mulai menyiapkan teh, mengisi ketel listrik putih dengan air lalu menyalakannya.

“Kuenya beli di mana?”

“Lihat aja di kulkas.”

Mengikuti jawabanku, Sendai-san membuka kulkas.

“Oh, toko ini. Katanya enak banget kan.”

“Kamu pernah coba?”

“Belum. Mio bilang enak sih, jadi aku sempat kepikiran mau beli setelah ujian selesai.”

Aku tidak membenci Mio-san, tapi dia bukan tipe orang yang benar-benar kusukai. Jadi mengetahui kalau aku tanpa sengaja membeli kue dari toko yang direkomendasikan olehnya untuk Sendai-san… entah kenapa tidak membuatku merasa senang. Padahal ini juga semacam hadiah untuk Sendai-san. Harusnyas aku senang karena bisa membeli kue dari toko yang memang menarik perhatiannya. Mungkin memang begitu seharusnya. Tapi perasaan tidak selalu berjalan sesuai keinginan.

“…Mio-san billing dia makan kue apa?”

Aku bertanya pada Sendai-san yang baru saja menutup kulkas dan sedang mengeluarkan mug serta piring.

“Kalau nggak salah shortcake sama mont blanc.”

“…Sendai-san. Setelah makan kue nanti, aku mau kasih perintah.”

“Perintah? Yang waktu Tahun Baru itu?”

Di pagi hari saat kami tidur bersama di kasurnya, Sendai-san pernah berjanji akan menuruti satu permintaanku kalau aku tetap berada di sisinya. Janji tentang “boleh memberi perintah” itu sampai sekarang masih tertunda.

“Iya. Kamu masih ingat, kan?”

“Ingat kok.”

Dengan suara ringan sampai membuatku ragu apakah dia benar-benar masih mengingat janji itu, Sendai-san meletakkan piring berisi kue di atas meja lalu tersenyum.

“Miyagi, duduklah.”

Sejak menjadi mahasiswa, Sendai-san terlalu tidak keberatan soal “perintah”. Meski begitu, bukan berarti aku ingin mendengar dia menolak mematuhinya, jadi aku perlahan duduk di kursi.

“Tunggu sebentar ya.”

Sendai-san tersenyum manis. Aku memperhatikannya yang sedang menyeduh teh. Bahkan saat melihatnya sedekat ini pun, aku tetap tidak tahu apakah dia benar-benar suka rare cheesecake atau tidak. Aku tidak tahu kue apa yang dia benci. Padahal kami sudah tinggal bersama lebih dari setengah tahun. Tapi dia selalu mengatakan hal-hal yang membuatku tidak bisa membedakan mana yang bohong dan mana yang sungguhan.

──Mungkin saja, dia sebenarnya tidak punya sesuatu yang benar-benar disukai ataupun dibenci.

Harusnya itu tidak mungkin. Tapi Sendai-san terus mengatakan hal-hal yang membuatku mau tidak mau berpikir seperti itu. Karena itulah aku ingin mengenalnya lebih dalam. Namun, aku tidak pernah mendapatkan jawaban yang sebanding dengan perasaan ingin tahuku, dan hatiku terus goyah tanpa henti.

“Hati-hati, masih panas.”

Bersamaan dengan suaranya yang lembut, sebuah mug berisi teh diletakkan di depanku. Sendai-san duduk di kursinya, lalu suara “itadakimasu” kami terdengar bersamaan. Aku mengambil satu gigitan rare cheesecake, bukan shortcake. Manis segarnya langsung meleleh di lidah. Enak.

Perkataan Asakura-san maupun Mio-san ternyata benar. Reputasi toko ini memang pantas, dan rasanya usaha datang jauh-jauh untuk membeli kue ini benar-benar terbayar. Buktinya, Sendai-san di seberang sana juga terlihat makan dengan nikmat.

“Mau aku kasih satu gigitan?”

Dengan senyum ceria, Sendai-san memotong rare cheesecake menggunakan garpu sambil berkata begitu.

“Nggak usah. Kita makan yang sama.”

“Soalnya dari tadi kamu terus lihat ke sini, kukira kamu pengin coba.”

“Kan aku duduk di depanmu, jadi kelihatannya aja begitu.”

Kalau makan kue di ruang bersama seperti ini, yang bisa dilihat ya cuma kue atau orang yang duduk di depan. Tidak ada yang lain. Aku makan lagi sedikit rare cheesecake lalu memukin teh. Teh buatan Sendai-san memang selalu enak. Cocok sekali dipadukan dengan kue. Padahal aku sudah makan malam, tapi kuenya tetap terasa masuk terus ke perutku. Rasa teh yang ringan dan segar membuat manis serta sedikit asam dari cheesecake terasa semakin menonjol. Saat kulihat lagi, dua pertiga cheesecake milik Sendai-san sudah habis.

“Kue di sini enak ya. Nanti kita makan bareng lagi yuk. Lain kali aku yang beli, jadi kalau ada kue yang pengin kamu makan bilang aja.”

Setelah berkata begitu, Sendai-san memasukkan cheesecake ke mulutnya dengan lahap.

“Sendai-san memang puas sama cheesecake dan shortcake tadi?”

Aku membalas pertanyaannya dengan pertanyaan lain.

“Aku suka dua-duanya, jadi cheesecake sama shortcake udah pas kok.”

“Padahal tadi ada mont blanc juga.”

“Miyagi suka mont blanc?”

“Biasa aja.”

“Kalau Miyagi suka, tadi aku mau beli mont blanc. Tapi kalau nggak, nanti aku pilih kue lain aja. Tadi juga udah kutanya, kamu maunya apa?”

“Selain cheesecake dan shortcake.”

“Oke. Nanti aku beli yang kelihatannya enak.”

Sendai-san tersenyum lalu menghabiskan sisa cheesecake-nya. Setelah makan setengah shortcake, dia mengangkat wajahnya.

“Miyagi, perintahnya udah ditentukan?”

“Kenapa tanya begitu?”

“Soalnya tadi kedengarannya kayak ngomong spontan.”

“Bukan spontan.”

Perkataannya memang tidak salah, tapi tetap saja aku menyangkalnya. Aku makan cheesecake sambil menatap Sendai-san. Perintah. Walaupun tadi aku bilang akan memberi perintah, sebenarnya aku belum memutuskan ingin memerintah apa. Kalau memang mau memberi perintah, aku ingin menemukan sesuatu yang bisa membuat Sendai-san yang selalu menerima apa pun itu merasa kesal atau kerepotan. Tapi jelas hal seperti itu tidak mudah ditemukan. Karena aku bahkan tidak tahu apa yang dia suka dan benci.

Sendai-san tidak keberatan saat dadanya disentuh. Aku sudah beberapa kali mencoba dan tahu soal itu. Bahkan kalau menyentuh bagian lain pun, mungkin dia tidak akan menolak. Kalau aku bilang ingin meninggalkan tanda di tempat yang terlihat sekalipun, mungkin dia tetap akan menurut kalau itu disebut perintah. Kalau begitu, mungkin aku bisa memakai “perintah” untuk mencari tahu hal-hal yang ingin kuketahui tentang dirinya. Aku meminum teh dan menghabiskan sisa cheesecake. Setelah menggigit sedikit shortcake, aku bertanya pada Sendai-san.

“Warna favoritmu apa?”

“Warna favorit?”

“Iya.”

Bukan karena aku terlalu peduli soal warna. Tapi aku tidak tahu hewan favoritnya, tidak tahu kue favoritnya, jadi setidaknya aku ingin dia memberitahuku satu hal yang benar-benar jujur.

“Hmm…”

Sendai-san berkata pelan sambil menatapku. Lalu dia meminum sedikit teh dan perlahan meletakkan mug-nya di atas meja.

“Mungkin biru.”

Aku tidak tahu apakah suaranya barusan mengandung perasaan atau tidak. Tapi syal yang dia berikan padaku memang berwarna biru. Aku bisa saja berpikir kalau dia membelikannya karena biru adalah warna favoritnya.

“Beneran itu yang paling kamu suka?”

“Paling suka kok. Sejak pakai anting ini, aku jadi merasa biru juga bagus.”

Sambil menyentuh anting biru pemberianku, Sendai-san menambahkan kalimat itu seperti sedang mencari alasan. Dan gara-gara itu, ucapan bahwa dia suka warna biru langsung terasa kurang meyakinkan.

“Sebelum suka biru, kamu suka warna apa?”

“Hmm… merah atau kuning?”

“Itu mah lampu lalu lintas.”

Tidak ada yang benar-benar “jujur” dalam jawaban Sendai-san. Mendengar jawaban asal-asal itu membuatku kecewa, dan di saat yang sama sebuah perintah yang mungkin akan membuatnya tidak nyaman tiba-tiba muncul di kepalaku. Tapi itu bukan perintah yang bagus. Bahkan termasuk jenis perintah yang sebaiknya tidak dilakukan.

“Kalau gitu, buat sarapan kamu lebih suka sosis atau ham?”

Ini taruhan. Aku memberikan pertanyaan mudah pada Sendai-san yang tidak pernah mau memberitahuku apa yang ingin kuketahui, supaya aku tidak perlu memakai perintah bodoh yang ada di kepalaku. Kalau dia memberiku jawaban yang bisa kuterima, aku berniat membatalkan perintah itu dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih aman.

“Miyagi sendiri lebih suka yang mana?”

“Aku lagi nanya Sendai-san.”

“Jadi perintah itu maksudnya jawab semua pertanyaan yang dari tadi kamu kasih?”

Pada akhirnya, Sendai-san tetap tidak menjawab. Karena itu, pilihan untuk mengganti perintah bodoh di kepalaku dengan sesuatu yang biasa saja pun hilang. Tapi ini bukan salahku. Yang salah adalah Sendai-san yang tidak mau menjawab pertanyaan. Aku menghabiskan kue di piring lalu meneguk habis tehnya.

“Sendai-san, beres-beresnya nanti aja. Pergi ke kamarmu dulu.”

Di piringnya juga sudah tidak ada kue, dan mug-nya kosong.

“Itu perintahnya?”

“Perintahnya nanti setelah kita sampai di kamarmu.”

“Oke.”

Kami meninggalkan piring dan mug di atas meja begitu saja, lalu pergi menuju kamar Sendai-san.

“Duduk di kasur.”

Aku memerintahkan pemilik ruangan yang sudah menyalakan AC itu, dan dia pun menurut dengan patuh.

"Sudah duduk. Terus, harus gimana lagi?"

Sendai-san yang duduk di tepi tempat tidur menatap ke arahku yang masih berdiri. Di dalam ruangan yang belum terasa hangat itu, aku menggigit bibirku. Perintah yang kelewatan. Apa yang ingin kuucapkan memang perintah seperti itu, dan aku tahu seharusnya aku pergi saja kembali ke kamarku tanpa mengatakannya, tapi sekarang sudah terlambat untuk mundur. Semuanya salah Sendai-san.

"……Tunjukkan padaku saat kamu melakukannya sendiri."

"Melakukannya sendiri? Maksudnya gimana?"

Sendai-san bertanya dengan nada suara yang datar. Tapi, aku ingat. Bahwa rasanya lebih nikmat daripada melakukannya sendiri. Ketika aku menyentuh Sendai-san, dia mengatakan hal seperti itu. Aku bahkan pernah bertanya apakah dia pernah melakukannya sendiri setelah itu, dan apa yang dia pikirkan saat melakukannya. Jadi, tidak mungkin dia tidak paham arti dari perintahku.

"Nggak usah pura-pura nggak tahu."

"Pura-pura nggak tahu gimana?"

"Berhenti pura-pura bodoh."

"……Miyagi, kamu tuh sering bilang aku 'mesum', tapi sebenarnya kamu sendiri jauh lebih mesum, tahu."

Sendai-san berkata seolah menyerah, lalu menendang kakiku. Memberi perintah adalah hakku, dan Sendai-san harus mematuhinya. Karena itu adalah janjinya, aku mengatakannya dengan tegas seolah ingin menanamkan itu di kepalanya.

"Terus kenapa? Dengar perintahku."

"Miyagi."

Sendai-san memanggil namaku dengan pelan, lalu berdiri. Dia menarik cuping telingaku dengan lembut sebelum mencium antingku.

"Aku pasti tepati janji, jadi kamu yang harus tanggung jawab dan kasih instruksi. Bilang, mau aku gimana dan di mana."

Selalu begini. Sendai-san menyerahkan segalanya padaku dan membiarkanku yang memutuskan. Gara-gara itu, meskipun aku yang memberi perintah, rasanya justru aku yang sedang diperintah.

"……Ya sudah, lakukan di atas tempat tidur."

Meskipun kesal, aku tidak berniat membatalkan perintahku, jadi aku menentukan tempatnya seperti yang dia minta.

"Harus duduk? Bajunya gimana? Perlu dilepas? Atau nggak usah?"

Dia memberondongku dengan banyak pertanyaan sampai aku mengepalkan tangan erat-erat.

"Lakukan saja seperti yang biasa kamu lakukan."

"Aku nggak ingat, kamu saja yang kasih instruksi."

"Bohong. Mana mungkin kamu nggak ingat."

"Ya mau gimana lagi, aku memang nggak ingat. Cepat kasih tahu harus gimana. Di tempat tidur harusnya kayak gimana?"

"……Jadi aku harus perintahin semuanya satu per satu?"

"Tadi kan sudah kubilang. Kamu yang harus tanggung jawab dan kasih instruksi. Aku bakal lakuin persis seperti yang kamu mau, jadi cepat kasih perintah."

Aku menghela napas panjang, lalu menyingkap selimut dan bed cover di tempat tidur.

"Berbaring di sini dan lakukan. Bajunya nggak usah dilepas."

"Lampunya gimana?"

"Jangan dimatikan."

"Dasar mesum, Miyagi."

"Tadi kan Sendai-san sendiri yang bilang harus kasih instruksi."

"Ya memang sih. Cuma kupikir kamu segitu penginnya lihat."

Sendai-san berkata dengan nada ringan, lalu duduk di tepi tempat tidur. Dia menatapku lagi dan bertanya, "...Kamu benar-benar mau melakukannya sambil tetap menyalakan lampu?"

"Kalau risih, tutup saja pakai selimut."

"Kalau gitu kan nggak kelihatan, apa nggak apa-apa?"

"Sendai-san, aku jadi nggak tahu kamu sebenarnya mau memperlihatkannya atau nggak. Yang benar yang mana?"

"Lagian ini kan bukan sesuatu yang harus diperlihatkan ke orang lain... Malu, tahu. Sejujurnya aku malah hampir nggak mau melakukannya."

"Terus kenapa dilakuin?"

"……Karena kamu yang perintahin, Miyagi.”

Sendai-san tidak pernah menolak. Dia bersedia melakukan hal-hal yang tidak akan pernah dilakukan orang lain. Bahkan untuk perintah yang membuatku ingin menolak atau perintah yang membuatnya kesulitan, dia tetap patuh.

Aku ingin melihat sosok "Sendai-san yang patuh padaku" itu, tapi di saat yang sama, aku juga ingin melihat "Sendai-san yang tidak patuh" karena dia merasa enggan. Semua yang berhubungan dengannya tidak pernah berjalan mulus; aku kewalahan dengan perasaanku yang saling bertolak belakang. Aku tak bisa berhenti menjadi diriku sendiri—yang selalu mengatakan atau melakukan hal-hal konyol. Namun, aku tetap ingin mengetahui "kebenaran" di dalam diri Sendai-san; seseorang yang tak pernah mau memberitahuku apa yang dia sukai, bahkan tak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan sederhanaku.

"Hei, Miyagi. Aku bakal melakukannya sendiri dengan benar, jadi... cium aku."

Suhu tubuhku naik mendengar ucapannya. Ruangan yang belum sepenuhnya hangat ini terasa sangat panas, membuatku mengembusen napas panjang. Sendai-san menarik tanganku seolah sedang merayu. Karena itulah, aku tak bisa menghentikan diriku sendiri.

Aku mendekatkan wajahku ke arahnya yang sedang duduk di tempat tidur. Setelah mencium bibirnya sekilas dan perlahan menjauh, tanganku yang masih digenggamnya ditarik dengan kuat. Kemudian, bibir Sendai-san yang baru saja kusentuh kini menempel di ujung jariku, menekannya dengan lembut.

"Mumpung kita berdua di sini, daripada aku melakukannya sendiri, lebih baik kita melakukannya berdua saja. ...Ayo, Miyagi, kamu yang lakuin."

Dia mengucapkannya dengan tenang, lalu mencium ujung jariku sekali lagi. Ujung lidahnya menyentuh, sesuatu yang terasa hangat merayap di atas buku jariku, bergerak menuju punggung tanganku. Suhu tubuh yang merambat dari bibir dan ujung lidahnya yang menempel membuat punggungku meremang.

"……Miyagi, sentuh aku pakai tangan ini. Atau, biarkan aku menyentuhmu."

Suara lembut itu terdengar, dan bibirnya kembali menempel di ujung jariku. Suhu tubuhnya terasa begitu nyaman. Aku jadi menginginkannya lebih. Namun, yang kucari sekarang adalah sesuatu di balik suhu tubuh itu; sesuatu yang tetap tak mau dia tunjukkan padaku.

"Sudah, cukup."

Aku menarik rambut Sendai-san pelan, membuatnya menjauh. Namun, sekuat tarikan tadi, dia malah menggigit ujung jariku. Tidak sakit, sih. Hampir saja aku hanyut pada sensasi lidahnya yang membasahi jariku, tapi aku segera menarik jariku dari mulutnya dan menjejalkan boneka penguin yang tergeletak di tempat tidur ke pelukannya.

"Padahal aku belum melakukan apa-apa," ucap Sendai-san dengan nada serius sambil memeluk penguin itu.

"Aku tahu, tapi sudah, cukup."

"Beneran sudah? Perintah buat melakukannya sendiri tadi?"

"Ya, anggap saja sudah selesai."

"—Kalau begitu, gimana kalau kita melakukannya berdua?"

Sendai-san menarik tanganku lagi.

"……Nggak mau."

Aku menepis tangan Sendai-san yang hendak mencium ujung jariku lagi, lalu duduk di lantai. Aku mengambil selembar tisu dari punggung boneka platypus dan mengelap tanganku yang basah.

Tunjukkan padaku saat kamu melakukannya sendiri.

Aku yakin Sendai-san bakal menurut kalau aku terus memerintahkannya, tapi kalau benar-benar dilakukan di depan mataku, aku sendiri yang bakal kerepotan. Lagipula, aku tidak benar-benar ingin melihatnya melakukannya.

"Miyagi."

Sendai-san memanggilku pelan sambil memeluk penguinnya. Karena "hak untuk memerintah Sendai-san" yang kudapat saat tahun baru sudah terpakai, berarti aku tidak punya urusan lagi di kamar ini. Harusnya aku kembali ke kamarku sendiri. Kalau aku tetap di sini, aku pasti bakal bilang sesuatu yang aneh, atau sebaliknya, aku yang bakal mendengar sesuatu yang aneh. Aku tahu itu, tapi kakiku tak bisa bergerak.

Di atas tempat tidur, penguin boneka itu mengepakkan sayapnya. Lebih tepatnya, Sendai-san yang sedang menggerak-gerakkan tangan—atau sayap—si penguin itu.

"Beneran nggak mau?"

Saat mendengar suara yang turun dari atas tempat tidur itu, aku menjawab "Nggak," dan si penguin dilempar ke arahku hingga aku harus menangkapnya dengan panik.

"Bahaya, tahu!"

Aku memprotes sambil meletakkan penguin di samping platypus, tapi tidak ada jawaban. Sebagai gantinya, dia turun dari tempat tidur dengan tenang dan duduk di sampingku. Tanpa permisi, dia menumpuk tangannya di atasku. Wajahnya mendekat seolah itu hal yang biasa, jadi aku mendorong bahunya.

"Sendai-san, nggak mau."

"Cuma ciuman doang, apa salahnya sih?"

"Salah. Kamu pasti bakal ngelakuin hal aneh lagi."

Aku melepaskan tangannya yang menyentuh leherku, lalu menatapnya tajam.

"Salahmu sendiri, Miyagi, kasih perintah yang aneh."

"Meskipun perintahnya aneh, aku kan sudah bilang cukup. Berarti yang tadi sudah selesai."

"Habisnya kamu ngomong seolah-olah lagi merayu, ya wajar dong kalau jadi begini."

"Aku nggak merayu. Aku cuma kasih perintah."

"Mungkin menurutmu begitu, tapi aku nggak ngerasa kayak gitu."

Seolah mengejar suara ketidakpuasanku, ujung jari Sendai-san menyentuh bibirku dan mengusapnya perlahan. Jari yang menelusuri bibirku itu seolah sedang memastikan apakah aku menggunakan lipstik baru yang dia pilihkan. Aku pun menggigit jarinya dengan cukup keras.

"Sakit."

"Habisnya kamu ngelakuin hal aneh, makanya kusakitin."

Aku melepaskan gigitanku dan memukulnya pelan dengan boneka penguin.

"Miyagi, kamu tuh bener-bener jahat, ya. Padahal kamu sendiri yang bikin hickey atau kasih perintah aneh, tapi giliran sudah setengah jalan malah kamu stop dan ninggalin aku gitu aja. Sesekali, tanggung jawab dong."

"Tanggung jawab maksudnya apa?"

"Ayo bikin janji baru."

Suara Sendai-san terdengar tepat di telingaku. Napasnya terasa menggelitik, membuatku mengepalkan tanganku erat-erat.

"Miyagi."

Suara bisikan itu bergema di telingaku. Aku langsung mengerti apa yang dia bicarakan. Seketika itu juga, kesadaranku melayang ke hari Natal. Hari di mana kami pergi berdua, makan bersama, dan aku memenangkan penguin dari mesin capit.

—Aku telah menepati janji yang kubuat dengan Sendai-san.

Sendai-san yang berada sangat dekat, rasa yang begitu nikmat, dan ingatan yang terasa mengambang. Itu bukan kenangan yang ingin kuhapus, tapi karena itu adalah sesuatu yang tidak boleh kuingat secara sengaja, aku menguburnya dalam-dalam di dasar ingatanku. Ini tidak baik. Membuat janji seperti itu berulang kali adalah hal yang salah.

"……Nggak mau.”

Saat aku menjawab pelan, pertanyaan langsung datang seolah memang sudah disiapkan sejak awal.

“Kalau gitu nggak usah janji juga nggak apa-apa, jadi jawab aja. Di kasur tempat kita waktu itu… kamu banyak mimpiin aku? Pernah kepikiran macam-macam sendirian nggak?”

“Kan aneh. Yang punya hak ngasih perintah itu aku, bukan Sendai-san.”

“Waktu perintahnya udah selesai, kan?”

“Walaupun udah selesai, Sendai-san juga nggak punya hak buat nanya begitu.”

“Kalau nggak mau jawab berarti pernah, ya?”

Sendai-san mengatakan hal-hal yang biasanya tidak pernah dia ucapkan. Padahal, bukan sisi dirinya yang seperti ini yang ingin kulihat.

“Enggak, dan aku juga nggak kepikiran begitu. Aku beda sama Sendai-san. Aku mau balik ke kamar, jadi lepasin.”

Sebelum akal sehatnya benar-benar runtuh, aku memutuskan untuk pergi dari tempat ini. Tapi sebelum sempat berdiri, lenganku lebih dulu ditahan.

“Coba lakukan hal yang sama kayak aku. Nanti kalau balik ke kamar, lakukan sendiri, terus besok pagi kasih tahu rasanya gimana.”

“Sendai-san mesum.”

“Nggak apa-apa dong. Kasih tahu aja.”

“Kalau begitu Sendai-san juga harus jawab. Setelah aku pergi dari sini, apa kamu bakal sendirian di kamar ini?”

“…Kamu serius pengin tahu?”

Ada sesuatu dalam suaranya yang sulit dijelaskan. Nada suaranya terdengar terlalu serius, sampai aku sadar kalau aku hampir menginjak sesuatu yang seharusnya tidak kusentuh. Aku segera menepis tangannya.

“Jauh sedikit dong. Aku bukan mau ngobrol soal beginian.”

“Terus kamu maunya ngobrol soal apa?”

Suaranya tidak lembut, tapi juga tidak marah. Datar. Tenang. Dan entah kenapa membuat dadaku sedikit sakit.

“…Sendai-san, duduk di sana.”

Aku menunjuk sisi lain meja.

“Kenapa? Kalau mau ngobrol ya ngobrol aja di sini.”

Sepertinya dia tidak berniat pindah. Jadi kalau begitu, tinggal aku yang pindah.

“Aku aja yang ke sana.”

Aku berkata begitu lalu membawa platipus tempat tisu ke sisi seberang dan duduk di sana. Setelah itu, aku menyusun tiga sandaran sumpit berbentuk kucing yang tadi ada di ujung meja menghadap ke arah Sendai-san.

“Kamu suka yang mana? Jawab serius.”

Kucing putih, kucing belang oranye, dan kucing hitam-putih. Tiga kucing kecil itu seolah menatap Sendai-san.

“Kalau Miyagi sendiri?”

Sambil memeluk boneka penguin yang tadi ada di lantai, Sendai-san menanyakan pertanyaan yang memang sudah kuduga akan dia tanyakan. Jadi aku menjawab, “Kucing hitam.”

“Itu curang nggak sih? Kalau boleh pilih yang nggak ada di sini, aku pilih kucing calico.”

“Berarti kamu memang suka Mike-chan, ya.”

“Miyagi nggak suka Mike-chan?”

“Biasa aja.”

Aku tidak suka ataupun benci kucing calico. Bagiku, itu cuma “kucing yang disukai Sendai-san”.

“Terus ini sebenarnya permainan apa?”

“Bukan permainan. Cuma pertanyaan. …Perintah tadi beneran nggak kamu suka?”

“Aku nggak benci diperintah Miyagi.”

“Bahkan perintah yang kayak tadi?”

“Perintah apa pun.”

Sendai-san memang aneh. Benar-benar aneh. Tapi selama ini aku selalu melihat dirinya yang seperti itu, dan kehidupan bersama dirinya sudah menjadi sesuatu yang tidak bisa kulepaskan. Karena itulah aku ingin mengenal sisi dirinya yang belum pernah dia tunjukkan. Sendai-san yang terlihat di depan mataku saja belum cukup untuk disebut “Sendai-san yang sebenarnya”.

Aku ingin mengisi bagian yang kurang itu. Ingin punya lebih banyak sisi dirinya yang hanya aku yang tahu. Bahkan kalau dia jadi semakin aneh atau berubah sekalipun, aku tetap ingin mengenal Sendai-san yang selama ini dia sembunyikan. Aku menggenggam tangan kecil platipus itu erat-erat.

“Sendai-san.”

“Hm?”

“…Burung shoebill di kebun binatang tadi lucu banget. Memang dingin sih, tapi aku senang sudah pergi.”

“Kok tiba-tiba ngomong itu?”

“Soalnya dulu kita janji bakal cerita hal-hal menyenangkan. Terus janji buat ngobrolin hal-hal nggak penting juga. Jadi kalau memang ada yang benar-benar nggak kamu suka, bilang aja nggak suka.”

Aku mengatakan semuanya sekaligus, lalu melepaskan pegangan dari tangan platipus itu.

“Jadi maksudmu, kalau ada perintah yang benar-benar nggak mau kulakukan, aku harus bilang?”

“Bukan cuma soal perintah. Kalau ada hal yang bikin kamu nggak nyaman waktu sama aku, bilang aja. Terus kasih tahu juga apa yang benar-benar kamu suka. Nggak boleh jawab ‘sama kayak Miyagi’.”

“Itu apaan sih? Tujuannya apa?”

Dengan nada seperti sedang menyelidik, Sendai-san menumpuk sandaran sumpit kucing hitam-putih di atas kucing oranye.

“Aku cuma pengin lebih tahu soal Sendai-san.”

“Kenapa tiba-tiba jadi pengin tahu soal aku?”

Kucing putih ditumpuk di atasnya, membentuk menara kecil yang langsung runtuh lagi. Setelah itu kucing-kucing itu disusun ulang berkali-kali, lalu Sendai-san menatapku diam-diam seperti mendesakku untuk menjawab.

“…Karena aku tertarik.”

Begitu aku menjawab lirih, terdengar suara terkejut.

“──Miyagi, kamu demam?”

“Aku nggak demam. Memangnya salah kalau aku tertarik sama Sendai-san? Kita tinggal bareng, jadi wajar dong kalau aku pengin tahu apa yang kamu suka atau nggak suka. Makanya kalau aku tanya, jawab yang benar.”

Tidak ada jawaban. Kamar terasa sunyi sampai rasanya suara aliran udara pun bisa terdengar. Tanpa membuka mulut, Sendai-san hanya menatap sandaran sumpit berbentuk kucing itu. Aku menarik dua lembar tisu dari platipus, meremasnya jadi bola kecil, lalu melemparkannya ke arah seberang. Bola tisu putih itu mengenai kepala Sendai-san pelan sebelum jatuh ke lantai.

“…Aku bakal berusaha bikin Miyagi puas.”

Entah kenapa setelah terkena lemparan tisu itu, Sendai-san akhirnya berbicara dengan suara pelan dan tidak jelas.

“Jawaban itu aneh, tahu.”

“Soalnya memang nggak ada hal yang bikin aku nggak nyaman kalau sama Miyagi. Terus aku juga memang suka hal-hal yang sama kayak Miyagi.”

“Kalau gitu, coba punya sesuatu yang kamu suka sendiri dan nggak suka sendiri.”

“Walaupun kamu bilang begitu… Ah, tapi kalau hal yang nggak suka sih ada satu.”

“Apa?”

“Aku nggak suka kalau Miyagi nyuruh aku menjauh.”

“Kenapa?”

“Soalnya lebih seru kalau dekat sama kamu.”

“Sendai-san gampang banget bohong.”

“Aku nggak bohong kok. Aku boleh dekat lagi?”

Aku tidak menjawab suara lembut itu. Tapi Sendai-san tetap mendekat sesukanya. Aku tetap diam. Namun dia duduk di sampingku, lalu mengecup antingku pelan.

Lanjut baca perlu akun

Di tiap novel bab 1–3 bebas — mau dibaca berapa kali pun. Bab 4 ke atas perlu masuk, jadi bab ini disamarkan.

Masih bebas: Bab 1Bab 2Bab 3 Semua bab