Miyagi Masih Kurang
Sebelum sarapan sekali, sebelum makan siang juga sekali. Aku mengetuk pintu dua kali setiap kalinya. Aku juga memanggil namanya. Tapi Miyagi tidak keluar dari kamarnya, bahkan tidak menjawab sepatah kata pun.
Aku tahu alasan kenapa dia tidak mau keluar. Tidak mungkin bukan karena kejadian kemarin, tanggal 25 Desember.
Janji yang ia lindungi saat Natal—“lain kali aku juga boleh melakukannya, kan?”—malah membuat Miyagi menjauh dariku. Meski dia tidak kabur dari rumah, kalau terus mengurung diri di kamar seperti ini rasanya sama saja. Padahal kami tinggal serumah, tapi sampai tidak bisa melihat wajahnya karena dihindari sejelas ini… itu menyakitkan.
Aku menarik napas panjang lalu mengembuskannya. Aku mengetuk pintu kamar Miyagi sedikit lebih keras.
Dok. Dok.
Aku memasang telinga, tapi tidak ada suara dari dalam. Ketukan ketigaku hari ini juga diabaikan begitu saja.
“Miyagi!”
Aku memanggil dengan suara keras ke arah pintu, tapi tetap tidak ada jawaban. Hari ini aku mulai kerja paruh waktu di kafe selama libur musim dingin, jadi sebelum pergi aku ingin setidaknya dia membuka pintu. Aku mengetuk pintu sekali lagi dengan keras.
Ruangan itu tetap sunyi. Aku menempelkan dahi ke pintu sambil menyentuh tengkukku. Tidak ada kehangatan yang terasa. Yang disentuh ujung jariku hanyalah kain turtleneck yang kupakai untuk menutupi bekas gigitan yang dibuat Miyagi kemarin.
“Miyagi, kamu dengar kan? Minimal jawab kek.”
Nama yang kupanggil berkali-kali hari ini tetap tidak mendapat balasan. Pintunya juga tetap tertutup rapat. Aku jadi merasa pintu yang tidak bisa dibuka seperti ini tidak diperlukan. Lebih baik pintu yang memisahkan aku dan Miyagi dicabut lalu dibuang saja. Sekalian juga dinding yang memisahkan kamar kami dihancurkan dan dibuang sebagai sampah besar.
Sambil memikirkan hal mustahil itu, aku kembali mengetuk pintu yang cuma jadi penghalang, lalu menggenggam gagang pintunya.
“Aku masuk ya.”
Meski mengatakannya dengan tegas, tanganku tidak bergerak. Aku merasa bersalah masuk tanpa izin. Padahal aturan tak tertulis seperti ini rasanya tinggal dibuang saja… tapi aku tetap tidak bisa. Aku mengetuk pintu pelan.
“Aku buka ya.”
Saat aku mengucapkannya seperti sedang memohon agar dibolehkan masuk, untuk pertama kalinya hari ini suara Miyagi terdengar dari dalam.
“Aku belum bilang kamu boleh masuk.”
“Kalau gitu bilang boleh dong.”
“Gamau.”
“Aku mau berangkat kerja, setidaknya kasih lihat wajahmu.”
Aku menjauhkan dahi dari pintu dan memanggil lagi.
“Miyagi.”
Tidak ada jawaban lagi. Di balik pintu hanya ada keheningan.
“Aku buka ya?”
Kali ini dia tidak protes. Mungkin artinya aku boleh masuk, jadi aku membuka pintu perlahan. Begitu melangkah ke dalam kamar, yang langsung terlihat adalah gumpalan selimut besar.
“Miyagi, keluarin wajahmu.”
“Gamau.”
Miyagi yang berubah jadi ulat besar di atas tempat tidur menjawab dengan suara tertahan.
“Kamu udah makan?”
Tidak ada jawaban. Tapi isi kulkas dan makan siang yang kusimpan tidak berkurang sama sekali, jadi aku sudah tahu jawabannya.
“Aku bikin nasi goreng buat porsi kamu juga. Udah kutaruh di kulkas, tinggal dipanasin.”
Aku mendekat ke ranjang dan duduk di sampingnya. Dari balik selimut terdengar suara kecil.
“Makasih.”
“Miyagi.”
Aku menarik ujung selimutnya, tapi dia menariknya kembali.
“Sendai-san, bukannya kamu mau kerja? Cepetan pergi sana. Nanti telat.”
“Masih ada waktu.”
Aku menepuk selimutnya pelan.
“Miyagi.”
Kupanggil lagi, tapi selimut itu tetap saja cuma gumpalan ulat dan tidak berubah kembali jadi Miyagi yang biasa. Aku mulai menyesali kejadian kemarin. Mungkin aku tidak seharusnya memakai kata “seks”. Aku cuma ingin dia lebih sadar akan diriku. Aku ingin dia memikirkan apa sebenarnya yang kami lakukan. Karena itulah aku mengucapkan kata itu.
Tapi kalau aku sendiri tidak berniat mengatakan “aku suka kamu”, mungkin tidak ada gunanya membuatnya sadar sejauh itu. Yang kuinginkan bukan Miyagi yang bersembunyi di balik selimut seperti ini.
Aku menghela napas panjang lalu menggenggam selimutnya. Seperti biasa. Seolah kemarin tidak terjadi apa-apa. Aku menarik selimut itu sambil memanggilnya.
“Miyagi.”
“Sendai-san, berisik.”
Miyagi akhirnya bangun sambil mengernyit kesal. Akhirnya wajahnya dan sweater yang dijadikan piyama terlihat, meski sebagian besar tubuhnya masih terbungkus selimut.
“Kamu nggak ganti baju?”
Seberapa pun dia jadi sadar padaku, atau memikirkan arti semua yang kami lakukan, Miyagi tetap tidak akan mengatakan kalau dia menyukaiku. Walau tindakannya sering terasa seperti orang yang jelas punya perasaan, dia memang bukan tipe yang akan mengatakannya terang-terangan. Karena itu kami harus kembali ke keseharian kami.
“Aku mau belajar dan bakal di rumah terus, jadi pakai sweater gini aja cukup.”
Suaranya rendah dan tatapannya tajam. Dari mana pun dilihat, mood-nya benar-benar jelek. Ya… memang tidak ada alasan baginya untuk jadi mood bagus sih. Aku tersenyum kecil lalu menunjuk lehernya.
“Di sini ada bekasnya.”
Bekas ciuman yang kubuat kemarin masih terlihat jelas. Saat jariku menyentuh lehernya dan mengusap bekas itu, tanganku langsung ditepis.
“Ngapain sih ke sini?”
“Karena kita udah janji.”
“Kalau janji, bukannya kemarin udah dipenuhi?”
“Masih ada janji lain kan.”
“Nggak ada.”
Miyagi menjawab tegas, tapi aku tahu aku tidak salah. Masih ada janji yang harus dia tepati.
“Yang bilang kalau aku kerja harus kasih tanda itu siapa? Kalau lupa, coba inget lagi.”
Sebelum festival sekolah, aku billing akan kerja lagi di kafe milik kerabat Mio selama libur musim dingin. Waktu itu Miyagi bilang kalau aku pergi kerja, dia harus boleh meninggalkan tanda padaku. Dia bahkan bilang aku tidak boleh pergi ke mana-mana selain kerja. Aku berniat menepati janji itu. Dan aku juga ingin Miyagi menepatinya.
“…Hari ini nggak usah. Cepet pergi kerja aja. Nanti telat.”
Suaranya datar tanpa keramahan sedikit pun.
“Kan kamu sendiri yang ngomong begitu. Jadi kasih tandanya yang bener.”
“Udah kubilang hari ini nggak usah.”
“Kalau gitu tukeran syarat. Kalau kamu jawab pertanyaanku, aku anggap kamu nggak perlu nepatin janji hari ini.”
“Pasti pertanyaan aneh kan.”
“Nggak aneh kok. Aku cuma mau tahu apa kamu mimpiin aku atau nggak.”
Aku tahu dia pasti tidak akan menjawab. Tapi aku tetap menatapnya. Bibir Miyagi sempat bergerak lalu tertutup lagi. Dia meraih bantal, lalu memukul lenganku dengan bantal itu.
“Sakit tau.”
“Tuh kan, pertanyaan aneh.”
“Nanya soal mimpi itu percakapan biasa kali. Kamu aja yang mikir aneh jadi kedengarannya aneh.”
“…Sendai-san sendiri mimpi nggak?”
“Aku pengin bilang jangan jawab pertanyaan dengan pertanyaan, tapi… iya. Aku mimpiin Miyagi yang kemarin.”
Aku yang menyuruh Miyagi memimpikanku, malah justru memimpikannya sendiri. Memang terdengar bodoh, tapi masih sesuai dugaan. Mana mungkin aku tidak memimpikan Miyagi setelah kejadian kemarin. Mimpi itu mencampur kenyataan dengan hal-hal yang tidak pernah terjadi, jadi rasanya aku tidak ingin bangun. Sampai-sampai aku berpikir ingin melakukan hal yang sama lagi hari ini.
“Miyagi, kamu mimpi juga?”
Aku merebut bantal dari Miyagi yang masih terbungkus selimut. Tiba-tiba dia menarik lenganku. Tubuhku condong ke arahnya dan napas hangat menyentuh telingaku. Di atas tempat tidur, Miyagi ada begitu dekat. Aku teringat kejadian kemarin.
Tubuhku menegang dan pikiran aneh mulai bermunculan. Saat aku memanggil namanya, dia menarik kerah rajut yang menutupi leherku tanpa ragu. Lalu sesuatu yang keras menekan tengkukku. Rasa sakit menyebar seolah kulitku digigit. Mungkin tepat di tempat bekas gigitan kemarin, tempat Miyagi menggigitku begitu kuat sampai meninggalkan tanda yang jelas.
Sakit.
Sensasi itu menelusuri ulang kenangan kemarin dan menimpanya lagi, perlahan menggerogotiku. Tubuhnya yang kemarin lebih jujur saat kusentuh dibanding pertama kali. Suaranya saat memanggilku “Hazuki”. Semuanya muncul di kepalaku lebih jelas daripada mimpi, sampai aku memeluk Miyagi erat seolah menariknya keluar dari selimut.
Kalau bisa, aku ingin membatalkan kerja dan menjatuhkannya kembali ke ranjang ini. Melupakan semuanya, tinggal terus di rumah seperti yang dia bilang, tanpa pergi ke mana pun. Aku mempererat pelukanku. Gigitan yang menusuk kulit membuat napasku nyaris terhenti. Saat aku berbisik memanggil namanya, tiba-tiba dia mendorong bahuku.
“Udah kasih tandanya.”
Katanya pelan sambil menjauh sedikit dariku.
“Kalau kasih tandanya di tempat kayak gini malah susah tau.”
Aku menyentuh bagian leher di balik rajutan, tempat yang mungkin sekarang ada bekas giginya.
“Kan kita janji aku boleh kasih tanda di mana aja sesukaku. Lagian, kamu pakai baju itu emang buat nyuruh aku gigit di situ kan?”
“Aku pakai ini buat nutupin bekas yang kamu bikin kemarin biar bisa kerja.”
Aku menarik sedikit kerah rajutku. Miyagi langsung berkata dengan suara rendah,
“Kalau gitu cepet pergi kerja sana.”
Dia mendorongku lagi. Miyagi terasa menjauh lagi, jadi aku menangkap tangannya. Saat aku mencoba menggenggam lebih erat, dia malah menggigit tengkukku lagi dari atas pakaian. Memang lebih mending daripada digigit langsung, tapi tetap sakit. Meski begitu aku tidak ingin melepaskannya, jadi aku kembali memeluk punggungnya. Tapi seperti kucing liar, Miyagi langsung kabur dariku.
“Tandanya udah cukup?”
“Udah.”
Jawabannya singkat dan dingin. Hari ini Miyagi benar-benar bad mood. Dia jelas tidak akan memanggilku “Hazuki” lagi seperti kemarin, tapi entah kenapa aku tetap merasa dia lucu.
“Hari ini aku pulang agak malam.”
Aku memberi tahu Miyagi yang lebih menempel ke selimut daripada ke aku.
“…Makan malam?”
“Makan malam kenapa?”
“Makanannya Sendai-san.”
“Malam nanti ada makanan dari tempat kerja.”
“Terus makananku?”
“Punyamu?”
“Aku lagi nggak pengin ngapa-ngapain hari ini.”
Miyagi bergumam pelan sambil menunduk menatap selimut.
“Itu maksudnya kamu mau aku masakin?”
“Kalau nggak mau ya udah.”
“Aku bisa masakin sih, tapi nggak apa-apa? Nanti kamu lapar.”
“Kalau aku mati kelaparan berarti salah Sendai-san.”
“Oke. Aku bakal pulang secepat mungkin.”
Dia memang tidak bilang akan menungguku, tapi rasanya suasana di sekelilingnya sedikit melunak. Aku mendekatkan wajahku padanya. Namun sebelum bibir kami bersentuhan, bahuku didorong kuat-kuat.
Miyagi yang tadi tidak mengizinkanku menciumnya sebelum pergi kerja, juga tidak mengizinkanku membuat janji lewat anting plumeria dan makan malam. Hari ini ada jarak di antara kami. Sampai sulit dipercaya kalau kemarin kami begitu dekat, seolah bisa melebur jadi satu kapan saja.
Meski begitu, aku tetap ingin memasakkan makan malam untuk Miyagi. Aku mempercepat langkah di jalan malam. Hari ini memang sudah dipastikan bakal pulang larut, jadi tidak bisa dihindari, tapi sekarang bahkan sudah terlalu malam untuk disebut waktu makan malam. Rumah tempat Miyagi menunggu mulai terlihat, dan aku pun mempercepat langkah lagi.
Aku membuka pintu depan dan masuk ke dalam. Tentu saja Miyagi tidak ada di ruang bersama, tapi mengingat bagaimana dia tadi sebelum aku pergi kerja, itu bukan hal aneh. Aku menyalakan lampu dan AC, lalu mengetuk pintu yang hari ini sudah berkali-kali kutoktok.
“Miyagi, aku pulang. Aku bikin makan dulu ya, tunggu bentar.”
Tanpa menunggu jawaban, aku masuk ke kamar untuk meletakkan mantel dan tas, lalu kembali ke ruang bersama.
Saat membuka kulkas, aku merasa lega melihat nasi goreng yang kubuat siang tadi sudah habis. Mungkin dia tidak akan pingsan cuma karena tidak makan seharian, tapi tetap saja lebih baik makan daripada tidak sama sekali. Aku mengecek rice cooker dan, seperti dugaan, belum ada nasi yang dimasak.
Aku mengisi panci dengan air lalu menyalakan kompor. Setelah itu aku menyiapkan pasta dan mengeluarkan sayuran untuk salad dari kulkas. Karena malas repot, sausnya kupakai yang instan saja. Aku mulai memotong kubis dan tomat.
Tak lama kemudian air mendidih. Aku memasukkan garam dan pasta ke dalam panci, lalu memasang timer. Saat itulah aku merasakan tatapan dan menoleh ke belakang. Entah sejak kapan dia keluar kamar, mataku langsung bertemu dengan mata Miyagi.
“Masih belum jadi kok. Kamu di kamar aja dulu. Nanti kalau udah siap aku panggil.”
Aku berbicara pada Miyagi yang berdiri di depan kamarnya, dan dia langsung mengalihkan pandangan. Tapi kemudian terdengar jawaban kecil.
“Selamat pulang. Aku tunggu di sini aja.”
“Kalau nunggu ya duduk.”
Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya, tapi Miyagi tidak menjawab. Aku membelakanginya dan mulai memanaskan saus daging. Mungkin, selama aku melihatnya, Miyagi tidak akan mendekat. Saat pura-pura fokus melihat pasta yang berputar di dalam panci, terdengar suara kursi bergeser.
Dan lagi-lagi aku berpikir kalau Miyagi benar-benar mirip kucing liar. Kalau terlalu didekati, dia kabur. Tapi kadang dia juga datang mendekat sesukanya. Mungkin memang tidak ada yang namanya jarak yang tepat antara aku dan Miyagi. Jarak mana pun terasa benar sekaligus salah. Karena itu, Miyagi yang tadi pagi bersembunyi di balik selimut seperti sedang menghindariku, sekarang justru menatap punggungku sampai rasanya menusuk.
Dia terlalu berubah-ubah. Tapi Miyagi yang tidak berubah-ubah bukanlah Miyagi. Aku menata kubis dan tomat ke piring lalu menoleh.
“Miyagi, lagi ngapain?”
“Nggak ngapa-ngapain.”
Dengan suara datar, pandangannya jatuh ke meja. Aku sempat bingung harus mengatakan apa lagi pada gadis yang sekarang bahkan tidak mau melihatku itu, tapi timer berbunyi. Aku mematikannya, menuang pasta ke saringan lalu ke piring, kemudian menuangkan saus daging di atasnya.
“Nih, udah jadi.”
Aku meletakkan pasta dan salad ke meja lalu memberikan garpu.
“Makasih. Itadakimasu.”
Miyagi berkata dengan nada datar sambil mulai menggulung pasta dengan garpu. Lalu dia makan dalam diam. Melihat Miyagi yang tadi siang cuma jadi gumpalan selimut sekarang duduk manis makan pasta, entah kenapa kata “berhasil menjinakkan” muncul di kepalaku, dan dia makin terlihat seperti kucing liar.
Di ruang bersama yang sunyi, hanya suara garpu dan piring yang beradu pelan yang terdengar. Pasta yang kubuat cukup banyak perlahan mulai habis. Dalam waktu singkat, setengahnya sudah lenyap.
Ngomong-ngomong, cara makan pasta Miyagi itu jelek banget. Kadang pasta yang dia gulung terlalu banyak, kadang terlalu sedikit. Ada saat dia makan satu gulungan besar sambil ngemut-ngemut susah, ada juga saat porsinya terlalu sedikit dan dia terlihat kurang puas. Melihatnya saja sudah tidak membosankan.
Kalau kubilang dia lucu saat seperti itu, pasti dia marah. Kalau kubilang langsung kalau cara makannya buruk, dia juga bakal marah. Tapi kalau dua-duanya sama-sama bikin marah, mungkin tidak masalah kalau aku billing dia lucu. Meski begitu, hari ini rasanya kalau aku membuatnya kesal, dia bakal langsung balik ke kamar. Jadi aku menelan kata-kata yang hampir keluar itu.
Kesempatan untuk bilang “lucu” pasti masih ada nanti. Sekarang lebih baik aku tidak mengatakan hal yang tidak perlu.
“Enak?”
Aku melempar pertanyaan aman yang sepertinya bakal dibalas.
“Enak.”
Miyagi menjawab tanpa melihatku.
“Kalau aku nggak pulang, kamu tadi mau makan apa?”
Pertanyaan kali ini belum tentu dibalas. Tangan Miyagi yang tadi menggulung pasta berhenti. Suara garpu dan piring menghilang, dan ruang bersama mendadak jadi sangat sunyi. Setelah jeda singkat, akhirnya Miyagi melihat wajahku.
“…Kamu tadi bilang bakal pulang.”
Suaranya terdengar benar-benar kesal.
“Aku juga repot kalau kamu mati kelaparan. Pastanya cukup?”
“Cukup.”
Setelah menjawab, dia kembali menggulung pasta lalu memakannya. Tapi karena satu suapan terlalu besar, dia jadi mengunyah susah payah.
“Main ke kafe lagi dong kapan-kapan.”
Saat Miyagi selesai menelan pasta, aku malah mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak berniat kukatakan.
“Datang sendirian juga nggak seru.”
“Temanku pengin ketemu Miyagi.”
“…Teman?”
Suaranya sedikit lebih rendah dari tadi.
“Teman kampus yang ngenalin aku ke kerjaan ini. Sekarang kami kerja bareng.”
Yang kumaksud sebenarnya Mio. Sejak melihat foto Miyagi, dia jadi terlalu tertarik dan terus bilang ingin bertemu. Waktu sebelum festival sekolah aku cuma kerja sebagai pengganti Mio, jadi belum pernah ada situasi seperti sekarang. Tapi sekarang berbeda. Dia terus merengek minta dikenalkan pada Miyagi.
Meski begitu, aku merasa kalau mereka benar-benar dipertemukan pasti bakal jadi ribet. Karena itu aku awalnya ingin merahasiakan kalau Mio ingin bertemu dengannya. Tapi ternyata tidak bisa. Bahkan saat sedang kerja pun aku tetap ingin bertemu Miyagi. Dan begitu melihat wajahnya lagi, aku jadi tidak bisa menahan diri untuk tidak mengajakanya datang.
“Oh gitu.”
Jawaban Miyagi terdengar datar tanpa emosi.
“Kapan aja nggak apa-apa kok. Kalau lagi pengin, datang aja. Ah, tapi Tahun Baru aku libur. Eh, mau pergi hatsumode bareng nggak?”
Sambil melihat pasta yang makin berkurang di piringnya, aku mencoba menanyakan hal yang sebenarnya sudah ingin kutanyakan sejak tadi dengan nada biasa saja.
“Aku udah bilang pas Natal, aku nggak mau.”
Aku ingat jelas dia pernah bilang tidak mau pergi hatsumode. Walau tepatnya bukan saat Natal, tapi malam Natal di rumah Utsunomiya.
“Ayo dong, seru kali.”
“Emang ke hatsumode ngapain? Dinginnya doang dapet.”
“Ya buat berdoa lah. Kalau mau ambil omikuji juga bisa.”
“Sendai-san sendiri ada keinginan yang pengin dikabulin?”
Pertanyaan itu membuatku teringat semua doa yang pernah kupanjatkan saat hatsumode dulu. Mulai dari keinginan kekanak-kanakan seperti ingin jadi seperti kakakku, sampai soal ujian, masuk sekolah, dan pertemanan. Aku sudah meminta banyak hal pada dewa. Tapi semakin penting keinginannya, semakin terasa tidak pernah terkabul.
Meski begitu, kalau semuanya terkabul, mungkin aku tidak akan tinggal di sini sebagai teman sekamar Miyagi. Kalau dipikir begitu, mungkin memang lebih baik beberapa hal tidak terkabul.
“Miyagi sendiri nggak ada?”
“Nggak ada. Aku juga nggak punya kebiasaan pergi hatsumode.”
“Kalau gitu kita santai berdua di rumah aja?”
“Sendai-san pergi aja sendiri.”
“Bukannya aku nggak boleh pergi ke mana-mana sendirian selain kerja selama libur musim dingin?”
Aku sendiri tidak terlalu terikat dengan hatsumode. Kalau itu bukan alasan buat pergi bersama Miyagi, aku tidak perlu memaksakannya. Selama tanggal satu Januari nanti Miyagi ada di dekatku, aku tidak peduli bagaimana kami menghabiskan hari itu.
“…Kalau udah ngerti ya tinggal di rumah aja.”
Miyagi berkata datar sambil menggulung sisa pasta terakhirnya.
Waktu terus berjalan tanpa berhenti, membuat bulan Desember tinggal sedikit lagi.
Sehari setelah Miyagi berubah jadi “ulat selimut”, saat aku mengetuk pintunya pagi-pagi, dia keluar dan sarapan bersamaku di ruang bersama. Hari berikutnya, saat aku keluar kamar, Miyagi sudah ada di sana.
Hari-hari biasa sebelum Natal perlahan kembali lagi. Memang menyakitkan melihat Miyagi mencoba menjaga jarak dariku, tapi itu juga bukti kalau dia sadar akan keberadaanku. Dan aku tidak bisa menyangkal kalau ada sedikit rasa sayang melihat perubahan kecil itu hilang begitu saja.
Tapi libur musim dingin itu singkat. Aku harus melihat masa sekarang, bukan terus terpaku pada masa lalu.
“Pakai yang mana ya…”
Aku membandingkan minyak kuku yang tinggal sedikit dengan botol baru pemberian Utsunomiya. Sebenarnya aku ingin menghabiskan yang lama dulu sebelum membuka yang baru, tapi minyak kuku yang tinggal sedikit itu ternyata susah habis. Setelah berpikir sebentar, akhirnya aku mengambil minyak kuku hadiah Natal dari Utsunomiya.
Sekarang sudah tanggal dua puluh sembilan. Dia memberikannya saat malam Natal, jadi rasanya aku sudah harus mengirim kesan setelah memakainya. Aku membuka botol kecil berisi bunga kering warna-warni lalu mulai mengoleskan minyak ke kuku tangan kiriku.
Kalau diriku saat SMA melihat diriku yang sekarang memakai hadiah dari Utsunomiya, mungkin dia akan terkejut. Semua ini terjadi karena aku tinggal bersama Miyagi. Kalau tidak ada Miyagi, diriku yang sekarang mungkin tidak akan ada. Memikirkannya membuatku cukup terharu.
Tapi Miyagi yang mengubahku, tidak berubah sepertiku. Hanya saja kecepatannya berbeda. Dia berubah perlahan. Kadang aku merasa kesal dan ingin menarik tangannya agar berjalan dengan kecepatan yang sama denganku. Tapi aku tahu, memaksanya juga tidak akan membuatnya berubah mendadak.
Aku menghela napas kecil lalu memijat kuku yang sudah diberi minyak agar meresap. Setelah itu aku mengoleskannya ke tangan kanan juga. Meski kejadian Natal itu terjadi, Miyagi tetap tinggal di rumah, dan hari ini kami bahkan memasak serta makan malam bersama.
Ini berbeda dengan pertama kali aku menyentuhnya dulu. Sekarang, bahkan setelah melakukan hal seperti itu, kami bisa kembali menjalani keseharian seperti biasa dalam waktu yang tidak terlalu lama. Meski dengan kecepatan berbeda, kami tetap berubah.
“Mungkin sebelum ke kamar Miyagi aku siapin bahan les buat besok dulu…”
Besok aku ada kerja les privat. Aku ingin mengecek materi yang akan kupelajari bersama Kikyou-chan. Saat hendak membereskan minyak kuku, terdengar suara ketukan di pintu.
“Masuk aja.”
Aku menjawab sedikit keras. Tak lama kemudian pintu terbuka dan Miyagi masuk ke kamarku.
“Bosen.”
Dia duduk di sampingku seolah itu hal paling wajar, lalu bergumam pelan.
“Abis liburan kan ujian. Belajarnya mana?”
“Sendai-san juga ujian kan. Aku belajarnya pas kamu lagi kerja.”
Karena aku tidak ada di rumah saat itu, aku tidak tahu dia bohong atau jujur. Tapi kalau Miyagi mau tetap di sampingku, bahkan kebohongan pun rasanya tidak masalah.
“Gitu ya.”
“Lagi ngapain tadi?”
Miyagi menatap dua botol di atas meja dengan suara yang terdengar kurang tertarik.
“Tadi pakai minyak kuku. Habis itu mau siapin bahan buat besok.”
“…Buat les privat?”
“Iya.”
“Belajar tuh nggak bisa libur pas akhir tahun aja? Besok udah tanggal tiga puluh loh.”
“Ya gimana, dia anak ujian.”
“Bukannya kamu bilang muridmu nilainya bagus? Masih perlu diajarin?”
Dia memang tidak salah. Kikyou-chan—yang namanya tidak pernah dipanggil Miyagi—memang pintar sampai sebenarnya tidak perlu les privat. Mungkin tanpa bantuanku pun dia bakal lulus. Tapi dia dan ibunya tetap meminta bantuanku. Entah karena dia suka belajar atau cuma terlalu khawatir, aku tidak tahu. Tapi kalau mereka meminta bantuanku bahkan sampai akhir tahun, aku juga tidak punya alasan untuk menolak.
“Aku beda sama Miyagi. Muridku rajin belajar.”
“Hmph. Yaudah siapin aja tuh kerjaanmu. Aku balik kamar.”
“Aku tetap bisa siapin sambil ngobrol sama Miyagi kok.”
Meskipun sedang libur musim dingin, sekarang sudah cukup malam. Kalau aku membiarkannya kembali ke kamar sekarang, kemungkinan besar dia tidak akan datang lagi malam ini.
“…Minyak kuku itu yang dikasih Maika? Udah dipakai?”
“Udah. Aku mau kasih tahu kesanku ke Utsunomiya. Kalau hand cream yang aku kasih, Miyagi pakai?”
“Pakai.”
Jawabannya langsung keluar. Aku menyentuh tangannya, seolah ingin memastikan tekstur kulitnya. Saat jariku mengusap punggung tangan hingga ujung jarinya, Miyagi langsung menggenggam tanganku seperti tidak suka. Lalu dia menekan kuku yang baru saja kupakai minyak dengan kuat.
“Kalau pijat kok keras banget?”
Aku sebenarnya tidak bermaksud mengkritiknya, tapi dia langsung melepaskan tangannya. Miyagi menarik tempat tisu berbentuk platipus lalu mengambil selembar tisu. Kertas tipis itu langsung ditekan ke jariku, mengusap sesuatu tak terlihat dari kukuku.
Jari tengah, jari manis, lalu kelingking. Saat tisu itu menyentuh kelingkingku, aku menggenggam tangannya.
“Walau dihapus juga nggak bakal hilang.”
Mungkin Miyagi sedang mencoba menghapus minyak kuku itu. Dan alasannya terasa sangat jelas—karena itu hadiah dari Utsunomiya. Dadaku berdegup begitu cepat sampai terasa sakit.
“Aku nggak pengin ngilangin itu.”
“Terus kamu maunya apa?”
“…Aku cuma kesal karena ada sesuatu yang bukan milikku nempel di barang milikku.”
Suaranya terdengar kesal. Dan itu adalah kata-kata yang paling ingin kudengar. Untuk sesaat, napasku sampai berhenti.
Miyagi sedang menunjukkan sesuatu yang tidak bisa disebut selain rasa cemburu—ditujukan pada Utsunomiya, teman perempuanku, dan pada jejak dirinya yang tertinggal padaku.
Memang terdengar bodoh, tapi melihat Miyagi seperti itu tepat di depanku membuatku senang. Kalau bisa mendengar kata-kata seperti itu darinya, rasanya aku jadi ingin memakai minyak kuku pemberian Utsunomiya—yang jelas-jelas tidak ingin dipakai Miyagi—berulang kali. Kalau bisa, aku ingin langsung memakainya sekarang juga dan mendengar kata-kata yang sama sekali lagi. Tapi kalau kulakukan itu, Miyagi pasti akan marah dan keluar dari kamar ini.
Aku perlahan mengecup ujung jari tangan Miyagi yang masih kugenggam. Bukannya mengoleskan minyak kuku ke kuku-ku sendiri, aku malah menjilat kuku Miyagi dan menjilati jarinya perlahan. Di atas ruas kedua jarinya, aku menempelkan bibir lalu menggigit kecil.
“Sendai-san!”
Miyagi memanggilku dengan nada kesal, tapi aku malah mencium ujung jari tengahnya lalu memasukkannya sedikit ke mulut dan menggigit pelan. Aku menempelkan lidah ke bantalan jarinya dan menjilatnya. Kerasnya tulang yang menyentuh gigiku bercampur dengan lembutnya jari Miyagi, seolah meleleh jadi satu.
Miyagi mencoba menarik jarinya, dan saat aku menggigit lebih kuat agar dia tidak kabur, bahuku didorong.
“Aku nggak bilang kamu boleh ngelakuin beginian.”
Suaranya terdengar rendah. Aku melepaskan jarinya, lalu Miyagi berkata pendek,
“Lap.”
Aku mengambil selembar tisu dari punggung tempat tisu berbentuk platipus, lalu perlahan mengusap jarinya. Aku mengambil satu lagi dan menghapus bekas diriku dari tangan Miyagi, lalu membuang tisu-tisu itu.
“Udah gini aja?”
Saat aku melihatnya, Miyagi mengangguk kecil. Entah kenapa rasanya tidak menyenangkan harus menghapus jejak diriku sendiri dari Miyagi. Aku mengusap tangan Miyagi yang tidak pernah benar-benar jadi milikku. Menyentuh kuku yang tadi sempat kumasukkan ke mulut, lalu menggenggam jarinya erat.
Tubuh Miyagi sedikit tersentak. Takut dia akan kabur, aku langsung memegang pergelangan tangannya. Lalu aku menariknya mendekat dan mencium bibirnya.
Bahkan sebelum menikmati lembutnya bibir Miyagi, aku sudah lebih dulu menyusupkan lidahku. Aku menelusuri deretan giginya, masuk lebih dalam, dan saat lidah kami saling bertemu, tubuhku didorong kuat.
Sedikit lagi. Aku menangkap lidahnya yang mencoba kabur dan menempelkan keberadaanku di sana. Tangan Miyagi mencengkeram lenganku erat. Rasa sakit dan hangat lembap tubuhnya bercampur jadi satu, membuatku semakin menginginkannya. Saat aku memeluk pinggangnya, lidahku digigit kuat.
Refleks tubuhku menjauh, bibir kami terlepas, dan Miyagi menghembuskan napas kecil. Suara itu terdengar mirip dengan suara yang kudengar saat Natal. Jantungku langsung berdetak keras.
“Boleh cium sekali lagi?”
Masih kurang. Aku ingin Miyagi lebih banyak lagi.
“Gamau.”
“Kalau gitu Miyagi aja yang nyium aku.”
Aku tahu dia tidak mungkin melakukannya, tapi tetap saja aku mengatakannya. Dan tiba-tiba platipus itu menempel di bibirku. Aku menurunkan boneka platipus yang ditekan Miyagi ke wajahku itu ke lantai, lalu menatapnya.
“Bukan ciuman kayak gini maksudku.”
“Daripada ciuman, ngobrol aja.”
“Boleh.”
Sebenarnya aku masih ingin menciumnya, tapi kalau Miyagi ingin mengobrol, itu juga tidak masalah. Meski begitu, setelah bilang ingin ngobrol, Miyagi malah diam sambil terus menatap platipus itu. Aku memindahkan platipus yang merebut seluruh perhatian Miyagi ke atas tempat tidur, lalu mulai berbicara pada gadis yang sama sekali tidak kooperatif itu.
“Soal pergi ke kebun binatang, tahun depan aja gapapa? Aku ada libur kerja nanti.”
“Kan nanti libur musim dinginnya udah habis.”
“Sebelum habis masih sempat kok.”
“Aku nggak mau kalau dingin.”
“Aku bikin teru-teru bozu deh, biar harinya jadi hangat.”
“Bukannya teru-teru bozu buat minta cuaca cerah?”
“Kalau cerah biasanya jadi lebih hangat juga kan? Jadi minta cerah sama minta hangat itu kurang lebih sama aja.”
“Sendai-san emang asal banget ya.”
Miyagi berkata pasrah sambil menatapku.
“Gapapa dong. Miyagi, di kebun binatang pengin lihat hewan apa?”
Efek teru-teru bozu bukan topik penting yang perlu diperdebatkan. Kalau mau ngobrol, lebih enak ngomongin kebun binatang daripada itu.
“…Shoebill.”
“Hah? Shoebi— apa?”
Aku spontan bertanya ulang karena belum pernah mendengar nama itu.
“Shoebill.”
“Itu apaan?”
“Burung.”
“Burung?”
Aku sama sekali tidak bisa membayangkannya. Besar atau kecil pun tidak tahu, jadi aku mengambil ponsel di atas meja dan mencari “shoebill”. Yang muncul adalah burung besar dengan paruh unik yang sangat mencolok.
“Miyagi tuh suka hal aneh ya.”
Shoebill di layar ponsel terlihat punya paruh raksasa yang tidak seimbang. Warnanya abu-abu kusam, sama sekali bukan burung yang berwarna cerah. Ditambah lagi, di kepalanya ada bulu mencuat seperti rambut bangun tidur. Di hasil pencarian juga tertulis kalau burung itu jarang bergerak.
“Shoebill bukan hal aneh.”
Miyagi yang memilih penutup tisu berbentuk buaya dan platipus terlihat tidak terima.
“Kalau gitu… hal unik.”
“Hal aneh sama unik tuh sama aja. Daripada itu, Sendai-san sendiri nggak ada hewan yang pengin dilihat?”
Kalau bisa melihat Miyagi terlihat senang, itu sebenarnya sudah cukup buatku. Tapi tentu saja aku tidak mungkin mengatakan itu secara langsung. Jadi aku mengatakan hal yang seharusnya dikatakan seseorang yang akan pergi ke kebun binatang.
“Aku juga jadi pengin lihat shoebill. Kita lihat shoebill bareng nanti.”
Itu bukan bohong. Burung aneh yang baru kulihat tadi memang berhasil membuatku penasaran. Aku berbisik pelan,
“Janji ya.”
Lalu aku mencium anting Miyagi.