←
Shuu ni Ichido Kurasumeito wo Kau Hanashi Bab 108 · Chapter 10 — Sendai-san yang Berbeda Dariku
☰

Chapter 10 — Sendai-san yang Berbeda Dariku

Shuu ni Ichido Kurasumeito wo Kau Hanashi

Sendai-san yang Berbeda Dariku

Membuat cokelat terasa seperti kegiatan yang sangat tidak efisien. Melelehkan cokelat yang dibeli lalu mengeraskannya lagi pada akhirnya cuma menghasilkan cokelat dengan bentuk berbeda. Kalau begitu, bukankah lebih baik dimakan langsung saja? Membuat sendiri itu merepotkan.

Tapi Sendai-san sangat bersikeras soal buatan tangan. Dan cokelat yang dia buat, baik tahun lalu maupun tahun sebelumnya, selalu enak. Jadi kupikir memang ada makna dalam membuatnya sendiri.

Pasti. Mungkin. Atau lebih tepatnya—sudah pasti. Cokelat tahun ini juga pasti enak.

“Miyagi, ganache-nya dibuletin yang benar dong.”

“Aku udah bener.”

Ganache yang dibuat dari campuran cokelat leleh dan krim sudah didinginkan, dibagi kecil-kecil, dibungkus plastik, lalu didinginkan lagi. Sekarang kami sedang membulatkannya dengan telapak tangan, tapi menurutku proses yang mirip-mirip ini terlalu banyak. Aku bahkan mulai ragu apakah semua tahap ini benar-benar perlu dilakukan berurutan. Tapi karena Sendai-san mengawasiku dari samping, aku nggak bisa malas-malasan.

“Itu nggak bulat. Harusnya kayak gini.”

Di telapak tangan Sendai-san ada ganache yang bulat sempurna.

“Ini juga bulat.”

“Nggak. Bentuknya aneh.”

Komentar yang sangat tidak sopan langsung terbang dari samping. Padahal cuma ada tambahan telinga segitiga di atas bentuk bulat seperti bola. Itu bukan bentuk aneh. Lagi pula, nggak ada aturan yang bilang truffle nggak boleh punya telinga.

“…Oke, jadi itu telinga kucing atau anjing ya? Kamu bikin wajah juga?”

“Bebas dong.”

“Yah, memang ada sih yang namanya animal truffle. Kalau Miyagi mau bikin begitu juga nggak masalah. Tapi kalau gitu sekalian kasih mata aja—ah, tapi nanti kan dilapisi cokelat lagi, jadi nggak bakal kelihatan ya.”

“Ini bukan selesai setelah dibuletin?”

“Aku udah bilang sebelumnya kan, masih ada proses lagi. Setelah dibuletin, dikasih bubuk kakao, terus dilapisi cokelat leleh, habis itu dikasih bubuk kakao lagi.”

“…Menurutku ngulang-ngulang hal yang sama kayak gini nggak ada gunanya.”

“Nggak juga kali? Soalnya di resep memang begitu.”

Mungkin membuat cokelat itu semacam latihan mental. Dengan mengulang proses yang mirip berkali-kali, pikiran-pikiran mengganggu akan meleleh seperti cokelat, lalu hati jadi bersih dan tenang. Aku memikirkan hal bodoh seperti itu sementara Sendai-san dengan cekatan membulatkan cokelat dan melapisinya dengan bubuk kakao. Aku juga membulatkan sisa cokelat sambil menambahkan telinga kecil, lalu memberi bubuk kakao.

Begitu semua selesai dilapisi bubuk kakao, muncul lagi cokelat baru. Sendai-san mulai bicara soal teknik bain-marie dan tempering sambil bahkan mengeluarkan termometer. Tak lama kemudian, cokelat meleleh di dalam mangkuk, lalu ganache yang sudah dilapisi kakao dicelupkan ke dalamnya. Ganache yang kini terlapisi cokelat mengilap kembali digulingkan di bubuk kakao, dan akhirnya truffle selesai dibuat.

“Ini bonus.”

Sambil berkata begitu, Sendai-san menambahkan dua titik besar dari cokelat cair ke beberapa truffle di piring.

“…Makasih.”

“Sama-sama.”

Truffle bertitik itu adalah truffle berbentuk hewan bertelinga yang kubuat tadi, dan dua titik itu mungkin matanya.

“Kalau dilihat begini, animal truffle juga lucu ya.”

Sendai-san berkata sambil tersenyum. Tapi menurutku hasilnya nggak terlalu lucu. Truffle buatanku bentuknya sangat nggak rapi. Yang harusnya jadi telinga malah lebih mirip tonjolan aneh. Berbeda dengan itu, truffle buatan Sendai-san yang tersusun di piring tampak cantik seperti dirinya. Bulat sempurna seperti bulan di langit malam.

“Beres-beresnya biar aku aja. Miyagi duduk dan tunggu ya.”

Sendai-san berkata sambil tersenyum manis.

“Mm.”

Aku menjawab pendek, mencuci tangan, lalu duduk di kursi. Aku memandang punggung Sendai-san. Panjang rambut half-up miliknya masih sama seperti waktu SMA. Entah karena dirawat dengan baik atau bagaimana, rambutnya tampak berkilau. Mengingatkanku pada bulu anjing borzoi yang indah.

Aku sendiri nggak yakin apakah yang ingin kubuat dengan truffle tadi itu kucing atau anjing. Mungkin sebenarnya aku cuma ingin membuat sesuatu yang cantik seperti Sendai-san. Aku mengetukkan tumit pelan ke kaki kursi lalu menghela napas tipis.

Sendai-san milikku yang patuh seperti anjing terlatih punya wajah yang cantik dan mungkin populer juga. Tapi dia milikku, bukan milik orang lain, dan nggak boleh jadi milik siapa pun. Meski begitu, walaupun dia milikku, masih banyak hal tentang dirinya yang nggak kupahami. Aku nggak benar-benar tahu apa yang dia suka atau benci. Kadang aku bahkan nggak tahu apakah kata-katanya sungguh tulus atau tidak. Aku tahu mustahil memahami Sendai-san sepenuhnya, tapi terkadang aku kesal karena dia bahkan nggak memberiku petunjuk untuk memahaminya.

Aku ingin menunggu sampai Sendai-san menemukan sendiri hal yang dia suka dan benci. Tapi sepertinya aku nggak bisa menunggu terlalu lama.

“Miyagi, maaf ya nunggu.”

Setelah selesai mencuci peralatan, Sendai-san berjalan menghampiriku.

“Aku udah capek nunggu.”

“Padahal nggak lama.”

“Lama.”

Aku berdiri lalu mengulurkan tangan menyentuh milikku. Aku memastikan anting birunya, mengusap pipinya, lalu menyentuhkan jari telunjuk ke bibirnya. Sama… tapi juga nggak sama. Seharusnya dia manusia yang sama sepertiku, tapi seperti truffle yang baru dibuat tadi, semuanya tentang dirinya terasa berbeda dariku. Karena itulah aku ingin memastikan dia benar-benar milikku.

“Kenapa?”

“Cuma nyentuh aja.”

Aku berkata pelan lalu menjauhkan jari dari bibirnya.

“Kalau mau, sentuh lebih banyak.”

“Udah cukup.”

Aku mendorong bahu Sendai-san, tapi bukannya menjauh, dia malah mendekat.

“Jangan injek kakiku lagi ya.”

Sendai-san menyisir rambutku dengan jemarinya lalu menelusuri leherku. Dia mendekatkan wajah dan menutup mata meski aku sendiri belum menutup mata. Lalu tanpa diminta ataupun diizinkan, dia menciumku begitu saja.

Ciuman pertama ringan. Yang kedua lebih lama. Aku bisa merasakan hangat tubuhnya. Aku nggak benci berciuman dengannya.

Bahwa truffle buatan tangan itu enak.

Lebih tepatnya, truffle buatan Sendai-san yang enak.

Bahwa aku ingin menyentuh orang lain.

Lebih tepatnya, aku ingin menyentuh Sendai-san.

Bahwa ciuman terasa nyaman.

Lebih tepatnya, ciuman dengan Sendai-san yang terasa nyaman.

Perasaan-perasaan seperti itu adalah sesuatu yang baru kukenal setelah bertemu Sendai-san. Perasaan yang sebenarnya dulu nggak ingin kukenal. Kalau aku telusuri semua perasaan yang tumbuh dalam diriku, hampir semuanya akan berujung pada Sendai-san. Benang-benang tipis yang terhubung padanya terus bertambah, saling terikat, lalu menjadi semakin tebal. Rasanya sulit diputus sekarang, dan aku juga nggak ingin hubungan itu tiba-tiba terputus.

Bibir kami terlepas, lalu aku menarik pakaian Sendai-san. Tak lama kemudian dia memberiku ciuman ketiga. Ujung lidahnya menyentuh bibirku yang sedikit terbuka, lalu kehangatan tubuhnya ikut masuk bersamaan dengan sentuhan lembut itu. Lidahnya yang lembut menekan lidahku, dan saat kubalas dorongannya, dia menggenggam tanganku erat.

Bibir Sendai-san tak menjauh. Lidah kami saling bersentuhan, membuat napasku mulai sesak. Padahal yang bersentuhan hanya bibir, lidah, dan tangan yang tergenggam, tapi rasanya seluruh kulitku menempel padanya. Baik bagian yang bersentuhan maupun tidak, semuanya terasa panas.

—Nggak boleh lebih dari ini.

Aku mendorong bahu Sendai-san.

“Miyagi…”

Tubuh kami terpisah, dan terdengar suara seraknya sedikit. Kali ini aku yang lebih dulu mendekatkan bibir dan mengisap lehernya.

“Eh, Miyagi…”

Dia memanggil namaku, tapi aku tetap mengisap kuat hingga meninggalkan bekas kecil di lehernya.

“Besok nggak ada kerja part time kan?”

Aku mengusap bekas merah kecil yang kubuat, seolah ingin memberitahu seseorang yang bahkan nggak kukenal kalau Sendai-san adalah milikku, lalu menggigitnya pelan agar tidak terlalu keras.

“Iya sih…”

Jawabannya samar sementara tangannya mengusap punggungku. Tangannya bergerak di bawah tulang belikat, menelusuri tulang belakang, lalu menyentuh tengkukku hingga tubuhku merinding. Saat aku mengangkat wajah, Sendai-san mengambil satu truffle dari piring lalu menyuapkannya ke mulutku.

“Enak?”

Enak. Sangat enak. Tahun ini, aku bisa memonopoli truffle lezat ini sendirian. Bukan cuma Ibaraki-san dan yang lain—bahkan Mio-san juga nggak bisa memakannya. Tentu saja itu dengan catatan kalau ucapan Sendai-san bahwa dia “nggak akan memberi Mio karena belum akan bertemu dengannya” memang benar.

“Miyagi. Nabe nggak enak?”

“…Enak kok.”

Aku nggak bohong. Tapi sekarang bukan waktunya menikmati truffle. Aku masih harus meninggalkan tandaku pada Sendai-san.

“Kalau gitu, aku juga coba ya.”

Sendai-san memaman satu truffle bentuk aneh lalu tersenyum.

“Kenapa makan yang itu? Makan yang ini aja.”

Aku malah jadi memperhatikan truffle yang dia makan daripada bekas yang tadi kubuat, lalu menunjuk truffle yang bulat sempurna. Harusnya dia makan yang bulat bagus seperti bola itu, bukan yang bentuknya nggak jelas antara kucing atau anjing.

“Aku pengin makan truffle yang lucu. Lagian aku pengin menikmatinya pelan-pelan. Kita makan di kamarku atau kamar Miyagi aja yuk.”

“Dimakan di mana juga rasanya sama.”

“Nggak sama. Pilih salah satu.”

“…Kalau gitu di kamarku.”

Begitu aku menjawab pelan, Sendai-san berkata “oke” lalu tiba-tiba mencium pipiku. Tapi bibirnya cepat menjauh dan dia berkata,

“Tapi tunggu dulu ya. Aku mau bikin teh.”

Akibatnya truffle yang kukira bakal langsung dibawa malah belum dibawa juga, dan aku hanya bisa memandangnya merebus air. Ketel listrik putih yang kami beli bersama setelah pindah ke sini ternyata cukup sering dipakai. Itu terjadi tahun lalu, saat aku masih belum terbiasa hidup bersama orang lain. Dulu aku bahkan nggak bisa membiarkan Sendai-san masuk ke kamarku, dan nggak bisa berada terlalu dekat dengannya.

Tapi sekarang, kami membuat truffle bersama dan saling berciuman.

“Miyagi, kalau mau kamu boleh masuk kamar duluan.”

Suara lembut Sendai-san terdengar saat dia menyiapkan mug.

“Nggak usah. Aku tunggu airnya mendidih dulu.”

Di depan pintu, aku tidak langsung masuk dan hanya menatap Sendai-san. Menurutku, Valentine itu acara yang konyol. Tapi cokelat buatan Sendai-san… aku ingin memakannya lagi tahun depan. Aku tidak tahu apakah waktu sejak kami mulai tinggal bersama terasa panjang atau justru pendek. Namun, meski aku masih belum benar-benar memahami dirinya, aku malah memikirkan masa depan yang belum pasti—tentang tahun depan dan apa yang akan terjadi nanti.

──Aku tidak pernah menyangka akan jadi orang yang memikirkan hal seperti ini.

Aku menelan napas panjang yang hampir keluar, tepat saat ketel listrik berbunyi nyaring. Sendai-san mulai menyeduh teh menggunakan air panas yang baru mendidih. Kami membawa mug dan truffle ke kamar, lalu meletakkannya di atas meja. Kami duduk berdampingan bersandar pada tempat tidur, mengucapkan “itadakimasu”, lalu saat aku hendak mengambil truffle, Sendai-san berkata,

“Tunggu.”

“Mau apa lagi?”

“Aku mau foto trufflenya dulu sebelum dimakan.”

“Ogah.”

Aku menjawab singkat pada Sendai-san yang sedang berlutut sambil memegang ponsel. Tapi dia tidak menyerah.

“Kan capek-capek bikin. Satu foto aja.”

Begitu berkata, sebelum aku sempat membalas, dia sudah mengambil satu foto.

“...Foto truffle begitu mau dipakai buat apa?”

“Buat kenang-kenangan Valentine.”

Sendai-san duduk selonjor di lantai sambil menjawab singkat. Dia memang suka sekali dengan sesuatu yang disebut “kenangan”. Waktu festival sekolah, dia memotret sambil bilang itu kenang-kenangan karena aku datang. Tahun baru juga begitu. Bahkan soal piercing pun sama. Dia bilang kalau ada sesuatu yang layak dijadikan kenangan, aku boleh tindik telinga, lalu saat ulang tahunku dia memberiku alat tindik untuk melubangi telinganya.

Sejak bersama Sendai-san, “kenangan” aneh terus bertambah. Hal-hal yang seharusnya tidak berarti apa-apa kalau aku sendirian, berubah jadi kenangan karena ada dia. Dan itu tidak lain adalah tindakan menciptakan memori bersama, sesuatu yang sedikit membebani hatiku.

Kesenangan dan kesedihan berjalan beriringan. Semakin banyak kenangan bahagia, semakin dalam rasa sakit saat sesuatu yang berhubungan dengan kenangan itu hilang. Dan meskipun aku memahami itu, meskipun tidak semua kenangan pasti akan berakhir indah, kadang aku tetap memikirkan “berikutnya”.

Aku mengulurkan tangan dan menyentuh anting Sendai-san.

“Ada apa?”

Pada hari aku melubangi telinganya, Sendai-san berjanji kalau ulang tahun berikutnya kami juga akan makan whole cake bersama. Dan dia pasti akan menepatinya. Mungkin tahun ini kami bahkan akan mengambil foto.

Hari peringatan bertambah. Kenangan bertambah. Dan keberadaan Sendai-san di dalam diriku juga semakin besar. Tahun ini akan berakhir dan tahun depan pasti datang. Aku sendiri tidak berniat melepaskan Sendai-san. Tapi bisa saja suatu hari dia bosan menjadi “milikku”. Aku sudah tidak tahu berapa kali memikirkan hal seperti ini. Tapi aku juga tidak bisa berhenti memikirkannya.

“Tahun depan, Valentine kita bakal gimana?”

Saat aku bertanya, Sendai-san menggenggam tanganku dan melepaskan jariku dari antingnya.

“Sama kayak tahun ini. Nggak harus truffle kok, tapi kita bikin sesuatu bareng lagi.”

Bibir Sendai-san menyentuh ujung jariku, lalu dia juga mencium antingnya. Padahal aku tidak meminta janji apa pun, tapi dia berbisik pelan di dekat telingaku,

“Janji.”

Dia tidak membuat janji untuk dua tahun lagi. Tentu saja tidak juga untuk tahun setelahnya. Bukannya aku benar-benar menginginkan janji sejauh itu, tapi tetap saja ada sedikit rasa tidak puas. Namun di saat yang sama, dijanjikan hal seperti itu juga menakutkan. Aku tidak mau berharap lalu dikecewakan. Sama seperti kata “kenangan”, janji juga sedikit membebani hatiku.

“Yah, sebelum itu masih ada White Day sih. Kita bikin kue bareng, yuk.”

Sendai-san berkata ceria sambil tersenyum.

“White Day nggak usah ngapa-ngapain.”

“Kenapa?”

“Ribet.”

“Nggak apa-apa dong. Kita bikin cookies bareng. Aku bahkan bakal siapin cetakan kucing atau anjing buat Miyagi.”

“...Sendai-san nganggep aku anak kecil ya?”

“Bukan begitu sih, cuma kupikir kamu mungkin suka bikin cookies bentuk hewan.”

“Nggak perlu.”

Bukan berarti aku harus selalu membuat bentuk hewan setiap bikin kue. Waktu bikin cookies, adonannya cuma terasa mirip plastisin, jadi aku asal membentuk hewan. Truffle tadi juga sama—karena bentuknya mirip plastisin, aku cuma iseng menambahkan telinga. Tidak ada alasan khusus selain “entah kenapa pengin aja”.

Lagipula aku tidak seperti Sendai-san yang memang suka memasak. Aku juga tidak merasa ingin membuat kue hanya karena ada acara tertentu.

“Jangan pasang muka begitu, makan sana. Enak kok.”

Saat aku menoleh karena mendengar suaranya yang ceria, sebuah truffle bulat sempurna mendekat ke bibirku. Padahal aku tidak meminta disuapi, tapi truffle itu sudah didorong masuk ke mulutku.

Manis. Aku jadi ingin makan satu lagi dan mengulurkan tangan ke arah truffle. Tapi ternyata Sendai-san juga melakukan hal yang sama, lalu dia mengambil satu truffle bentuknya jelek dan langsung memasukkannya ke mulut. Tanpa sadar alisku berkerut.

“Makan yang kamu bikin sendiri dong.”

Aku mendorong bahu Sendai-san and ikut mengambil truffle yang bentuknya berantakan. Namun sebelum sempat memakannya, pergelangan tanganku ditangkap dan diarahkan ke Sendai-san. Tanganku yang seharusnya menuju mulut sendiri malah dibawa ke arahnya, lalu dia menggigit truffle itu bersama jariku. Giginya menyentuh kuku jariku, membuatku refleks menarik tangan. Truffle yang tadi ada sudah hilang.

Aku menarik boneka buaya ke arahku, mengambil tisu dari punggungnya, lalu mengusap jariku.

“Enak.”

Suara Sendai-san terdengar sangat senang.

“Nyebelin. Jangan rebut truffle orang.”

“Kan Miyagi mau makan truffle punyaku.”

Begitu berkata, Sendai-san kembali mencoba mengambil truffle bentuk aneh itu, jadi aku menepuk bahunya.

“Makanya kubilang jangan yang itu. Aku makan punyaku sendiri, jadi Sendai-san juga makan yang bikinan sendiri.”

“Nggak mau. Yang Miyagi bikin biar aku yang makan, dan Miyagi makan yang aku bikin. Lagi pula, makan buatan orang lain lebih terasa kayak Valentine, kan?”

Kalau ingin suasana “ala Valentine”, memang lebih cocok seperti yang dia bilang—makan buatan satu sama lain. Dan sebenarnya, aku memang berniat memonopoli truffle buatan Sendai-san. Aku memang ingin memakannya. Tapi tetap saja aku tidak bisa langsung menyetujui perkataannya. Sendai-san memakan truffle jelek buatanku rasanya aneh.

“Ayo, buka mulut. Aku suapin.”

Seolah itu hal paling wajar, Sendai-san mengambil truffle bulat sempurna dan membawanya ke depan mulutku. Karena itu, aku membalas seperti yang tadi dia lakukan—aku menggigit truffle itu bersama jarinya. Setelah itu aku membersihkan jarinya yang ada bekas gigitan dengan tisu, lalu bertanya,

“Kalau White Day gimana? Sendai-san bakal makan yang aku bikin lagi?”

“Ya jelas.”

Jawaban yang sudah kuduga keluar begitu saja, dan aku pun berdiri. Aku berjalan ke depan rak buku, mengambil sebuah kotak yang disimpan di belakang boneka kucing hitam di antara tumpukan manga, lalu memberikannya pada Sendai-san.

“Ini buatmu.”

“Eh? Ini apa?”

“Ini balasan buat Valentine. Jadi White Day nanti nggak usah ngapa-ngapain lagi.”

Aku duduk kembali di samping Sendai-san sambil menyesap teh.

“Kalau dilihat dari waktunya, ini jelas buat Valentine kan?”

dishonesty“Biarin aja, anggap aja White Day.”

Di dalam kotak yang kuberikan memang ada cokelat. Tapi tidak ada aturan yang melarang memberi cokelat saat White Day. Dan tidak ada juga aturan kalau Valentine dan White Day tidak boleh digabung sekaligus.

“Nggak bisa gitu. Balasan buat ini bakal kubalas dengan benar pas White Day nanti. Setelah bikin cookies bareng, aku juga bakal bikin makanan yang Miyagi mau.”

“…Sendai-san tuh gampang banget ngajak masak. Emang suka masak banget ya?”

“Bukannya suka banget sih.”

“Padahal masakan Sendai-san enak terus. Kenapa bisa?”

Meski bilang bukan hobi, dia selalu ingin memasak dan hasilnya selalu enak. Gerakannya juga cekatan.

“Mungkin karena sejak masuk SMA aku hampir selalu masak sendiri.”

“…Ibunya gimana?”

Aku sebenarnya sudah bisa menebak jawabannya. Hubungan Sendai-san dengan keluarganya memang tidak terlalu baik, dan waktu SMA dia sering makan bersama di rumahku. Kalau dipikir-pikir, mungkin dia memang tidak pernah dibuatkan makanan… atau tidak ingin dibuatkan.

“Aku bilang ke ibu kalau nggak usah masakin aku. Hubungan keluarga kami juga nggak terlalu dekat, dan aku nggak mau makan bareng mereka. Lagipula setelah lulus SMA, mau keterima kuliah atau nggak, aku memang berniat tinggal sendiri. Jadi kupikir aku harus bisa masak.”

Jawaban yang sudah ada di kepalaku itu kini ditambah beberapa hal baru oleh Sendai-san. Sedikit demi sedikit, sosok bernama Sendai Hazuki menjadi lebih jelas di dalam ingatanku. Tapi aku tidak tahu harus membalas dengan apa. Aku benar-benar tidak tahu kata seperti apa yang tepat diucapkan dalam situasi begini.

Mengatakan “pasti berat ya” rasanya salah. Mengatakan “semoga suatu hari bisa akur sama keluarga” juga terasa tidak pas. Tapi kalau cuma menjawab “oh gitu” juga terasa hambar. Jadi harus bilang apa?

Berbagai kata berputar-putar di kepalaku, tapi tidak ada yang terasa tepat. Pada akhirnya aku hanya diam sambil menggenggam tangan kecil boneka buaya itu erat-erat, lalu Sendai-san menunjukkan kotak yang kuberikan.

“Makasih ya buat ini. Boleh kubuka sekarang?”

“Jangan. Bukanya di kamarmu sendiri.”

“Oke sih, tapi ini… kamu beli bareng Utsunomiya?”

Nada suaranya terdengar datar.

“Aku beli sendiri.”

“Yang sama kayak gini dikasih ke Utsunomiya juga?”

“Tadi aku udah bilang kalau aku nggak kasih cokelat ke Maika.”

“Nggak bilang begitu. Yang kudengar cuma kamu nggak ada rencana ketemu dia.”

“Sendai-san detail banget. Kan nggak ketemu pas Valentine, berarti nggak kasih juga. Aku beda sama Sendai-san.”

“Beda gimana?”

“Kamu kan suka bagi friend chocolate. Dari dulu juga begitu.”

Waktu kelas dua maupun kelas tiga SMA. Sendai-san memang selalu membagikan cokelat ke teman-temannya.

“Tadi aku juga bilang aku nggak kasih ke siapa-siapa. Lagi libur, jadi nggak ada rencana ketemu teman. Aku cuma ketemu Miyagi.”

Setelah berkata begitu, Sendai-san meminum tehnya lalu memakan truffle bertelinga.

“Tapi tetap kerja part-time kan?”

“Kerja beda lagi. Lagian aku udah membiarkanmu kasih tanda begitu, jadi nggak apa-apa kan?”

“Itu bukan kiss mark. Itu tanda.”

“Iya iya.”

Tanpa diberi tahu pun aku tahu. Kerja part-time adalah sesuatu yang prioritasnya lebih tinggi daripada aku. Kata “kerja” sendiri sudah cukup membuatku tidak suka, karena itu hal yang bisa membuat Sendai-san tidak lagi mendengarkan perkataanku.

Meski begitu, aku tetap menahannya. Tapi kalau disuruh puas hanya dengan satu tanda seperti itu, aku jadi tidak bisa menerimanya begitu saja. Aku mengulurkan tangan ke bekas tanda yang baru kubuat tadi. Saat ujung jariku menyentuh dan menekan pelan bekas merah itu, pundakku tiba-tiba dicengkeram.

“Sendai-san. Tangan ini mau ngapain?”

Meski kutanya, dia tidak menjawab. Sebaliknya, genggamannya di pundakku malah semakin kuat. Tubuhku didorong pelan dan refleks tanganku menyentuh lantai.

“Aku nanya loh.”

“Karena Miyagi kelihatan nggak puas, jadi kupikir boleh kasih lebih banyak tanda.”

“Kalau begitu, lepasin tanganmu.”

Dari cara apa pun dilihat, Sendai-san jelas sedang mencoba menjatuhkanku ke lantai. Padahal kalau cuma mau bikin tanda di leher, tidak perlu sampai seperti ini. Malah lebih mudah kalau aku yang menjatuhkan Sendai-san.

“Menurutmu nggak apa-apa kalau aku juga dapat sesuatu yang menyenangkan?”

“Nggak.”

Aku menjawab tegas, tapi berat tubuhnya semakin menekan pundakku. Sekeli dorong lagi, dan punggungku benar-benar menempel di lantai.

“Aku nggak bakal melakukan hal yang Miyagi benci, jadi tenang aja.”

Sendai-san menggenggam tanganku. Refleks aku mencoba menarik lengan, tapi malah ditarik masuk ke balik sweater longgarnya. Telapak tanganku menyentuh sisi tubuhnya yang halus.

“Kalau aku yang melakukannya nanti kamu marah, jadi Miyagi aja yang lakukan.”

“…Kalau aku yang melakukannya, Sendai-san nggak marah?”

“Nggak ada alasan buat marah. Mau anggap itu tanda juga boleh.”

Nada suaranya lembut sekali. Saat aku memanggil namanya pelan, jarak kami menyusut dan bibirku menempel di lehernya. Aku mengisap kuat-kuat, menambah tanda merah baru. Sendai-san memang tidak marah. Tanganku yang berada di sisi tubuhnya bergerak perlahan ke bawah dada. Saat menekannya pelan, aku bisa merasakan tulang yang keras… tapi tubuhnya juga lembut dan hangat.

Hanya dengan menyentuhnya saja rasanya sudah nyaman. Karena Sendai-san adalah milikku, selama aku tidak melarangnya pergi kerja, aku boleh melakukan apa pun. Memberi tanda, menyentuhnya, bahkan melepas pakaiannya pun dia tidak akan marah. Tanganku menyusuri bagian atas bra dan menggenggam lembut dadanya. Melihat Sendai-san yang tidak melawan, aku semakin merasa kalau dia memang milikku.

“Sentuh yang benar dong.”

Mendengar suaranya yang seperti mendesak, aku memeluk punggungnya dan menyentuh kait bra dengan ujung jari.

Tapi hari ini Valentine. Kalau terjadi sesuatu, hari ini akan mudah diingat. Tidak perlu penanda apa pun. Sama seperti Natal waktu itu, tanggalnya akan terus melekat dalam ingatan.

“Miyagi?”

Aku mendengar suara Sendai-san, tapi aku tidak lagi tahu mana yang benar untuk dilakukan. Tanganku hanya diam menempel di punggungnya. Aku tahu dalam situasi seperti ini “benar” atau “salah” sebenarnya tidak berarti apa-apa. Tapi aku tetap tidak bisa menggerakkan tanganku lebih jauh.

“Aku suka disentuh Miyagi, jadi lanjutkan.”

Suaranya manis seperti cokelat, membuat jantungku berdetak pelan. Perkataannya membuatku merasa bahwa melanjutkan mungkin memang hal yang benar. Namun aku malah menarik tanganku keluar dari balik pakaiannya dan menyentuh bibirnya dengan ujung jari. Aku menjilat bibir Sendai-san yang terus menatapku.

Manis. Aku ingin memastikan apakah rasanya sama seperti truffle tadi, jadi aku mengecup bibirnya. Lidahnya langsung masuk menyelinap. Ciuman itu terasa lebih manis dan memabukkan dibanding yang kami lakukan di ruang bersama tadi. Rasanya seperti kami bukan lagi sekadar teman serumah. Aku mendorong pundaknya.

“Miyagi…”

Suara tidak puas terdengar pelan.

“…Hari ini jangan.”

“Kalau begitu kapan?”

“Nggak tahu. Pokoknya bukan hari ini.”

Aku menarik telinganya pelan. Aku tidak mau membuat janji, karena nanti aku akan terus memikirkan hari itu. Bukannya aku tidak ingin menyentuh Sendai-san. Hanya saja, hari ini adalah hari yang akan terus kuingat sampai tanggalnya sekalipun. Dan aku tidak ingin rasa manis cokelat yang kami buat bersama jadi tercampur dengan hal lain.

“Minggir.”

Wajah Sendai-san sempat terlihat muram mendengar perkataanku. Tapi hanya sesaat, lalu dia kembali seperti biasa. Meski begitu, dia tetap belum bergerak.

“…Aku nggak janji, tapi suatu saat boleh. Jadi minggir.”

Saat aku mendorong pundaknya sambil berkata begitu, akhirnya Sendai-san menuruti kata-kataku.

◇◇◇

Awalnya aku berniat menjalani libur musim semi dengan santai. Akhir tahun ada Natal, lalu awal tahun aku dipaksa Sendai-san hidup cukup teratur. Selain itu kami juga pergi ke tempat kerja part-timenya dan ke kebun binatang, jadi liburan musim dingin ternyata lebih sibuk dari yang kubayangkan.

Karena itu, aku ingin menjalani libur musim semi dengan tenang. Tapi malah dipaksa ikut membuat truffle. White Day nanti sepertinya aku juga bakal disuruh macam-macam lagi. Belum lagi aku harus bertemu Mio-san. Namun sekarang, aku tidak punya waktu memikirkan hal-hal yang sudah lewat ataupun rencana yang masih jauh di depan.

Aku tetap berbaring di tempat tidur sambil mengelus kepala boneka kucing hitam. Besok aku tidak ingin pergi ke mana-mana. Sudah lewat sedikit lebih dari seminggu sejak Valentine, dan sekarang perasaanku seperti anak kecil yang malas pergi sekolah. Dan semua ini… salah Sendai-san.

“Ini aneh banget.”

Aku sama sekali tidak bilang kalau jadwalku besok boleh diisi seenaknya, tapi dia malah mengisinya sendiri. Besok aku, Sendai-san, dan Maika akan pergi bersama. Tujuannya tentu saja memilih pakaian untuk Maika. Jadwalku besok sudah penuh hanya karena rencana itu. Dan itu sudah jadi keputusan final. Tidak bisa dibatalkan.

Kalau aku bilang benar-benar tidak mau, mungkin masih bisa dibatalkan. Tapi saat Maika bertanya alasannya, aku tidak punya alasan yang cukup masuk akal untuk mengelak. Memang jadwal itu diputuskan sepihak oleh Sendai-san, tapi rasanya aku nyaris tidak punya hak untuk menolak. Setelah makan malam, saat dia bilang mau mandi, dia sekalian memberitahuku soal rencana besok seolah itu hal biasa. Terlalu mendadak.

Maika memang pernah bilang ingin dipilihkan baju oleh Sendai-san, dan kami juga sudah berjanji akan pergi bertiga, jadi sebenarnya aku tahu suatu saat jadwalnya memang harus ditentukan. Tapi Maika itu temanku. Harusnya aku yang bicara dengannya dan menentukan harinya, bukan Sendai-san yang memutuskan berdua dengan Maika. Karena semuanya berjalan tanpa sepengetahuanku, aku jadi malas memikirkannya.

Aku melempar boneka kucing hitam ke arah langit-langit lalu menangkapnya lagi. Hal seperti ini butuh persiapan mental. Bukan sesuatu yang diputuskan terburu-buru. Sepertinya Sendai-san sangat menantikannya sampai ingin cepat-cepat menentukan jadwal, tapi aku tidak begitu.

“Kalau memang pengen banget pergi sama Maika, ya pergi aja berdua sama—”

Tidak. Aku tidak mungkin membiarkan Sendai-san dan Maika pergi hanya berdua. Karena janjinya pergi bertiga, maka kami harus pergi bertiga. Aku menghela napas panjang.

Kalau cuma aku dan Maika saja kan lebih enak. Aku tidak masalah pergi dengan Maika besok, tapi aku tidak ingin menambahkan Sendai-san di sana. Yang pergi main dengan Maika cukup aku saja. Bukan cuma besok, dari dulu aku selalu berpikir begitu. Terus-terusan sampai muak sendiri.

Intinya, aku tidak ingin Sendai-san bertemu Maika. Aku juga tidak suka kalau Sendai-san bicara berdua dengan Maika seenaknya. Mio-san ataupun Noto-san juga sama saja. Aku tidak ingin mereka bertemu Sendai-san. Tidak ingin mereka berbicara dengannya.

Aku tahu nama perasaan ini. Perasaan yang sebenarnya tidak ingin kusadari, tapi akhirnya kusadari saat festival sekolah itu selalu muncul setiap kali ada orang lain yang terlibat dengan Sendai-san. Bahkan setelah festival selesai pun, perasaan itu berkali-kali muncul dan membuatku jadi versi diriku yang paling menyebalkan. Aku sebenarnya tidak butuh rasa ingin memiliki seperti ini. Karena itu terhubung dengan perasaan lain yang juga tidak ingin kusadari.

—Cemburu.

Perasaan menyebalkan itu menyeret dirinya keluar dari dasar hatiku. Aku kembali melempar boneka kucing hitam ke arah langit-langit dan mengikuti benda hitam itu dengan pandangan mata. Setelah menangkapnya dengan kedua tangan, aku duduk dan menaruh boneka hitam itu di dekat bantal. Lalu menggunakan kasur sebagai sandaran, aku mengambil ponsel dan membuka foto-foto festival sekolah.

Sendai-san dan aku.

Sendai-san dan Maika.

Begitu banyak foto Sendai-san. Seolah sedang menempel label pada hari-hari peringatan dan mengaturnya dengan rapi, dia terus menempelkan label pada perasaan-perasaan yang sebenarnya tidak ingin kusadari. Padahal tidak perlu, tapi dia memisahkan semuanya dengan teliti dari emosi lain, mengelompokkannya, memberi nama, lalu menuliskannya besar-besar di label itu. Tulisan itu tidak akan hilang.

Label-label itu menempel di dalam diriku dan tidak bisa dilepas. Meski aku berusaha tidak melihatnya, tanpa sadar jumlahnya terus bertambah sampai bagian dalam diriku dipenuhi label. Benar-benar menyebalkan.

Tapi ada cara supaya label-label itu tidak terlalu mencolok. Selama Sendai-san tetap terikat denganku, itu sudah cukup. Janji, ikatan, belenggu. Apa pun caranya tidak masalah. Semakin kuat cara mengikatnya, semakin efektif. Misalnya mengikatnya dengan kalung ke kamar ini—.

Aku menghela napas panjang. Sendai-san itu milikku, jadi sebenarnya dia sudah terikat padaku. Anting biru itu adalah tanda bahwa dia milikku, dan kalau itu masih kurang, aku juga bisa meninggalkan tanda merah di tubuhnya. Dia tidak akan menjadi milik Maika. Jadi tidak apa-apa.

Aku menyentuh anting di lubang tindik yang dibuat Sendai-san sendiri. Saat ujung jariku menekan bunga kecil di sana dan menarik daun telingaku, terdengar suara ketukan di pintu.

“Miya, boleh sebentar?”

Suara Sendai-san terdengar, dan aku buru-buru mengganti tampilan layar ponsel sebelum meraih boneka kucing hitam.

“Tunggu, aku buka sekarang.”

Aku menaruh boneka itu di rak buku lalu membuka pintu.

“Sendai-san, ada apa?”

“Aku mau nanya sesuatu. Boleh masuk?”

“…Boleh sih.”

Sebenarnya tidak terlalu boleh, tapi tetap saja aku membiarkannya masuk lalu duduk di lantai bersandar pada kasur. Namun dia tidak duduk di sebelahku dan malah berdiri di depan rak buku.

“Ngapain?”

“Kucing hitamnya tadi jatuh, jadi aku dudukin lagi. Ini punya nama?”

“Nggak.”

Aku mencoba mengingat apakah tadi benar aku sudah menaruh boneka itu dengan benar di rak buku atau belum, tapi tidak bisa. Rasanya seperti sudah, tapi juga seperti belum.

“Nggak mau kasih nama?”

“Nggak. Emang itu yang mau ditanyain?”

“Bukan sih. Mau kubikinin nama sekalian?”

“Ogah. Kalau diserahin ke Sendai-san pasti dikasih nama kayak Kuro-chan atau nama polos begitu.”

“…Kalau Roro-chan gimana? Lucu, kan?”

“Susah diucapin. Daripada itu, sebenarnya mau nanya apa?”

“Aku mau nanya boleh pegang rambutmu nggak.”

Begitu bilang begitu, Sendai-san duduk di kasur lalu menarik pelan rambutku.

“Sekarang?”

Aku menepuk tangannya lalu bertanya balik.

“Besok. Sebelum pergi aku mau bikinin kepang sama makeup.”

“Nggak mau banget.”

“Aku udah nyangka. Miya pelit banget sih.”

Dengan nada yang tidak terdengar kecewa sama sekali, dia kembali menarik rambutku di dekat atas kepala.

“Cuma bikin kepang kecil sampai bawah telinga di sisi sini doang kok. Cepat selesai juga.”

“Kan udah bilang nggak mau.”

Tidak perlu melakukan hal aneh-aneh begitu. Daripada membahas itu, kalau memang mau bicara, aku lebih ingin membahas hal lain.

“…Kenapa harus besok?”

Aku menatap Sendai-san yang memakai kaus lengan panjang dan kardigan. Sepertinya dia baru selesai mandi; rambut panjangnya tidak diikat dan dia juga belum memakai makeup. Mungkin hanya aku yang bisa melihat sisi santainya seperti ini.

“Ya karena nggak ada gunanya ditunda terus. Utsunomiya juga pasti pengen cepat beli baju. Lagi pula Miya nggak pernah mutusin jadwal. Bulan depan Mio juga mau datang main, jadi lebih baik cepat ditentuin, kan?”

“Ya sih…”

“Memangnya besok nggak cocok? Soalnya kamu bilang nggak ada jadwal, jadi kupilih besok.”

Memang aku bilang tidak ada rencana, tapi bukan berarti aku sengaja mengosongkan jadwal untuk pergi dengan Maika. Tapi sekarang mengeluh juga tidak ada gunanya, jadi hanya ada satu jawaban yang bisa kukatakan.

“Nggak masalah.”

“Nah, berarti oke dong. Terus soal tadi, kalau rambut dan makeup nggak boleh, biarin aku pilihin bajumu.”

“Nggak mau.”

“Kalau gitu perintahin aku aja?”

“Kamu tuh selalu ngomong begitu.”

“Nggak apa-apa dong. Orang yang disuruh juga bilang nggak masalah kok. Miya mau tukeran syarat nggak? Perintahmu ditukar sama hal yang pengen kulakuin.”

“Nggak mau.”

“Kamu suka nyuruh-nyuruh, kan? Sana nyuruh.”

“Kalau disuruh buat ngasih perintah rasanya beda.”

Aku memang tidak benci memerintah Sendai-san, tapi aku tidak mau dipaksa untuk melakukannya. Kalau aku memberi perintah karena disuruh, rasanya malah seperti aku yang mengikuti kemauannya. Sama saja seperti diperintah olehnya.

“Kalau gitu, biarin aku yang ngurus rambutmu. Sekalian makeup juga.”

Kalau dia tidak melakukan itu pada Maika. Kalau aku boleh memberi syarat seperti itu, mungkin aku rela membiarkannya menyentuh rambutku dan merias wajahku. Tapi aku tidak mungkin mengatakannya.

“Miya.”

Sendai-san turun dari kasur lalu duduk di sebelahku. Dia mengulurkan tangan, membelai rambut dan pipiku. Aroma sampo yang sama denganku menggelitik hidungku dan membuat keberadaan Sendai-san terasa semakin kuat.

“…Kalau sedikit sih boleh.”

Aku tidak bisa memaksanya berjanji untuk tidak melakukan rambut atau makeup Maika. Tapi setidaknya besok dia hanya akan melakukannya padaku.

“Kalau begitu cukup. Nggak mau kasih tanda juga?”

“Sekarang nggak.”

“Kalau aku yang kasih tanda ke Miya?”

“Nggak mau.”

Setelah gumaman kecil “pelit”, bibir Sendai-san menempel di bibirku seolah itu hal paling biasa. Tapi sentuhan itu hanya sebentar sebelum segera terlepas lagi. Ciuman dari Sendai-san selalu membuat keberadaannya terasa kuat, membuatku sadar kalau dia milikku dan terikat padaku, sehingga emosi-emosi berlabel itu tersembunyi.

Karena itu aku menarik kardigannya. Kehangatan yang sempat menjauh kembali mendekat. Lalu perlahan menyentuh bibirku lagi.

Lanjut baca perlu akun

Di tiap novel bab 1–3 bebas — mau dibaca berapa kali pun. Bab 4 ke atas perlu masuk, jadi bab ini disamarkan.

Masih bebas: Bab 1Bab 2Bab 3 Semua bab