←
Saijou no Osewa Takane no Hana-darakena Meimon-kou de, Gakuin Ichi no Ojou-sama (Seikatsu Nouryoku Kaimu) wo Kagenagara Osewa suru Koto ni Narimashita Bab 39 · Bab 1 — Belajar Tentang Kehidupan Orang Biasa Bersama Ojou-Sama Bagian 1
☰

Bab 1 — Belajar Tentang Kehidupan Orang Biasa Bersama Ojou-Sama Bagian 1

Saijou no Osewa Takane no Hana-darakena Meimon-kou de, Gakuin Ichi no Ojou-sama (Seikatsu Nouryoku Kaimu) wo Kagenagara Osewa suru Koto ni Narimashita

Bab 1 — Belajar Tentang Kehidupan Orang Biasa Bersama Ojou-Sama Bagian 1

Keesokan harinya.

Kami tiba di sebuah kawasan pemukiman biasa yang bisa ditemukan di mana saja.

Kota ini, yang dikenal sebagai kota tidur, relatif sepi dan jarang dilalui orang di siang hari. Bangunan tinggi seperti apartemen jarang terlihat, dan pemandangan yang dipenuhi dengan rumah-rumah kecil dan restoran membuatnya terasa seperti daerah pinggiran kota.

Di dekat stasiun, terdapat area perbelanjaan yang kecil namun cukup ramai.

“….Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku pulang ke sini,” gumamku tanpa sadar saat melihat rumah kayu sederhana yang ada di depanku.

Daerah ini memiliki kepadatan rumah yang cukup tinggi, dengan jalan-jalan kecil yang berkelok-kelok. Namun, sebagai seseorang yang telah tinggal di sini bertahun-tahun, aku takkan mudah tersesat.

Setelah sekian lama, aku akhirnya kembali ke rumah di mana dulu aku tinggal.

“Itsuki-san, ini kuncinya.”

“Terima kasih.”

Shizune-san kemudian memberikan kunci kepadaku.

Dia pasti dengan sengaja membiarkanku yang pertama kali masuk ke dalam rumah setelah membuka pintu. Aku merasa berterima kasih di dalam hati.

Ketika aku menoleh ke arah

Hinako, dia tampak menatap kesana-kemari dengan tatapan keheranan.

Aku yakin dia akan terus seperti itu untuk sementara waktu, jadi aku mendekati pintu.

“Eh, memangnya pintu depannya sebersih ini, ya?”

“Kami sedang dalam proses mencari penyewa baru, jadi kami sudah membersihkan dan merenovasi sedikit. Kami juga sudah menyediakan perabotan dasar.”

Meskipun baru kemarin mereka memutuskan untuk tinggal sementara di rumahku, sepertinya mereka sudah menata perabotannya. Aku kagum dengan respons yang begitu cepat seperti biasanya.

Aku lalu membuka pintu rumah.

Melihat pemandangan di ruang tamu setelah pintu masuk, ada perasaan nostalgia yang muncul di hatiku.

“... Kupikir rasanya terlihat berbeda, tapi sebenarnya tak banyak berubah.”

Meskipun sedikit lebih bersih, rumah ini tetap terasa seperti rumah lama yang aku kenal.

Ukuran rumahku sekitaran delapan tikar tatami. Denahnya hanya terdiri dari satu ruangan. Ada dapur dan kamar mandi, tapi tidak ada mesin cuci, jadi aku harus menggunakan mesin cuci umum di sekitar sini.

Ruangan ini cukup luas untuk tinggal sendirian, tapi rasanya akan sulit jika harus dibagi tiga. Tidak ada yang namanya privasi, dan karena kami memilih properti yang sudah cukup tua sebagai gantinya untuk ruang yang lebih luas, lantainya jadi sering berderit. Di tengah malam atau pagi hari ketika seseorang bangun, suara berderit selalu membuat semua orang terbangun.

“Tapi ini...”

Aku memandang seisi rumahku sekali lagi dan berpikir.

Dengan fasilitas seperti ini, sepertinya tempat ini tidak akan nyaman bagi Hinako. Ruangannya memiliki banyak celah sehingga AC-nya sulit berfungsi, dan seringkali ada serangga yang masuk.

Ada beberapa furnitur yang terlalu bagus untuk rumah ini, seperti kulkas, microwave, meja, TV, dan lemari.

Semua ini pasti diatur oleh Shizune-san. Tapi itu tidak akan membuatnya lebih nyaman.

Kupikir mungkin lebih baik jika kami pindah ke tempat lain sekarang juga.

Ketika sedang berpikir demikian, aku memandang ke arah Hinako,

“Jadi ini... rumah tempat dimana

Itsuki dulu tinggal...”

Tatapan mata Hinako terlihat berbinar-binar.

“Itsuki, ini apa...?”

“Itu? Itu adalah lemari penyimpanan. Di sinilah kita bisa menyimpan futon dan sebagainya.”

Aku menjelaskan sambil membuka pintu lemari penyimpanan.

“Ohhh~...”

“Kamu tidak tahu tentang lemari penyimpanan?”

“Aku punya pengetahuan tentang kamar bergaya Jepang, tapi... ini pertama kalinya aku menggunakannya.”

Hinako membuka dan menutup pintu lemari penyimpanan. Mungkin karena kediaman keluarga Konohana memiliki desain bergaya Barat, jadi dia jarang memiliki kesempatan untuk mengalami budaya Jepang.

“Dan ini...?”

“Kalau itu kamar mandi. Kamar mandi dan toilet digabung menjadi satu.”

“Kamar mandi...? Dan cekungan ini...?”

“Ini adalah bak mandi.”

Aku menunjukkan keran air dari arah wastafel ke arah bak mandi, dan mencoba menyalakan air.

“...Untuk anak-anak?”

“...Sayangnya, ini untuk segala usia.”

Tampaknya dia lebih terlihat kebingungan daripada terkejut.

Aku mulai merasa agak menyesal.

“Ojou-sama, jika Anda bersedia menunggu satu hari lagi, lantai dan jendela juga bisa diganti dengan yang baru...”

“Tidak perlu. Aku ingin mencoba bagaimana Itsuki dulu tinggal di sini.”

“Baiklah, saya mengerti.”

Hinako tampaknya masih tertarik pada masa laluku.

“Baiklah, sekarang, saya harus pergi untuk rapat dengan para pengawal. Saya akan meninggalkan tempat ini sebentar.”

Setelah mengatakan itu,

Shizune-san keluar dari pintu depan.

Aku berbalik dan melihat ke ruang tamu.

Seperti yang sudah disampaikan oleh Shizune-san, meski rumahku telah dibersihkan, tetapi tampaknya tidak ada renovasi besar yang dilakukan. Hal tersebut mungkin berdasarkan atas pertimbangan biaya dan manfaat. Rumah ini sudah berusia empat puluh tahun. Sekalipun gedung tersebut akan direnovasi sepenuhnya, kemungkinan besar takkan ada banyak calon penyewa yang berminat.

Mungkin hanya pintu dan sebagian langit-langit saja yang direnovasi.

Bagian lantainya masih terdengar berderit.

“Itsuki….bagaimana kamu menghabiskan waktu di rumah ini?”

“Meski kamu bertanya bagaimana...”

Itu adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab.

Namun, aku tiba-tiba menyadari sesuatu. Di rumah ini ada lantai tatami tua, meja rendah, jendela berangin, warna cat pintu geser yang sudah memudar...ada banyak hal di sini yang tidak ada di rumah keluarga Konohana.

Diriku saat berada di mansion dan diriku saat berada di rumah ini benar-benar berbeda..

Saat aku memikirkan hal itu, kata-kataku keluar begitu saja.

“...Ayah dan ibuku sering meninggalkan rumah, jadi aku sering sendirian di rumah. Setelah SMA, aku sering meninggalkan rumah karena bekerja paruh waktu, tapi sebelum itu, aku sering belajar dan membaca buku di sini.”

Walaupun buku yang kumaksud sebagian besar adalah manga yang aku pinjam dari teman sekelas.

Sambil berjalan, aku melihat lantai di bawah kakiku.

“Penyok di lantai ini dibuat ketika aku masih kecil. Aku mencoba menyusun meja untuk menyiapkan futon, tapi aku malah menjatuhkannya.”

Rasanya sungguh kenangan yang nostalgia...

Ketika aku tenggelam dalam kenangan masa lalu, aku menyadari bahwa Hinako sedang duduk disampingku dalam keadaan merenung.

“Maaf, aku sudah terlalu lama bercerita. Mungkin ini terlalu membosankan untuk didengar.”

Aku tersenyum getir dan berpikir untuk mengubah topik pembicaraan, tetapi Hinako justru menggelengkan kepalanya.

“... Aku ingin tahu lebih banyak,”

Hinaki berkata demikian sambil menatapku.

“Aku... ingin tahu lebih banyak tentang Itsuki.”

Aku terpesona oleh tatapannya yang polos.

Aku bisa merasakan ketulusan dari tatapan matanya.

“Be-Begitu ya.”

Mungkin itu adalah hal yang baik.

Tapi ketika dia dengan tulus mengungkapkan keinginannya untuk tahu lebih banyak, rasanya itu sedikit membuatku merasa geli.

“Maaf telah membuat kalian menunggu.”

Ucap Shizune-san saat kembali ke rumah.

“Pertama-tama, mari kita mulai dengan pembagian ruangan.”

◆◆◆◆

“Baiklah, jadi...”

Tiga puluh menit kemudian.

Aku berbicara kepada mereka berdua untuk merencanakan hasil pembagian ruangan.

“Kita akan membagi ruang apartemen menjadi dua bagian dengan menggunakan sekat yang dibawa oleh Shizune-san.

Bagian dengan dapur akan dijadikan ruang tamu, dan yang lainnya akan dijadikan kamar tidur. Saat siang hari, Shizune-san akan menggunakan ruang tamu, sementara aku dan Hinako akan menggunakan kamar tidur. Malam hari, aku akan tidur di ruang tamu, sementara Hinako dan Shizune-san akan menggunakan kamar tidur.”

Hinako dan Shizune-san mengangguk setuju.

Di tengah ruangan, terdapat sekat besar yang tampaknya dibawa oleh Shizune-san dari seseorang yang dia temui. Dengan sekat ini, apartemen delapan tatami akan dibagi menjadi dua ruangan empat tatami.

Alasan Shizune-san menggunakan ruang tamu pada siang hari adalah untuk memasak. Aku dan Hinako berencana untuk menempatkan meja di kamar tidur dan belajar atau bersantai di sana.

“Aku sering pergi sepanjang hari, jadi jika itu terjadi, sekatnya bisa dilepas.” kata Shizune-san.

“Apa kamu sangat sibuk,

Shizune-san?”

“Yeah. Ada lebih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan dari yang dijadwalkan.”

Shizune-san menjawab dengan tenang.

Pada saat seperti ini, Shizune-san terlihat sangat profesional dengan tidak pernah menunjukkan ekspresi wajah yang ogah-ogahan. Aku bisa merasakan jiwa profesional yang kuat sebagai pelayan yang melayani keluarga Konohana.

“Aku pasti akan kembali pada malam hari, jadi... Itsuki-san. Mohon jangan melakukan hal yang aneh-aneh.”

“I-Iya, aku mengerti.”

Tidak perlu dikatakan lagi.

Meskipun sebelumnya aku tinggal di kediaman keluarga Konohana dan secara teknis tinggal di bawah atap yang sama, kali ini suasana tinggal bersamanya benar-benar terasa karena rumah ini lebih sempit. Alasan mengapa Shizune-san menyiapkan sekat itu mungkin demi menghilangkan suasana tersebut.

Dalam situasi yang spesial ini, aku harus berhati-hati agar tidak salah dalam menjaga jarak.

“Untuk jaga-jaga, mari kita letakkan ini di sini.”

Usai mengatakan itu,

Shizune-san mengeluarkan botol obat dari sakunya dan meletakkannya di atas meja.

Akhirnya keluar juga...! Obat untuk disfungsi ereksi...!

Sudah lama sejak terakhir kali aku melihatnya. Aku penasaran bagaimana perasaan Shizune-san saat dia membawa ini...

“Itsuki...”

Hinako meraih lengan baju saya dan menatapku dengan penuh perhatian.

“Tolong bawa aku berkeliling kota.”

“Kota?”

“Aku ingin tahu bagaimana

Itsuki tinggal di sini... Aku sangat ingin mengetahuinya.”

Hinako tampaknya sangat tertarik pada gaya hidup masyarakat biasa.

“Baiklah, jika begitu, serahkan saja padaku... Biasanya aku selalu diajarMulai hari ini dan seterusnya, aku akan menunjukkan kepadamu bagaimana gaya hidup masyarakat biasa untuk sementara waktu.”

“Ohh~...”

Ketika aku menunjukkan wajah penuh kebanggaan yang jarang terlihat, Hinako berseru sambil bertepuk tangan kecil.

Untungnya, aku bisa mengajaknya berkeliling kota ini tanpa masalah.

Kira-kira bagusnya aku harus mengajaknya kemana, ya? Saat aku sedang memutuskan rencana, Shizune-san meletakkan beberapa tumpukan kertas di atas meja.

“Saya minta maaf karena mengganggu momen yang menyenangkan ini... Tapi, Ojou-sama, Kagen-sama meminta anda untuk menyelesaikan tugas harian seperti biasa.”

“Eeh...”

Hinako yang merasa kecewa langsung melengkungkan bibirnya dengan cemberut.

Tumpukan kertas yang diletakkan di atas meja tampaknya adalah tugas rumah Hinako.

“...Padahal ini liburan musim panas.”

“Karena ini liburan musim panas, anda tidak boleh mengendur sampai akhir.”

Sebagai seorang siswa biasa, aku bisa memahami keinginan untuk bersantai dan menikmati liburan musim panas hingga akhir. Namun, Hinako adalah putri dari grup konglomerat Konohana.

Tanggung jawab yang dia pikul tidak memungkinkan dia untuk liburan lebih lama.

Aku yakin kalau hal yang sama juga terjadi pada Tennouji-san dan Narika.

“Kalau begitu, saya akan pergi bekerja. Itsuki-san, tolong jangan terlalu memanjakan Ojou-sama,” pesan

Shizune-san, seolah-olah dia bisa membaca pikiranku.

Setelah pintu tertutup rapat,

Hinako menatapku dengan wajah sedih.

“Itsuki... tolong bantu aku...”

“...Yah, jika ada hal yang bisa kulakukan.”

Bukannya aku ingin terlalu memanjakannya, tetapi ketika dia menunjukkan wajah sedih seperti itu, aku merasa perlu memberikan bantuan sedikit.

(Ngomong-ngomong, apa tugas harian Hinako...?)

Sebelumnya aku biasa mengambil pelajaran tata krama dan bela diri dari Shizune-san sepulang sekolah, dan akhir-akhir ini aku belajar dan mengulas di kamarku. Aku sudah mendapat penilaian bagus dalam hal tata krama setelah belajar dari Tennouji-san, tetapi aku terkadang mengambil pelajaran lain sebelum bisa memutuskan untuk hadir di sebuah acara sosial..

Aku penasaran apa yang Hinako lakukan saat aku sibuk dengan hal itu?

Aku mengambil tugas harian yang ditinggalkan Shizune-san untuk Hinako dan memeriksanya.

“Ini... Apa ini informasi bisnis dari Grup Konohana?”

“Yeah. Aku disuruh untuk menghafalnya sekarang demi masa depan.”

Jadi inilah yang dimaksud pendidikan khusus?

Mereka mungkin membiarkan dia belajar sekarang sehingga dia bisa berkontribusi sedikit untuk keluarga

Konohana di masa depan.

“Ini adalah dokumen dari perusahaan yang tidak ada kaitannya dengan Grup.”

“Karena ada acara makan malam nanti... aku disuruh untuk mengingat semuanya.”

Mungkin cara ini dilakukan demi memastikan bahwa dia siap untuk acara makan malam agar tidak membuat kesalahan.

Jadwal makan malam tiga bulan ke depan dan informasi perusahaan setiap mitra secara rinci dirangkum dengan rapi. Meskipun isi dokumennya mudah dibaca, tapi sepertinya masih sulit untuk mengingat semua informasi sebanyak ini.

“Dan ini... ugh!?”

Aku segera menyadari bahwa dokumen tersebut merupakan sesuatu yang seharusnya tidak boleh aku lihat, jadi aku mengalihkan pandanganku.

Dokumen tersebut berisi rincian tentang aktivitas bisnis terbaru Grup Konohana, termasuk daftar rinci proyek-proyek yang sedang berjalan. Ini jelas-jelas merupakan informasi rahasia perusahaan. Meskipun Hinako kadang-kadang membantu pekerjaan tersebut, aku hanyalah seorang pengasuh biasa dan seharusnya tidak boleh melihat dokumen seperti ini.

(...Sepertinya tidak ada yang bisa aku bantu.)

Apa Hinako mempelahari hal-hal yang rumit seperti ini setiap hari?

Hal semacam ini jelas berbeda dengan pelajaran di sekolah. Ini adalah tugas khusus untuk Hinako, yang hanya disiapkan khusus untuknya. Setidaknya saat ini, aku tidak bisa membantunya. Selain kemampuan, perbedaan posisi juga mencegahku untuk memberikan bantuan.

“Namun, dengan begitu banyak hal yang harus kamu lakukan, kurasa mungkin sulit untuk mengajakmu berkeliling kota.”

Aku tanpa sadar mengucapkan hal tersebut. Di sudut pandanganku, aku merasa Hinako merespons dengan sedikit gerakan.

“Ada beberapa tempat yang ingin aku tunjukkan, seperti kawasan perbelanjaan, tapi...yah, kurasa mau bagaimana lagi.”

Hinako tampaknya memberikan reaksi dengan gerakan kecil.

“...Tunggu aku selama dua jam.”

Hinako perlahan-lahan menghadapi tugasnya dan berkata.

“Aku akan segera menyelesaikannya...”

Di belakang punggungnya, semangatnya terlihat berkobar-kobar.

◆◆◆◆

“Halo, Shizune-san?... Oh, tidak, aku hanya ingin berdiskusi sebentar saja. Sebenarnya, Hinako mengatakan kalau dia ingin pergi ke kota, jadi apa aku boleh mengajaknya berkeliling?”

Setelah beberapa jam kemudian.

Aku sedang menelepon

Shizune-san.

“Tidak, kami tidak akan pergi terlalu jauh. Aku hanya berencana mengajaknya mengenal lingkungan sekitar, lalu makan makan siang di sekitar sini, mampir ke pusat perbelanjaan, dan sebagainya...

Ah, tugas hariannya? Tidak, sepertinya dia sudah menyelesaikannya... Bukan hanya tugas hari ini, tapi semuanya sudah selesai. Dia bilang kalau dia bisa melakukannya dengan mudah jika dia serius...”

Tak idsangka, Hinako berhasil menyelesaikan satu minggu tugas dalam waktu dua jam.

Aku merasa itu terlalu cepat, jadi aku memeriksa apakah dia benar-benar mengingat semua materi. Hasilnya, semua jawabnya benar. Kemampuan otaknya sungguh luar biasa.

Meskipun aku kadang-kadang melupakannya karena Hinako terlalu sering menunjukkan sikap malasnya, tetapi keterampilan praktisnya sangat jenius.

Meskipun Hinako ingin melarikan diri dari tanggung jawab keluarga Konohana, dengan kemampuan seperti itu, mau tak mau aku jadi memahami mengapa Kagen-san tidak ingin melepaskannya.

Setelah selesai berbicara dengan Shizune-san, aku menyimpan ponselku.

“...Aku sudah mendapat izinnya.”

“Bagus.”

Hinako mengepalkan kedua tangannya.

“Meski begitu, rasanya sungguh luar biasa bahwa kamu bisa mengingat semuanya dalam waktu dua jam.”

“Ayo puji aku, ayo puji terus.”

“Yeah, luar biasa. Kamu benar-benar menakjubkan.”

“Hmmph...”

Hinako tersenyum dengan bangga.

Sebelum Shizune-san mengakhiri panggilan, dia menghela nafas dalam-dalam dan mengatakan, “ Kalau begitu, kenapa dia tidak mulai serius dari awal,” yang mana tidak kusampaikan kepada Hinako, meskipun itu adalah pendapat yang sangat masuk akal.

“Kalau gitu, ayo kita keluar jalan-jalan?”

“Yeah!”

Hinako menjawab dengan riang gembira dan penuh semangat. Sikapnya sangat berbeda dari ketika dia berada di akademi.

“Oh ya, sepertinya Shizune-san sudah menyiapkan pakaian untuk pergi keluar. Jadi silakan ganti pakaian dulu.”

“...Apa langsung keluar dengan pakaian ini saja, enggak boleh?”

“Bukannya tidak boleh sih, tapi mungkin akan terlihat mencolok.”

Hinako yang mengenakan gaun yang elegan terlihat sangat mencolok karena gaya sederhananya menonjolkan keunggulannya. Terlepas dari dia akan pergi ke museum atau restoran Prancis, kehadirannya pasti akan menarik perhatian saat berjalan-jalan di pusat perbelanjaan dengan mengenakan pakaian ini.

“Baiklah, aku akan ganti pakaian dulu.”

“Yeah. Di kamar mandi ada cermin, jadi silakan ganti di sana.”

Hinako mengangguk dan pergi ke kamar mandi dengan pakaian ganti yang dibawakan oleh Shizune-san.

(...Entah mengapa, rasanya jadi sedikit aneh.)

Pada awalnya aku hanya merasa sedikit nostalgia, tetapi setelah beberapa saat, aku mulai merasakan bahwa ini adalah rumahku.

Aku tidak pernah mengira akan tiba saatnya aku akan membawa seorang gadis yang sebaya ke dalam rumahku....

Bahkan Yuri belum pernah masuk ke rumahku.

“Itsuki.”

Setelah menunggu beberapa saat, pintu kamar mandi terbuka dan Hinako keluar.

“Apa kamu sudah selesai mengganti pakaianmu?”

“Yeah, sempurna.”

Setelah mengatakan itu, Hinako memutarkan badannya....

Sepertinya masih belum dari kata sempurna ya?

Aku berpikir begitu dalam hati sambil melihat kemeja putih longgar dan ikat pinggang denim yang menjuntai.

“Hinako, ayo berpose banzai.”

“Banzai...”

“Ikat pinggang yang melingkari pinggangmu ini seharusnya dililitkan seperti ini...dan mungkin kemeja itu harus dimasukkan ke dalam?”

Aku menyuruh Hinako mengangkat tangannya sementara aku mengencangkan sabuk denimku dengan ringan.

Terakhir, aku menyelipkan kemeja ke dalam celana denim.

“... Bagaimana menurutmu?”

Hinako kembali menunjukkan dirinya.

Atasannya berupa kaos putih.

Ukurannya agak longgar, dan di bagian dada terdapat logo yang dijahit. Bawahannya berupa celana denim model wide-leg, dan panjangnya tepat sedikit di atas pergelangan kaki. Kemejanya dimasukkan ke dalam celana, dan terlihat sejuk layaknya pakaian musim panas.

“... Meski ini berbeda dari biasanya, tapi rasanya bagus juga ya.”

Ehehe, Hinako tertawa senang.

Hinako yang mengenakan celana denim terlihat segar, dan cocok dengannya.

Meskipun penampilannya lebih sederhana dari biasanya, kualitas bajunya tidak bisa disangkal. Rambut berwarna kuningnya tampak berkilau, kulit putih yang halus, dan pinggang yang tampak anggun. Suasana yang anggun dan terawat dengan baik tidak bisa disembunyikan.

“Baiklah, mari kita berangkat.”

“Yeah!”

Hinako menjawab dengan semangat seperti sebelumnya.

Aku dan Hinako memakai sepatu di depan pintu.

Dengan demikian, dimulai lah tur pengalaman gaya kehidupan masyarakat biasa.

Bab 1 — Belajar Tentang Kehidupan Orang Biasa Bersama Ojou-Sama Bagian 2

“Uwoooo...!”

Mata

Hinako terlihat berbinar-binar saat memandang sekeliling dengan penuh semangat.

“Itsuki, ini tempat apa...?”

“Ini jalanan pusat perbelanjaan. Bisa dibilang ini adalah jalan di mana banyak toko kecil berkumpul.”

Rupanya menjelaskan pemandangan yang sudah biasa dengan kata-kata ternyata tidak semudah yang kuduga.

Pertama-tama, aku membawa Hinako menuju kawasan perbelanjaan di depan stasiun. Sudah empat bulan sejak aku mulai bekerja sebagai pengurusnya, aku tahu bahwa anak-anak dari keluarga kaya seperti Hinako tidak terbiasa dengan tempat yang beragam seperti ini. Seperti yang kuduga, Hinako terlihat sangat terkejut dengan pemandangan di depan matanya.

“Pusat perbelanjaan ini adalah rute sekolahku. Jadi setiap kali pulang sekolah, selalu ada yang makan-makan di sini.”

Tentu saja, aku tidak punya uang jadi aku harus menahan diri...

“Or-Or-Or-Orang-orangnya...banyak sekali...”

“Memang, ternyata lebih banyak dari yang kuduga.”

Saat ini baru pukul sebelas pagi.

Ada banyak ibu rumah tangga di kawasan perbelanjaan. Meskipun tidak sampai ramai sekali, ada antrian di kasir toko sayuran, dan banyak sepeda terparkir di depan minimarket.

(Meski begitu, jumlah orangnya memang agak banyak...)

Meskipun sudah lama aku tidak tinggal di sini, tapi aku dulu juga bagian dari penduduk di kota ini.

Jadi aku tahu bahwa kawasan perbelanjaan saat ini lebih ramai dari biasanya.

Pada saat ini seharusnya hampir semua keluarga sedang mempersiapkan makan siang.

Seharusnya tidak terlalu ramai kecuali yang ada di restoran, tapi...

“....

Hm?”

Tiba-tiba, aku melihat toko buku di depanku.

Seorang pria di dalam toko mengambil buku yang tersusun rapi di rak, lalu membacanya sekilas.

Pria itu... entah kenapa aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat.

“...”

“...”

Saat aku menatapnya dalam diam, keringat dingin menetes di pipi pria itu.

Aku pun akhirnya menemukan jawabannya... Pria itu adalah pengawal dari keluarga Konohana.

Aku segera melihat sekelilingku. Dan ternyata setidaknya ada lima orang yang terang-terangan mengalihkan pandangannya.

Sepertinya ada banyak pengawal yang menyusup di sekitar kami.

“Itsuki?

Ada apa...?”

“Tidak, bukan apa-apa.”

Balasku terhadap pertanyaan Hinako, yang tak terbiasa dengan suasana tegang. Mungkin lebih baik kalau aku tidak memberitahunya tentang hal ini.

Setelah aku mengelaknya dengan tepat, pengawal-pengawal pun merasa lega.

“Ini...

toko daging ya?”

Hinako menatap toko yang berada tepat di sebelahnya. Dia menatap daging yang ditampilkan di dalam etalase toko.

“Rasanya....

harganya cukup murah.”

Hinako mengatakannya dengan ragu-ragu, karena dia tidak begitu yakin dengan penilaiannya mengenai keuangan masyarakat biasa.

“Yah, harganya memang murah jika dibandingkan dengan makanan biasa yang kamu makan. Tapi rasanya cukup enak lho.”

Meskipun aku tidak begitu sering memakan daging, tapi aku kadang-kadang membelinya di sini dan memakannya.

Aku masih memiliki kenangan indah mengenai lezatnya daging tersebut meskipun hanya dibumbui secara kasar dan dipanggang. Hinako beralih ke toko di sebelahnya.

“Kalau yang ini... toko sayur ya?”

“Iya, meskipun disebut toko grosiran.”

“Grosiran...?”

Hinako memiringkan kepalanya dengan keheranan.

Ngomong-ngomong, mengapa toko itu disebut toko grosiran ya. Kalau dilihat dari hurufnya saja, aku langsung teringat dengan dewa Yaoyorozu, tapi... lain kali kalau ada kesempatan, aku akan mencari tahu tentang hal itu.

Hinako perlahan-lahan menatap sayuran yang ditata rapi di dalam toko.

“Apa ada sayuran yang kamu sukai?”

“.... Aku tidak suka sayuran.”

Memang benar, sih.

“Ngomong-ngomong, apa makanan favoritmu, Hinako?”

“Keripik kentang...!”

“Bukan, yang itu ‘kan makanan ringan, jadi kita mengecualikannya... “

“Es krim...! Dan juga cola...!”

“Cemilan yang itu kita kecualikan juga... Hinako, bagaimana kalau mulai sekarang kamu berusaha memakan sayuran?”

Hinako memandang ke arahku seakan bertanya mengapa

‘Kenapa!?’.

Meskipun tidak sengotot Shizune-san, aku juga mulai merasa khawatir dengan pola makan

Hinako.

“Selain hal itu... mungkin tidak begitu banyak.”

“...

Begitu ya.”

Kadang-kadang dia mengatakan “enak” saat kami makan bersama, jadi mungkin dia bukan tipe yang pilih-pilih makanan. Tapi sepertinya dia belum menemukan makanan favoritnya saja sampai sekarang.

“Oh, ternyata itu kamu ya, Itsuki?!”

Pada saat itu, ada suara yang memanggilku dari ujung toko.

Pemilik toko sayur itu menatapku sambil memegang mentimun di satu tangannya.

“Sudah lama tidak bertemu! Aku pikir kamu sudah tidak akan datang lagi, tapi kelihatannya kamu baik-baik saja, ya!”

“Iya, sudah lama tidak berjumpa. Yah, akhir-akhir ini... aku sedikit sibuk dengan banyak hal.”

Karena ceritanya akan menjadi panjang, jadi aku memutuskan untuk mempersingkatnya.

Kemudian,

Hinako menarik-narik pakaianku dengan ringan.

“Itsuki, siapa orang ini...?”

“Dia adalah pemilik toko ini. Beliau juga orang yang membantuku saat aku bekerja paruh waktu dulu. Mungkin sekitaran awal masa SMA, aku bekerja di sini untuk sementara waktu.”

Ketika aku menjelaskan hal tersebut kepada Hinako, aku menyadari bahwa pemilik toko sedang menatap kami dengan wajah yang tampak agak memahami sesuatu.

“Hmm, begitu rupanya. Jadi itulah sebabnya kamu sedang sibuk belakangan ini.”

“Sibuk yang dimaksud bukan dalam arti yang begituan.”

“Kamu tidak perlu menyembunyikannya segala. Itsuki sudah benar-benar menjadi pria sekarang.”

Dia menepak-nepak punggungku dengan keras.

Aku mulai merasa tidak nyaman untuk berada di sini, jadi aku meninggalkan toko sayuran tersebut.

Namun, kejadian serupa terus berlanjut setelah itu.

“Oh,

Itsuki-kun? Sudah lama sekali tidak bertemu!”

“Ah, halo. Sudah lama sekali tidak bertemu.”

Seorang karyawan apotek keluar dari dalam toko hanya untuk menyapaku.

“Oh,

Itsuki! Lama enggak ketemu, ayo beli sesuatu dong!”

“Maaf, lain kali saja...”

Pemilik toko ikan juga menyapaku sambil membawa kotak ikan.

Ada juga pegawai toko buku dan pemimpin tim pekerja paruh waktu di toko serba 100 yen juga mendekati dan menyapaku begitu melihatku. Mereka semua adalah orang-orang yang pernah berinteraksi denganku.

Setelah memberi salam dengan santun, aku mencoba mencari waktu untuk sedikit bersantai.

“...Ternyata lebih banyak orang yang menyapaku daripada yang kuduga.”

Tadinya aku bermaksud mengajak Hinako berkeliling, tapi malah sibuk memberi salam kepada mereka.

Aku jadi merasa tidak enakan dengannya.

“Itsuki...

kamu cukup terkenal ya?”

“Bukan, bukan sampai terkenal, sih... tapi mungkin karena aku sering bekerja di sekitar sini.”

Kawasan perbelanjaan ini memiliki keterikatan yang kuat di antara para pedagang. Oleh karena itu, ketika aku mengutarakan keinginan untuk “mencari pekerjaan paruh waktu tambahan”, percakapan tersebut dengan cepat menyebar dan aku mulai mendapat tawaran pekerjaan dari berbagai tempat. Tanpa kusadari, aku mulai bekerja paruh waktu di minimarket, toko buku, apotek, restoran, dan tempat lainnya.

“Kawasan perbelanjaan ini mempunyai semangat tolong-menolong yang sangat kuat.”

“Tolong-menolong...?”

“Iya.

Karena aku benar-benar bekerja di antara mereka, jadi aku tahu bahwa orang-orang di sini saling berbagi banyak hal. Misalnya, jika jumlah pengunjung ke kawasan perbelanjaan menurun, semua orang yang memiliki usaha di sini pasti akan merasakan dampaknya, ‘kan? Oleh karena itu, semua orang bergandengan tangan untuk memajukan wilayah perbelanjaan ini. Misalnya, penjual daging kadang-kadang membantu mempromosikan toko ikan, atau ada orang yang memiliki waktu luang membuat selebaran promosi untuk kawasan perbelanjaan ini.”

Ngomong-ngomong, aku pernah membantu membuat selebaran promosi tersebut.

“Jika aku harus menjelaskan dengan kata-kata sederhana, aku bisa mengatakan bahwa hubungan di antara mereka sangat erat dan hangat, sehingga setelah masuk ke dalam lingkaran ini, rasanya mudah untuk berbicara dengan siapa pun.”

“..Kedengarannya cukup hangat ya.”

“Yeah, benar. Merasakan ikatan antarmanusia seperti itu adalah hal yang berharga.”

Aku selalu memikirkannya setiap kali aku diajak berbicara oleh orang-orang di kawasan perbelanjaan. Aku benar-benar hidup di sini. Aku merasa lega karena bisa kembali memastikan bahwa aku memiliki tempat di sini.

“Mungkin...

aku merasa agak iri.”

Hinako menatap orang-orang yang bekerja di kawasan perbelanjaan dan terus melanjutkan.

“Orang-orang dewasa yang aku kenal... mereka cenderung lebih perhitungan.”

“...Apa kamu membicarakan tentang orang-orang yang kamu temui dalam acara pesta sosial?”

Hinako mengangguk kecil sambil berkata “Hmm, iya”.

Orang-orang dewasa di sekitar Hinako semuanya adalah orang-orang yang memimpin perusahaan besar atau organisasi besar. Demi mencapai kekuatan ekonomi sebesar itu, sebuah organisasi harus terus menerus mengalahkan pesaing di industri yang sama. Dan yang lebih penting, ada keinginan kuat dari para pimpinan untuk “mengalahkan pesaing”. Orang-orang di wilayah perbelanjaan juga pasti terkadang harus bersaing dengan pesaing mereka, tetapi orang-orang dewasa di sekitar Hinako adalah para pejuang yang bersaing di garis depan industri dengan menginvestasikan sejumlah besar dana dan sumber daya manusia, serta terlibat dalam persaingan yang sengit. Skala taruhannya berbeda, dan semakin besar taruhannya, mereka jadi semakin berhati-hati...

dengan kata lain, mereka menjadi lebih mementingkan kepentingan mereka sendiri.

Meskipun aku tidak bertanya secara langsung, pasti ada orang-orang dewasa yang dianggap

Hinako sebagai orang yang penuh perhitungan, dan aku yakin bahwa Kagen-san juga termasuk di dalamnya.

Manakah gaya hidup yang benar? Jalan pemikiranku yang belum dewasa tidak bisa menemukan jawabannya.

“Bagi

Itsuki, apa suasana yang seperti ini...”

“….Itsuki!

Rupanya kamu sudah kembali ya!”

Saat

Hinako hendak mengatakan sesuatu, suara keras terdengar langsung dari belakang.

Hinako tersentak dan melompat kaget.

Ketika aku berbalik, aku melihat pemilik tempat pangkas rambut yang sudah sangat kukenal.

“Oh? Maaf ya, Nona Muda. Aku jadi mengagetkanmu, suaraku memang keras, sih.”

“Ak-Aku...

tidak apa-apa.”

Hinako menerima permintaan maaf dari pemilik toko sambil menekan dadanya.

Setelah menyelesaikan percakapan yang biasa-biasa saja dan berpisah dengan pemilik toko, Hinako membuka mulut kecilnya.

“...mungkin aku memang tidak perlu merasa iri.”

“Hahaha...

ya, ikatan semacam ini memang unik dalam artian baik dan buruknya.”

Sebenarnya, banyak orang yang tidak menyukai hubungan yang terlalu erat ini. Jika diucapkan dengan baik, itu bisa disebut sebagai hubungan yang akrab, tetapi jika diucapkan dengan cara yang buruk, itu bisa dianggap sebagai campur tangan yang berlebihan. Setiap orang memiliki preferensi dalam menjaga jarak, dan bagi

Hinako yang tidak terlalu tahan terhadap hal tersebut, mungkin dia merasa bahwa mereka terlalu lancang.

Lalu pada saat itu, aku bisa mendengar suara perut yang lapar di sebelahku.

“...Aku lapar,” kata Hinako sambil menggosok-gosok perutnya.

Ada berbagai restoran di jalanan kawasan perbelanjaan. Ketika aroma kari dan soba mulai tercium dari restoran, aku juga mulai merasa lapar. Karena waktunya sudah hampir memasuki jam makan siang, jadi sekarang saat yang tepat untuk makan siang.

Oh ya, kalau tidak salah sedikit jauh dari sini... di luar wilayah perbelanjaan, seharusnya ada tempat itu.

“Kurasa enaknya pergi ke restoran Gyudon saja kali ya.”

“Gyudon...?”

Hinako memiringkan kepalanya.

Aku yakin dia akan bereaksi seperti itu, jadi aku mengajak Hinako pergi ke sana.

◆◆◆◆

Aku dan

Hinako memasuki restoran Gyudon yang pasti dikenal oleh semua warga Jepang.

Udara yang telah menghangatkan tubuh kami karena berjalan, kini digantikan dengan udara yang sejuk dan menyegarkan.

“Pertama-tama, kita harus membeli kupon makan di sini,” kataku sambil mencoba membeli kupon untuk Gyudon ukuran biasa.

“Wah...

ini canggih,”

Kupikir itu seharusnya bukanlah perkataan yang harus diucapkan dari Nona Muda Grup

Kononana yang menjadi ujung tombak zaman.

“Hinako, kamu mau pilih yang mana?”

“Aku akan memesan yang sama denganmu, Itsuki.”

Hinako menjawab demikian sambil mengeluarkan dompet dari tasnya.

Namun, benda yang dia keluarkan dari dompetnya bukanlah uang koin, tapi melainkan kartu kredit hitam. Hinako lalu mencoba memasukkannya ke dalam lubang penukaran uang kertas.

“Tidak, tempat itu bukan dimaksudkan untuk kartu kredit!... Di sini, kamu harus memasukkan uang koin ke sini.”

“Jadi begitu rupanya.”

Hinako memasukkan koin dan akhirnya berhasil membeli kupon makan.

Kalau terus begini, aku mulai khawatir apakah dia benar-benar mengerti cara menggunakan koin, tapi sepertinya dia cukup mengerti. Narika juga membeli camilan secara pribadi, jadi dia sepertinya cukup mengerti cara menggunakan uang.

Kalau dipikir-pikir lagi, tidak ada mesin penjual kupon makan di Akademi Kekaisaran.

Pasalnya, pelayan langsung datang begitu kita duduk, sehingga pesanan bisa dilakukan dengan mudah. Minuman pun demikian, tidak ada mesin penjual minuman otomatis. Mungkin anak-anak dari kalangan konglomerat tidak terlalu terbiasa dengan otomatisasi mesin.

“Maaf sudah membuat anda menunggu~”

Ketika kami berdua menunggu di meja konter, pelayan restoran membawa dua mangkuk gyudon.

Aku mengambil dua pasang sumpit dan memberikan satunya kepada Hinako.

Akan tetapi, Hinako hanya menatap mangkuk yang ada di depannya tanpa mencoba memakannya.

“Apa ada yang salah?”

“Cara memakannya... aku tidak tahu.”

Kelihatannya makanan seperti gyudon masih terlalu asing bagi putri Keluarga Konohana.

“Kamu bisa memakannya sesukamu, kok.”

Aku membagi sumpit sekali pakai dan menyaturkan kedua telapak tanganku.

“Selamat makan.”

Untuk sementara waktu, aku akan memakan gyudonku dulu sebagai contoh. Ketika aku mengambil daging dan nasi dengan sumpit, gumpalan nasi hampir saja roboh.

Ketika aku memasukkan sumpit ke mulutku, rasa daging yang lezat langsung menyebar di dalam mulutku.

Karena belakangan ini aku terbiasa memakan makanan mewah, jadi aku merasa khawatir apa aku menikmati makanan semacam ini dengan baik, tapi ternyata rasanya tetap enak.

Malahan rasanya jauh lebih enak karena aku sudah lama tidak memakannya.

Ternyata lidahku masih bisa membedakan kelezatan masing-masing makanan.

Ketika melihat cara makanku, akhirnya Hinako pun mencoba mencicipi gyudon di depannya.

“Hmm, hmmmmmmmm.....”

Hinako dengan hati-hati mengangkat sumpit ke arah mulutnya seperti sedang menangani barang yang mudah pecah.

Dan ketika sumpit itu masuk ke dalam mulut kecilnya—

“Mmm~!”

Hinako terlihat sangat puas.

“Rasanya enak, ‘kan?”

“Ya, rasanya enak... sungguh luar biasa...!!”

Seperti biasa, dia masih menyukai makanan yang kurang sehat.

Tingkat kegembiraan Hinako tiba-tiba melonjak.

“Itsuki, ini apa...!?”

“Jahe merah? Rasanya enak jika dimakan bersamaan dengan gyudon, loh.”

“Kalau ini...!?”

“Itu sih hanya air biasa.”

Sepertinya semua yang dilihat Hinako tampak seperti harta karun.

Setidaknya dia sedang mengalami pengalaman yang baik.

“Ahh...

minyak ini, lebih menggiurkan daripada keripik kentang...”

Hinako bergumam dengan ekspresi gembira di wajahnya....Apakah ini baik-baik saja?

Awalnya aku bermaksud memberinya pengalaman yang baik, tapi aku mulai sedikit khawatir.

Aku ingin tahu apakah Shizune-san akan membunuhku karena membuat Hinako terlihat seperti ini...?

Sambil merasa cemas, aku melihat wajah bahagia Hinako, dan baru menyadari kalau mulutnya berlumuran saus gyudon.

“Hinako, ayo lihat ke sini sebentar.”

Aku berkata demikian sambil mengambil serbet kertas.

“Sekitar mulutmu kelihatan kotor.”

“Mm...

hehehe.”

Aku membersihkan noda di sekitar mulut Hinako.

Ekspresi

Hinako menjadi lebih ceria seperti anak kecil.

Namun, keadaan kami menarik perhatian para pelanggan lain yang memperhatikan kami dengan diam.

Aku kembali tersadar ketika menyadari banyaknya pandangan yang menusuk.

Sial...

kami menjadi pusat perhatian.

“Ka-Kalau begitu, kurasa sudah waktunya untuk pergi?”

“Mm.”

Aku hampir melupakannya, tapi mempunyai penampilan yang cantik dan menarik perhatian sehingga 10 dari 10 orang menoleh padanya.. Dengan penampilan yang sudah mencolok, tidak mengherankan jika kami menarik perhatian dengan perilakunya yang seperti ini.

Kami segera keluar dari restoran dan mulai berjalan lagi.

“Bagaimana rasanya makan gyudon untuk pertama kalinya?”

“Ini akan menjadi makanan favoritku...!”

Hinako berkata sambil berbinar-binar.

Ternyata dia menyukai makanan yang sangat biasa. Aku harus mengingatkan dia untuk tidak mengatakan hal semacam ini dalam pertemuan sosial lainnya.

“Gyudon...

rasanya enak, dan menyenangkan.”

“Menyenangkan?”

“Mm. Aku tidak perlu khawatir soal tata krama.”

Bagi

Hinako, tempat makan di mana dia tidak perlu terlalu memperhatikan tata krama mungkin sangat berharga baginya.

Mungkin dia akan menemukan lebih banyak tempat makan di mana dia tidak perlu terlalu memperhatikan tata karma untuk sementara waktu ke depan. Itu seharusnya membuatnya senang, tapi... aku juga mulai sedikit khawatir.

“...Aku sendiri baru saja mulai memperhatikan hal seperti itu, jadi sebenarnya aku tidak punya hak untuk berkomentar tentang orang lain, tapi kamu tidak boleh melupakan tata karma juga.”

“Mm. Aku mengerti itu.”

Hinako melanjutkan dengan ekspresi serius di wajahnya.

“Aku hampir dipisahkan dari Itsuki karena melupakan tata krama... Aku tidak ingin merasakan pengalaman seperti itu lagi.”

Aku langsung tahu apa yang dibicarakan Hinako.

Kejadian itu terjadi sekitar tiga bulan yang lalu. Hinako sedang makan malam dengan para eksekutif perusahaan galangan kapal, dan tanpa disadari, dia melakukan aturan tiga detik yang pernah aku ajarkan sebagai lelucon.

Sepertinya

Hinako juga menyesal atas kejadian itu.

Tentu saja, aku juga menyesalinya.

“Kita berdua harus saling mengingatkan.”

“Ya.”

Tanggung jawab keluarga konglomerat sangatlah besar. Menanggung beban semacam itu dengan tubuh yang begitu lemah sungguh sulit bagi Hinako.

Maka dari itu, aku juga harus berhati-hati. Aku ingin sedikit meringankan beban yang dipikul Hinako.

“Sekarang, karena masih ada waktu luang...”

Aku melihat jam di ponselku.

“Aku masih ingin bermain lebih lama lagi...!”

“Baiklah, mungkin kita bisa berjalan-jalan sebentar di taman untuk menyegarkan diri.”

Bab 1 — Belajar Tentang Kehidupan Orang Biasa Bersama Ojou-Sama Bagian 3

Kami memasuki rumah, memandang ke seberang kota yang bermandikan matahari terbenam.

“Huuh...”

Hinako segera melepas sepatunya dan segera merebahkan diri di atas tatami di ruang tamu.

“Kamu lelah?”

“Ya.”

Pagi tadi kami pergi ke sini dengan mobil, dan sejak siang hingga sekarang hampir terus berjalan kaki. Bagi Hinako yang lebih suka berada di dalam ruangan, aktivitas hari ini pasti terasa melelahkan.

(Sedangkan aku... tidak begitu lelah)

Aku masih memiliki banyak tenaga, baik secara fisik maupun mental.

Saat berada di kediaman Konohana, aku menggunakan pikiran dan tubuhku dengan keras setiap hari untuk belajar dan bekerja sebagai pelayan. Dibandingkan dengan itu, jadwal hari ini terasa jauh lebih santai.

Hanya saja... aku merasakan ada sedikit kekurangan.

Selama satu hari ini, setelah sekian lama menjalani kehidupan masyarakat biasa, aku bisa melihat secara obyektif kehidupan masyarakat biasa. Ada perbedaan yang jelas antara cara hidup masyarakat awam dan golongan kelas atas. Namun, jika dipikir secara mendalam, perbedaan tersebut memiliki makna yang jelas.

Itulah hal yang aku pikirkan ketika kami pergi makan siang di restoran gyudon.

Akademi

Kekaisaran sering kali memaksa perilaku yang lebih analog daripada masyarakat umum. Contohnya saja ketidakhadiran mesin penjual tiket makanan. Jika ingin makan di Akademi Kekaisaran, satu-satunya cara adalah memanggil pelayan terdekat.

Meskipun sekilas sistem ini terasa merepotkan, namun jika dipikir-pikir, hal tersebut justru tidaklah buruk.

Para siswa Akademi Kekaisaran sering kali akan berada di posisi yang lebih tinggi dari yang lain di masa depan. Oleh karena itu, penting untuk belajar bagaimana berinteraksi dengan orang lain….terutama bawahan. Jika memberikan instruksi aneh atau bersikap angkuh, maka daya tarik dan kepatuhan bawahan akan berkurang.

Sebaliknya, dengan memanfaatkan orang lain dengan benar, mereka bisa menikmati kenyamanan yang melebihi otomatisasi mesin. Di Akademi Kekaisaran, mereka bisa mempelajari hal ini di meja makan. Bahkan dari cara memesan makanan kepada pelayan, kita bisa melihat martabat orang lain.

Akademi

Kekaisaran menciptakan lingkungan di mana para siswanya bisa belajar di berbagai tempat.

Hal ini mencerminkan keteguhan hati kelas atas.

(Bagiku, aku merasa kalau wawasanku menjadi lebih luas.)

Meskipun baru beberapa bulan bersekolah di sana, aku merasakan bahwa aku telah mendapatkan pengetahuan yang tidak pernah aku dapatkan sebelumnya karena terus berjuang mati-matian untuk mengimbangi orang lain.

Setalah memahami pentingnya, aku jadi merasa ingin serius menghadapinya.

Mungkin aku mulai sedikit merindukan hari-hariku di akademi itu.

Saat aku terdiam karena merenungkan masa lalu, smartphone yang ada di sakuku mendadak bergetar.

Rupanya ada panggilan masuk dari Shizune-san.

“Shizune-san?

Kira-kira ada apa?”

“Maaf. Pekerjaan di sini lebih sibuk dari perkiraanku, jadi aku mungkin akan pulang agak terlambat. Apa boleh aku menyerahkan persiapan makan malam padamu?”

“Tentu saja. Jika perlu, kita bisa pesan makanan juga.”

“Terima kasih. Jika kamu ingin memasak sendiri, kamu bebas menggunakan bahan makanan di dalam kulkas.”

“Baiklah.”

Panggilan pun ditutup.

Aku merasa kalau suara Shizune-san terdengar lebih lelah dari biasanya. Setidaknya aku bisa bertanggung jawab untuk memasak.

Saat aku membuka pintu kulkas, aku bisa menemukan berbagai macam bahan makanan di dalamnya.

Walaupun jelas-jelas ada bahan makanan mewah, tapi aku hanya mengambil bahan makanan biasa yang aku bisa gunakan.

Bawang, wortel, kentang, dan daging.

(... Kurasa aku akan membuat kari saja, deh.)

Aku menemukan bumbu kari instan di dalam kotak bumbu dan langsung memutuskan menu makan malam.

Aku merasa khawatir dengan keseimbangan nutrisi makanan kami karena kami makan semangkok gyudon pada siang hari ini. Kurasa lebih baik kalau aku akan menambahkan lebih banyak sayuran.

Saat aku mencari pisau dan pengupas, Hinako mendekatiku dengan langkah-langkah kecil.

“Itsuki...

apa yang sedang kamu lakukan?”

“Sepertinya

Shizune-san akan pulang larut malam, jadi kupikir aku akan membuatkan makan malam.”

Aku menjelaskannya sambil menyiapkan talenan.

“... Aku juga akan membantu memasak.”

“Hinako juga?”

Aku merasa agak khawatir karena itu agak berbahaya, tapi Hinako dengan percaya diri menempatkan kedua tangannya di pinggangnya.

“Aku sudah memiliki pengalaman memasak selama kursus musim panas.”

Hinako dengan bangganya mengatakan hal tersebut.

Memangnya memasak di acara barbekyu juga bisa disebut sebagai pengalaman memasak...?

“Baiklah, jadi bolehkah aku meminta bantuanmu untuk mengupas kulitnya?”

“Silahkan serahkan saja padaku...!”

Satu-satunya tugas yang tidak memerlukan penggunaan pisau atau api adalah mengupas.

Aku yakin

Hinako pasti bisa menggunakan pengupas dengan baik karena aku sudah mengajarkannya saat barbekyu tempo hari.

“Hinako, apa kamu lebih suka pedas atau manis?”

“Eum...

yang manis.”

“Baiklah.

Aku akan menambahkan ini sebagai bumbu rahasia...”

Aku meletakkan bahan yang kutemukan di dalam kulkas ke dalam panci.

“Cokelat?”

“Iya.

Menurut Yuri, kalau kita menambahkan ini, rasanya akan menjadi lebih manis dan lezat.”

“Woahh...

Aku jadi penasaran.”

Menurut

Yuri, karena kari bisa diubah rasanya dengan berbagai macam bumbu, jadi lebih baik mengubah bumbu rahasia sesuai dengan selera orang yang memakannya daripada mencari bumbu rahasia yang pas. Oh ya, setelah dicoba berkali-kali oleh Yuri, ternyata aku lebih suka rasa miso.

“Hinako, bisakah kamu mengambil kentang di sana?”

“Eum...

aku bahkan sudah mengupas wortel juga.”

“Terima kasih.

Tolong letakkan di sana.”

Aku dan

Hinako memasak bersama.

Entah kenapa, rasanya seperti percakapan suami istri...

Aku berusaha mati-matian untuk mengusir pikiran itu.

Aku memotong sayuran yang diberikan Hinako dan meletakkannya ke dalam panci.

Sepertinya

Hinako sudah selesai mengupas wortel, jadi aku meraih ke arah sana.

Pada saat itu, bahuku menyentuh bahunya Hinako.

“M-Maaf...”

“... ehm, enggak apa-apa.”

Wajah

Hinako langsung memerah dan suaranya terdengar aneh.

Karena dapurnya sempit, jarak di antara kami menjadi lebih dekat secara tidak sengaja.

Ini bukanlah rumah besar keluarga Konihana, dan juga bukan pantai yang luas.

Begitu aku langsung menyadarinya, hal itu menjadi sangat mengganggu. Padahal sebelumnya tidak ada masalah, tapi hanya dengan gesekan pakaian, tangan kami berhenti bergerak.

Hinako terus mengupas kulit sayuran dalam diam sambil menunduk.

Aku juga terus memotong sayuran sambil menahan rasa geli yang menggeliat di hatiku.

◆◆◆◆

“Terima kasih untuk makanannya.”

Aku dan

Hinako benar-benar menikmati kari yang berhasil selesai dimasak.

“Kenyang sekali...!”

“Syukurlah kalau begitu.”

Rasanya biasa saja, tapi sepertinya Hinako cukup puas.

Setelah perut terisi, rasa kantuk mulai menghampiri. Meskipun ada perasaan ingin berbaring sebentar, tapi aku berusaha menangannya karena mungkin saja Shizune-san akan segera pulang.

“Mendingan nonton TV aja dulu buat menahan kantuk.”

Aku mengambil remote yang ada di dekatku dan mengarahkannya ke televisi tipis terbaru yang disiapkan Shizune-san. Ketika televisi dinyalakan, berita pun mulai ditayangkan.

“Ngomong-ngomong, apa kamu sering menonton televise, Hinako?”

“Hmmm...

tidak terlalu.”

Hinako berguling dan meletakkan kepalanya di pangkuanku.

Dia bertingkah seperti seekor kucing yang manja.

Seharusnya ini bisa dihindari tanpa disadari...

Ketika bahu kami bersentuhan di dapur, situasinya menjadi canggung, tapi entah kami berdua justru merasa tenang meskipun kepala Hinako berada di pangkuanku.

Mungkin karena aku sudah terbiasa?

Sambil mengelus kepala Hinako, aku melanjutkan menonton berita yang sebenarnya tidak begitu menarik.

“Sekarang untuk berita selanjutnya. Konohana Electric baru-baru ini mengumumkan pengembangan satelit optik canggih baru…..”

Saat nama “Konohana” disebutkan oleh pembawa acara, Hinako memejamkan matanya.

“Karena ada hal semacam ini terjadi.”

“... Jadi begitu rupanya.”

Mungkin dia ingin melupakan urusan keluarganya sejenak dalam kehidupan pribadinya.

“Tapi...

banyak orang di akademi yang menonton televisi juga, lho.”

“Oh begitu ya.”

“Karena berita juga bisa jadi pembelajaran. Papa juga bilang sebaiknya kita tetap mengikuti berita.”

Mungkin berita memang bagus untuk memperluas pengetahuan tentang dunia.

Namun, pagi tadi Hinako sudah dengan semangat menyelesaikan tugas selama seminggu.

Meskipun Shizune-san sering mengingatkan untuk tidak terlalu memanjakan Hinako, sepertinya hari ini dia bisa melupakan urusan belajar sejenak.

“Kalau begitu, mungkin kita pindah ke acara hiburan saja.”

Aku lalu mengganti saluran TV.

Secara teknis, keluarga Tomonari juga memiliki televisi. Meskipun tidak sehebat televisi terbaru seperti ini, ayahku membeli TV bekas dengan harga murah.

Kalau diingat-ingat, ada acara seperti ini juga, ya...

Pada hari liburku dari pekerjaan paruh waktu, aku biasa menonton televisi sambil melakukan pekerjaan tambahan bersama ibuku. Aku yakin acara ini juga ditayangkan saat itu.

Namun, pembawa acaranya bukanlah komedian yang aku kenal. Sepertinya mereka sudah digantikan.

Kalau dipikir-pikir, aku belum pernah menonton TV sekali pun sejak aku mulai tinggal di mansion keluarga Konohana. Aku mendapat laptop untuk belajar, jadi hanya dengan itu saja sudah cukup untuk mengetahui berita terkini.

Saat aku berjalan-jalan keliling kota, aku bisa melihat perbedaan pemandangan beberapa kali. Perlahan tapi pasti, kota ini berubah, dengan rambu-rambu toko diperbarui dan warna jalan berubah.

Di masa depan, aku mungkin akan kehilangan pengetahuan tentang hal-hal yang selama ini aku ketahui.

“...

Itsuki, apa dulu kamu hidup seperti ini?”

Hinako yang sedang berguling-guling di pangkuanku bertanya dengan suara pelan.

“Yah, kurang lebih memang seperti ini.”

“...

Begitu ya.”

Hinako mengangguk.

Mungkin dia hanya mengantuk, tapi ekspresi wajahnya seolah menunjukkan kalau sepertinya ada sesuatu yangmengganggunya.

“Bagaimana menurutmu? Menjalani kehidupan seperti masyrakat biasa?”

“...

Menyenangkan.”

Hinako menjawab sambil berguling-guling.

“Karena tidak ada yang terlalu memperhatikanku. Rasanya sangat nyaman dan menyenangkan untukku.”

Tampaknya

Hinako benar-benar menikmatinya lebih dari yang aku sangka.

Namun, jika dikatakan bahwa tidak ada yang memperhatikan Hinako, itu sama sekali tidak benar. Gadis cantik seperti dirinya pasti menarik perhatian. Hanya saja mungkin aku tidak menyadari perbedaan dalam pandangan orang-orang. Meskipun dia menarik perhatian dalam arti minat dan perhatian, tapi tidak sebagaimana ketika dia bersikap seperti seorang Ojou-sama.

“Selain itu... rasanya begitu hangat.”

Hinako tersenyum lembut sambil mengungkapkan perasaannya.

“Kamu juga mengatakan hal yang sama di kawasan perbelanjaan tadi.”

“Un...

Sepertinya semua orang menyukai Itsuki.”

Aku ? Aku memiringkan kepalaku dengan keheranan. Hinako lalu melanjutkan.

“Ada banyak orang yang berbicara dengan Itsuki. Kamu merendah dengan mengatakan itu hanya jarak yang wajar di pusat perbelanjaan... Tapi, mungkin juga karena Itsuki, semua orang jadi mendekatimu seperti itu.”

Ketika itu diungkapkan, merendahkan diri pun menjadi sulit.

Tapi, jika begitu...

“...

Hinako juga.”

Aku berkata demikian kepada Hinako yang menatapku dengan tulus.

“Mungkin dulu berbeda. Tapi sekarang, aku yakin kalau Hinako juga... jauh lebih hangat, bukan?”

Tennouji-san danNarika, Asahi-san kepada Taishou. Hinako yang sekarang pasti telah menemukan seseorang yang sedikit lebih bisa dia percayai daripada orang asing.

Mungkin memang melelahkan untuk terus berakting.

Tapi, karena aku selalu berada di samping Hinako, aku jadi menyadari perubahan itu.

Saat Hinako berurusan dengan teman-teman perempuannya, dia bisa sedikit lebih santai daripada biasanya.

“Mungkin begitu,” kata Hinako dengan senyum lega.

“Semua berkat Itsuki.”

“Itu sama sekali tidak benar.”

“Tidak...

semuanya berkat dirimu, Itsuki.”

Dia menundukkan pandangannya dan berkata.

“Tapi aku... “

Hinako menutup mulutnya sejenak, dan terus terdiam.

Padahal dia tampak seperti sedang bersenang-senang beberapa saat yang lalu, tapi tiba-tiba dia tampak murung. Aku sama sekali tidak tahu mengapa dia bersikap seperti itu.

“Itsuki, apa kamu menyukai kehidupan yang seperti ini...?”

“…Hmm gimana ya. Mungkin aku menyukai karena apa adanya.”

Bukan karena suka, tapi karena aku sudah terbiasa.

Bukan berarti aku suka hidup miskin seperti dulu. Tapi, hidup di kota yang penuh dengan keramaian seperti ini, mungkin tidaklah buruk.

“Apa kamu berpikir ingin kembali…..?”

Dengan suara kecil, Hinako mencoba mengucapkan sesuatu..

Tapi suara pelan itu tidak berlanjut sampai akhir, dan Hinako kembali terdiam.

“Hinako?”

“...Bukan apa-apa.”

Hinako berguling dan turun dari pangkuanku.

Dia kemudian berdiri perlahan.

“Aku akan mandi.”

“Baiklah.

Aku akan memanaskan air dulu.”

Aku masuk ke kamar mandi dan mengisi air.

Air cepat terisi penuh. Hinako mengeluarkan pakaian ganti dari dalam tasnya dan menuju ke kamar mandi.

“…Itsuki?”

Hinako tiba-tiba menoleh ke arahku dengan ekspresi heran.

“Kenapa kamu tidak ganti pakaian?”

“Eh?”

“Mandi, bersama...”

“Tidak, tidak, tidak.”

Hinako mengatakan ini seolah-olah itu sudah jelas, tapi aku menjawabnya sambil menepuk dahiku.

“Hari ini tidak usah dulu. Laian, kamar mandi di rumah ini juga sempit.”

“Muu...”

Hinako menggembungkan pipinya dengan tidak puas, namun akhirnya mengangguk sebagai tanda pasrah.

“Baiklah, kalau begitu... bantu aku mencuci rambutku.”

Dengan berkata demikian, Hinako masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa baju renangnya yang biasa.

Aku mendengar suara gesekan kain dari balik pintu. Beberapa saat kemudian, terdengar suara air. Jangan memikirkannya, jangan memikirkannya... Aku menaikkan volume TV dan menonton acara TV yang sebenarnya tidak begitu menarik.

“Itsuki~”

“...Iya, iya.”

Tanpa memperdulikan perasaan batinku, Hinako memanggilku dengan suara santai.

Ketika aku membuka pintu, Hinako tengah santai berendam di dalam bak mandi.

“Kalau begitu…. cuci rambutku...”

“Baiklah...

Ah, tapi sebelum itu, kita harus menguras airnya dulu.”

Kamar mandi ini tidak dirancang untuk mencuci rambut atau tubuh ketika air masih terisi penuh.

Aku mengambil shower sambil mencabut keran kamar mandi.

“Ayo tutup matamu.”

“Hmm.”

Karena rambutnya masih kering, jadi aku menyiraminya dengan shower. Jika aku mencuci rambutnya seperti ini, tanganku dan pakaianku akan penuh dengan air dan busa...

tapi ya, itu tidak masalah. Aku bisa mencuci bajuku dan langsung mandi setelah itu.

Aku duduk di pinggiran bak mandi dan mencuci rambut Hinako.

Posisi tubuhku agak sulit sedikit.

“Aku akan membilasnya.”

“Hmm...”

Aku membilas sampo yang menempel di rambutnya.

Meskipun kamar mandinya sempit, Shizune-san telah menyiapkan segala sesuatunya dengan rapi, termasuk sampo. Saat aku mencari botol selanjutnya yang harus digunakan...

“Ahh, panas...”

Hinako mengoceh dengan suara serak.

Sekarang aku juga merasa panas. Bukan karena suhu airnya, tetapi karena suhu udara di kamar mandi. Biasanya aku tidak terlalu memperhatikan hal ini karena kamar mandinya luas, tapi kamar mandi ini sempit sehingga udara panas mudah terjebak di dalamnya.

Kamar mandi di rumah ini berbeda dengan yang biasanya. Tampaknya ventilasinya juga tidak berfungsi dengan baik.

“Apa kamu baik-baik saja? Aku akan mengubah suhu airnya menjadi dingin...”

“Tidak...

Aku harus keluar sebentar...”

Hinako tampaknya sudah mencapai batasnya, jadi aku segera membentangkan handuk di lantai.

“Eh, wah!”

Segera setelah dia keluar ke ruang tamu, Hinako mempercayakan seluruh tubuhnya kepadaku, air menetes dari tubuhnya ke pipiku.

Hinako yang sepertinya sudah sangat kepanasan itu menutup matanya dengan wajah lemas.

Aku segera menyalakan AC dan mempersiapkan air dingin. Saat aku sedang memikirkan itu, tiba-tiba terdengar suara.

“Aku pulang.”

Pintu depan terbuka, dan aku bisa mendengar suara Shizune-san.

Shizune-san melepas sepatunya, lalu... ketika dia melihatku yang sedang memeluk Hinako yang hanya mengenakan baju renang, ekspresi wajahnya langsung segera berubah.

“Dasar binatang buas.”

“Tidak, kamu salah paham, Shizune-san.”

◆◆◆◆

Pada malam harinya.

Aku memindahkan meja ke sudut ruangan, menyiapkan futon untuk tiga orang, dan mematikan lampu untuk pergi tidur..

“.....Uhmm.”

Di dalam kegelapan. Aku perlahan-lahan berkata dengan menyandarkan tubuhku ke dinding.

“Bukannya aku terlalu di pinggiran ya?”

“Karena kamu memiliki catatan criminal.”

Aku bisa mendengar Shizune-san terdengar dari seberang sekat.

Seharusnya sekat diletakkan di tengah ruangan untuk memisahkan ruang antara pria dan wanita, tetapi karena berbagai alasan, sekat tersebut diletakkan cukup dekat dengan dinding. Awalnya rencananya adalah membagi ruangan antara pria dan wanita dengan perbandingan empat banding enam, tetapi sekarang menjadi satu banding sembilan.

“Itu benar-benar kesalahpahaman. Aku tidak melakukannya dengan sengaja.”

“Jika tidak sengaja, kamu ingin mengatakan kalau kamu boleh melakukan apa saja?”

Itu adalah argumen yang tidak bisa dibantah.

Aku tidak bisa memikirkan alasan apapun untuk membantahnya. Aku akan menghindari penjelasan lebih lanjut.

Namun, mungkin itu cuma perasaanku saja, tapi aku merasa Shizune-san lebih sedikit bersikap ketat dari biasanya. Hal seperti ini sering terjadi di kediaman

Konohana... tidak, mungkin dia merasa perlu untuk lebih memperhatikan karena hal itu sering terjadi, tetapi sejauh ini seharusnya tidak seserius ini.

“....Shizune.”

Pada saat itu, Hinako berbicara dengan suara kecil.

“Kasihan

Itsuki. Padahal sudah lama sekali ia tidak pulang ke rumah...”

Dia benar-benar anak yang baik...

Aku hampir meneteskan air mataku karena terharu.

Usai mendengar perkataan Hinako, Shizune-san..... menghela nafas dengan pelan.

“Kagen-sama terlihat sangat khawatir.”

Shizune-san berkata dengan nada suara yang serius.

“Aku tidak tahu apa kamu menyadarinya atau tidak, tapi kinerja Kagen-sama hari ini sedikit kurang cemerlang dari biasanya.... Kagen-sama mengatakan bahwa ia mengizinkan kita melakukan hal ini karena ia mempercayai kami, tapi kupikir jauh di lubuh hatinya, sebagai seorang orangtua, dia juga merasa cemas.”

Percakapan tersebut membuat kantukku hilang seketika.

Saat dipikir-pikir lagi, kupikir kecemasan itu merupakan hal yang wajar. Gadis yang masih duduk di bangku SMA meninggalkan rumah tempat tinggalnya selama seminggu, dan tinggal di rumah kecil seperti ini bersama dengan lelaki sebaya.

Di rumah besar, ia bisa segera datang jika ada masalah. Pelayan juga selalu memperhatikan segala hal. Namun, kekuatan Kagen-san tidak bisa langsung dirasakan di rumah kecil ini.

Selama kursus musim panas, itu dimaklumi.

Tapi kali ini, ia merasa cemas.

Perbedaan antara dua situasi itu... mungkin memang ada hubungannya denganku.

Selama program kursus belajar musim panas, aku dan Hinako tinggal di kamar yang terpisah.

Shizune-san juga selalu berada di sisinya. Itulah sebabnya Kagen-san tidak merasa cemas seperti kali ini.

Namun, kali ini, Shizune-san akan melakukan beberapa tugas lain karena pekerjaannya, dan aku dan Hinako akan tinggal di bawah atap yang sama. Meskipun ada pengawal di sekitar kami, mereka tidak boleh melanggar privasi kami, dan tentu saja mereka tidak akan mengintip ke dalam rumah.

Maka dari itu, wajar saja jika aku dan Hinako akan lebih banyak menghabiskan waktu berdua di rumah kecil ini.

Alasan mengapa Kagen-san merasa cemas dan tidam aman bukan karena Hinako.... tapi karena diriku.

Akulah yang membuat Kagen-san merasa cemas.

“Maaf.

Aku terlalu ceroboh.”

Aku sangat menyesalinya dan meminta maaf.

Kagen-san adalah orang yang tegas. Tapi bukan berarti ia orang yang terlalu memaksa.

Selama kami melakukan apa yang harus dilakukan, kami boleh menghabiskan waktu dengan bebas. Kagen-san selalu memperlakukan Hinako dan aku dengan sikap seperti itu.

Dan mungkin karena ia sangat tegas dalam hal yang harus dilakukan, jadi ia setidaknya mencoba untuk menghormati kebebasan kami sebisa mungkin.

Mungkin itulah sebabnya ia memberi izin kepada kami untuk menginap di rumah ini.

Belakangan ini kami juga telah menyelesaikan tugas-tugas harian dengan baik, dan kami juga melakukannya dengan baik dalam kursus musim panas.

Tapi tentu saja, sebagai seorang orangtua, ia masih merasa khawatir.

Kagen-san mempercayai diriku. Aku telah hidup tanpa benar-benar menyadari hal itu.

Itulah sebabnya aku membuatnya cemas.

“Berkat

Itsuki-san, Ojou-sama telah berubah... Dan, berkat Ojou-sama, Kagura-sama juga mulai berubah,” kata Shizune.

“Aku pikir perubahan itu adalah sesuatu yang baik.”

Itulah sebabnya aku berharap kamu tidak melakukan apa pun yang akan membuatmu menyesali perubahan tersebut. Itulah yang secara tidak langsung ingin disampaikan oleh Shizune-san.

Aku bisa merasakan tanda-tanda seseorang bangkit di balik sekat.

Shizune-san menjulurkan kepalanya dari balik sekat.

“Mungkin kali ini, aku akan memaafkanmu karena kebaikan Ojou-sama.”

“Terima kasih.”

Aku berterima kasih kepada Shizune saat dia mengembalikan sekat ke posisi semula.

“Mengenai topic yang berbeda, apa kamu sudah memutuskan rencanamu untuk besok?” tanya

Shizune-san.

“Aku berencana pergi ke rumah Yuri sore nanti.”

“Kalau begitu, mungkin kamu tidak perlu makan malam, ya.”

“Ya.”

Tapi kalau itu yang terjadi, berarti Shizune-san akan makan malam sendirian lagi.

Hari ini juga, Shizune-san sedang makan kari saat aku sedang mandi. Meskipun sepertinya dia tidak mempermasalahkannya...

“Uhmm, apa kamu akan ikut juga, Shizune-san?”

“Aku akan dengan berat hati menolaknya....Aku bisa membaca situasi sampai sejauh itu.”

Karena

Shizune-san adalah soerang mahasiswa, jadi jarak usia di antara kami tidak terlalu jauh. Namun, selama Hinako berada di dekatnya, Shizune-san harus tetap mempertahankan posisinya sebagai pelayan.

Tidak masalah bagi Shizune-san untuk bergaul dengan semua orang di Akademi Kekaisaran, namun kali ini dia mungkin merasa perlu untuk memperhatikan karena Yuri yang tidak terbiasa dengan posisi pelayan. Jika kita mempertimbangkan interaksi mereka selama kursus musim panas, sebenarnya tidak perlu terlalu khawatir, namun agak sulit untuk menolak seseorang yang menghendaki kehati-hatian.

“Lantas, apa yang akan kamu lakukan hingga sore nanti?”

“Aku berencana belajar. Sepertinya sudah waktunya untuk mempersiapkan diri dengan belajar sebelumnya.”

“Itu sikap yang luar biasa.”

Hinako telah menyelesaikan tugas harian selama seminggu, sementara tugas harianku masih belum selesai.

Pagi ini, aku sekali lagi menyadari kecerdasan Hinako. Aku menghormatinya tapi aku tidak bisa menirunya. Aku, sebagai orang biasa, tidak boleh mengabaikan akumulasi usaha.

“Tapi, rasanya sangat sia-sia sekali jika kami langsung mampir tanpa sedikit bersantai di tempat lain...”

Aku belum memutuskan akan pergi ke mana.

Kurasa aku idak perlu memaksakan diri untuk membuat rencana, mungkin aku bisa memutuskannya dengan santai besok.

Saat aku sedang memikirkan hal itu,

“...sekolah.”

Aku mendengar suara kecil Hinako dari sisi lain sekat.

“Aku ingin melihat sekolah tempat Itsuki pernah bersekolah.”

“Baiklah, kalau begitu besok kita bisa mampir ke sana dulu.”

Mungkin sulit untuk masuk ke dalam sekolah, tapi setidaknya kami bisa melihat dari luar.

Aku juga ingin melihat suasana sekolah setelah sekian lama.

Setelah rencana untuk besok sudah disepakati, aku pun pergi tidur.

Lanjut baca perlu akun

Di tiap novel bab 1–3 bebas — mau dibaca berapa kali pun. Bab 4 ke atas perlu masuk, jadi bab ini disamarkan.

Masih bebas: Bab 1Bab 2Bab 3 Semua bab