←
Saijou no Osewa Takane no Hana-darakena Meimon-kou de, Gakuin Ichi no Ojou-sama (Seikatsu Nouryoku Kaimu) wo Kagenagara Osewa suru Koto ni Narimashita Bab 47 · Bab 3 — Penantang
☰

Bab 3 — Penantang

Saijou no Osewa Takane no Hana-darakena Meimon-kou de, Gakuin Ichi no Ojou-sama (Seikatsu Nouryoku Kaimu) wo Kagenagara Osewa suru Koto ni Narimashita

Sudah seminggu telah berlalu sejak aku mengadakan pertemuan belajar dengan Suminoe-san dan yang lainnya.

Acara game manajemen ini sudah berjalan sekitar dua minggu.

Padahal hanya dua minggu di dunia nyata, tapi di dalam game sudah satu tahun berlalu. Dalam satu tahun itu, kondisi perusahaan sudah mulai terlihat.

Perusahaan yang kinerjanya buruk, artinya yang tidak mengalami pertumbuhan, sebentar lagi harus segera dibenahi. Dari perkembangan dalam game, aku melihat ada beberapa pemain yang sudah mulai panik untuk memikirkan perbaikan.

I tu bukan hanya masalah orang lain saja.

Karena aku sendiri juga salah satu dari para pemilik bisnis yang harus memikirkan perbaikan.

“ Hari ini ada pertemuan minum teh, ‘kan?”

“ Ya, memang. ”

Pagi ini, aku membalas sambil mengangguk di dalam mobil yang menuju sekolah.

Sepulang sekolah nanti, kami akan berkumpul lagi untuk melakukan pertemuan rutin aliansi minum teh. Untuk saling me meriksa p erkembangan masing-masing.

(Mungkin aku sedikit kurang tidur...)

Aku menguap pelan.

Selama beberapa hari terakhir, aku kurang tidur.

Kinerja perusahaan di dalam game tidak berkembang dengan baik. Jumlah pengguna situs penjualan ku juga menjadi stagnan, dan upaya promosi juga belum menunjukkan hasil yang memuaskan.

Aku ingin melakukan perbaikan, tapi aku tidak tahu harus melakukan apa, jadi terus-menerus dibuat bingung.

“ I ts uki, kamu kurang tidur? ”

“...Tidak, bukan nya begitu. ”

Aku tidak ingin membuatnya khawatir, jadi aku akhirnya berbohong.

“Kalau

Ojou-sama sendiri pasti kurang tidur. Bahkan semalam pun, dia merelakan waktu tidurnya untuk menyeduh teh. ”

“ Shi-Shizune...?! ”

“ Maafkan saya, mulut saya keceplosan."

Hinako berkata dengan panik.

Sejak saat itu, H inako terkadang membuatkanku teh. Keesokan harinya setelah pertama kali dia membuatkanku teh, aku membalas dengan membawakan teh ke dalam kamarnya. Lalu keesokan harinya,

H inako kembali membuatkanku teh. Hal tersebut terus terjadi berulang-ulang....Belakangan ini, H inako juga terlihat semakin akrab dengan Shizune-san.

Bukan hanya akrab, tapi Shizune-san seperti sangat mempedulikan H inako.

Apa

Shizune-san menyadari akan hal itu?... Jika aku mengungkitnya dengan payah, dia mungkin akan merasa malu, jadi s ebaiknya aku diam saja, tidak usah mengungkit-ungkit nya. Lagipula, H inako juga tidak terlihat membencinya, jadi lebih baik dibiarkan terus begini.

“ H inako, kalau ka m u kurang tidur, kamu boleh istirahat sebentar, kok. ”

“ Mmm...

Tidak, aku tidak akan tidur... ”

Meskipun tatapan matanya terlihat sayu, tapi dia terlihat bersikeras melawan kantuknya.

“Semenjak tempo hari yang lalu, k enapa kamu tiba-tiba jadi rajin begini, Hinako ? ”

Semalam saat dia membuatkanku teh, H inako juga terlihat sangat mengantuk, tapi dia terus bersikeras untuk tetap terjaga.

H inako menjawab dengan malu-malu.

“ Habis nya... Aku ingin ber bicara lebih lama dengan mu, I ts uki... ”

Tanpa sadar aku menengadah ke atas langit.

Apa-apaan dengan makhluk imut yang satu ini ?

Rasanya seolah-olah kepalaku bisa men jadi gila, jadi aku me mijat pelan pelipis ku sambil berusaha untuk menahan diri.

“... Kita bisa bicara kapan saja, ‘kan? Selain orang lain, aku dan Hinako tinggal di rumah yang sama.”

“... Mungkin, begitu.”

Hinako tampak senang dan menyetujui perkataanku.

Mobilnya sedikit bergoyang. Seakan menyerahkan dirinya pada goyangan itu, Hinako bersandar di bahuku.

“...Aku mau tidur,”

Dia bergumam pelan lalu memejamkan matanya.

Ada aroma manis yang samar-samar menyebar, dan kehangatan menjalar dari bahuku. Rupanya dia terlalu memaksakan diri untuk tetap terjaga, karena Hinako langsung tertidur seketika....Aku juga mulai mengantuk.

Sebagai pengasuhnya, aku harus terus memperhatikan Hinako. Tapi hari ini, rasa kantuk yang lebih kuat dari biasanya menyerangku, dan mataku perlahan menutup sendiri.

“...Shizune-san.

Maaf, aku juga akan tidur sebentar.”

“Baiklah....Ini memang tumben sekali melihat Itsuki-san terlihat sangat mengantuk begini.”

Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya aku tertidur saat perjalanan berangkat dan pulang sekolah....Sepertinya begadang terlalu lama memberi efek buruk padaku.

Dengan merasakan penyesalan semacam itu, aku pun tertidur.

◆◆◆◆

Sepulang sekolah.

Di kafe biasa, anggota Aliansi Pesta Teh berkumpul mengelilingi satu meja.

“Nah, ayo kita berbagi informasi terbaru dari kemajuan masing-masing.”

Tennouji-san berkata demikian sambil menampilkan layar laptopnya ke hadapan semua orang.

“Pertama dimulai dari aku dulu, aku akan menyampaikan laporan keuangan Grup Tennouji.

Untuk menghindari penjelasan yang terlalu panjang, aku hanya akan membagikan data perusahaan utama.”

Tennouji-san menampilkan slide laporan keuangan perusahaannya. Pendapatan produsen logam non-besi naik sekitar 13% dari tahun lalu, sementara produsen elektronik turun sekitar 2%. Kinerja masing-masing perusahaan berbeda-beda, tapi secara keseluruhan meningkat.

Namun, laporannya benar-benar penuh efek visual yang mencolok... Terlalu mencolok sampai-sampai agak sulit dibaca. Ini memang sangat menggambarkan Tennouji-san yang suka hal-hal mencolok, tapi kalau sampai ke level ini, rasanya jadi terkesan murahan seperti diskon besar-besaran di supermarket.

Saat aku melirik ke arah Tennouji-san, dia terlihat sangat puas dan bangga dengan dirinya sendiri.

Aku tidak ingin menghilangkan semangat itu, jadi lebih baik tidak perlu mengomentarinya.

“Penjualan

Grup Konohana, dimulai dari perusahaan utama Konohana Shoji, adalah...”

Lalu Hinako menampilkan layar laptopnya untuk menjelaskan.

Berbeda dengan Tennouji-san yang memiliki kinerja beragam, Hinako mampu meningkatkan penjualan berbagai perusahaannya secara stabil.

“Pe-Penjualan konsolidasi perusahaanku meningkat dibandingkan tahun lalu, anu...”

Narik a terlihat gugup, tapi kinerja perusahaan nya tampak meningkat.

Dia tidak merasa ada kekhawatiran tentang kinerja bisnisnya. Dia hanya memang tidak nyaman berbicara di depan umum.

“ Perusahaan ku adalah— ”

“ Perusahaan ku, J's Holdings— ”

Tampaknya bisnis Ta ishou dan Asahi-san juga dalam kondisi baik -baik saja.

Akhirnya giliranku tiba.

“Kinerja

Tomonari Gift terlihat seperti ini. ”

Aku menampilkan laporan keuangan yang dibuat dalam game dan menunjukkannya ke semua orang.

“ Tampaknya lancar-lancar saja, ya. ”

“J ika hanya melihat angka selama setahun, mungkin itu terlihat baik-baik saja, tapi... ”

Aku kemudian menampilkan grafik garis jumlah pengguna dan menjelaskannya.

“ Sejak paruh kedua, angka-angka nya mulai melambat. Sej ujur nya, aku merasa ada tanda-tanda stagnan, dan aku khawatir dengan kinerja tahun depan jika keadaannya tetap seperti ini. ”

Meskipun aku menyadari cara bekerja saat ini takkan membuat banyak perubahan dalam situasi, tapi aku merasa layanan penjualan katalog hadiah masih memiliki potensi.

“ Tapi penjualanmu meningkat setelah membuat katalog, kan? ”

“ Ya.

Aku mengira kalau itu akan membutuhkan waktu lebih lama untuk melihat hasilnya, tapi ternyata aku bisa melihatnya lebih cepat dari perkiraan. Tapi mungkin itu hanya pertumbuhan cepat saja, dan penurunannya juga cepat. ”

Aku menjelaskan pandangan ku atas pertanyaan Ta ishou.

Pembuatan katalog berhasil menarik pelanggan dari pasar hadiah katalog, sesuai dengan yang kuharapkan. Tapi perkiraan yang salah adalah, pasar hadiah katalog ternyata lebih kecil dari yang ku bayangkan. Jika basis pelanggannya sedikit, maka jumlah yang bisa ditarik juga terbatas.

“Tomonari, k enapa kamu tidak membuat divisi pemasaran?

Kayaknya kamu belum ada, kan? ”

“ Pemasaran, ya... Memang belum ada, sih. ”

Begitu rupanya. Selama ini aku selalu melakukan analisis pasar sendiri, tapi mungkin sudah saatnya meminta bantuan orang lain. Kalau aku me minta bantuan ahli, mungkin kesalahan semacam ini bisa dihindari.

“Walaupun k amu tidak perlu sampai membuat divisi segala, tapi bagaimana kalau kamu minta bantuan perusahaan pemasaran? Aku bisa memperkenalkan perusahaan pemasaran yang aku pakai, kok ? ”

Asahi-san juga memberi saran.

Membuat divisi sendiri memang b isa-bisa saja, tapi pertama-tama aku lebih ingin menge tahu i efektivitas pemasaran. Kali ini aku akan mengikuti saran Asahi-san.

“ Tolong, ya. ”

“ Oke, kalau begitu ak u akan menghu bungi mereka langsung~ ”

Asahi-san mulai mengetik di keyboard.

Sepertinya dia menghubungi siswa yang memiliki perusahaan pemasaran.

“ Tomonari-kun, kamu sangat rajin ya. Kemarin aku lihat kamu login ke dalam game terus, lho. ”

“ Lho, bagaimana kamu bisa mengetahuinya ? ”

“ Ada halaman untuk memeriksa informasi perusahaan pihak lain, ‘ kan?

Di bagian atas kiri, ada menampilkan status login pemain. Kamu tidak tahu mengetahuinya ? ”

“Aku sama sekali t idak tahu... ”

Akhir-akhir ini aku sibuk dengan urusan perusahaan ku sendiri, jadi aku tidak mempunyai waktu untuk melihat perusahaan orang lain.

Ketika pesan dari siswa lain datang, aku selalu berpikir bahwa waktunya selalu saja tepat sekali. Ternyata mereka selalu mengecek apakah orang yang akan mereka kirim pesan sedang login atau tidak.

“ Ngomong-ngomong,

Tomonari, kamu sering menguap hari ini. Apa kamu begadang main game semalam? ”

“ Tidak, bukan begitu... ”

“ Tapi tadi di kelas kamu tidak bisa menjawab pertanyaan yang ditujukan padamu, ‘ kan? ”

“ Uh... ”

Aku kehilangan kata-kata menghadapi kombinasi Taishou dan Asahi-san. Ketika m endengar percakapan kami, Tennouji-san membelalakkan mata nya.

“Apa itu benar ? ”

“Ak-Aku baik-baik saja. Aku berencana akan mengulangi pelajarannya nanti hari ini. ”

“..... ”

Tennouji-san menatapku dengan ekspresi menyelidiki.

Aku h arus hati-hati... Jangan sampai nilai pelajaran ku turun gara-gara game manajemen, dan melupakan prioritas utamaku.

◆◆◆◆

Pukul 20.30, aku kembali ke kediaman keluarga Konohana dan menghadap layar laptop di kamarku.

“ Baiklah, kalau begitu, aku akan menjelaskan rencana B. ”

Aku mendapat p esan masuk dari mitra bisnisku.

“ Dengan rencana ini, kita bisa memilih target untuk proyek Tomonari Gift, dan setelah dijalankan, kita bisa mengumpulkan data pembelian untuk menjalankan siklus PDCA secara efektif. Kita juga bisa melakukan survei volume pasar yang menurut

Tomonari -kun kurang berhasil. ”

“ Terima kasih banyak. I tu sangat membantu. ”

“ Karena

Asahi-san yang merekomendasikanmu, jadi aku akan mem beri mu sedikit diskon. ”

Orang yang aku ajak bicara adalah CEO perusahaan pemasaran yang dikenalkan Asahi-san tadi sore. Setelah mendengarkan situasiku selama satu jam, dia langsung menawarkan solusi terbaik dan kami pun menandatangani kontrak.

Layanan pemasaran ini katanya bisa meningkatkan efisiensi kerja karyawan saat digunakan untuk game. Tapi kita tidak bisa asal memakainya, karena harus sesuai dengan masalah perusahaan supaya bisa berjalan efektif.

“Kurasa aku akan membiarkannya seperti ini dulu sampai aku bisa melihat efek pemasarannya... ”

Dasar pemasaran adalah analisis data. Dan itu membutuhkan waktu. Sesuai seperti namanya siklus

PDCA, siklus tersebut harus diulang-ulang untuk memperbaiki, baru kemudian efeknya akan terlihat.

“...Menakutkan. ”

Aku tahu kalau aku tidak boleh cepat-cepat menuntut hasil, tapi menunggu lama hasilnya keluar membuatku takut. Apa ada yang salah? Apa aku hanya membuang-buang waktu dan uang? Kekhawatiran itu terus menggerogoti pikiranku....Sebaiknya aku perlu mempelajari game lebih banyak lagi.

Waktu sekarang s udah lewat pukul 21.00, jadi aku tidak bisa login game, tapi masih banyak yang ingin kupelajari. Biasanya setelah pukul 9 malam, aku berencana mengerjakan PR dan mengulang pelajaran, tapi kekhawatiranku tentang game terlalu besar s ampai-sampai aku t id ak bisa fokus belajar.

Aku jadi dibuat bimbang....Rasanya seperti aku terjebak di lubang semut.

Aku merasa lelah dan pemikiranku men jadi negatif. Saat a ku menepuk-nepuk pipiku seraya berusaha mendapatkan semangat lagi, aku mendengar suara pintu diketuk.

“ I ts uki-san, a pa boleh aku masuk sekarang ? ”

Aku mendengar suara Shizune-san, jadi aku menjawabnya dengan “iya”.

“ Permisi. ”

“...Umm,

Hinako mana? ”

“Ojou-sama sedang mengadakan pertemuan dengan Kagen-sama terkait game manajemen. Aku datang kemari untuk menyampaikan pesan. ”

Pesan?

Aku me rasa kebingungan, dan Shizune-san melanjutkan.

“ Minggu depan, aku dan Ojou-sama ada acara makan malam, jadi kami tidak ada di rumah sampai malam. ”

“Baiklah aku mengerti...... Aku tidak bisa ikut? ”

“ Acara kali ini di khusus kan untuk para petinggi dan anggota eksekutif Grup K onohana, jadi mungkin acara tersebut masih terlalu dini bagi I tsuki-san. ”

Ternyata ada acara seperti itu...

Hinako sebenarnya tidak terlalu menyukai suasana acara makan malam itu. Aku ingin me nemaninya, jadi aku berharap bisa ikut, tapi sepertinya kali ini tidak mungkin.

“Aku akan menerima perasaanmu saat ini. Mungkin Itsuki-san juga bisa bergabung dengan kami suatu hari nanti.”

“Entah aku harus merasa senang atau justru merasa takut...”

Acara makan malam khusus yang hanya dihadiri oleh para petinggi grup... Jika aku masuk ke tempat seperti itu, aku merasa seperti akan menjadi domba yang dikepung oleh serigala daripada anak kucing yang dipinjam.

“Pada hari itu, Itsuki-san boleh melakukan apapun yang kamu suka... Tapi jika bisa, aku menyarankanmu untuk beristirahat dengan tenang.”

“...Apa aku terlihat selelah itu?”

“Meski kamu berusaha menyembunyikannya tapi itu sudah ketahuan dengan jelas....Karena kita hampir sering bertemu setiap hari, jadi wajar saja bisa langsung ketahuan.”

Setelah mengatakan itu, Shizune-san keluar meninggalkan kamarku.

(Beristirahat dengan tenang, ya...)

Aku bersyukur dia mengkhawatirkanku.

Tapi saat ini aku tidak punya waktu untuk beristirahat.

Jika ada waktu luang sendirian — kurasa lebih baik kalau aku menggunakannya untuk belajar dengan sungguh-sungguh.

Meski tidak bisa login game di hari Minggu, tapi aku bisa fokus mempelajari hal-hal tentang bisnis. Sekarang yang aku butuhkan adalah waktu untuk belajar manajemen.

“...Hm?”

Ponselku yang kuletakkan di samping laptop tampak bergetar.

Ketika aku melihat ke layarnya, ternyata itu panggilan dari seseorang.

“Halo, Tennouji-san?”

“Tomonari-san, apa boleh aku berbicara denganmu sekarang?”

“Ya, tidak ada masalah.”

Aku penasaran apa dia mempunyai urusan denganku.

“Aku minta maaf kalau ini terlalu mendadak, tapi apa kamu ada waktu senggang untuk minggu depan?”

“Ya, memang ada sih. Tapi...”

“Kalau begitu, ayo kita pergi keluar bersama”

Rupanya itu adalah ajakan yang begitu mendadak.

Aku merasa senang dengan ajakannya, tapi aku baru saja memutuskan untuk fokus belajar di hari

Minggu.

“Maaf, belakangan ini aku cukup sibuk, jadi kali ini aku—”

“—Kita akan melakukan pembahasan strategi mengenai game manajemen.”

Tennouji-san memotong ucapanku.

“Sebagai sesama rekan yang memperjuangkan kursi anggota OSIS, kupikir kita bisa berdiskusi hal yang bermanfaat.”

“Kalau begitu maslaahnya, aku akan ikut.”

“Bagus.

Nanti kita akan membicarakan detailnya lagi.”

Dari seberang telepon, aku bisa mendengar suara Tennouji-san tertawa puas.

Aku sudah sering belajar bersama dengan Tennouji-san. Pada waktu itu, berkat dukungannya, aku bisa mendapat nilai bagus saat ujian semester Akademi Kekaisaran.

Jika

Tennouji-san ingin membicarakan hal yang bermanfaat, pasti kali ini pun aku bisa mempelajari sesuatu yang berguna.

“Oh ya, ngomong-ngomong, jangan bawa laptop saat itu ya.”

“Eh, tapi kalau begitu, bukannya aku tidak bisa mengerjakan sesuatu?"

“Toh di hari

Minggu kita tidak bisa login ke dalam game. Dan membawa laptop akan sedikit melelahkan saat bepergian.”

“...Baiklah.”

Argumen

Tennouji-san ada benarnya, jadi aku pun menyetujuinya.

“Selain itu, jangan sampai kurang tidur, ya.”

“Iya.”

Karena itu adalah kesempatan yang berharga, jadi aku harus mempersiapkan kondisiku dengan baik supaya bisa berkonsentrasi dengan maksimal.

Kalau begitu, kurasa lebih baik aku tidur lebih awal di hari Sabtu....

◆◆◆◆

Setelah menunggu beberapa menit di depan stasiun tempat kami akan bertemu, sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan ku.

Para pejalan kaki yang lewat memperhatikan mobil mewah yang terlihat seperti sedang membawa seorang pejabat tinggi. Dari dalam mobil itu, keluar seorang gadis yang memang memiliki penampilan dan aura yang sesuai dengan harapan mereka.

Tennouji-san berjalan mendekat iku dengan helai an rambut pirangnya yang panjang bergelombang dan berayun karena tertiup angin.

“ Maaf sudah membuatmu menunggu. ”

“ Tidak, aku juga baru tiba kok... ”

Memang benar aku baru saja tiba, padahal masih ada cukup waktu sebelum waktu berkumpul. Tapi m ungkin Tennouji-san juga berpikir demikian.

Tapi dibanding itu, aku lebih memperhatikan penampilan Tennouji-san.

“ Ada apa? ”

“Tidak, hanya saja... Aku berpikir kalau p akaianmu cantik sekali. ”

“Ara, kemampuan merayumu sudah semakin baik ya. ”

Tennouji-san tersenyum geli.

Aku teringat saat d ia pernah memanggilku "penipu" sebelumnya.

Tapi di dalam hati ku.... aku merasa terpana.

Aku mengira bahwa pertemuan kali ini akan seperti sesi belajar, tapi penampilan Tennouji-san terlalu mencolok untuk acara semacam itu. Rasanya se olah-olah kami akan langsung pergi ke taman hiburan.

“ Baiklah, ayo kita berangkat I ts uki-san."

Tennouji-san memanggil namaku dengan berbeda.

Aku pun paham maksud dari perubahan itu.

“ Baik.

Aku akan mengandalkanmu hari ini. ”

“ Fufu...

Memang saat-saat seperti ini lah yang bisa mem buat bahagia, ya.”

Hanya dengan mengubah nada bicaranya, Tennouji-san terlihat senang....Ketika seseorang mengatakan hal seperti itu kepadaku, aku juga jadi merasa malu.

Hari ini,

Tomonari Itsuki, putra pewaris dari perusahaan menengah, sedang berl ibur dulu. Sosokku yang sedang bersama

Tennouji-san adalah Tomonari Itsuki yang sebenarnya, mantan murid pekerja keras yang kini bekerja sebagai pengasuh di keluarga K onohana.

“ Kita mau kemana? ”

“ K ita akan ke sini. ”

Tennouji-san memperlihatkan layar ponselnya padaku.

“...Museum seni? ”

Jadi kami akan belajar di sana ?

“ Sebelumnya, aku mau me minta maaf terlebih dahulu. ”

Tennouji-san berkata dengan wajah serius.

“Aku berbohong mengenai rapat strategi game. ”

“ Eh? ”

“ Hari ini, aku mau mengajakmu untuk memberimu istirahat yang benar-benar lepas. ”

Aku secara tidak sadar memegang keningku, berusaha memahami perkataan

Tennouji-san.

Mungkin

Tennouji-san menyadari akhir-akhir ini aku terlihat lelah, jadi d ia sengaja mengajakku bersenang-senang.

Tetapi, kali ini saja aku tidak bisa menerimanya dengan tulus.

“...Maaf.

Aku merasa berterima kasih dengan perhatianmu, tapi saat ini aku benar-benar tidak punya waktu luang. ”

Saat ini, ada terlalu banyak hal yang harus ku lakukan. Pikiranku selalu di ambang batas, dan aku harus segera mengatasinya sebelum hatiku menjadi kacau.

Tennouji-san pun tidak akan menikmati jalan-jalannya jika aku dalam keadaan seperti itu.

Jadi, maafkan aku, tapi mungkin lebih baik kalau aku pulang saja hari ini.

“ —Rasanya seperti sedang melihat diriku yang dulu.”

Tennouji-san berkata demikian sa at melihat wajahku yang tertekan.

“ Wajah yang ter tekan itu... Dulu aku sering melihatnya di cermin. ”

Tennouji-san bergumam dengan nada yang terdengar sedih, lalu menatapku dengan ekspresi tekad yang bulat.

“Kamu tahu bahwa selama periode ' game m ana jemen ', hari

Minggu adalah satu-satunya hari di mana siswa tidak boleh login ke game, ‘kan ? Apa kamu tahu alasannya? ”

“ Itu...

karena siswa harus belajar selain bermain game, ‘ kan? ”

“Salah.”

Tennouji-san menggelengkan kepalanya.

“ Itu untuk membantu siswa yang merasa tertekan secara mental, bisa kembali mendapatkan ketenangannya.”

Jawaban yang keluar sungguh di luar dugaan.

“ Sebagai seorang pemilik bisnis, kamu menanggung tanggung jawab yang besar. Karena itulah, mereka lebih rentan terkena gangguan mental dibandingkan karyawan. Sebenarnya, tingkat bunuh diri di kalangan manajer cukup tinggi. ”

“...Begitu rupan ya. ”

“Game manajemen memang hanya sebuah game, tapi juga itu merupakan mata pelajaran yang sangat berpengaruh pada nilai. Dan banyak siswa di Akademi Ke kaisaran yang sensitif terhadap nilai akademik mereka, karena mereka menanggung harapan orang tua....Setiap tahun, ada yang jatuh sakit secara mental selama periode game, jadi pihak akademi menyediakan satu hari istirahat per minggu. ”

Aku tidak pernah menyangka ada latar belakang seperti itu.

Tapi, memang benar apa yang dikatakan Tennouji-san. Para siswa di Akademi Ke kaisaran menanggung harapan orang tua dan latar belakang keluarga mereka. Bahkan tanpa game manajemen pun, ada siswa yang berusaha sekuat tenaga setiap hari sampai memuntahkan darah. Hi nako dan Tennouji-san juga termasuk di antaranya.

“ Sebagai seora ng pemilik bisnis, kesehatan mental adalah hal yang mutlak diperlukan. Hal yang sama juga berlaku dalam game....Hari ini, terimalah untuk menemani waktu istirahatku. ”

Kata-kata

Tennouji-san dengan kuat menggema di hatiku.

Yang paling menggangguku adalah, aku telah membuat Tennouji-san khawatir.

(...Begitu ya. Aku memang sedang terdesak.)

Aku merasa ada banyak tanda-tanda yang menunjukkan hal itu.

Aku juga sudah membuat Hi nako, Asahi-san, Taishou, dan Shizune-san khawatir dengan k ondisiku yang kurang tidur dan kelelahanku. Jika orang-orang di sekitarku sampai khawatir seperti ini, berarti aku memang tidak dalam kondisi normal.

“... Baiklah, aku m engerti, ”

Aku mengangguk dalam-dalam dan menatap Tennouji-san.

“ Aku sadar kalau aku terlalu memaksa diri....Hari ini aku akan benar-benar beristirahat. ”

“ Bagus.

Beristirahat juga merupakan bagian dari pekerjaan, lho. ”

Tennouji-san mengangguk dengan puas.

“ Astaga...

Bukan nya aku sudah pernah bilang untuk jangan terlalu memaksa diri? ”

Kalau dipikir-pikir, sepertinya aku ingat pernah diperingati soal itu saat aku sedang mempelajari metode manajemen Tennouji-san.

Mungkin sejak saat itu, Tennouji-san sudah bisa melihat k epribadian ku yang seperti ini.

“... Hanya Tennouji-san saja yang satu-satunya mengatakan itu padaku. ”

“ Orang-orang yang paling sukses dalam game manajemen biasanya justru yang paling mudah kecanduan di dalamnya....Meski a ku sudah menduga nya, tapi aku curiga kalau I ts uki-san mempunyai kecenderungan gila kerja. ”

Aku tak bisa berkata apa-apa.

Memang, sebelum aku memasuki Akademi Ke kaisaran, aku hanya bekerja sambilan untuk biaya hidup. Dan setelah masuk, aku hanya fokus belajar saja.

Aku memang bertekad akan menjalankan cara hidup yang sama seperti teman-teman sekelasku dulu di kampung halamanku setelah reunian dengan mereka. Tapi tanpa sadar, aku justru terjebak dalam cara hidup itu.

Meski aku harus tetap berusaha keras, ta pi aku tidak ingin membuat orang-orang di sekitarku khawatir seperti ini.

“Kalau begitu, ayo kita segera berangkat! Kita akan pergi ke museum seni dulu! ”

“ Ah, ta pi bukannya jaraknya lumayan jauh dari sini? ”

“ Iya, itulah sebabnya kita akan mem akai mobil. ”

Sambil berkata begitu, Tennouji-san menoleh ke samping nya.

Mobil yang tadi me ngantar Tennouji-san ke sini masih terparkir di sana. Seorang pria berbaju jas hitam yang tampaknya supir mobil itu, membungkuk dalam-dalam begitu mata kami bertemu.

“ Terakhir kali, I ts uki-san mengajak ku ke tempat hiburan ala rakyat biasa. Nah kali ini, sekarang giliranku yang akan mengajak mu ke tempat hiburan gaya masyarakat kelas atas ! ”

Aku berjalan menuju mobil b ersama Tennouji-san yang terlihat lebih bersemangat dari biasanya.

A ku meminta maaf di dalam hati karena telah membuat Tennouji-san khawatir dengan wajahku yang murung....Dan sekaligus berpikir bahwa wajah ceria Tennouji-san memang lebih cocok untuknya.

Penantang

Bagian 2

Setelah berjalan -jalan menjelajahi museum seni selama dua jam penuh, kami berdua berdua akhirnya keluar dari museum dengan termenung dalam ketenangan.

“ Bagaimana menurutmu? ” tanya

Ten n ouji-san.

“ Ini pertama kalinya aku datang ke museum, tapi... ternyata rasanya cukup menyenangkan.”

“ Fufufu, begitu ya ”

Ten n ouji-san tersenyum gembira.

“ Seni bukan harus dinikmati dengan mata maupun telinga... tetapi dengan hati.

Menurutku, kesenangan ini adalah sesuatu yang berharga yang tak bisa didapat di tempat lain. ”

Rupanya d ia ingin membagikan sensasi itu denganku.

Memang benar, menikmati seni memiliki daya tarik yang unik, berbeda dari olahraga, film, komik, atau game.... Ada kesenangan tersendiri saat menggunakan hati.

“ Apa ka m u sering datang ke museum? ”

“ Sekitar satu atau dua kali dalam sebulan. Setiap ada lukisan yang menarik perhatianku, aku akan datang kemari. ”

Ternyata dia cukup sering mengunjunginya.

Ten n ouji-san sepertinya sudah hafal betul arah lokasi di dalam museum.

Pasti d ia sering berkunjung.

“ Apa ada lukisan yang menarik perhatianmu, It suki-san? ”

“ Yah...

mungkin klise, tapi aku terhanyut dengan pesona Waterlilies. ”

“ Itu adalah maha karya dari Claude Monet, ya. ”

Memang banyak orang yang berkumpul di sekitar lukisan Waterlilies itu, dan pihak museum juga memperkenalkannya sebagai karya unggu lan, jadi itu pasti lukisan yang terkenal. Dari kejauhan, warna biru yang mendominasi memberikan kesan suram, tapi saat diamati lebih dekat, aku bisa melihat keindahan cahaya yang digambarkan dengan lembut, membuatku terpaku untuk memandanginya cukup lama.

“ Sebenarnya,

Waterlilies itu hanya satu bagian dari seri lukisan. Ada jenis Waterlilies lainnya juga, lho. ”

“Ehh, apa iya ? ”

“ Nanti ada acara pameran yang menampilkan Waterlilies lainnya. Lain kali a ku akan mengajakmu lagi. ”

Itu pasti akan menyenangkan, aku jadi menantikannya.

Saat mulai berjalan, terasa ada sedikit kesemutan di telapak kakiku. Wajar saja, museum ini sangat luas sehingga aku kelelahan berjalan. Aku memeriksa waktu di ponsel dan menunjukkan kalau sekarang masih pukul 15.00 - masih ada waktu sebelum makan malam.

“ Bagaimana kalau kita beristirahat sebentar? ”

“ Baiklah, kalau begitu ayo pergi ke kafe.”

Ten n ouji-san menawarkan dengan lancar.

“Ngomong-ngomong, aku sudah memilih tempatnya, jaraknya cukup dekat hanya dengan berjalan kaki dari sini. ”

“....Sungguh pemandu yang sempurna.”

“ Itu adalah keharusan dari wanita ningrat.”

Tennouji-san mengatakan itu dengan bangga.

Ten n ouji-san memang bisa melakukan segala hal dengan baik. Entah apa hubungannya dengan menjadi seorang wanita ningrat, tapi yang jelas d ia memang orang yang luar biasa.

“ Selamat datang, Ten n ouji-sama,

Tomonari-sama.”

Ada seorang pelayan pria berpakaian jas hitam membungkuk dalam-dalam saat kami berdua memasuki kafe yang telah ditunjukkan.

Aku mengikuti Ten n ouji-san yang sudah terbiasa, lalu duduk di kursi dalam kafe itu.

De sain interior nya terasa mewah, mirip dengan istana-istana di negara Eropa.

Lantainya terbuat dari marmer, dindingnya dihiasi dengan lukisan, dan di meja terdapat peralatan teh yang terlihat mahal. Di bagian belakang terdapat semacam panggung dengan grand piano di atasnya. Langit-langit putih dihiasi dengan lampu-lampu emas, membuatnya terlihat elegan di segala sisi.

“ Ini adalah kafe eksklusif yang menjadi langganan keluarga Ten n ouji. Aku juga sering datang ke sini sekali dalam seminggu.”

ujar Ten n ouji-san yang tampak sudah terbiasa.

Aku tadi memang sempat ke heran an kenapa pelayan menyebut nama kami, padahal aku belum memperkenalkan diri. Tapi s epertinya mereka sudah mengetahui bahwa aku akan datang bersama Ten n ouji-san hari ini.

“ Tempat ini terlihat sangat mewah. ”

“Kamu t idak perlu terlalu kaku begitu, kok... Atau itulah yang ingin kukatakan.”

Ten n ouji-san yang duduk di hadapanku langsung menatap lurus ke arahku.

“ T api t ernyata ka m u terlihat lebih tenang dari yang kubayangkan. ”

“ Yah, itu sih... mungkin karena tempat tinggalku juga begitu. ”

Tinggal di kediaman Konohana membuatku menjadi terbiasa melihat furnitur mahal atau lukisan senilai ratusan juta. Jadi w ajar saja kalau aku sudah kebal.

“ Jadi, ka m u tinggal di salah satu vila keluarga Konohana, ya? ”

“ Ah, bukan di rumah utamanya. ”

“ Rumah utamanya jauh lebih luas, lho. Aku pernah menghadiri pesta di sana dulu, dan itu benar-benar membuatku terpesona... Tapi itu juga kenangan yang tidak men genak kan, ” ujarnya dengan nada menyesal.

Pada waktu itu, Ten n ouji-san mungkin belum menganggap Hinako sebagai rival nya, jadi dia bisa tulus terpesona. Meski sekarang pun sifat polosnya masih terlihat kadang-kadang.

Ngomong-ngomong, aku sendiri belum pernah melihat rumah utama keluarga Konohana. Kag en-san sering menggunakan rumah yang terpisah, tapi

Takuma-san selalu berada di rumah utama.

Mungkin saat ini Hinako dan Shizune-san sedang menghadiri jamuan makan malam dengan para eksekutif Grup Konohana, dan tempatnya bisa jadi di rumah utama.

“ Silakan di lihat menunya ”

S eorang pelayan menyerahkan buku menu padaku.

Sejak tinggal di kediaman keluarga Konohana, aku menjadi terbiasa dengan suasana elegan ini. Tapi saat melihat daftar harga yang tidak tercantum, pikiranku langsung berhenti.

“... Ini, b erapa harganya? ”

“ Hari ini ka m u tidak perlu memikirkan itu. Ini semacam waktu istirahatku, jadi anggap saja ka lau kamu sedang menemaniku, ”

ujar Ten n ouji-san.

Yah, karena aku memang datang ke sini untuk diskusi belajar, jadi saldo uangku memang tidak terlalu banyak.

Kurasa tidak sopan untuk membahas soal harga lagi di sini, jadi kali ini aku akan dengan lapang dada menerima kebaikan hati Ten n ouji-san.

Aku memesan teh yang sama dengan yang dipilih Ten n ouji-san, dan pesanan kami segera terhidang di atas meja.

Aku mengangkat cangkir ke bibir dengan tenang dan menyesapnya perlahan.

“...Enak sekali. ”

Itu adalah teh susu dengan rasa manis yang lembut. Sensasi sepat yang samar memberikan aksen yang pas, dan meninggalkan rasa yang segar di akhir.

“ Teh di musim ini memang terasa kental dan lezat.”

“ Apa rasanya berbeda tergantung musim? ”

“ Ya.

Periode terbaik untuk me metik teh berkualitas tinggi disebut ' Musim

Berkualitas ', dan teh yang dipetik di musim gugur, atau 'Autumnal', biasanya memiliki aroma yang kaya dan cocok untuk dibuat teh susu. ”

“Hee~...

sejak bersekolah di Akademi Kekaisaran, aku jadi lebih sering minum teh, tapi aku sama sekali tidak tahu soal ini. ”

“ Memang, dalam hal teh, pengetahuanku cukup khusus, ”

Ten n ouji-san tersenyum.

Syukurlah ini bukan bagian dari pelajaran umum...

Meskipun aku sendiri juga mulai mengenal jenis-jenis teh dan merek peralatannya sejak ber sekolah di Akademi, tetap saja terkadang aku terkejut saat teman sekelas membicarakannya, seolah-olah itu hal yang wajib diketahui. Budaya kalangan atas memang sangat mendalam.

Saat kami menikmati waktu yang elegan bersama, seorang wanita cantik dengan gaun indah muncul dari bagian dalam kafe dan membungkuk kepada para pengunjung. Dia lalu duduk di depan grand piano dan mulai memainkan sebuah lagu dengan lembut.

Komposisinya sangat halus. Mungkin karena sebelumnya aku menyaksikan banyak karya seni di museum, suara piano yang lembut ini pun terasa masuk ke dalam hatiku dengan mudah.

“ Ini adalah Pavane pour une infante défunte....

Pavane adalah tarian popular yang tersebar luas di

Eropa pada abad ke-16.” jelas

Ten n ouji-san.

Sambil menikmati teh dan alunan musik, aku benar-benar menghayatinya. Meskipun aku tidak terlalu paham soal piano, permainannya yang komplek namun tetap runtut dan bersih membuat enak didengar.

Pasti pianis ini adalah seorang yang terkenal.

Ketika pertunjukan selesai, para penonton bertepuk tangan. Pianis itu berdiri dan membungkuk sekali lagi. Di akhir, dia menatap sekilas ke arah Ten n ouji-san dan tersenyum, yang dibalas oleh anggukan Ten n ouji-san.

Ten n ouji-san pernah menyebutkan tadi kalau kafe ini merupakan langganan keluarganya, jadi sepertinya dia memang mengenal pianis itu.

“ Kalau ka m u mengenalnya, kamu boleh menyapanya juga, kok? ”

“ Saat ini, aku adalah seorang tamu, sedangkan dia adalah seorang musisi. Aku t id ak ingin melakukan hal yang tidak sopan yang dapat mengganggu hubungan yang indah ini, ”

Ten n ouji-san menjawab dengan tenang seraya menyesap tehnya.

Dia memandang musisi di sana bukan sebagai kenalan, tapi sebagai seorang profesional yang sedang tampil. Hal tersebut merupakan bentuk penghargaan tertinggi.

Inilah sosok Ojou-sama dari kalangan atas yang sesungguhnya. Jika Hinako adalah Ojou-sama yang sempurna, maka Ten n ouji-san layak disebut sebagai Ojou-sama dari kelas atas sejati. Tidak hanya tutur katanya yang anggun, tapi cara berperilakunya dan cara hidupnya dipenuhi oleh kecemerlangan.

“ Ternyata

Ten n ouji-san punya banyak hobi, ya? ”

“ Kata

'ternyata' itu tidak perlu, ”

sahutnya dengan sebal, tapi ekspresinya tetap tersenyum.

“ Tapi memang, hampir semua hobi yang kunikmati saat ini merupakan hal baru yang aku temukan b elakangan ini. ”

“Apa iya ? ”

“ Ya, ”

Ten n ouji-san lalu menatapku dengan lembut.

“ Dan itu semua berkat dirimu. ”

Dia melanjutkan dengan riang.

“Pada waktu dulu, aku hanya fokus berusaha menjadi putri pewaris yang pantas untuk keluarga Ten n ouji. Aku berusaha mati-matian untuk menyembunyikan nya, tapi sebenarnya saat itu kondisi mental dan fisik ku lumyan tertekan, hingga sering membuat keluarga ku khawatir. ”

Aku tahu betul keadaan Ten n ouji-san yang seperti itu. S aat itu dia salah paham dengan berpikir kalau dirinya tidak punya pilihan lain selain harus menuruti rencana perjodohan. Pada waktu itu, Tennouji-san memang terlihat sangat terpojok.

“Kamu lah yang memperluas dunia ku, Itsuki-san.

Berkat dirimu, aku bisa menghadapi keinginan orang tua ku, dan memperoleh hari-hari yang lebih santai... Hasilnya, aku jadi bisa mengenal berbagai hobi seperti ini. ”

Sepertinya dulu Ten n ouji-san berusaha berlebihan untuk memenuhi harapan orang tuanya....

tidak, dia malah membuat ekspektasi itu sendiri dan merasa harus memenuhinya.

Setelah terbebas dari belenggu itu, jadilah Ten n ouji-san yang sekarang.

Dia masih tetap rajin seperti sebelumnya, tapi dia tidak lagi terjebak dalam pandangan yang sempit, dan menjalani hidupnya dengan menerima perasaan orang-orang di sekitarnya.

Dia keliru dan mengira bahwa d i riny a sedang memikul beban yang berat, tetapi sebenarnya itu hanya imajinasinya saja. Sekarang tampaknya d ia sedang mengalami berbagai hal dengan keringan an nya itu.

“ Itsuki-san, sekali lagi aku ingin meng ucapkan terima kasih padamu. Berkat dirimu, kehidupan ku menjadi jauh lebih luas. ”

Ten nouji-san menundukkan kepalanya dengan tenang.

“Padahal aku merasa kalau aku tidak melakukan sesuatu yang begitu istimew a.”

“Tapi i tu sangat penting bagi ku. ”

Jika dia sampai mengatakannya demikian, berarti u payaku untuk meyakinkannya tidaklah sia-sia.

“ Intinya, apa yang ingin aku sampaikan ialah, bahwa berkat

Itsuki-san, aku bisa memperbaiki cara hidup ku. ”

Setelah mengatakan itu, Tennouji-san mem inum teh nya.

Lalu d ia meletakkan cangkirnya dengan sedikit kuat.

“A-k-an te-ta-pi————! S ekarang malah kamu yang terlihat tersiksa seperti aku yang dulu ! Tentu saja aku ingin mengatakan sesuatu! ”

“ Maafkan aku... ”

Aku mempunyai firasat buruk ketika dia meminum tehnya, dan ternyata pembicaraan itu mengarah ke situ.

“ Akhir-akhir ini, Itsuki-san terlihat seperti aku yang dulu.... Itulah sebabnya, aku memutuskan. Sekarang giliranku untuk mengulurkan tangan. ”

“...Begitu rupanya. ”

“ Jika itu aku yang dulu, aku mungkin akan berkata kepada Itsuki-san yang terdesak, 'Teruslah ber usaha sekuat tenaga '. ”

Aku penasaran apa iya memang begitu.

Memang benar kalau Ten n ouji-san telah berubah dari pada dirinya yang dulu. Tapi aku meyakini bahwa Ten n ouji-san yang dulu juga akan menyuruhku untuk beristirahat jika melihatku seperti ini sekarang.

Ten n ouji-san sadar akan perubahannya sendiri, jadi dia agak merendahkan dirinya di masa lalu. Tapi... Bagiku, Ten n ouji-san selalu bersikap baik kepadaku sejak pertama kali kami bertemu.

Aku masih mengingatnya dengan jelas, saat aku sedang mencari dompet yang dijatuhkan Hinako, tiba-tiba Ten n ouji-san memanggilku untuk memperbaiki postur tubuhku. Pada saat itu, Ten n ouji-san terlihat sangat keren dan baik hati. Dia adalah orang yang membuatku berpikir, ‘ Aku ingin menjadi orang yang seperti itu.' Ten n ouji-san berkata bahwa kali ini dia mengulurkan tangan nya padaku, tapi sebenarnya Ten n ouji-san lah yang pertama kali mengulurkan tangan nya padaku.

“....Aku juga bisa berubah berkat dirimu, Tennouji-san.”

Tanpa sadar, aku mengungkapkan apa yang kupikirkan.

“ Percaya diri, berbicara dengan jelas, menegakkan postur tubuh, dan berusaha keras....Tennouji-san mengajari semua hal itu padaku. Terima kasih banyak. ”

Tak diragukan lagi, or ang yang mengajari ku betapa pentingnya hal-hal itu adalah Tennouji-san.

Aku membusungkan dadaku dan menatap lurus ke arah Tenno u ji-san.

Aku sedang berbicara sendirian dengan seorang

Ojou-sama dari Grup

Tenno u ji di ruang elegan dengan suasana yang tidak memungkinkan adanya sikap yang lancang.

Diriku yang dulu pasti akan merasa canggung, tapi sekarang aku bisa bersikap tenang dan percaya diri.

Melihatku yang seperti itu, Tenno u ji-san tampak linglung beberapa saat karena suatu alasan.

Pipi

Tenno u ji-san berangsur-angsur memerah.

“Syu-Syukurlah kalau begitu. ”

Suasananya menjadi agak canggung. Mungkin wajahku juga ikutan memerah.

“ Ngomong-ngomong,

Sumi n oe-san juga bilang kalau kamu sudah berubah,

Tennouji-san. ”

Untuk mengubah suasana, aku mengalihkan topik pembicaraan yang terlintas di dalam kepalaku.

“ Benarkah? ”

“ Ya, aku mendengar banyak ceritanya saat pertemuan belajar beberapa hari yang lalu. ”

Aku tidak menyinggung masalah perasaan aslinya, dan hanya membicarakan Sumi n oe-san.

“Tennouji-san dulu sempat me nolong nya, ‘kan ? ”

“Aku sama sekali tidak menolongnya, aku hanya tidak ingin bakat

Sumi n oe-san terbuang sia-sia. Usahanya sendiri lah yang membuatnya berhasil. ”

Tampaknya

Tennouji ingin mengatakan bahwa d ia merekrut Sumi n oe-san karena melihat potensinya.

“ Apa kamu sering berbicara dengan Suminoe-san ? ”

“ Ya, meskipun kami sudah tidak sekelas lagi sejak kelas 2, kami masih se sekali bertemu sepulang sekolah. ”

“ Begitu ya... Sumi n oe-san tampak mengagumi Tennouji-san, jadi mungkin dia merasa kesepian tanpamu. ”

“ Benarkah d ia merasa begitu? ”

“ Yah... ”

Meskipun aku tidak tahu apa dia merasa kesepian atau tidak, t api aku bisa meyakini kalau Sumi n oe-san memiliki rasa sayang pada Tennouji-san.

Mungkin saat mereka masih sekelas dulu.... ketika dia bisa bertemu

Tenno u ji-san setiap hari, Suminoe-san mungkin lebih baik daripada sekarang.

“Aku memiliki perasaan yang samar-samar bahwa Suminoe-san mengagumi ku. ”

Tampaknya

Tennoji-san juga menyadari perasaan Suminoe-san.

Yah, aku tidak berpikir dia menyadari perasaan Suminoe-san yang sebenarnya sih.

“Hanya saja...dia dulu menghormatiku, jadi dia mungkin memiliki perasaan campur aduk terhadap diri ku yang sekarang. ”

Tenno u ji-san mengatakan hal i tu dengan ekspresi wajah yang rumit dan melihat ke arah jam di dinding k afe.

“ Kalau begitu, bagaimana kalau kita melanjutkan ke tujuan berikutnya? ?

“Massih a da lagi? ”

“ Ya.... Akhir-akhir ini kita berdua banyak menghabiskan waktu di meja kerja, bukan? ”

Itu m emang benar, sih.

“ Di saat seperti ini, yang perlu kamu lakukan hanyalah menggerakkan tubuhmu!”

◆◆◆◆

A ku menghe la napas dengan sedikit gugup.

Setelah berdiri diam sebentar, aku men dengar suara langkah kaki yang mendekat.

“ Maaf sudah membuat mu menunggu. ”

Mau tak mau aku merasa terpana dengan Ten n ouji-san yang berjalan mendekat sambil mengatakan itu.

“...

Itu sangat cocok untukmu. ”

“ Ka m u kembali menggunakan bahasa formal lagi. ”

Sementara aku memakai setelan hitam sederhana, Ten n ouji-san yang mengenakan gaun berwarna biru tersenyum mengomentariku.

Dan kemudian, Ten n ouji-san mengulurkan tangannya.

“Kalau begitu... bagaimana kalau kita berdansa? ”

Alunan musik yang tenang mulai terdengar.

Setelah keluar dari kafe, Ten n ouji-san membawaku ke ruang dansa.

Tempat yang kami kunjungi tampak luas, elegan, dan terlihat bergengsi, seakan-akan disiapkan khusus untuk dansa sosial. Lantai kayunya sangat nyaman saat digunakan untuk bergerak, menghasilkan suara langkah yang menyenangkan. Lampu-lampu gantung di langit-langit memancarkan cahaya lembut yang mempercantik suasana.

Karena di sini juga menyediakan penyewaan kostum, jadi kami berganti pakaian menjadi penampilan formal. Sudah lama sekali aku tidak berdansa, jadi memakai kostum dansa terasa asing.

Tarian yang kami lakukan adalah slow- waltz.

K alau dipikir-pikir lagi, slow- waltz ini adalah tari an pertama yang kupelajari dari Ten n ouji-san.

“Ara, ternyata kamu masih mengingatnya ya. ”

“Ya itu sih t entu saja, karena aku dilatih dengan sangat ketat... ”

“ Sepertinya ajaran gurumu sangat baik. Bagaimana kalau lain kali aku meng ajarkan tango juga? ”

Tango berbeda dengan tarian waltz, tarian Tango lebih bergairah dan penuh semangat.

Aku memang sedikit tertarik, tapi mungkin lain kali saja.

Sambil terus me mpertahankan postur tubuh yang terkait, Ten n ouji-san dan aku berputar setengah lingkaran. Gerakannya sangat licin dan lancar, tanpa merasakan adanya resistensi sedikit pun.

Dalam dansa sosial, kadang-kadang ada momen di mana kita merasa benar-benar menyatu.

Momen itu terasa sangat menyenangkan. Seolah-olah batas di antara aku dan Tennouji-san telah menghilang, dan kami berdua larut dalam aliran gerakan yang sama.

“Momen saat ini terasa begitu emosional ya ?” kata Tenyouji-san dengan senyum tipis.

“ Dulu saat pertama kali kamu berdansa, kamu tampak sangat gugup sekali, Itsuki-san. ”

“Apa iya aku segugup itu? ”

“Iy a, memang segitunya. Kamu bahkan langsung menegang hanya dengan bertatapan mata denganku. ”

Ketika dia mengatakan begitu, rasa-rasanya memang itulah yang terjadi.

“ Aku juga dulu seperti itu saat masih kecil. Perasaan harus bisa melakukannya dengan baik membuatku jadi tegang dan gugup... ”

“... Tidak, sebenarnya b ukan itu alasannya. ”

Ten n ouji-san menatapku dengan keheranan, dan aku melanjutkan.

“Y ah...alasan kenapa aku gugup karena pasangan dansaku adalah Tenno u ji-san...”

“... ”

Aku tidak melanjutkan kalimatku karena merasa malu dan tidak enak kan.

Meskipun ini hanya dansa, tetap saja tubuh kami saling ber sentuhan dan wajah kami juga dekat... Karena aku m elakukan itu semua dengan Ten n ouji-san, jadi tentu saja aku akan merasa gugup.

Sekarang aku sudah sedikit terbiasa, tapi sebenarnya aku masih sedikit tegang.

Meski masih merasa belum cukup mahir, aku terus berdansa. T api t iba-tiba,

Ten n ouji-san membuat kesalahan dalam urutan langkah dan hampir kehilangan keseimbangan.

“ Ten n ouji-san? ”

Aku merasa ke heran an karena itu bukan kesalahan yang biassa dilakukan Ten n ouji-san, dan saat aku melihat wajahnya...

“... Bukan kamu saja satu-satunya orang yang merasa gugup, tau.”

“ Hah? ”

Ten n ouji-san sedikit tersipu dan mengalihkan pandangan.

Kami terus berdansa dalam suasana canggung....Astaga, tiba-tiba saja aku jadi khawatir dengan keringat di tanganku.

Sepertinya

Ten n ouji-san pun merasakan hal yang sama, karena kami berdua terlihat gelisah ketika menggerakkan badan selama berdansa.

“Ngo-Ngomong-ngomong,

I ts uki-san, kenapa kamu memutuskan untuk bergabung menjadi anggota OSIS ? ”

Ten n ouji-san mengubah topik pembicaraan.

Ah iya, sepertinya aku belum pernah menjelaskan hal itu.

Tapi bagaimana aku harus menyampaikannya?... Ten n ouji-san sepertinya memiliki rasa persaingan yang kuat dengan

Hinako. Aku tak ingin merusak suasana menyenangkan ini, jadi sebaiknya aku samarkan sedikit.

“ Sebenarnya, aku ingin menjadi anggota eksekutif di perusahaan tertentu suatu hari nanti, jadi aku mem butuh kan pengalaman di OSIS Akademi Kekaisaran sebagai prestasi. Katanya itu akan menguntungkan... ”

Saat m endengar penjelasanku, pandangan mata Ten n ouji-san menjadi tajam.

“ Apa itu Grup Konohana ? ”

“ Eh? ”

“Kamu tidak menyebutkan namanya di depan ku, dan juga mem butuh kan prestasi yang cukup sulit sebagai anggota OSIS Akademi Kekaisaran.

Dari dua hal ini, aku bisa menebak dengan mudah. ”

Ternyata dia bisa langsung menebaknya.

Aku tak tahu harus berkata apa dan hanya terdiam.

“ Jadi, dengan kata lain kamu mengincar jadi anggota OSIS demi Kono hana Hinako, begitu? ”

“ Bukan hanya itu saja sebenarnya... ”

Ten n ouji-san menghentikan dansa kami.

Alunan musik yang indah dan lembut, namun terasa ada kesedihan dan kepedihan di dalamnya, mengisi ruangan.

“ Dalam pandangan mu... ”

Ten n ouji-san menarikku lebih dekat.

“ Apa kamu hanya melihat... Kono hana Hinako saja?"

Hidung kami saling berdekatan dan sempat bersentuhan, tapi Ten n ouji-san tak mengalihkan pandangannya dariku.

Wajahku tergambar dengan jelas di matanya, menunjukkan ke gelisahan dan keraguan.

Tiba-tiba...

aku menyadari ada sedikit keraguan dan ketidakpastian di mata Ten n ouji-san.

Biasanya, mata Ten n ouji-san selalu terlihat kuat dan bersinar. Tapi sekarang, dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat ketidakpastian di sana.

Aneh sekali.

Ten n ouji-san memandangku dengan sangat serius begitu, tapi kenapa aku justru menampilkan ekspresi bingung seperti ini?

“...Bukan begitu. ”

Nafasku yang keluar membelai rambut Ten n ouji-san.

Aku menutup mata, lalu membukanya lagi.

Wajahku yang terpantul di mata Tenyouji-san... tidak lagi terlihat bingung.

“ Tadi aku hampir mengatakan, tapi bukan hanya itu saja. Aku ingin memiliki hubungan yang setara dengan Ten n ouji-san, Nar ika, dan semua orang yang biasa kutemui. ”

“ Hubungan yang setara...? ”

Aku balas mengangguk.

I tu lah tekad yang kuambil di akhir liburan musim panas kemarin.

Di akhir liburan, aku bisa kembali ke kehidupan sehari-hari sebagai masyarakat biasa. Tapi aku tidak kembali.

Salah satu alasannya adalah... Ten n ouji-san.

“ Sejak datang ke Akademi Kekaisaran dan berinteraksi dengan banyak orang, aku ingin menjadi seperti mereka.... Ten n ouji-san juga adalah salah satu orang yang membuatku berpikir demikian. ”

Ten n ouji-san mendengarkan ceritaku dengan serius.

Aku ingin menjadi orang yang bisa memikul tanggung jawab besar sama seperti orang lain. Secara khususnya, aku ingin menjadi anggota eksekutif Grup Kono hana suatu hari nanti.

Dan...

aku juga memikirkan ambisi lebih jauh dari itu.

“ Sekarang aku masih bersekolah di akademi dengan identitas palsu, tapi... suatu hari nanti aku ingin berdiri di samping kalian semua dengan identitas asliku.... Mencoba masuk anggota OSIS adalah langkah awal untuk mewujudkannya. ”

Aku merasa kalau itulah makna sejati dari kesetaraan.

Berdiri sejajar dengan semua orang, itu yang kupikirkan.

Setelah m endengar keinginanku itu, Tenyouji-san menghembuskan napas kecil...

“... Kamu ini memang benar-benar seorang penantang. ”

Pe nantang, ya. Setelah m endengarnya, kurasa itu ada benar nya.

Sebagai orang biasa, memiliki ambisi seperti ini adalah sesuatu yang luar biasa.

“ Karena kamu orang yang seperti itu, maka nya aku..... ”

Ten n ouji-san menatapku dengan ekspresi yang agak melamun dan linglung.

“...Ten n ouji-san? ”

“Bu-Bukan apa-apa!... Hampir saja aku keceplosan."

Wajah Ten n ouji-san memerah, dia menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.

Lagu berikutnya mulai dimainkan, jadi kami pun kembali berdansa bersama.

Kami menari waltz yang anggun, seakan -akan saling memastikan perasaan masing-masing.

“ Boleh aku bertanya satu hal lagi padamu ?... Bagaimana jika aku memintamu untuk datang ke dalam Grup Ten n ouji? ”

“ Itu... ”

Aku m erasa berhutang budi kepada

Hinako karena telah mempekerjakanku. Selain itu, sebagai peng asuhnya, aku ingin terus berada di samping Hinako dan meringankan bebannya. Akhir-akhir ini, Hinako dipaksa untuk berjuang sendirian. Aku memiliki keinginan yang kuat untuk mendukung nya.

Tapi aku juga berhutang budi kepada Ten n ouji-san, dan jika dia sedang kesulitan, aku ingin membantunya. Jika Ten n ouji-san menaruh harapan dan kepercayaan nya padaku, aku ingin sekuat tenaga membalasnya.

Apakah aku akan memilih berdasarkan gaya kerja?... Bukan soal gaji. Keduanya pasti akan memperlakukanku dengan sangat baik. Kalau begitu, aku pilih berdasarkan bidangnya? Aku akan memilih bidang yang sesuai denganku... Ah, kalau ternyata tidak cocok, aku bisa belajar hingga lulus nanti.

Aku sampai berkeringat memikirkannya terlalu keras.

Akhirnya, kesimpulan yang kudapatkan adalah—

“...Ba -Ba gaimana kalau... keduanya? ”

“ H a aaaaaaa~ ~~~~~~~~ ! ”

Ten n ouji-san menghembuskan napas panjang.

“Dasar penipu, kurang peka, orang aneh. ”

“Umm... ”

“ Aku benar-benar memahami I ts uki-san sekarang. I ts uki-san selalu menunda-nunda masalah ini dan tidak pernah memberikan jawaban sampai akhir. ”

“...Huh. ”

Ketika m endengar nya sampai sejauh itu, aku jadi ingin membalasnya sedikit....Tapi

Ten n ouji-san sendiri bagaimana?

Apa dia sudah siap menerima keputusanku nanti?

“ Yah, sebenarnya dari awal aku memang punya niat begitu. Malah ini menguntungkan bagiku. Karena memang lebih cocok bagiku untuk mengambil daripada menunggu— ”

“ —Kalau begitu aku akan pergi ke tempat Ten n ouji-san. ”

Saat aku mengatakan itu, Ten n ouji-san membelalakkan matanya.

“ H onyaa ?! Eh, tunggu—?! ”

Ten n ouji-san berhenti berdansa dan mengeluarkan suara aneh. Ketika m elihat reaksinya yang beg itu, aku merasa puas.

“ Aku hanya bercanda....Lihat, bahkan Ten n ouji-san sendiri juga belum siap, ‘ kan? ”

“ Tu -Tu nggu, dulu sebentar... !! Se -Se pertinya apa yang kita berdua pikirkan mungkin berbeda! ”

“Apa y ang ka m u pikirkan itu... soal masa depan, ‘kan ? ”

“ Iya sih, tapi tetap saja...! ”

Bukannya kami sedang membicarakan soal perusahaan mana yang akan kupilih?

“ Aku juga baru memahami Ten n ouji-san dengan lebih baik.... rupanya Ten n ouji-san lemah terhadap paksaan, ya. ”

“ A p -Ap- Apa..... ?! ”

Wajah Ten n ouji-san memerah saat menatapku dan mulutnya terbuka-tertutup seperti ikan koi.

“ J a -Jangan terlalu terbawa suasana begitu ! Ka -Ka lau ka m u b erb icara begitu lagi, a k -aku akan... ”

“ Ka m u akan apa? ”

Wajah Ten n ouji-san semakin me me rah saat dia berkata.

“ A-Aku akan membuatmu bertanggung jawab! ”

Itu terdengar cukup seram, jadi aku pun menyentuhkan kepalaku ke lantai untuk meminta maaf padanya.

Penantang

Bagian 3

Setelah itu, kami terus berdansa selama sekitar satu jam, kemudian kami masing-masing mandi untuk menghilangkan keringat sebelum keluar dari ruang dansa.

“ F y uuh... Hari ini aku berkeringat dengan baik. ”

“ Ya, memang."

Walaupun ada keringat yang aneh juga selama proses tersebut.

Saat kami berjalan dengan santai menikmati sinar matahari sore, tiba-tiba terdengar suara pesan elektronik dari dalam tas kecil Tennouji-san.

“ Permisi. ”

Tennouji-san mengeluarkan smartphone-nya dan menempelkannya di telinga.

Terdengar suara lawan bicaranya dari smartphone itu. Sepertinya dia sedang membicarakan tentang game manajemen, jadi mungkin itu teman sekelasnya.

Tennouji-san mengatakan “ Nanti akan a ku hubungi lagi ” dan mengakhiri panggilan.

“Apa kamu sedang m embicarakan game?"

“ Ya.

Tapi hari ini aku bertekad untuk bersantai, jadi ak u akan mem balas nya nanti saja. ”

Walaupun begitu... Dia langsung dihubungi, jadi mungkin mereka sedang membicarakan hal yang penting.

“ Jika ka m u khawatir padaku, aku sudah tidak apa-apa. Berkat Tennouji-san, aku bisa bersantai dengan baik. ”

Awalnya, alasanku begitu khusus untuk istirahat adalah karena aku keras kepala. Sekarang setelah aku merenungkannya, ku rasa tidak perlu memaksakan diri untuk istirahat.

Selain itu, berbeda denganku, Tennouji-san sepertinya bisa merawat kesehatan mentalnya dengan sempurna. Jadi, tidak perlu menunggu aku pun, dia bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan.

Sepertinya

Tennouji-san mengerti perasaanku, dia tersenyum kecil dan mengangguk.

“ Baiklah....Kalau begitu, aku akan sedikit menjauh untuk telepon. ”

Tennouji-san sedikit menjauh dariku untuk melakukan panggilan.

Kali ini, panggilannya cukup lama. Sepertinya bukan sekedar obrolan santai, tapi pembicaraan yang memerlukan pemikiran, sehingga membutuhkan waktu untuk menjawab.

Saat aku duduk menunggu di bangku terdekat,

Tennouji-san akhirnya kembali.

“ Maaf sudah membuatmu menunggu. ”

Tennouji-san kemudian duduk di sampingku.

“Kerja bagus, apa yang sedang kamu bicarakan di telepon tadi ? ”

“ Itu pembicaraan terkait kerja sama bisnis. Saat ini kami sedang mengevaluasi calon perusahaan mitra, dan salah satu dari mereka memberi penawaran yang sangat agresif, jadi aku harus menanggapinya. ”

“ Hmm.

Wajar saja jika perusahaan lain ingin bermitra dengan perusahaan

Tennouji-san. ”

“ Untungnya memang begitu. ”

Setelah melakukan merger dan akuisisi sebelumnya, sekarang kerja sama bisnis. Tennouji-san memanfaatkan hubungannya dengan berbagai perusahaan untuk menjalankan bisnisnya.

Mungkin suatu hari nanti, aku juga perlu bermitra dengan perusahaan lain.

Dengan begitu, aku jadi tertarik untuk tahu lebih dalam tentang kerja sama bisnis

Tennouji-san.

“ Perusahaan apa saja yang menjadi kandidat nya ? ”

“ Kurang lebih seperti ini... ”

Tennouji-san menyerahkan smartphonenya padaku.

Layarnya menampilkan informasi tentang masing-masing perusahaan. Sepertinya ada sekitar 10 perusahaan. Aku menggeser layar untuk melihat karakteristik khusus dari masing-masing perusahaan.

“Untuk s aat ini, perusahaan nomor dua adalah kandidat yang paling mungkin. ”

Aku melihat berkas perusahaan itu.

Aku bisa melihat dengan jelas kalau itu adalah perusahaan yang baik. Ukuran perusahaannya juga besar, dan bidangnya juga mirip. Jika bermitra dengan mereka, dia bisa mendapatkan keuntungan yang stabil.

(... Hmm ?)

Tetapi, saat aku melihat berkas perusahaan lain, aku merasa ada yang agak menarik perhatianku.

“...

Kurasa p erusahaan ini sepertinya cocok denganmu ? ”

“ Hm? ”

Aku mengembalikan smartphone itu ke Tennouji-san.

Tennouji-san diam-diam membaca berkas yang ditampilkan di layar.

“...

Apa iya ? Perusahaan ini sepertinya memiliki anggaran yang ketat, dan secara keseluruhan ukuran perusahaannya tidak se banding dengan skala perusahaan ku. ”

“ Secara angka memang terlihat begitu, tapi sepertinya perusahaan itu memiliki visi yang paling mirip dengan Tennouji-san. ”

Meskipun aku sudah mengatakan nya sejauh itu, aku sendiri tidak bisa menjelaskan dengan baik mengapa aku berpikir demikian.

Namun,

Tennouji-san tampak berpikir dengan serius.

“...

Ak u akan men coba wawancarai mereka. ”

Dia berkata demikian sambil mengangkat smartphone dan mulai menelepon lagi.

Beberapa menit kemudian, Tennouji-san tersenyum cerah. Dari nada bicaranya yang terdengar antusias, bisa terlihat jelas bahwa pembicaraannya berjalan dengan baik.

Setelah menunggu sebentar, Tennouji-san kembali ke arahku.

“ Bagaimana? ”

“ Ternyata pemikirannya benar-benar cocok denganku!" ”

Tennouji-san berkata dengan gembira.

“ Seperti yang dikatakan I ts uki-san, perusahaan ini memiliki visi yang bahkan lebih tinggi dari yang ku miliki. Meskipun secara angka, perusahaan lain mungkin lebih sesuai, tapi aku memutuskan untuk memilih perusahaan ini sebagai mitra. Tidak ada yang lebih berharga daripada mitra yang memiliki visi yang sama! ”

Ternyata,

Tennouji-san juga tidak semata-mata memilih mitra hanya berdasarkan angka-angka saja.

Hanya dengan melihat dokumen, ada banyak hal yang tidak bisa dilihat. Dalam hal ini,

Tennouji-san beruntung bisa menemukan mitra yang benar-benar dicarinya.

“...

Tapi, bagaimana I ts uki-san bisa menge tahu i hal itu? ”

Setelah m endengar pertanyaan itu, aku berpikir.

Aku terus memikirkannya, tapi... Aku tetap tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.

“ Entahlah, hanya saja, saat aku membaca berkasnya, aku merasa kalau perusahaan itu paling cocok dengan Tennouji-san. ”

Dengan kata lain, itu hanya firasat.

Meski begitu, aku telah membuat Tennouji-san bingung, tapi untungnya hasilnya baik.

Saat aku sedang berpikir begitu, Tennouji-san menatapku dengan ekspresi sangat serius.

“ I ts uki-san.”

Tennouji-san berkata dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

“Mungkin kamu akan menjadi orang yang lebih hebat dari yang kukira.”

◆◆◆◆

Beberapa hari telah berlalu sejak aku menghabiskan waktu istirahatku bersama Tennouji-san.

Di kediaman K onohana, aku memeriksa perkembangan perusahaan Tomo n ari Gift.

“...

Sepertinya t erlihat bagus. ”

Dengan bantuan perusahaan pemasaran yang direkomendasikan Asahi-san, sepertinya Tomo n ari Gift akan bisa keluar dari keadaan stagnan. Dengan menganalisis data pelanggan, kami mulai dapat menjalankan bisnis dengan lebih efisien dan tanpa pemborosan.

Saat aku sedang merapikan kondisi perusahaan di dalam pikiranku, aplikasi panggilan video memberikan notifikasi panggilan masuk.

Aku mempersiapkan mikrofon dan menjawab panggilan.

“ Terima kasih sudah meluangkan waktu mu,

Takuma-san. ”

“ Kerja bagus. Aku sudah melihat email-nya. Sepertinya bisnis mu berkembang dengan baik. ”

“ Itu semua berkat dirimu. ”

Aku sudah melaporkan perkembangan perusahaanku melalui email.

Tidak diragukan lagi, kemajuan perusahaanku juga berkat bantuan Takuma-san. Jika tidak ada sarannya, mungkin aku sudah tersandung di suatu tempat. Karena merasa berhutang budi, aku berusaha berbagi informasi perusahaan ku secara rinci kepada Takuma-san.

“ Dengan hasil ini, kurasa sudah waktunya bagimu untuk mulai merencanakan perluasan bisnis. ”

Takuma-san berkata dari seberang layar.

“ Bisnis ka talog hadiah adalah relatif baru, jadi selanjutnya sebaiknya fokus pada perluasan bisnis yang sudah ada. Apa sudah ada rencana yang kamu pikirkan, I ts uki -kun ? ”

“ Ya.

Aku berencana menambahkan layanan untuk perusahaan. Selama ini, layanan kami hanya untuk individu, tapi mulai sekarang, kami akan menargetkan perusahaan juga. ”

“Begitu rupanya.... Itu ide yang b agus. Karena dasarnya tidak jauh berbeda dengan layanan untuk individu, kurasa ka m u bisa segera mewujudkannya. Itu rencana yang solid. ”

“ Terima kasih. ”

Memang tidak semewah bisnis baru, tapi risikonya juga lebih rendah. Aku setuju dengan penilaian bahwa ini adalah rencana yang solid.

“ Meski begitu, kurasa sebentar lagi ka m u akan menghadapi rintangan. ”

Takuma-san berkata dengan nada yang tidak menenangkan.

“ Memperluas target pasar akan membawa risiko tertentu. Apalagi perusahaanmu sedang tumbuh pesat, jadi mungkin saja akan ada guncangan di s ana -s ini. ”

“ Eh...? ”

Apa yang dilihat orang ini ?

Tapi s epertinya ia tidak asal bicara...

“ Bagaimana dengan belajar saham? Apa kamu sudah mengalami banyak kemajuan ? ”

“ Ya.

Setidaknya, aku sudah mempelajari materi yang di kirimkan Takuma-san lewat email. ”

“ Masih tahap dasar ya.... Nah, bagaimana kalau kita adakan tes tertulis? Kalau nilainya tidak sempurna, hukumannya tidak boleh makan. ”

“...

Bukankah h ukumannya terlalu kuno? ”

“ Memangnya ada hukuman lain yang bisa membuatmu tidak suka? Sepertinya kalau disuruh mengerjakan tugasku, kau malah senang-senang saja. ”

Yah, memang benar sih, mengerjakan tugas Takuma-san mungkin bisa jadi pem belajar an yang menarik. Aku bisa melakukannya dengan gembira.

Tapi sayangnya, berkat pengalamanku di masa sulit dulu, aku sudah terbiasa dengan rasa lapar. Sudah kuduga, Takuma-san sepertinya tidak bisa membayangkannya sejauh itu.

“ Tetap lanjutkan untuk mempelajari saham. Itu akan jadi persiapan yang berguna. ”

Setelah mengatakan begitu, Takuma-san kembali termenung.

“ Ah, tapi Itsuki-kun mempunyai

Hinako... ”

“ Ada apa dengan Hinako?"

“ Ah, tidak, bukan apa-apa.

Ka m u pasti tidak masalah. ”

Sepertinya ia berusaha mengalihkan pembicaraan.

“ Nah, kali ini cukup sampai di sini. PR-mu tetap belajar saham. ”

“ Terima kasih banyak. ”

Aku mengakhiri panggilan video.

(... Seperti yang kuduga, aku bisa men dapat motivasi darinya.)

Akhir-akhir ini, setiap kali aku berbicara dengan Takuma-san, motivasiku untuk bermain game semakin meningkat.

Mungkin aku terinspirasi olehnya. Sebelum aku menyadarinya, aku mulai benar-benar mengagumi Takuma-san..... Tidak mengherankan. Pada awalnya, aku merasa dia orang yang tidak jelas, dan sikapnya terhadap Hinako juga tidak bisa diterima, tapi begitu aku mengenalnya lebih dalam, semua hal itu seakan pudar dikalahkan oleh kehebatannya.

Meskipun begitu, bagiku Takuma-san tetap menjadi dinding yang harus kutaklukkan.

(Untuk saat ini, sebaiknya aku perlu me minta perusahaan pemasaran itu meneliti seberapa besar keuntungan yang bisa didapat dari layanan untuk perusahaan.)

Aku bersyukur telah meminta bantuan Asahi-san. Aku akan minta mereka melakukan analisis pasar lagi.

Tapi, periode Game Manajemen hanya berlangsung enam minggu, dan separuhnya hampir habis. Aku tidak ingin terburu-buru, tapi aku harus tetap memperhatikan jadwal.

(Sepertinya aku harus menunggu sebentar sampai hasil analisanya keluar.... Ah, selama itu, sebaiknya aku mempelajari dan mengulang materi pelajaran lain.)

Aku menutup komputer dan beralih fokus.

Akhir-akhir ini aku sering tertinggal di kelas, jadi hari ini aku bertekad untuk lebih giat belajar dan mengulang materi. Saat ini merupakan waktu yang tepat.

Yang perlu kulakukan ialah tetap tenang dan bekerja keras,

Tennouji-san telah mengajarkan padaku bahwa itu akan membuahkan hasil.

Setelah mencapai target belajar dan mengulang yang sudah kusiapkan, aku membuka komputer kembali.

“ Nah, bagaimana hasilnya...? ”

Selama aku belajar, beberapa hari telah berlalu di dalam game.

Hasil analisis pasar sudah keluar, jadi aku melihatnya sekilas.

“................ Ha h? ”

Saat aku memeriksa hasilnya, aku mengernyitkan dahi.

Proyeksi keuntungannya lebih rendah dari yang diperkirakan.....Bagaimana mungkin ?

Aku memang tidak berpikir bahwa ideaku selalu sempurna, tapi strategi untuk layanan perusahaan ini telah disetujui oleh Takuma-san sendiri. Jika aku yang salah mungkin masih bisa dimaklumi, tapi tidak mungkin Takuma-san bisa salah perhitungan seperti ini.

Dengan kata lain.... mungkin Takuma-san sudah mempertimbangkan kemungkinan ini saat menyetujuinya.

Pertama-tama, aku memeriksa detail analisis pasarnya dengan seksama.

Di sana dijelaskan dengan jelas alasan mengapa pro spek nya rendah.

“... Pesaing, ya. ”

Singkatnya, layanan seperti ini sudah dijalankan oleh perusahaan lain.

Aku dibuat terkejut saat melihat nama perusahaan itu.

“ Perusahaan ini adalah... ”

Aku dihadapkan pada masalah yang tidak mudah.

Nama perusahaan yang menjadi sainganku adalah... SIS Corporation.

Itu adalah p erusahaan milik Sumino e-san.

◆◆◆◆

Keesokan harinya. Ketika aku berjalan di luar kelas setelah pelajaran selesai, tiba-tiba aku menangkap seseorang sedang menatapku.

Dia memanggilku, jadi aku mendekatinya.

“ Selamat siang, Tomonari-san. ”

Sumino e-san menyapa sambil tersenyum lembut.

“ Apa kamu bersedia untuk berbicara denganku sebentar ? ”

“...Baik.

Kebetulan, aku juga ingin berbicara dengan mu, Sumino e-san. ”

Jadi hari ini aku sudah memberitahu Hinako dan Shizune-san kalau aku akan pulang terlambat.

Kami berjalan menuju kafe taria tempat kami pernah mengadakan sesi belajar bersama Kita.

Setelah duduk di kursi, kami memesan minuman untuk rileks sebentar.

“Dari reaksimu, s epertinya ka m u sudah menyadarinya, ya? ”

Sumino e-san tersenyum saat aku masih ke bingung an untuk membuka pembicaraan.

“ Perusahaan ku menjalankan layanan penjualan ritel untuk perusahaan. Kami terutama menjual perlengkapan kantor, tapi kami juga menyediakan layanan penjualan hadiah. ”

Saat

Sumino e-san mulai menjelaskan, pelayan datang membawakan teh untuk kami berdua.

Sepertinya pelayan itu menyadari kami sedang membicarakan hal serius, sehingga dia pergi dengan tenang.

Sumino e-san men gambil cangkir tehnya, lalu menyesapnya dengan anggun.

“ SIS

Corporation di dunia nyata tidak menjalankan layanan penjualan ritel seperti itu, 'kan? Dengan kata lain, layanan ritel tersebut dibuat Suminoe-san di dalam game? ”

“ Ya.

Begitu game dimulai, aku mendirikan divisi ritel sebagai bisnis baru. ”

Jadi dugaanku benar...

Saat aku penasaran dan memeriksa, tapi memang tidak ada divisi ritel di SIS

Corporation di dunia nyata. Seperti yang kuduga, t ernyata divisi ritel itu didirikan atas inisiatif

Sumino e-san sendiri.

“ Jadi, aku terkejut. Aku t idak menyangka ada orang yang melakukan hal yang sama persis dengan ku. ”

Sebenarnya tidak benar-benar sama persi s.

Aku menjalankan layanan penjualan ritel khusus hadiah untuk individu, yang dianggap cukup unik. Sementara bisnis Sumino e-san ditujukan untuk perusahaan, dan tidak hanya fokus pada penjualan hadiah saja. Layanan ritel Sumino e-san lebih banyak menjual perlengkapan kantor seperti alat tulis, papan tulis putih, file, serta furnitur kantor.

Meski begitu, di sana juga ada perlengkapan untuk acara resmi dan upacara.

Hal tersebut bertabrakan dengan apa yang ingin kulakukan. Situs ritel Sumino e-san memang awalnya hanya menjual perlengkapan kantor, tapi dapat juga memenuhi permintaan untuk memberikan hadiah kenang-kenangan seperti pena tinta permanen. Jadi, itulah sebabnya kami menjadi saingan.

— Meski begitu, kurasa sebentar lagi ka m u akan menghadapi rintangan.

Kurasa aku mengerti maksud perkataan Takuma-san kemarin.

Rintangan yang dimaksud adalah kompetitor... dengan kata lain, saingan.

Aku mem percaya i bahwa untuk memperluas perusahaan Tomonari Gift, sangatlah penting untuk memperluas jangkauan ke layanan perusahaan. Citra Tomo n ari Gift yang mementingkan suasana dewasa dan elegan sangat cocok dengan layanan untuk perusahaan.

Jika aku ingin memperbesar perusahaan, rintangan ini adalah dinding yang harus dihadapi.

Apa yang harus kulakukan...? Men gecoh mereka, atau membangun perjanjian kerja sama?

Lagian, s ebenarnya apa yang ingin dilakukan Sumino e-san?

“...Sumino e-san, kenapa kamu membuat divisi ritel itu? ”

“ Tentu saja, itu semua demi Tennouji -sama. ”

Aku mencoba menanyakan sesuatu yang tidak menyinggung, untuk melihat langkah Sumino e-san selanjutnya. Tapi, jawaban yang kudapat bukanlah jawaban logis, melainkan ungkapan perasaan pribadi.

“Aku membuat layanan ini untuk mendukung perusahaan Tennouji -sama. Grup Tennouji sangat aktif melakukan merger dan restrukturisasi perusahaan, jadi sering kekurangan perlengkapan kantor... Maka dari itu, aku ingin menyelesaikan masalah tersebut dengan kekuatan cinta. ”

Sumino e-san berkata dengan ekspresi penuh suka cita.

Terlepas dari m otivasi yang dia bicarakan, tapi yang ter penting dia menyadari adanya permintaan.

Saat aku berniat memulai layanan untuk perusahaan, aku juga diam-diam meneliti pasar perlengkapan kantor, selain meminta analisis dari perusahaan pemasaran. Pasar perlengkapan kantor diam-diam menjadi perhatianku juga. Jika aku bisa memanfaatkan pasar ini, aku bisa menjangkau pelanggan baru yang tidak bisa dijangkau dari layanan individu.

“ Tomonari-san, aku punya satu usulan. ”

Sumino e-san menatap lurus ke arahku.

“ —Apa ka m u mau memberikan perusahaanmu padaku? ”

Aku sudah menduga dia akan mengajukan usulan ini.

I tu adalah tawaran akuisisi. Sumino e-san ingin membeli perusahaanku.

“ Layanan yang aku jalankan dan layanan

Tomonari-san menargetkan pasar yang hampir serupa. Jika kita berdua berusaha memperluas bisnis, kita hanya akan saling berebut pelanggan. Itu bukan perkembangan yang menguntungkan bagi k ita berdua. ”

Pasar yang kami masuki memang sudah cukup sempit. Jika kami saling berebut, ada kemungkinan besar kami berdua akan sama-sama tumbang.

Jadi, penjelasan Sumino e-san mengenai usulan akuisisi ini bisa dimengerti.

Namun...

Ada satu hal yang masih membuatku bingung.

“ Sebelum menjawab soal akuisisi, boleh aku menanyakan satu hal? ”

Sumino e-san sedikit membuka lebar matanya, lalu mengangguk.

“ Sejak aku menyadari kalau perusahaan ku ber saing dengan perusahaan Suminoe-san, ada satu pertanyaan yang selalu menggangg uku...

Kenapa Sumino e-san menyembunyikan informasi tentang divisi ritel dari ku ? ”

Alasan kenapa aku ingin berbicara dengan Sumino e-san adalah untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan ini.

Misalnya, saat pertemuan belajar bersama Kita... Saat itu Sumino e-san bisa saja mengatakannya.

Topik bisnis pun sempat dibahas, tapi Sumino e-san dengan sengaja menghindari membahasnya.

Kenapa

Sumino e-san menyembunyikan divisi ritel itu dariku?

Aku punya dugaan.

“ Jangan-jangan...

Sumino e-san menunggu sampai aku bisa mengembangkan perusahaan, ya? ”

Setelah menyesap tehnya, Sumino E-san menjawab pertanyaanku.

“ Ya.

Aku berencana melakukannya suatu saat, tapi karena Tomonari-san melakukannya duluan, jadi aku memutuskan untuk mengamati nya dulu untuk sementara waktu. Jika

Tomonari-san tidak berhasil, aku bisa terhindar dari risiko. Tapi jika Tomonari-san berhasil, aku akan menunggu waktu yang tepat untuk mengakuisisi. ”

Dan sekarang, Sumino e-san mengajukan usulan akuisisi padaku sesuai rencananya.

Singkatnya,

Sumino e-san telah menggunakan ku sebagai bahan uji coba. Apa situs ritel spesialis hadiah ini bisa bertahan sebagai bisnis, dan sampai seberapa besar bisa berkembang... Jika sepertinya berhasil, yang perlu dia lakukan hanyalah tinggal mengakuisisi seluruh layanan ku dan menjadikannya sebagai miliknya sendiri.

Cara pendekatan semacam ini sama sekali tidak buruk. Bagi perusahaan seperti SIS Corporation yang memiliki banyak aset, m elakukan

M&A untuk membuka usaha baru dapat dianggap sebagai salah satu metode yang tepat.

“ Terima kasih telah mengembangkan layanan yang begitu baik. Selanjutnya, serahkan saja semuanya kepada perusahaan ku.”

Sumi n oe-san berkata demikian sambil menatap mataku.

Dia menampilkan senyum penuh percaya diri yang membuatnya tampak bisa diandalkan. Di suatu tempat di dalam hatiku, aku berbisik bahwa men yetujui usulan orang ini adalah keputusan yang benar.

Kadang-kadang aku merasakan aura kepemimpinan seperti dirinya dari orang-orang di Akademi Kekaisaran. Hal yang sama juga aku rasakan dari Hinako, Tennouji-san, Nar ika dan yang lainnya.

Sepertinya mereka memiliki kualitas untuk memimpin dan membimbing orang lain.

Sumi n oe-san adalah salah satunya.

“...Dengan berat hati aku men olak nya. ”

Sumi n oe-san tampak terkejut dengan jawabanku.

“ Mungkin

Tomonari-san belum mengetahui hal ini, tetapi akuisisi perusahaan rintisan oleh perusahaan besar adalah pola kesuksesan. Kamu ditawarkan akuisisi berarti nilai perusahaan mu diakui. Kamu t idak perlu berpikir negatif tentang kata 'akuisisi'. ”

“Aku sudah mengetahui itu. ”

Aku m asih mempelajarinya, jadi hanya itu saja yang kutahu.

Aku menolaknya b ukan karena aku tidak ingin perusahaanku menjadi milik orang lain.

“ Alasan aku menolak usulan Suminoe-san adalah karena perbedaan arah k ita. ”

Aku menjelaskan lebih lanjut.

“ Tomonari Gift adalah situs belanja online khusus hadiah. Salah satu prinsipnya adalah menghilangkan kerumitan. Aku ingin mempertahankan kemudahan penggunaan yang sederhana... ”

Setelah m endengar penjelasanku, Sumi n oe-san mengangguk kecil.

“Aku memahami bahwa kamu khawatir kalau layanannya mem buruk. Tapi jika aku mengakuisisi Tomonar i Gift, aku berencana untuk hampir tidak mengubah bentuknya. Aku hanya akan mengarahkan ke layanan ku sendiri untuk efek sinergi... ”

“Di situlah masalahnya. ”

Aku menyela perkataannya.

“ Jika ada layanan perlengkapan kantor yang di dalamnya ada layanan khusus hadiah, itu sudah terlalu rumit. ”

Situs belanja online Tomonari G ift menargetkan konsumen orang dewasa dan usia lanjut, dan berhasil menarik banyak pendaftar dari segmen ini berdasarkan analisis perusahaan pemasaran. Di era internet yang serba padat informasi, keistimewaan tidak memiliki kerumitan menjadi daya tarik tersendiri. Aku tidak ingin menghilangkan keunikan tersebut.

“ Lagipula, citra layanan kami sangat berbeda. Tomonari G ift menekankan pada kesan elegan, sementara layanan Sumi n oe-san berbeda, ‘ kan? ”

Aku teringat tentang pentingnya membangun konsep dunia yang disampaikan, yang diajarkan

Takuma-san.

Cara berteman orang dewasa, perhatian kecil, empati —

Tomonari G ift menjual keunggulan ini, yang sangat berbeda dengan fokus layanan kemudahan penggunaan milik Sumi n oe-san.

Sumi n oe-san tidak bermaksud membuat situs belanja online khusus untuk hadiah. Dia hanya ingin memperkuat bidang hadiah di situs perusahaannya sendiri, dan hanya membutuhkan layananku. Namun, karena tidak ada kesatuan konsep, setiap konsep akan menjadi tipis.

Sekarang aku paham. Konsep adalah merek dagang juga.

Itu adalah citra yang dimiliki orang terhadap perusahaan... itu harus sederhana, murni, dan kuat.

“Aku tidak ingin menghancurkan merek saat ini. Jadi, aku tidak bisa menerima tawaran akuisisi ini. ”

“...

Begitu ya. ”

Sumi n oe-san mengeluarkan napas pelan. Kedengarannya seperti helaan napas, tapi juga terlihat seperti napas dalam untuk menenangkan dirinya.

“ Baiklah, aku mengerti. Jika kamu menjelaskannya sampai sejauh itu, aku akan mundur di sini. ”

Sumio n e-san berdiri sambil berkata demikian.

“Kalau begitu....aku berharap bahwa kamu tidak menyesalinya. ”

Setelah meninggalkan kata-kata yang tidak menyenangkan itu, Sumi n oe-san pergi meninggalkanku.

◆◆◆◆

Setelah kembali ke kediaman Konohana, aku duduk di kamarku sambil menatap layar laptop.

(Karena aku sudah menolak akuisisi... sudah tidak diragukan lagi kalau aku menapaki jalan yang penuh duri)

Dengan menolak tawaran kerjasama, hubungan persaingan antara aku dan Sumi n oe-san akan berlanjut. Rintangan belum terlewati. Malah an ini baru permulaan yang sebenarnya.

Perusahaan

SIS jauh lebih besar daripada Tomonari Gift. Jika mereka serius menggarap bisnis penjualan online, aku tidak akan bisa mengalahkan mereka.

Aku harus memikirkan strategi...

Saat aku sedang memotar otak untuk memikirkan solusi masalah ini, ponselku berbunyi.

“ Lho,

Ten n o u ji-san ? ”

Kira-kita apa yang di a inginkan pada jam segini? Mungkin dia khawatir seperti sebelumnya kalau aku terdesak.

Sambil berpikir begitu, aku menjawab panggilan itu.

“ Ten n o u ji-san, ada apa? ”

“... T omonari-san ! Apa kamu sudah melihat berita game manajemen yang terbaru !? ”

Suaranya terdengar panik.

“Tidak, aku b elum melihatnya... ”

“ Tolong lihat segera! ”

Aku terlalu sibuk memikirkan strategi melawan Sumi n oe-san, jadi aku belum melihat berita.

Seperti yang dia katakan, aku memeriksa berita di dalam game.

Dalam game manajemen, berita-berita terbaru tentang M&A dan peringkat kapitalisasi pasar akan diumumkan secara berkala.

Dan di antara berita-berita itu, ada satu kalimat yang menarik perhatianku.

[ —Perusahaan

SIS telah mengakuisisi Perusahaan Tech Capital ]

“.......................Hah?”

Perusahaan

Tech Capital adalah perusahaan VC (venture capital atau modal ventura ) yang diperkenalkan oleh Sumi n oe-san, dan Tomonari Gift mendapat investasi darinya. Tentu saja, sebagai imbalan, Tomonari Gift telah menyerahkan sahamnya ke pada Tech Capital.

Dengan kata lain, jika Tech Capital telah diakuisisi—

“...Sahamnya...

telah diambil alih. ”

Lanjut baca perlu akun

Di tiap novel bab 1–3 bebas — mau dibaca berapa kali pun. Bab 4 ke atas perlu masuk, jadi bab ini disamarkan.

Masih bebas: Bab 1Bab 2Bab 3 Semua bab