Bab 2 — Wawancara dimulai
Bagian 1
Keesokan harinya setelah aku dipanggil ke ru ang OSIS.
“Selamat pagi, Tomonari-san.”
Saat aku hendak masuk ke dalam kelas A, ada seorang siswi memanggilku.
“Aku dari tim wawancara OSIS.
Biasanya aku menjabat sebagai wakil ketua. Hari ini, aku akan mengikuti
Tomonari-san sepanjang hari, jadi mohon kerjasamanya.”
“Terima kasih, mohon kerja samanya juga.”
Dia adalah orang yang menyajikan teh di ruang OSIS kemarin. Di tangannya ada binder, dan dari saku dadanya terlihat kamera kecil.
Sepertinya, penampilannya sangat mirip dengan seorang jurnalis.
“ Jam pelajaran akan segera dimulai. Aku akan mengawasi, jadi aku berharap Tomonari-san bisa berperilaku seperti biasa.”
“Wakil ketua tidak ikut pelajaran ?”
“Selama wawancara, aku dikecualikan.”
Rupanya itu l ebih serius dari yang aku duga.
Namun, seperti yang diinstruksikan oleh wakil ketua, aku berusaha untuk berperilaku seperti biasanya. Tujuan dari liputan wawancara ini adalah untuk menyampaikan sosokku yang asli kepada semua siswa.
Jam pelajaran pertama adalah kimia. Guru kelas C datang ke ruang kelas.
Ketika p elajaran berlangsung, siswa-siswa mencatat dengan serius. Meskipun sindrom kelelahan game permainan masih tersisa, selama pelajaran mereka bisa mengikuti pelajaran dengan cukup baik, siswa-siswa dari Akademi Kekaisaran memang sangat serius.
(Dulu, aku berdoa agar namaku tidak dipanggil...)
Aku merasa tegang setiap kali dipanggil dan diminta untuk menyelesaikan soal di depan semua orang. Aku pikir di Akademi Kekaisaran, aku tidak akan pernah terbebas dari ketegangan ini—
“Sekarang, soal tujuh... Tomonari-kun.”
“Ya.”
Karena namaku dipanggil, aku berdiri dan menulis jawaban di papan tulis.
“Jawabannya benar. Kamu belajar dengan baik, ya.”
“Terima kasih.”
A ku kembali ke tempat dudukku sembari diiringi tepuk tangan ringan.
Ketika aku sudah mempersiapkan dengan baik untuk pelajaran, rasa tegang itu justru membuatku ingin dipanggil oleh guru. Perubahan ini benar-benar mengejutkan.
Dengan memiliki sedikit kepercayaan diri, pelajaran menjadi terasa lebih menyenangkan. Jika tidak karena berusaha keras untuk mengikuti teman sekelas, aku mungkin tidak akan bisa belajar.
Ketika aku melihat s ekilas ke arah koridor, aku melihat bahwa wakil ketua sedang mencatat sesuatu di kertas yang ada di bindernya.
Aku berharap ini bisa menghasilkan penilaian yang baik, tetapi jika aku terlalu menatapnya, mungkin akan dianggap tidak fokus pada pelajaran. Aku mengalihkan pandangan kembali ke papan tulis.
Pelajaran berjalan lancar tanpa hambatan, dan saatnya istirahat.
(Selanjutnya pelajaran olahraga, ya...)
Saat aku melihat ke arah koridor, pandangan mata ku bertemu dengan wakil ketua dan dia mengangguk. Sepertinya dia juga akan mengawasi pelajaran olahraga.
Jika ingin merekam sosokku yang sebenarnya, rasanya aneh jika aku terlalu banyak berbicara, jadi aku hanya memberi anggukan dan menuju ke gedung olahraga bersama teman-teman sekelasku.
Pelajaran kedua. Pelajaran olahraga dimulai.
Setelah belajar bulu tangkis dan basket, hari ini pelajaran tenis meja dimulai. Setelah latihan rally dan servis yang sederhana, pertandingan tunggal dan ganda pun dimulai.
“ Tomonari, sekarang! ”
“ Ya! ”
Aku yang berpasangan dengan Taisho dalam pertandingan ganda, langsung merespons teriakan itu dengan melakukan smash.
Bola ping pong memantul di meja tenis dan berguling hingga ke dinding.
“Bagus !
Tomonari, kamu memang bisa melakukan apa saja, ya ! ”
“Cuma lagi hoki saja. ”
Karena kami memenangkan pertandingan, aku melakukan tos dengan Taisho dan menuju ke tempat penonton.
Di dalam Akademi Kekaisaran yang hanya diisi oleh para putri dan putra keluarga konglomerat, aku pikir mereka tidak akan melakukan olahraga yang keras, tetapi ternyata tidak demikian. Sebaliknya, baik itu olahraga bola, seni bela diri, atau atletik, semuanya diajarkan di kelas. Oleh karena itu, siswa-siswa di akademi ini tidak hanya memiliki kepekaan halus yang didapat di rumah, tetapi juga ketahanan yang kuat yang dibentuk melalui pelajaran yang ketat.
“ Belakangan ini cuaca nya jadi semakin dingin, tetapi setelah berolahraga, rasanya masih tetap panas. ”
“ Benar banget. ”
Aku mengusap keringat ku dengan handuk bersama Taisho.
Siswa-siswa di Akademi Kekaisaran tidak mengusap keringat dengan pakaian mereka. Kecuali saat pertandingan, semua orang secara khusus menggunakan handuk yang mereka bawa untuk mengusap keringat. Ini sangat mencerminkan sifat akademi yang elegan.
Saat aku meng elap keringat di dahi, ada Kita yang datang dari jauh.
“ Tomonari-kun.
Jika ada tips untuk servis, bisa tolong ajarkan padaku ? ”
“ Begini...
Untuk kasus Kita sih, sebaiknya toss bola sedikit lebih rendah... ”
Dalam pelajaran olahraga, aku sudah bisa bersaing dengan baik sejak baru masuk, tetapi baru belakangan ini aku mulai diminta bantuan oleh orang lain.
Menjadi baik dalam olahraga dan mudah diandalkan oleh orang lain adalah dua hal yang berbeda. Mungkin karena aku sudah cukup lama di akademi ini, kepribadianku mulai dikenal, sehingga orang-orang mulai meminta bantuanku. Memikirkan hal itu, menulis artikel tentang kepribadianku untuk pemilihan OSIS adalah kegiatan yang sangat efektif.
Namun, bukan hanya aku saja yang satu-satunya menjadi lebih dikenal dan lebih diandalkan daripada sebelumnya.
Perubahan ini lebih mencolok terjadi pada
Nar i ka.
Ketika aku m elihat ke arah para gadis, Nar i ka sedang bertanding dalam pertandingan ganda.
“ Ah!? ”
Pasangan
Nar i ka mengayunkan bola dari udara.
Wajahnya tiba-tiba pucat. Rasa penyesalan karena telah mengganggu Nar i ka terlihat jelas.
“Mi- Miy akoj ima-san, aku minta maaf...! ”
“ Tidak, tidak apa-apa. Jangan khawatir. ”
Dengan senyum yang meyakinkan, Nar i ka berkata kepada pasangan nya yang membungkuk dalam-dalam.
“ Itu hasil dari usaha kerasmu. Jadi kamu t idak perlu merasa malu. ”
Setelah m endengar jawaban Nar i ka, wajah gadis itu seketika langsung memerah.
“... Onee-sama. ”
Gadis itu menatap punggung Nar i ka yang pergi mengambil bola dengan ekspresi terpesona.
Bukan hanya dia saja yang menatap Narika dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Para gadis lain yang menunggu di tepi lapangan juga menatap Nar i ka dengan ekspresi terpana,
“Entah kenapa... belakangan ini, saat aku melihat Miyakojima-san, rasa-rasanya bisa hatiku berdetak sangat kencang seolah -olah akan meledak... ”
“Aku juga... degupan jantung ini sebenarnya apa...? ”
Aku memutuskan untuk mengabaikan percakapan yang terdengar itu.
Nar i ka, yang telah berkembang pesat setelah melalui game manajemen, kini mulai mengganggu tatanan akademi.
◆◆◆◆
Jam p elajaran keempat telah selesai, dan istirahat siang pun dimulai――.
Saat bel berbunyi, ketegangan melanda diriku.
( Baiklah....kira-kira, apa yang harus ku lakukan)
Saa t aku melihat ke arah koridor, wakil ketua OSIS sedang diam-diam memandang ke arahku. Aku berharap dia akan pergi untuk makan, tetapi sepertinya dia terus memperhatikanku selama istirahat siang.
Aku sudah terbiasa dengan jam pelajaran di sekolah ini setelah pindah, tetapi masih ada satu hal yang membuatku kesulitan.
“ Tomonari, apa hari ini kamu mau ke suatu tempat juga ? ”
“...Maaf.”
Saat aku mencoba keluar dari kelas dengan membawa bento di tangan, Taisho dan Asahi-san berjalan mendekat iku.
“Belakangan ini, ada banyak rumor yang beredar mengenai kamu sebenarnya pergi ke mana selama istirahat makan siang....”
“Ada berbagai teori. Ada yang bilang kamu diam-diam belajar sendiri. Ada juga yang bilang kamu merasa tidak nyaman makan di depan orang lain di rumah....Dan ada teori bahwa sebenarnya Tomonari adalah seorang mata-mata dan saat istirahat siang dia melapor ke markas.”
Dimana sih sebenarnya markas itu?
Sejujurnya, aku tidak akan terkejut jika ada mata-mata di Akademi Kekaisaran, tapi setidaknya itu bukan aku.
“Semua itu salah. Sebenarnya, belakangan ini aku sibuk membantu pekerjaan rumah.”
“Oh, jadi begitu.”
Setelah memberikan alasan yang seadanya, aku keluar dari ruang kelas.
Dan aku――langsung berlari menuruni tangga.
“Ah――Eh!?
T-Tomonari-san!?”
Wakil ketua yang mengamati dari luar koridor mengeluarkan suara terkejut. Aku berpura-pura tidak mendengar suaranya dan berlari melewati koridor menuju gedung lama OSIS.
Setibanya di atap gedung sekolah lama,
Hinako sudah menunggu ku di sana.
“Itsuki...
terima kasih sudah datang...”
“Ah, maaf, aku sedikit terlambat.”
Aku duduk di samping Hinako dan membuka kotak bento.
“Ah~”
Dengan menggunakan sumpit, aku perlahan-lahan menyuapkan makanan ke mulut Hinako.
Tentu saja, aku tidak bisa membiarkan momen ini diliput. Jika hubungan kami terungkap ke seluruh akademi, pemilihan ini akan berantakan.
Sambil mengantarkan potongan daging tipis ke mulut Hinako, aku sedikit memikirkannya.
“Itsuki, apa ada yang salah...?”
“Tidak...
aku hanya berpikir sudah saatnya memikirkan alasan berikutnya.”
Aku sudah ditanya berkali-kali tentang ke mana aku pergi saat istirahat siang. Setiap kali, aku memberikan alasan seperti mau bersantai atau tidur siang, tetapi sudah saatnya aku kehabisan alasan.
“Apa kita harus berhenti saat diliput...?”
“...Tidak.
Aku juga suka menghabiskan waktu santai seperti ini dengan Hinako, jadi mari kita teruskan.”
Setelah aku mengatakannya, Hinako tersenyum lembut.
“Aku juga... merasa senang bisa bertemu diam-diam berdua seperti ini... rasanya seperti dalam manga shoujo.”
Bagi Hinako, ini adalah momen yang tidak biasa.
Setelah itu, Hinako berbaring di pangkuan ku dan kami berdua menghabiskan waktu dengan santai. Hinako segera tertidur, jadi aku memandang ke langit sambil memikirkan pelajaran setelah jam kelima.
Saat matahari tersembunyi di balik awan, aku memeriksa waktu di smartphone.
“ Kurasa s epertinya sudah saatnya kita kembali.”
“Hmm. ”
Aku selalu keluar dari gedung lama dua puluh menit sebelum bel berbunyi. Meskipun masih ada waktu, aku tidak boleh membiarkan Hinako terlambat, jadi ini sudah pas.
Setelah kami berdua keluar dari gedung, entah bagaimana, mata kami tertuju pada taman yang ada di dekatnya.
Saat kami mendekati kolam yang ada di dalam taman, ikan koi muncul ke permukaan air.
“Ngomong-ngomong, dulu k amu sering memberi makan ikan koi di sini, kan?”
“Hmm...
itu menenangkan.”
Ketika aku baru menjadi pe ngasuhnya,
Hinako membeli roti di kantin setelah sekolah dan memberi potongan-potongan roti itu kepada ikan koi.
“Seingatku, kamu pernah bilang ingin menjadi ikan koi.”
“Iya, aku pernah bilang begitu...”
Dia mengatakan sesuatu yang seperti, betapa menyenangkannya bisa mendapatkan makanan hanya dengan membuka mulut.
“Tapi sekarang, aku tidak berpikir begitu....Berkat Itsuki, ada banyak yang berubah.”
“Berkat aku?”
“Iya....Sangat berubah.”
Hinako meletakkan tangannya di dadanya dan berkata.
“Berkat Itsuki, mungkin di dalam diriku... sudah terjadi dua kali ledakan besar.”
“... Memangnya ada perubahan sebanyak itu ?”
Sepertinya ada ledakan yang cukup besar hingga menciptakan alam semesta dua kali.
Namun, memang benar Hinako telah berubah. Dia menjadi lebih terlibat dengan orang lain dan sepertinya emosinya juga lebih kaya. Jika aku bisa menjadi salah satu faktor dalam perubahan itu, aku merasa terhormat.
Sementara kami bercakap-cakap, ikan koi dengan anggun berenang di kolam. Penampilan mereka tidak berubah sejak pertama kali aku mengunjungi taman ini....Rasanya sedikit menenangkan hati. Dalam segala perubahan yang terjadi, menghadapi sesuatu yang tidak berubah terasa menyenangkan.
“Ah, ngomong-ngomong, kolam ini kabarnya dibuat oleh OSIS yang dulu, loh.”
“Benarkah...?”
“Waktu aku mengunjungi perusahaan IT saat game manajemen, presiden di sana adalah alumni Akademi Kekaisaran dan memberitahuku.”
Ternyata, jika bergabung dengan OSIS, mereka bisa membuat kolam sebesar ini. Tentu saja, mereka pasti mendapatkan persetujuan dari siswa dan guru, tetapi tetap saja, itu adalah kekuatan yang mengagumkan.
Setelah mendengar ceritaku, Hinako tiba-tiba terlihat berpikir dalam.
“...Itsuki.
Kamu yakin tidak ingin menjadi ketua OSIS ?”
“Eh, kenapa?”
Saat aku bertanya kembali, mata Hinako berbinar.
“Jika Itsuki menjadi ketua OSIS... aku ingin kamu membuat ruangan tidur yang empuk dan nyaman...!”
“...Apa -apaan itu?”
“Ruangan yang hanya berisi bantal yang lembut dan empuk...! Selain itu, aku juga ingin ada buffet keripik kentang...!”
“...Kedua hal itu sepertinya bakalan sulit.”
Tidak, mungkin ruangan tidur yang nyaman sebenarnya cukup praktis. Meskipun ini hanya rencana yang belum pasti, jika aku menjadi wakil ketua, aku akan coba sampaikan ide ini kepada ketua OSIS.
Saat kami berdua sedang berbicara, ada seseorang yang mendekat dari arah gedung sekolah. Ternyata i tu adalah wakil ketua OSIS.
“ Tomonari-san, aku sudah mencarimu kemana-mana...! ”
Wakil ketua menatapku dengan tajam.
“Ya ampun, jika ka mu tidak ingin kegiatan makan siangmu di liput, seharusnya kamu bisa meng atakan itu sebelumnya. Kami juga tidak ingin melanggar privasimu, jadi kami bisa beradaptasi sesuai keadaan. ”
“Ak-Aku minta maaf... ”
Apakah jika aku memberi tahu sebelumnya, itu akan berhasil?...Aku berpikir jika aku memberitahu nya, mungkin itu justru akan membuatnya semakin curiga, tetapi sepertinya itu hanya kekhawatiran yang tidak perlu.
Setelah memberiku sedikit teguran, wakil ketua menoleh ke arah Hinako yang ada di sampingku.
“ Ngomong-ngomong, apa kamu secara kebetulan bertemu dengan Konohana-san? ”
“...Ya. ”
“...Benarkah? ”
Dia sangat menyelidik. Namun, wajahnya juga menunjukkan bahwa dia merasa bersalah.
Sepertinya dia tidak seharusnya bertanya, tetapi sikapnya menunjukkan bahwa dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
Saat aku bingung tentang bagaimana menjawabnya, Hinako membuka mulutnya.
“ Itu benar. Saat aku berjalan-jalan, aku kebetulan bertemu Tomonari-kun dan kami mengobrol santai sambil menuju kelas. ”
“... Jadi b egitu ya. ”
Dengan suasana bersih yang dipancarkan Hinako dalam mode Ojou-sama nya, wakil ketua pun akhirnya mundur dengan mudah.
Setelah itu, kami bertiga berjalan menuju ke ruang kelas....Di tengah perjalanan, aku berbisik pelan kepada Hinako agar wakil ketua tidak mendengar nya.
“ Maaf, seharusnya aku bisa mengalihkan perhatian lebih baik. ”
“ Ini bukan hanya masalahmu... ”
Hinako menggelengkan kepala nya dan memberitahu bahwa itu tidak masalah.
“ Selain it u... Jika ada rumor aneh tentangmu yang menyebar karena aku... itu mungkin akan mempengaruhi pemilihan... ”
Rumor aneh? Apa itu mungkin tentang hubungan yang tidak murni?
Aku rasa tidak perlu terlalu khawatir... tetapi, mengingat suasana Akademi Kekaisaran yang terlalu seriu s, jika ada sedikit saja tanda-tanda kisah percintaan, hal tersebut dapat berkembang menjadi masalah besar.
“ Terima kasih. Aku menghargai dukunganmu. ”
“ Ya.
Karena a ku adalah wanita yang bisa mengendalikan diri dengan baik...! ”
Hinako berkata dengan bangga.
Kami memasuki gedung sekolah dan berjalan di koridor.
Pada s aat itu— aku bisa men dengar suara Tenno u ji-san dari ruang kelas 2-C.
“ Begitu rupanya ! Jadi, semua keberhasilan Tenno u ji-san belakangan ini adalah berkat Tomonari-san...! ”
“ Ya!
Tepat sekali! ”
“ Tenno u ji-san sangat berterima kasih kepada Tomonari-san yang telah menyelesaikan masalahnya...! Apa kah itu berarti di antara kalian berdua ada ikatan yang kuat...?! ”
“Iya benar sekali!
Tepat sekali desuwa ! ”
Dalam menanggapi wawancara dari pihak OSIS, Tenno u ji-san menjawab sambil mengangguk dengan sangat ceria.
“ … ”
Melihat pemandangan itu, cahaya kehidupan langsung memudar dari tatapan mata Hinako. Dia kemudian menatap wakil ketua dengan wajah serius.
“ …Boleh aku mengoreksi apa yang aku katakan sebelumnya? ”
“ Eh?
Ah, i ya, tentu saja. ”
“ Sebenarnya, aku dan Tomonari-kun selalu menghabiskan waktu berdua setiap kali jam istirahat makan siang... ”
“ Ber -B erdua...!? ”
Oi, oi, oi, oi, oi.
Kemana perginya w anita yang bisa mengendalikan diri tadi...?
◆◆◆◆
Setelah jam pulang sekolah.
Saat teman-teman sekelas ku mulai pulang satu per satu, aku juga memasukkan buku pelajaran ke dalam tas.
“ Tomonari-kun. ”
Saat aku sudah bersiap -siap untuk pulang, ada Kita yang berbicara denganku.
“ Kita-kun, ada apa? ”
“Aku merasa kalau buku ini akan cocok untukmu, jadi aku ingin meminjamkannya. ”
Kita menyerahkan sebuah buku referensi tentang teknologi IT.
Namun, saat melihat sampulnya, aku membuat wajah serius. Mungkin isinya adalah buku teknis untuk insinyur. Dulu, aku pasti akan meminjamnya tanpa ragu, tetapi sekarang, setelah memutuskan untuk menjadi konsultan, bidang ini menjadi kurang prioritas bagiku.
“ Terima kasih. Tapi, aku merasa kalau aku sudah kurang tertarik dengan bidang IT... ”
“Menurutku buku itu pasti bisa bermanfaat untuk Tomonari-san. ”
Saat aku mencoba menolak nya dengan lembut, Suminoe-san tiba-tiba menyela.
“ Walaupun sulit membedakan itu dari sampulnya, tapi buku terssebut lebih ditujukan untuk pengusaha daripada buku teknis. Aku rasa banyak hal yang ingin ka m u pelajari juga tertulis di sana. ”
“ Begitu ya... ”
Setelah dia bilang begitu, aku membuka halaman daftar isi, dan memang tampaknya ada banyak konten yang tidak bisa di nilai dari sampulnya saja.
Kita melihat ke arah Suminoe-san.
“Uhmm, jadi Suminoe-san juga membaca buku seperti ini, ya? ”
“ Ya.
Karena p erusahaan keluargaku sering terlibat dalam proses hulu....Sepertinya Kita-san lebih memprioritaskan belajar tentang teknik, ya? ”
“Iy a.
Perusahaan keluargaku mengandalkan kemampuan teknis, jadi orang tuaku selalu bilang jika aku tidak memiliki teknik, aku tidak bisa mengelola bawahanku... ”
“Begitu rupanya. Walaupun itu cukup sulit, tetapi itu juga bisa memberikan kepuasan tersendiri. ”
Saat
Suminoe-san berkata begitu, Kita bereaksi dengan mengangguk dengan senang.
Kita sendiri tidak me mpunyai rasa minder tertentu dan mungkin sudah merasa puas sejak awal.
“ —Jadi intinya, meskipun di industri IT yang sama, manajemen organisasi bisa sangat berbeda tergantung pada sifat perusahaan nya, itulah garis besar buku itu.
Aku rasa buku ini layak untuk dibaca oleh Tomonari-san. ”
“ Ini sangat membantu. ”
Aku menundukkan kepala ku kepada
Suminoe-san yang telah memberitahuku ringkasan buku s aat kami berdua sedang mengobrol.
“ Kita -kun, tolong pinjamkan buku ini padaku juga. ”
“ Ya. ”
Kita melihat ke arah ku yang telah menerima buku itu dan Suminoe-san, lalu ia tersenyum kecil.
“ Suminoe-san, sepertinya kamu juga ikutan mendukung
Tomonari-kun, ya? ”
“ Hah!?
Ti -Tidak juga kok !? ”
Dia membantah dengan sangat tegas.
Perkataannya menarik perhatian t atapan orang-orang di sekitar kami. Menyadari hal itu, Suminoe-san dengan sengaja ter batuk pelan untuk mengalihkan perhatian.
Meskipun tidak seburuk Hinako, dia juga cukup pandai dalam berpura-pura.
“... Yah, karena ia adalah orang yang pernah mengalahkanku sekali. Jadi a ku hanya tidak ingin melihatnya dalam keadaan memalukan. ”
“ Tidak, maksudku, aku selalu bilang bahwa itu bukan soal menang atau kalah… ”
“ara~ara~ara …
Kerendahan hati yang berlebihan bisa menjadi racun, loh? ”
“S eharusnya aku yang bilang begitu … ”
Jika aku bersikap terbuka dan merayakan kemenangan, aku merasa Suminoe-san akan marah.
Kemudian pada s aat itu—.
“ Ohohoho!
Aku datang, desuwa~ !! ”
“ Hi afuu !? ”
Begitu mendengar suara yang familiar, Suminoe-san melompat dan mengeluarkan suara aneh.
Orang yang m asuk ke dalam kelas kami adalah Tennouji-san, seorang gadis berambut pirang bergelombang dan roll panjang.
“ Oh,
Suminoe-san. S alam sejahtera. ”
“ S a-sa-sa-sa-sa-salam sejahtera juga …!! ”
Seperti biasa, Suminoe-san masih merasa tegang di hadapan Tenno u ji-san. … dia masih t erlalu suka padanya.
Tenno u ji-san kemudian mendekat ke arahku.
“ Tomonari-san, aku datang untuk mengundangmu ke acara minum teh. ”
“ Eh, sekarang? ”
“ Ya.
Apa kamu tidak bisa ? ”
“ Tidak, aku tidak keberatan sama sekali … ”
Jika acara minum teh, tentu saja anggota lain juga akan berkumpul. Saat aku melihat ke arah Hinako, pandangan mataku bertemu dengannya dan dia mengangguk. Untungnya, Taisho dan Asahi-san yang masih berada di kelas juga mengangguk mendengar pembicaraan kami. Sisanya tinggal Narika…
“ Ngomong-ngomong, sepertinya Miy akoj ima-san juga akan datang. ”
Hebat, seperti biasa, cepat sekali kerjanya.
“ Kalau begitu, sepertinya semua orang akan hadir. …Tapi, rasanya agak mendadak, ya. ”
“ Acara teh selama game manajemen lebih banyak berupa rapat pertemuan. Aku ingin mengadakan acara teh yang sebenarnya untuk bersantai lagi. ”
Memang, selama game manajemen berlangsung, kami lebih banyak bertukar informasi, dan tidak banyak percakapan santai. Namun, suasana acara teh yang sebenarnya seharusnya lebih santai.
“ Selain itu… ”
Tenno u ji-san melihat ke arah koridor.
Di sana, ada anggota OSIS yang masih mengamati kami.
“ Sepertinya mereka juga tahu tentang acara pesta teh yang mulia. Aku pikir sedikit pamer tidak ada salahnya untuk membantu kerjasama liputan. ”
“B egitu rupanya … ”
Acara pesta teh yang mulia. Itu adalah nama kelompok kami yang terdiri dari aku, Hinako, Tenno u ji-san, Narika, Taisho, dan
Asahi-san, atau mungkin merujuk pada acara teh kami yang menjadi awal nama tersebut. Aku sama sekali tidak tahu s iapa yang memberi nama itu, tetapi namanya telah menyebar ke berbagai tempat, dan sepertinya cerita Tenno u ji-san ini telah sampai ke telinga siswa kelas tiga.
Acara pesta teh kami pada dasarnya diadakan secara tidak teratur, jadi ada kemungkinan tidak diadakan sama sekali sebelum masa pemilihan. Namun… semoga ini bukan hanya perasaanku, tetapi jujur saja, dengan ketenaran kami yang semakin meningkat, pasti ada siswa yang tertarik melihat bagaimana acara pesta teh kami. Jika ketua Minato tidak menyebutkan apa pun tentang “ Pojok intip keseharian calon anggota ” yang disiapkan, para siswa mungkin merasa kecewa. Sepertinya Tenno u ji-san sudah memperhatikan hal itu.
Karena ini adalah wawancara untuk menyampaikan kepribadian, aku telah memutuskan untuk bersikap alami, tetapi acara teh ini memang kadang-kadang diadakan, jadi bukanlah hal yang berlebihan.
“ Itu ide yang bagus. ”
“ Benar,
‘ kan? ”
Tenno u ji-san membusungkan dadanya dengan bangga.
Jadi, mari kita segera menuju kafe … pikirku, namun saat itu, ada seorang siswi dari kelas datang menghampiri kami.
“Umm,
Tenno u ji-san. ”
“ Oh, ada apa? ”
Siswi dari kelas A itu berbicara kepada Tenno u ji-san dengan gugup.
“Umm, apa mungkin Tenno u ji-san… sedang berkencan dengan Tomonari-kun selama game manajemen kemarin …!? ”
“ Kencan—!? ”
Rambut pirang bergelombang itu me mantul dengan hebat.
Jantungku juga ikutan melompat.
Apa maksudnya? Apa maksudnya…!?
“ Tomonari-san. ”
Suminoe-san menatapku dengan tatapan dingin seperti es.
“ Tolong, jelaskan, dengan rinci. Sebelum aku kehilangan akal sehat ku. ”
Dengan gerakan yang sangat canggung, seolah -olah semua otot di tubuhnya tegang, Suminoe-san mendekat.
Gawat, aku merasakan ancaman terhadap hidupku.
“ Eh, tidak, sepertinya ada kesalahpahaman, tapi masalahnya bukan itu — ”
“ Tapi aku melihatnya! Aku melihat kalian berdua berjalan di museum…!! ”
Ketika aku berusaha mencoba membela diri, siswi dari kelas itu berteriak dengan suara keras.
Suasana seluruh k elas menjadi riuh, dan saat mendengar kata-kata itu, ingatanku kembali muncul.
Selama gane manajemen, Tenno u ji-san pernah mengajakku keluar untuk beristirahat. Kami pergi ke museum, ke kafe, dan menikmati tarian bersama…
“ ……………………ah. ”
“Ha h!?
Apa kamu baru saja mengucapkan 'ah' !? ”
Suminoe-san langsung mencengkeram dada ku.
‘ Kyaaa— —— !! ’ teriak para siswi di kelas dengan penuh semangat. Kata-kata seperti ‘ Cinta segitiga!? ’ dan ‘ Perselingkuhan!? ’ juga terdengar. …Sial, aku bahkan sampai melibatkan Suminoe-san juga.
Suasana nya menjadi sangat tegang. Keringat dingin mengalir deras di punggungku.
“ Sepertinya topik acara pesta teh sudah ditentukan, ya, Tomonari ~~ ? ”
“ Yah,
Tenno u ji-san juga memilih waktu yang tepat untuk mengadakan acara teh, ya ~~. ”
Taisho dan Asahi-san mendekat dengan senyum jahat di wajah mereka.
Tatapan mereka mirip seperti anak kecil yang baru saja menemukan mainan baru.
“ Tomonari-kun. ”
Hinako memanggil namaku dengan suara yang indah dan jernih.
Dalam mode Ojou-sama yang anggun, Hinako tersenyum penuh kasih dan membuka mulutnya.
“ Waktu untuk menikmati kehidupan akademi yang santai sudah berakhir. ”
Kata-kata yang tak berperasaan itu menusuk hatiku.
Meskipun
Hinako yang mengatakan bahwa aku sebaiknya bersantai sampai masa pemilihan, jika aku tidak bisa menjelaskan dengan baik tentang hal ini, aku akan mengalami hari-hari yang tidak nyaman baik di akademi maupun di rumah.
Bab 2 — Wawancara dimulai
Bagian 2
“ ――Jadi begitulah, aku hanya menemani Tomonari-san untuk bersantai. ”
Begitu acara pesta teh dimulai, Tenno u ji-san dengan cepat menjelaskan kesalahpahaman.
“ Hmm...
baiklah, kalau memang begitu masalahnya, kurasa aku mengerti."
“Malahan, kebenaran nya sangat khas dari Tenno u ji-san~ ”
Taisho dan Asahi-san mengangguk setuju, dan Tenno u ji-san menghela napas lega.
Hinako dan Narika cukup cepat menerima penjelasan, tetapi butuh waktu lebih lama untuk menjelaskan kepada Taisho dan Asahi-san....Sejujurnya, kesalahpahaman itu sudah terpecahkan sejak lama, dan aku merasa mereka sengaja memperpanjangnya karena itu terlihat lucu. Namun, jika dipikir-pikir, perubahan di mana kedua orang ini bisa akrab dengan Tenno u ji-san seperti ini sangat mengejutkan dibandingkan dengan awal semester.
Setelah mengambil seteguk teh yang sudah dingin dan hangat, aku berpikir bahwa in i merupakan tanda kalau kami bisa bercakap-cakap dengan begitu menyenan g kan sampai-sampai melupakan untuk minum teh. Namun, topik seperti ini tidak baik untuk hatiku, jadi aku berharap mereka tidak perlu membahasnya lagi.
“Oleh karena itu, mohon berhati-hati saat menulis artikel nya, ya!! ”
“ Baiklah! ”
Tenno u ji-san berkata kepada anggota OSIS yang mengamati kami dari kursi sebelah....Aku juga berpikir saat melewati depan ruang kelas C di waktu istirahat, anggota OSIS itu terlihat sangat ceria.
Anggota OSIS juga tampaknya memiliki karakter yang cukup kuat. Siswa di Akademi Kekaisaran pada dasarnya semua memiliki karakter yang kuat...
“ Maaf,
Tenno u ji-san. Terima kasih telah menjelaskan segalanya... ”
“ Karena akulah yang memulainya, jadi tidak masalah....Aku tidak menyesali perbuatan ku saat itu, tetapi aku me lupa kan tentang apa yang terjadi setelah game manajemen berakhir. ”
Dengan keringat dingin mengalir, Tenno u ji-san minum teh seolah baru menyelesaikan tugas.
Aku merasa ada yang aneh dengan cara berbicara
Tenno u ji-san. Apa maksudnya tentang apa yang terjadi setelah game manajemen berakhir?
“ Tomonari-kun pasti menyadari nya, setelah permainan manajemen berakhir, semua orang sangat santai, ‘ kan? ”
Seolah menangkap kebingunganku, Asahi-san menjelaskan.
“ Di
Akademi Kekaisaran, sejak dulu, sering terjadi insiden hubungan cinta setelah game manajemen berakhir. Karena saat itu semua orang sedang santai, ditambah lagi hubungan antar manusia berubah setelah permainan.... Sekarang setelah kupikir-pikir lagi, orang itu sangat keren ya~~ ~~ semua orang akan berpikiran begitu.”
“Be-B egitu..."
Game manajemen merupakan acara besar. Aku sendiri merasakan perubahan hubungan antar manusia melalui acara itu.
Tradisi yang dijelaskan oleh Asahi-san pasti sudah diketahui oleh semua siswa di akademi ini. Jadi, ketika mendengar topik cinta pada periode ini, semua orang langsung mengaitkannya dengan tradisi dan menjadi bersemangat. Artinya, siswa di Akadaemi Kekaisaran pada periode ini sangat mendambakan cinta.
“ Meskipun aku sendiri yang menyebabkan kegaduhan ini, aku tidak memiliki kekuatan untuk berbicara, tetapi pada periode ini, ada siswa yang terpengaruh oleh suasana sekitar dan melakukan hal-hal sembrono. Mohon berhati-hati, ya. ”
Mendengar peringatan dari Tennouji-san, Taisho dan Asahi-san balas mengangguk. Namun, hanya ada dua orang di antara mereka— aku dan Narika —yang saling bertukar pandang secara diam-diam.
Insiden hubungan cinta terjadi segera setelah game manajemen berakhir. Pada periode ini, ada siswa yang terpengaruh oleh suasana sekitar dan melakukan hal-hal sembrono.
(…………………… Bukannya itu menceritakan tentang k ami ?)
Narika juga tampaknya sampai pada kesimpulan yang sama, karena wajahnya langsung memerah.
Rupany a, kami bergerak sesuai dengan tradisi tanpa kami sadari.
“ …Oh, ada apa? Tomonari-san, Mi yakoj ima-san? ”
“Bu-Bu-Bu-Bu-Bu-Bu-Bukan apa-apa! ”
“ O-oh… beneran tidak ada apa-apa…… ‘ kan? ”
Meskipun jelas -jelas ada sesuatu di antara kami, Tenno u ji-san hanya memiringkan kepalanya.
“ Bahkan tanpa mengungkit hubungan percintaan, hubungan antar manusia sudah berubah banyak setelah game manajemen, ya, ” kata
Asahi-san.
“ Benar sekali. Belakangan ini, aku sering melihat Mi yakoji ma-san dikelilingi oleh banyak orang yang men gagumi nya, ” tambah Tenno u ji-san.
“ O-oh.
Iya, aku juga merasa begitu. Aku pikir ada perubahan di sekitarku hingga aku bisa merasakannya sendiri. … Aku bersyukur untuk itu. ”
Narika berkata dengan wajah bahagia.
Sejujurnya, aku merasa itu bukan sekadar tingkat di kagum i… tapi aku tidak ingin mengatakannya.
Yang harus diperhatikan adalah, dalam kasus Narika, hubungan antar manusia tidak berubah begitu saja. Narika sendiri yang berubah, sehingga orang-orang di sekitarnya juga berubah. Jadi, hal tersebut merupakan hasil dari usaha Narika.
“ Usahamu terbayar ya, Narika. ”
Aku t anpa sadar mengatakan itu sambil melihat Narika. Aku sangat ingin menyampaikan hal itu sampai-sampai melupakan rasa canggung di antara kami.
Narika terkejut sejenak, dia tetapi segera tersenyum lembut.
“ Ah… semmuanya itu berkat dirimu, Itsuki. ”
Kami berdua saling memandang.
Kali ini aku tidak mer asa canggung, malah an kami diliputi perasaan tenang—.
“ …Eh, apa-apaan dengan suasana itu ? Jangan-jangan Tomonari-kun sebenarnya ada sesuatu dengan Mi yakoji ma-san, bukan dengan Tenno u ji-san— ”
“Ng-Ngomong-ngomong tentang perubahan, bukannya
Ko nohana-san juga sama ?! ”
Aku berusaha cepat mengalihkan topik kepada Asahi-san yang memiliki in sting peka.
Hinako menatap k e arahku dengan tajam. Seolah mengatakan bahwa aku mencoba memanfaatkannya demi bisa mengalihkan perhatian… aku terus-menerus meminta maaf dalam hati.
“ K onohana-san juga memang sudah berubah. Hanya dengan melihat kelas kami, aku merasa banyak orang mulai berbicara dengan Ko nohana-san lebih dari sebelumnya. ”
Taisho yang tidak menyadari apa pun menunjukkan persetujuan terhadap kata-kataku.
“ …Benar.
Persis s eperti yang kamu katakan, belakangan ini aku semakin sering diajak bicara daripada sebelumnya. ”
Hinako membaca suasana dan mengalihkan topik.
Maaf,
Hinako. Dan terima kasih, Taisho.
Namun sebenarnya, aku memang ingin membicarakan perubahan Hinako. Setelah game manajemen, hubungan Hinako juga mengalami perubahan.
“ Dari apa yang aku dengar, sepertinya pertemuan yang diadakan menjelang akhir game manajemen menjadi penyebabnya. …Kalau dipikir-pikir, aku belum pernah bergantung pada kalian seperti itu sebelumnya, jadi aku merasa hubungan kami semakin dekat setelah itu. ”
“ Ya, ya, saat itu semua orang di kelas juga bilang begitu. Mereka merasa terhormat karena Konohana-san bergantung pada mereka, ”
kata Asahi-san sambil mengangguk.
Pertemuan yang dimaksud tentu saja adalah rapat untuk membangun kembali Konohana
Automobile setelah insiden pe nyembunyian recall.
Hinako adalah gadis malas yang selalu bergantung pada orang lain di rumah, tetapi ketika berada di kelas, dia jarang meminta bantuan orang lain. Jika dia ingin menjaga citra sebagai Ojou-sama yang sempurna, dia harus bisa melakukan segalanya sendiri.
T eman-teman sekelasnya mungkin merasa senang karena Hinako bergantung pada mereka.
Aku bisa memahami perasaan itu sebagai pengasuhnya.
Dianggap sebagai sese orang yang besar dan kuat, bergantung padaku adalah suatu kehormatan dan kebanggaan.
Jadi, aku yakin semua orang di akademi juga memiliki pemikiran yang sama, meskipun dalam berbagai tingkatan.
Semua ingin setara dengan Konohana Hinako. Pasti semua orang di dalam hati mereka berpikir demikian.
“ Gu nununu … jika Konohana Hinako mulai belajar menggunakan orang lain, maka hak eksklusifku… ”
Tenno u ji-san mengungkapkan kejengkelannya dengan suara kecil.
Aku pernah memberitahu Tenno u ji-san di pantai saat liburan musim panas bahwa kekuatan yang dimiliki dirinya namun tidak dimiliki Hinako adalah karisma. Perasaan itu tidak berubah, tetapi tentu saja, pertumbuhan Hinako bisa mengubah segalanya.
“ Aku juga menemukan ada banyak hal yang masih perlu dipelajari sebagai putri keluarga Konohana. Aku harus berusaha agar tidak kalah dengan kemajuan kalian semua di sini. ”
Hinako tersenyum cerah mempesona, seolah -olah dirinya memancarkan cahaya ilahi.
“ O-oh… sangat mulia sekali … ”
“ Konohana-san… memang mirip seperti malaikat… ”
Taisho dan Asahi-san mulai menghormati Hinako seperti pengikut yang penuh rasa hormat.
Namun, sejujurnya, aku rasa Hinako tidak akan pernah memiliki karisma seperti Tenno u ji-san.
Hal itu dikarenakan dia sendiri tidak memiliki niat untuk itu.
Dia sudah kesulitan bergaul. Aku bisa membayangkan Hinako berkata dengan malas, “ Menggunakan orang lain itu merepotkan dan mustahil — ”.
◆◆◆◆
“ Oke, semua, sampai jumpa lagi ~ ”
“ Ya.
Sampai ketemu hari Senin. ”
Hinako tersenyum dan me mbalas lambaian tangan kepada Asahi-san yang naik mobil. Setelah pertemuan teh selesai, kami semua pulang dengan mobil jemputan masing-masing.
Aku dan
Hinako juga berniat pulang segera, tetapi—.
“ I-Itsuki! ”
Saat aku berusaha menuju gerbang sekolah, Narika memanggil ku.
“Be-Be-Be-Be-Begini, ada se suatu yang ingin ku bicarakan…! ”
“ O-oh.
Baiklah. ”
Melihat Narika yang tampak lebih aneh dari biasanya, aku juga merasa sedikit bingung dan mengangguk.
Isi pembicaraannya… aku sudah bisa menebak nya.
Aku melihat Hinako yang ada di sebelahku.
“ Konohana-san, itu… ”
Mungkin Narika ingin berbicara berdua an saja denganku, jadi aku harus meminta Hinako untuk pergi. Seolah mengerti niatku, Hinako mengangguk pelan.
“ Baiklah, kalian berdua. Aku pamit dulu ya. ”
Aku melakukan kontak mata dengan
Hinako yang membungkuk. Aku ingin menyampaikan melalui tatapan bahwa tidak masalah jika dia pulang lebih dulu—.
Hinako mengangguk kecil dan keluar dari gerbang sekolah.
Sekarang hanya tersisa aku dan Narika saja, jadi kami berpindah ke ujung lapangan. Sambil melihat warna senja yang menghiasi lapangan, aku menatap wajah Narika.
“ Jadi,
Narika. Sesuatu yang ingin kamu bicarakan ini mungkin … tentang waktu itu, ‘ kan? ”
“Iy - I ya. Ini tentang setelah game manajemen berakhir… ”
Sepertinya memang begitu…
Penyebab terjadinya ketegangan dan kecanggungan kami.
Narika ingin membicarakan tentang ciuman yang terjadi di antara kami—.
“ J a-J adi… ak -aku ingin memastikan… ”
Narika bertanya dengan ragu -ragu.
“ I-Itsuki… apa kamu… mulai membenciku…? ”
Pertanyaan itu benar-benar mengejutkanku. Saking terkejutnya sampai-sampai membuat ke gugupan ku mereda.
“ … Memb enci mu ? Kenapa…? ”
“ S o - S oalnya, aku tiba-tiba melakukan hal seperti itu…!! ”
Narika berkata dengan wajah yang tampak ingin menangis kapan saja.
“ Sejak saat itu, aku terus-menerus ke pikir an …!! Tanpa memikirkan perasaan
Itsuki, aku bertindak sembarangan…!! Ugh… ak -aku, apa yang sud ah aku lakukan…!? ”
Aku terkejut dan hanya bisa membuka mulut tanpa bisa ber kata -kata.
…Jadi dia sampai berpikir an begitu.
Kami berdua sma-sama bisa merasakan suasana canggung. Namun, ketegangan yang aku rasakan dan yang dirasakan Narika tampaknya sedikit berbeda.
Narika tampaknya khawatir apaka h aku membencinya.
“Wa-Waktu acara pesta teh tadi,
Tenno u ji-san juga mengatakannya, ‘ kan? Di masa seperti ini, ada banyak orang yang terbawa suasana… Ku-Kupikir dia sedang membicarakan ku…!! ”
Aku juga sempat berpikir begitu.
Sebenarnya bukan hanya tentang Narika, tetapi tentang kami berdua.
“ ……………………Hah. ”
Sebelum menenangkan
Narika, aku harus menenangkan diri ku terlebih dahulu.
Ketika Narika memanggilku sebelumnya—aku merasa harus memberikan jawaban atas kejadian waktu itu. Tapi bagi Narika, sepertinya itu bukanlah hal yang mudah.
Memang benar kalau ciuman itu terlalu mendadak.
Tapi, apa aku jadi membenci Narika karena itu…?
“ …Aku sama sekali tidak membenci mu. ”
Aku menatap mata Narika dan menjawab demikian.
Namun, aku terdiam untuk melanjutkan kalimat selanjutnya.
Mengatakan bahwa aku tidak merasa kan apa-apa—itu sama sekali tidak benar.
Mengatakan bahwa aku akan melupakan kejadian itu—itu bahkan tidak bisa dianggap sebagai penghiburan.
Jika aku mengatakan bahwa aku justru merasa senang—apa itu terdengar seperti jawaban?
Ciuman itu terjadi dua hari yang lalu. Meskipun aku ingin memberikan jawaban, aku merasa sedikit bersalah pada Narika dan ingin me milah-milah perasaanku sedikit lebih banyak.
Dalam hubungan kami sebelumnya, aku biasanya bisa dengan santai berkata, “ Jangan terlalu di pikirkan, ” dan selesai. Namun, memikirkan hubungan kami saat ini, sepertinya ada banyak kata yang menjadi terbatas.
“ A p - A pa kamu benar-benar tidak membenciku…? ”
Narika bertanya dengan suara bergetar saat melihatku yang kembali terdiam.
Aku tidak membenci nya. Itulah kata-kata yang keluar dari dalam hatiku.
“ Ya.
Tentu saja tidak. ”
“ Sy -Sy ukurlah… ”
Narika menghela napas lega. Sepertinya kesalahpahaman yang terjadi telah teratas i.
“ Tapi, saat itu aku benar-benar terkejut. Aku t idak pernah menyangka kalau kamu akan melakukan hal seperti itu, Narika … ”
Aku merasa boleh saja menyampaikan bahwa aku terkejut, jadi aku berkata jujur.
Nyatanya, aku memang terkejut.
Pikiranku menjadi kosong sesaat ketika dia melakukan itu.
“ A-ah, saat itu… ”
Narika tampak ragu dan sulit untuk berbicara.
“A ku… ”
Aku?
“A ku tidak bisa menahan diri lagi … ”
Narika mengatakan itu d engan pipi yang memerah dan mengalihkan pan dangannya ke mana-mana.
Melihat yang Narika seperti itu, aku jadi tersadar.
Kami sedang membicarakan hal yang sangat memalukan…
Wajahku mulai terasa panas. Mungkin, wajah ku juga sudah memerah seperti Narika.
Melihat Narika yang polos, aku merasa hatinya juga mulai murni.
“ Ah!?
Sepertinya jemputanku sudah datang! ”
Narika tiba-tiba mengeluarkan smartphone-nya dan berkata demikian.
“Ka-Kalau begitu, aku pamit dulu! … aku s angat senang kamu tidak membenciku, Itsuki! ”
Setelah berkata demikian, Narika pergi dari hadapanku.
Fyu uh~~, aku menghela napas pelan. Sepertinya ketegangan aku belum sepenuhnya hilang, dan aku menyadari bahwa hati aku masih tegang setelah berpisah dengan Narika.
(…………Eh?)
Melihat punggung Narika yang semakin menjauh, aku tiba-tiba berpikir.
(………… Pada akhirnya, a pa yang harus aku lakukan?)
Narika yang tidak lagi merasa cemas tampak ceria dan melangkah dengan gembira menuju gerbang sekolah.
Seolah-olah, dia tidak me ngkhawatirkannya lagi.
………………………… Apakah dia tidak peduli dengan jawabanku?
Aku belum memberikan jawaban atas perasaan Narika…
Apa jangan-jangan bagi Narika, masalah ini sudah selesai?
(…Tidak, itu tidak mungkin)
Ciuman itu bisa dianggap sebagai pengakuan perasaannya, ‘ kan…?
Kalau begitu, apa aku harus memberikan jawaban…?
Namun, saat melihat sikap Narika tadi … jangan-jangan dia tidak mencari jawaban?
Dia juga mengatakan bahwa ciuman itu hanyalah tindakan spontan karena terbawa suasana …
Jangan-jangan…
Narika tidak memikirkan apa pun untuk ke depannya?
(…Itu mungkin saja)
Itu s angat mungkin.
Narika memang sedikit, atau bahkan cukup, ceroboh. Dengan sifatnya yang polos, mungkin dia tidak melihat kemungkinan hubungan kami berkembang menjadi hubungan percintaan.
Aku tanpa sadar meletakkan tangan ku di keningku.
Jika memang itu benar… apa yang harus kulakukan?
… Hah ?
Bukan nya lebih baik kalau aku memberikan nya jawaban?
Aku mulai merasa bi mbang.
(Jika
Narika tidak mencari jawaban…)
Ketika aku m emikirkan hal itu, entah kenapa hatiku t iba-tiba menjadi lebih ringan.
Namun, perasaan ringan ini sama saja dengan sikap pengecut? Bukannya itu cuma angan-anganku saja demi menghindari tanggung jawab ?
A tau, apa ini bentuk kebaikan terhadap Narika?
Jika tidak diminta, tidak memberikan jawaban juga bisa jadi bentuk kesungguhan.
(…………Tidak)
Itu s alah.
Aku harus mengi ngat nya.
Apa yang dikatakan Narika padaku saat itu?
―― Ak -Aku tidak akan bertanya tentang jawabannya sekarang !
Tapi, semuanya sudah terlambat jika kamu menyesal inya !
Jika dia benar-benar tidak memikirkan masa depan, maka kata-kata penyesalan tidak akan muncul.
Pada waktu itu, Narika jelas-jelas mengumpulkan keberanian nya.
Dia melihatku dengan sangat malu, tetapi tetap menatapku dengan tulus.
―― Karena orang y ang menyuruhku untuk melakukannya dengan sepenuh hati adalah kamu sendiri —Itsuki!!
Narika benar-benar sudah berusaha keras untuk melakukannya.
Hasilnya adalah ciuman itu.
Jadi, mana mungkin dia tidak memikirkan apa pun untuk ke depannya. Jika dia benar-benar tidak memikirkan nya, tidak ada alasan untuk mengumpulkan keberanian yang begitu terlihat.
Narika memang memiliki sisi ceroboh dan polos. Namun, ciri utamanya adalah sifat negatif nya.
Aku seharusnya tahu hal itu…
Narika merupakan tipe orang yang lebih mengutamakan untuk tidak merepotkan orang lain ketimbang perasaannya sendiri.
“ …Narika ”
Aku memanggil namanya.
Namun, dia sudah pergi menjauh, jadi tidak mungkin dia mendengarnya.
Aku berlari menuju gerbang sekolah.
Masih ada waktu…!!
“ ――Narika!! ”
Ketika aku berhasil menyusulnya dan melihat punggungnya, aku memanggilnya dengan suara keras.
Narika berbalik menoleh dengan ekspresi terkejut dan mendekat i ku.
“ I-Itsuki?
Kenapa kamu terlihat begitu putus asa— ”
“ ――Aku akan memberikan jawaban ku. ”
Narika membuka matanya lebar-lebar.
Sepertinya perkataanku sangat mengenai hatinya … seolah-olah aku telah menyentuh kemungkinan yang dia sembunyikan di sudut hatinya… Narika menunjukkan ekspresi tegang.
Jika lawan bicara tidak mencarinya, tidak memberikan jawaban bisa jadi bentuk kesungguhan.
Namun, Narika sudah mengumpulkan keberaniannya untuk itu.
Narika yang s elalu merengek, gampang gelisah, negatif, dan penakut, di a terpengaruh oleh kata-kataku dan melakukannya dengan sepenuh hati.
Maka, aku juga—aku merasa harus mengumpulkan keberanian.
“ Saa t ini aku masih belum memilah perasaanku sendiri … tapi aku akan memberikan jawaban dengan benar padamu. Jadi, aku berharap kalau kamu bersedia menunggu jawabanku. ”
Aku menatap wajah Narika dengan serius dan mengatakan hal itu padanya.
“ …J adi aku hanya perlu menunggu mu ? ”
Narika bertanya dengan pelan.
Dia menatapku dengan mata yang bergetar dan membuka mulutnya sekali lagi.
“ Baiklah.
…Aku akan menunggu mu. ”
Setelah mengatakan itu, Narika berjalan keluar dari sekolah.
Kali ini, aku mengantarnya dengan diam. Seharusnya tidak ada lagi yang perlu kukatakan.
Namun…
(…………Aku benar-benar memilih jalan yang sulit)
Setelah m elihat reaksi Narika, aku berpikir bahwa sebenarnya ada jalan untuk tidak memberikan jawaban. Namun, karena aku sudah memutuskan nya demikian, aku harus berusaha keras untuk menemukan jawabanku sendiri.
Untuk saat ini, mari pulang dulu.
Aku berjalan melewati gerbang sekolah menuju tempat di mana mobil akan menjemputku.
Namun, tepat di hada panku, aku melihat sosok Hinako.
“ Hinako?
Kenapa kamu masih belum pulang— ”
Aku bergumam seolah-olah berbicara pada diriku sendiri, tetapi segera menutup mulut saat melihat sosok di sampingnya.
Tapi rupanya orang itu juga menyadari keberadaanku. Orang itu lalu tersenyum ramah.
“ Ha lo, Tomonari-kun. Aku sudah menunggumu. ”
“ …Ketua
Minato? ”
Di samping Hinako adalah Ketua Minato.
“ Aku sedang mengobrol dengan Konohana-san sampai kamu datang. Tadi, aku melihatmu berbicara dengan Miy akoj ima-san di pojok lapangan, apa itu sudah selesai? ”
“ Ah, ya. Itu sudah tidak masalah… ”
Kenapa dia sampai repot-repot menungguku?
“ Aku lupa memberikan ini padamu. Tolong terima lah. ”
Setelah mengatakan itu, Ketua Minato menyerahkan beberapa lembar dokumen kepadaku.
Aku lalu mencoba membaca dokumen itu sekilas.
“ …Laporan wawancara mandiri? ”
“ Benar.
Seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya, untuk hari libur, kamu harus melakukan wawancara sendiri. Tulis cara menghabiskan waktu liburmu berdasarkan pertanyaan yang tertera di sana. ”
Lembar pertama adalah tabel jadwal kosong. Lembar kedua berisi beberapa pertanyaan dalam format tanya jawab. Sepertinya aku harus mengisinya semua.
“ Aku memberikan ini kepada kandidat lain saat istirahat, tetapi kamu tidak ada di kelas. Aku berencana memberikannya se pulang sekolah, tetapi sepertinya pertemuan teh yang mulia itu diadakan secara mendadak, jadi aku menunggu sampai selesai. …Kemudian, pertemuan rahasia mu dengan Miy akoj ima-san dimulai. ”
“ Ehm… maaf, aku membuatmu menunggu. ”
“ Tidak, tidak, kamu tidak perlu me minta maaf segala. Hal itu membuktikan bahwa kamu cukup populer. ”
Ketua
Minato pasti juga sangat sibuk, tetapi sepertinya dia sudah menunggu sampai sekarang.
Mengenai pertemuan rahasia ku dengan
Narka… aku tidak bisa membantahnya, jadi lebih baik aku lewatkan.
Setelah menyimpan dokumen ke dalam tas, Ketua Minato bergantian melihat ke arah ku dan Hinako.
“ Tadi aku juga sempat berbicara dengan Konohana-san… sepertinya kalian sering Bersama, ya. Wakil ketua bahkan memberitahuku kalau kalian berdua juga ber sama saat istirahat, ya? Kalian akrab sekali. ”
“ Ya… begitulah. ”
Dengan topik pertemuan teh dan interaksiku dengan Narika sebelumnya, aku hampir m enganggapnya sebagai nuansa romantis, tetapi mungkin ini lebih merupakan ungkapan persahabatan.
Di sampingku, Hinako menunjukkan ekspresi puas.
“Hmm, K etua memiliki pandangan yang baik. ”
“ …?
Ah, begitu ya? ”
“ Ya. ”
Ketua
Minato me miring kan kepala nya saat
Hinako terlihat sangat puas.
“ Aku juga mengamati suasana pertemuan teh, tetapi… entah bagaimana, interaksinya lebih biasa daripada yang aku kira. ”
Ketua
Minato berbicara dengan hati-hati.
“ Jangan anggap ini sebagai ungkapan yang buruk. Hanya saja, aku mendengar rumor bahwa ada diskusi panas tentang politik dan militer, jadi aku terkejut. ”
“ Haha ha … sepertinya memang ada rumor seperti itu. ”
Aku tidak bisa menahan senyum pahit. Ketika aku pertama kali berbicara dengan
Ikuno, ia juga pernah mengatakan hal yang sama.
“ Sebenarnya, itu hanya pertemuan teh biasa. Kami hanya mengobrol santai. ”
“ Begitu ya… mungkin memang itu yang kalian butuhkan. ”
Ketua
Minato melirik Hinako yang berdiri di sampingku.
Siswa paling terkenal di Akademi K ekaisaran.
Putri dari grup konglomerat Konohana yang dikenal sebagai Ojou-sama sempurna. Itulah keberadaan Konohana
Hinak o. Dengan perhatian yang sebesar ini, bisa menciptakan tempat di mana dia bisa berbicara dengan tenang dengan seseorang merupakan suatu kesulitan tersendiri. Namun, hal tersebut juga berlaku untuk Tenno u ji-san dan Narika. Ruang di mana para mereka bisa berkumpul dan berbincang dengan akrab adalah sesuatu yang berharga.
Pertemuan teh yang mulia mungkin terbentuk dengan keseimbangan yang luar biasa.
Pasti semua orang merasakannya, meskipun sedikit.
“ Jika kamu menjadi wakil ketua, apa kamu ingin mencapai akademi yang seperti itu? ”
Walaupun p ertanyaan itu diajukan dengan nada ringan, tetapi esensinya cukup dalam.
Akademi seperti itu… akademi yang mirip seperti pertemuan teh kami yang santai.
Ketika ditanya apa aku ingin mencapainya? Aku…
“ Tidak, aku masih belum menge tahu inya. ”
Aku menggelengkan kepala ku sebagai jawaban.
“Tujuanku ialah menjadi wakil ketua. Aku meny erahkan pada orang yang menjadi ketua untuk mengambil alih kepemimpinan. ”
“ …Begitu ya. Cara berpikir yang ba gus. ”
Tentu saja, jika ketua yang dimaksud memilih jalan yang salah, aku ingin menghentikannya, tetapi kurasa orang seperti itu tak kan mungkin menjadi ketua di akademi ini.
Aku mempunyai banyak definisi tentang jalan yang salah, tetapi definisi tentang jalan yang benar yang harus diambil masih samar. Namun, aku tidak menganggap itu sebagai masalah. Semua siswa di akademi ini benar-benar luar biasa… jika aku bisa menjadi wakil ketua, aku hanya perlu berkonsultasi dengan ketua dan membuat keputusan bersama.
Aku tidak tahu s iapa yang akan menjadi ketua nya. Tetapi, tidak peduli siapa pun itu, aku akan mem percaya inya dan mendukungnya.
Mungkin, itulah caraku—karakterku.
Melihatku yang seperti itu, Ketua Minato mengangguk puas sebelum melihat Hinako.
“ Konohana-san. Bolehkah aku mengajukan pertanyaan yang membuatmu sedikit gugup ? ”
“Gugup, ya?"
“ Oh, jangan salah paham dulu. Akulah yang merasa gugup. ”
Ketua
Minato lalu melanjutkan.
“ Konohana-san, sepertinya kamu sering dimintai bantuan oleh banyak orang, ‘kan ? ”
“ …Aku tidak bisa membantahnya. ”
“ Kalau begitu, apa Konohana-san pernah meminta bantuan kepada OSIS ? ”
Hinako terdiam sejenak sebelum menggelengkan kepala nya.
“ Tidak, untungnya sampai sekarang aku belum pernah. ”
“ Seperti yang aku duga… itulah keadaan di akademi ini. ”
Ketua
Minato berkata dengan wajah serius.
“ Di akademi ini, ada banyak nama besar bahkan di luar OSIS. Jadi, jarang sekali ada orang yang secara khusus meminta bantuan OSIS.
Kekuatan yang hanya berlaku di dalam akademi dari OSIS tidak ada bandingnya dengan kekuatan keluarga Konohana yang memiliki pengaruh di dalam dan luar akademi. Saya ngnya, status sebagai anggota OSIS tidak bisa bersaing dengan nama besar keluarga. ”
Setelah dipikir-pikir, aku juga belum pernah meminta bantuan OSIS.
Jika
Hinako… atau lebih tepatnya, jika grup Konohana serius ingin menerapkan kekuasaan di Akademi K ekaisaran, mereka pasti bisa mewujudkannya. Pengaruh nama keluarga bisa menjangkau hingga ke dalam akademi. Jadi, memang benar apa yang dikatakan Ketua Minato, bahwa keberadaan OSIS saat ini patut dipertanyakan dalam situasi tersebut.
“ Oleh karena itu, OSIS selama ini berfungsi sebagai kekuatan di balik layar, tetapi—aku ingin mengubah keadaan ini. Aku telah diam-diam mempersiapkan berbagai hal. ”
Ketua
Minato sedikit menguatkan nada suaranya dan berkata.
“Namun aku membuat kesalahan dalam perhitunganku karena ternyata itu memakan waktu lebih lama dari yang aku perkirakan. Berkat itu, sepertinya aku tidak akan sempat menyelesaikannya pada masa jabatanku, tetapi pasti akan berguna untuk generasi berikutnya. …Dengan pemikiran itu, aku tidak bisa menganggap pemilihan berikutnya sebagai urusan orang lain. ”
Meskipun aku tidak tahu secara rinci, sepertinya Ketua Minato telah memutuskan untuk menyerahkan semua yang telah dia bangun kepada generasi berikutnya. Mungkin rincian itu bukanlah sesuatu yang seharusnya aku dengar saat ini. Itu pasti sesuatu yang sangat besar sehingga hanya mereka yang telah bergabung dengan
OSIS yang boleh diberitahu tentang hal itu.
“ Tanggal pengumpulan laporan adalah hari Senin minggu depan. Aku akan menantikannya. ”
Setelah berkata demikian, Ketua Minato pun berjalan pergi.
Ketika aku mendengar bahwa ada kolam yang dibuat di dalam area sekolah, aku terkejut dengan kekuatan OSIS … tetapi mungkin Ketua Minato justru merasa rumit karena mereka hanya bisa melakukan hal sebesar itu.
…I tu adalah pembicaraan yang membuatku merenung.
Namun, bukannya berarti aku bisa mengada-ada dalam isi laporan. Waktu menuju masa pemilihan sudah semakin dekat, dan meskipun aku mengubah cara hidupku sekarang, aku tidak bisa menjamin kepada siswa lain bahwa itu akan berlanjut setelah aku menjadi anggota OSIS.
Aku memutuskan untuk menuliskan diriku yang sebenarnya dalam laporan penelitian mandiri.
Aku akan melakukan apa yang harus dilakukan dengan sebaik-baiknya.
“D alam percakapan tadi … ”
Hinako berkata dengan suara pelan.
“ Aku merasa sedikit mengerti tentang jenis wakil ketua macam apa yang ingin kamu capai, I ts uki. ”
“ …Be narkah ? Sej ujur nya, aku juga belum benar-benar memutuskan dengan jelas. ”
Hinako menggelengkan kepala mua.
“ Jika
I ts uki menjadi wakil ketua… kamu ingin membantu ketua OSIS, ‘ kan? ”
Setelah mendengar perkataannya … mungkin itu benar.
Mendukung dan membimbing. Visi seperti itu memang ada.
Saat aku merenungkannya, Hinako tiba-tiba mendekatkan tubuhnya kepadaku.
“ H i -Hinako? ”
“ …Jangan lupakan untuk mengasuh ku juga, ya. ”
Apa dia merasa cemas seperti itu…?
“ Tentu saja aku tidak akan melupakanmu. ”
“ …Hmm. ”
Saat aku memberitahunya dengan suara pelan agar orang lain tidak mendengarnya, Hinako menjauh dariku dan menjawab begitu dengan wajah yang terlihat puas.
Tentu saja aku tidak akan melupakan nya.
Karena alasan aku ingin menjadi pengurus OSIS i alah untuk menjadi orang mumpuni yang bisa tetap berada di samping Hinako setelah lulus dari akademi.
Aku tidak menganggap menjadi pengurus OSIS sebagai batu loncatan.
Namun, terlepas dari itu, penting juga untuk memandang ke depan.
“ … Ah iya. Hinako, jika kamu tidak keberatan, apa kamu bisa mengajarkanku tentang manajemen bisnis ? ”
“ Manajemen bisnis …? ”
“ Ya.
Game manajemen sudah selesai, tetapi aku ingin terus belajar tentang manajemen bisnis.
Jika ada buku referensi yang kamu gunakan, aku ingin meminjamnya. ”
“ Hmm, baiklah. Aku punya banyak, jadi aku akan memeriksanya di kamar ku dan mencarikannya. ”
Banyak, ya…
Walaupun a ku sudah menyadari nya, tetapi memang kemampuan manajerial Hinako yang aku saksikan langsung saat game manajemen bukanlah sesuatu yang bisa dicapai dalam semalam.
Berapa tahun lagi aku harus menunggu hingga bisa menyusul pencapaiannya?
Tidak, bisa jadi bukan hanya aku tidak bisa menyusul, tapi jarak di antara kami malah semakin jauh.
Sudah kuduga, bisa berdiri setara di samping Hinako memang sangat sulit.
Itulah sebabnya… ini menjadi tantangan yang menarik.
Bab 2 — Wawancara dimulai
Bagian 3
Malam harinya. Aku dan Hinako makan malam berdua seperti biasa.
“ Hinako… ayo makan sayurnya dengan baik. ”
“ …Ketahuan. ”
Hampir saja.
Jika aku lengah sedikit, dia akan mencoba menaruh sayuran yang tidak disukainya di piringku. Belakangan ini, dia sering menyerah dan agak terpaksa memakannya, tetapi sekitar setiap tiga hari sekali dia akan mencoba nya lagi.
Mungkin saja dia sudah berhasil melakukannya beberapa kali tanpa aku sadari.
(Eh? Rasa ini…)
Menu makan malah yang disajikan hari ini lebih condong ke masakan Jepang. Setelah mencicipi sayur bayam yang terasa seperti hidangan dari ryotei dengan kerang, aku tiba-tiba menyadari ada rasa yang familiar.
“ Shizune-san. ”
“ Ya. ”
“ Apa jangan-jangan Yuri ada di sini? ”
Aku bertanya kepada Shizune yang berada di samping ku.
Shizune tampak sedikit terkejut.
“ Kamu bisa menge tahu inya dengan baik, ya. ”
Rasa bumbunya mirip dengan masakan di rumah Yuri.
Tepat saat aku dan Hinako selesai makan malam. Hinako biasanya hanya bersantai setelah makan, jadi aku memutuskan untuk bertemu Yuri sejenak.
Saat menuju ke area dapur, aku melihat Yuri yang sudah berganti pakaian dan ber siap untuk pulang.
“ Yuri. ”
Aku menghampiri dan memanggil Yuri yang berbalik ke arahku.
“ Seharusnya kamu bilang kalau datang. ”
“ Lagipula, aku datang ke sini karena pekerjaan. Selain itu, kita bisa bertemu lagi besok. ”
Itu memang benar, tetapi…
“ Nah, selain itu juga… aku hanya ingin berusaha sedikit diam-diam. ”
“ Berusaha?
…Ngomong-ngomong, hari ini adalah hari Jumat, ‘kan ? Bagaimana dengan s ekolah mu ? ”
“Sekarang h ari terakhir ujian tengah semester.
Aku sudah menyelesaikannya di pagi hari, jadi aku datang ke sini di sore hari. ”
Setelah dia bilang begitu, aku jadi baru meng ingat nya. Memang ujian tengah semester di sekolah itu biasanya di sekitar waktu sekarang.
“Jadi s etelah ujian selesai, kamu langsung datang untuk bekerja, ya? ”
“ …Ya, begitulah. ”
Yuri tersenyum lembut dan mengangguk.
“ Ka tanya ka mu juga mendapatkan hasil yang baik dalam game manajemen, ‘ kan? ”
“ …Mungkin. ”
“ Apa maksud mu dengan 'mungkin' ? Kamu masih saja selalu merendah seperti biasa ketika menyangkut dirimu sendiri. …Jadi, kamu sudah semakin dekat untuk masuk ke d alam OSIS,
‘ kan? ”
“ Ya, begitulah. Tapi aku masih belum bisa lengah. ”
Tidak ada artinya jika aku tidak menang dalam pemilihan OSIS yang akan datang, jadi aku masih harus waspada. Namun, fakta bahwa aku sudah lebih dekat untuk masuk ke d alam OSIS memang tidak bisa dipungkiri lagi. Jika tidak, mana mungkin aku akan dipanggil oleh
Ketua Minato.
“Setelah mengetahui semua hal itu, aku juga mulai berpikir… bahwa aku tidak boleh kalah. ”
Yuri berkata dengan suara pelan.
Ternyata, ada alasan tertentu mengapa dia mulai bekerja segera setelah ujian selesai. Yuri tampaknya berniat pulang tanpa berbicara denganku hari ini, tetapi karena semangat bersaing yang dia miliki, dia merasa sedikit canggung untuk bertemu denganku.
Bukan hanya aku… Yuri juga adalah orang yang berusaha keras menuju tujuannya.
Tujuan Yuri adalah menjadikan restoran keluarga mereka, Hiramaru, sebagai restoran ritel nasional. Itu pasti sama sulitnya dengan impianku untuk menjadi konsultan dan mendukung Hinako dan yang lainnya.
“ …Aku akan mendukungmu. ”
“ Tidak perlu. Sebagai gantinya, mari kita berdua berusaha sekuat tenaga. ”
Ketika Yuri berkata begitu, aku tidak bisa menahan tawa.
Memang begitu.
Yuri memang memiliki sifat seperti ini.
“ Ngomong-ngomong, apa yang kamu lakukan belakangan ini? ”
“ Belakangan ini… aku sedang diwawancarai. ”
“ Wawancara? ”
Setelah aku menjelaskan situasinya, Yuri menunjukkan ekspresi yang menarik.
“ Oh ~~~~ jadi kamu sedang diwawancarai oleh OSIS, ya? ”
“Lebih tepatnya, aku hanya diamati dari jauh… ”
Namun, mungkin wawancara pada dasarnya memang seperti itu. Meskipun tidak ada foto yang diambil, pasti banyak informasi yang dikumpulkan.
“Kalau begitu, sekarang aku punya pertanyaan untuk Tom o nari-san! ”
Yuri mengangkat kepalan tangan nya sebagai pengganti mikrofon dan mendekatkannya kepadaku.
“ Jadi, apa rahasia di balik pencapaian bagus dalam game manajemen!? ”
“ Itu… jika boleh terus terang, aku merasa bahwa semua pengalamanku sebelumnya sangat membantu. Aku telah banyak dibantu oleh orang-orang yang terlibat sebelum permainan. Aku sangat berterima kasih kepada mereka. ”
Aku menjawab sesuai dengan suasana Yuri.
“ Kalau berbicara tentang orang -orang yang dekat dengan Tom o nari-san, aku teringat pada Konohana-san.
Sepertinya kalian berdua berdiskusi di depan semua orang di akhir permainan! Bagaimana perasaanmu saat itu? ”
Kenapa dia bisa tahu tentang itu?
Apa
Hinako sendiri yang membicarakannya? Belakangan ini, mereka berdua memang akrab.
“ Sejujurnya, aku merasa tegang. Rasanya berbeda dari biasanya, dan aku merasa dia bukan Konohana-san yang aku kenal. …Tapi, sifat Konohana-san tidak berubah, ‘ kan? Karena kami sudah akrab, kurasa aku bisa berbicara dengan lebih santai dibandingkan dengan orang lain. ”
Meskipun dia beralih menjadi mode Ojou-sama, aku tahu sifat asli Hinako dan juga masalah yang dia hadapi saat itu. Jadi, kupikir aku bisa berbicara dengan
Hinako sampai batas tertentu.
“ Tapi, jika kamu melakukan aksi besar seperti itu, kamu pasti akan menarik banyak perhatian,
‘kan ! ”
“ Ya h, mungkin sih. ”
“ Apa jangan-jangan, kamu juga semakin sering didekati oleh lawan jenis~? ”
Yuri berkata demikian sambil tersenyum nakal, mendekatkan kepalan tangannya yang dibuat seperti mikrofon.
Aku mengalihkan pandangan ku.
“ ………………Tidak, bukan seperti itu. ”
“ Apa -apaan itu? Kenapa ada jeda seperti itu? ”
Yuri menatapku dengan serius.
“ Eh?
Hah? Apa maksudnya? Apa hanya aku yang berusaha keras? ”
“ ………………Tidak, bukan berarti aku terjebak dalam hal itu… ”
“Apa maksudnya dengan h al itu? ”
Gawat. Apa pun yang aku katakan hanya akan membuat aku terjerat lebih dalam.
“ S e - S epertinya sudah saatnya k amu pulang, ‘kan ? Waktunya juga s udah larut malam… ”
“ Ugh…!!
Y- Y a, itu benar, tapi…!! ”
Mungkin mobil jemputannya sudah menunggu.
Jika aku bisa memperpanjang pembicaraan ini, Yuri tidak punya pilihan selain pulang.
…Pertarungan ini, aku berhasil m em enang kannya.
“ Hirano-san.
Mobil nya sudah siap… ”
Shizune-san datang. Sepertinya Yuri akan pulang sekarang. Melihat ekspresi Yuri yang tampak frustrasi, aku pun merasa lega.
Namun,
Shizune-san melihat kami berdua dan berkata,
“ …Sepertinya kalian sedang asyik berbincang, jadi apa kamu juga ingin ikut naik mobil, Itsuki-san ? ”
“ Eh? ”
Tiba-tiba bantuan datang dari tempat yang tidak terduga. Bukan untuk diri ku, tetapi untuk Yuri.
Yuri kemudian tersenyum jahat.
“ Mari kita lakukan itu. Iya ‘k an,
I ts uki…? ”
“ Tidak, eh, tunggu dulu sebentar… ”
◆◆◆◆
“ Hmm… jadi, kamu cuma semakin sering didekati oleh lawan jenis, dan tidak ada kejadian lebih lanjut selain itu, ya? ”
“ …Ya, kurang lebih seperti itu. ”
Di dalam mobil yang luas, aku diam-diam mengelap keringat dingin agar Yuri tidak menyadarinya.
(…Aku berhasil meng elabuinya )
Setidaknya, aku bisa menyimpan rahasia bahwa Narika mengungkapkan perasaannya kepadaku untuk saat ini.
Laju m obil akhirnya berhenti. Aku tidak menyadari bahwa kami sudah sampai di tujuan karena aku mati-matian berusaha untuk menghindari serangan rentetan pertanyaan
Yuri.
Setelah Yuri mengucapkan terima kasih kepada sopir dan keluar dari mobil, aku juga keluar dari mobil.
“ Aku akan mengantar mu. ”
Sopir menjawab singkat, “ Baik, terima kasih. ” Tidak perlu menggunakan nada formal seperti itu kepadaku yang hanya pelayan… Tapi, memang begitulah keluarga Konohana.
Sopirnya juga sangat sopan.
Ketika aku turun dari mobil, Yuri melihatku dengan sedikit terkejut.
“P a dahal kita bisa berpisah sampai di sini saja. ”
“ Tidak, mumpung ada di sini, aku jadi ingin melihat -lihat se bentar tempat ini. ”
“ Apa?
Kamu merasa n ostalgia? ”
“ Entahlah.
Aku baru saja mengunjungi tempat ini di musim panas, jadi aku tidak merasa nostalgia… ”
Sambil berjalan menuju rumah Yuri, aku melihat pemandangan kota.
“ …Rasanya seperti tempat tinggal di masa lalu. ”
Yuri memiringkan kepala nya sedikit. Rasanya s ulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, tapi jika aku harus menjelaskan lebih detail…
“Aku m emang dibesarkan di kota ini… tapi ada perasaan aneh bahwa tempat tinggalku yang sekarang bukan di sini. ”
“ Hmm.
…Apa itu hal yang baik? ”
“ Mungkin. ”
Mungkin bisa juga disebut sebagai perasaan asing. Aku merasakan nostalgia, tetapi keberadaanku di sini terasa sangat aneh. Di akhir musim panas, aku memutuskan untuk bertahan hidup di dunia masyarakat kelas atas di mana Hinako dan yang lainnya berada. Dengan tekad semacam itu, aku berusaha keras dalam game manajemen.
Mungkin itulah sebabnya. Ini bukan tempatku yang sekarang… ini hanyalah masa lalu.
Seolah membuktikan hal itu, sekarang aku memiliki masalah baru yang tidak pernah bisa aku hadapi di masa lalu.
Narika.
…Bagaimana aku harus menjawab perasaan gadis itu?
Apa aku boleh menjawabnya? Aku masih belum tahu.
K etika aku masih tinggal di sini dulu, aku bahkan tidak bisa mengkhawatirkan hal-hal seperti mencari nafkah. Kenyataannya, aku menolak pengakuan seorang gadis karena alasan “ aku tidak ingin melibatkan nya ke dalam lingkungan keluarga ku. ”
Sekarang, aku tidak bisa menggunakan alasan itu.
Itulah sebabnya aku bingung.
(… Ya ampun, padahal Yuri ada di sini.)
Ini bukan waktu untuk merenung dalam keheningan. Jika tidak hati-hati, semua usahaku untuk mengelak akan sia-sia. Sambil berpikir bahwa aku harus memilih situasi untuk bingung, aku mencari topik lain.
“ Ngomong-ngomong, bagaimana hasil ujianmu? ”
“ Mungkin, tidak buruk. Kurasa kali ini aku akan masuk peringkat atas. ”
“ K amu hebat sekali. Belajar masak dan belajar di sekolah, kamu bisa mengimbangi keduanya. ”
“ Tentu saja. Aku tidak ingin dianggap mengabaikan hal lain demi masak. …Meskipun, aku memang merepotkan banyak orang. Bahkan s epertinya koki di keluarga Konohana tidak seharusnya dipekerjakan hanya dua hari dalam seminggu. ”
“ Eh, masa ? ”
“ Sepertinya mereka biasanya tinggal di tempat. Tidak ada orang lain yang bekerja hanya pada akhir pekan seperti aku, jadi kadang-kadang aku merasa sedikit bersalah. ”
“ …Yah, karena kamu juga harus bekerja di restoran keluarga mu. ”
Bukan hanya di bidang akademis. Yuri men gemban tiga tanggung jawab : nilai akademis, membantu di restoran keluarganya, dan menjadi koki di keluarga Konohana. Oleh k arena itu, waktu yang bisa dia alokasikan untuk masing-masing pasti akan berkurang.
“ Jangan salah paham. Aku memang merasa bersalah, tapi bukan berarti aku merasa khawatir. ”
“ …Maksudnya? ”
“ Semua i tu merupakan keputusan yang aku buat sendiri. Aku memang sangat ambisius, jadi aku akan hidup dengan mengutamakan diri sendiri. ”
Yuri mengatakan itu dengan senyuman berani.
Meskipun dia mengutamakan dirinya sendiri, aku tidak merasakan bahwa dia egois, karena Yuri memiliki tujuan yang tinggi. …Mengubah restoran lokal menjadi jaringan ritel nasional adalah impian banyak koki dan juga ambisi yang besar tanpa kesadaran diri. Tentu saja, tujuan seperti itu tidak bisa dicapai tanpa mengutamakan diri sendiri.
Namun… mendengar kata-kata Yuri, aku mengerutkan dahi.
“ …Entahlah. ”
“ Eh? ”
“Kamu memang mungkin ambisius, Yuri. Tapi… di akhir, ada juga sisi lembut yang cenderung mengalah. ”
“ Benarkah?
Aku tidak menyadari hal itu. ”
“ Dulu, ketika kita makan ayam goreng bersama, kamu sering memberikan potongan terakhir padaku, ‘ kan? Padahal itu juga makanan favoritmu, tapi kamu melihat aku sedang lapar. ”
“ Itu memang benar, tapi skala ceritanya terlalu kecil. ”
Apa iya begitu?
Aku percaya bahwa sifat asli seseorang justru terlihat dari hal-hal kecil seperti itu.
“ …Rasanya sudah lama kita berbincang santai seperti ini. ”
Yuri mengatakan itu dengan sedikit perasaan nostalgia.
“ Benar juga. Meskipun kita bertemu setiap akhir pekan, tapi tidak ada waktu untuk bersantai. ”
“ Kita berdua memang sama-sama sibuk.
…Mengenai percakapan sebelumnya, aku sudah diizinkan untuk bersikap egois, jadi aku tidak bisa terlalu terbuka untuk istirahat. ”
Di tengah orang-orang yang bekerja tinggal di tempat, dia sendiri hanya bekerja dengan nuansa seperti pa ruh waktu dua hari. Dia sudah merasa bersalah, dan di atas itu, dia tidak bisa menunjukkan sikap santai di depan orang lain… tampaknya Yuri berpikir demikian.
Namun, dari sudut pandang seseorang yang bekerja tinggal di rumah Konohana, aku merasa pemikiran Yuri adalah kekhawatiran yang tidak perlu. Bagaimanapun, lingkungan kerja di rumah
Konohana sangat baik. Gaji, keseimbangan pekerjaan dan ke hidup an, dan hubungan antarmanusia semuanya memuaskan. Semua orang bekerja di s ana karena mereka meny uka inya, jadi aku rasa tidak ada yang merasa iri dengan situasi Yuri. Sebaliknya, mereka mungkin memahami kesulitan Yuri dan mendukungnya.
Meskipun begitu, aku juga bisa mengerti pemikiran Yuri yang khawatir tentang pandangan orang lain.
“ …Kalau begitu, mau mampir ke dalam kamarku lain kali? ”
“ …Ha e ? ”
Ketika aku mengucapkan ide yang terlintas di benakku,
Yuri mengeluarkan suara aneh.
“ Kalau kamu butuh tempat untuk bersantai tanpa khawatir dilihat orang lain, kamu bisa meng gunakan kamarku. Lokasi kamar ku bisa kamu tanyakan kepada Sh izu ne-san. ”
“ …Kamu ini. Hal seperti itu tidak bisa diucapkan kepada se mbarang orang. ”
“ Aku tahu. Makanya aku hanya mengatakan itu kepadamu, Yuri. ”
“~~~~ !
Sudah lah !! ”
Entah kenapa, Yuri justru merasa marah dan menginjak-injak tanah.
S elagi kamu terus berbincang seperti itu, kami sudah sampai di depan rumah Yuri.
Yuri yang wajahnya memerah bahkan di malam yang gelap, menoleh ke arahku.
“Kalau gitu, sampai jumpa besok! ”
“ Sampai jumpa besok. ”
Yuri pergi dengan langkah lebar. Sebelum dia pergi, aku menambahkan satu kalimat.
“ Kamu bisa datang kapan saja, ya~! ”
“ A ーーーーー !
Berisik!! Terima kasih!! ”
◇◇◇◇
(Sudut
Pandang Hinako)
Sementara itu, di tempat lain――.
Setelah makan malam dan perutnya kenyang, Hinako biasanya langsung melompat ke tempat tidur tanpa memperhatikan sekeliling, tetapi hari itu dia diam-diam sedang merapikan isi rak buku nya.
Dia mengambil beberapa buku yang berdebu dan membawanya ke meja.
“Fyu h… akhirnya bisa dikeluarkan semuanya. ”
Merasakan sedikit kepuasan, dia menghapus keringat yang mengalir di dahinya dengan punggung tangan. Dia mengambil b uku referensi tentang manajemen yang diminta oleh Itsuki dari rak buku.
Mungkin ada sekitar lima puluh buku semuanya. Banyak buku yang dibuang, dan beberapa yang diselesaikan dalam bentuk e-book, jadi hanya segini yang bisa disiapkan saat ini. Karena sudah berdebu, buku-buku ini adalah yang tidak pernah dibaca sama sekali belakangan ini, tetapi dulu adalah buku-buku yang dibaca dengan tekun atas perintah ayahnya. Memikirkan hal itu membuat Hinako merasa terikat… meskipun tidak juga. Itu adalah belajar yang merepotkan.
“ A ku penasaran, apa Itsuki akan merasa senang… ”
Dalam pikiran nya, Hinako membayangkan sosok Itsuki yang menerima buku referensi itu.
Itsuki pasti akan senang. Dengan semangatnya yang tinggi, begitu melihat tumpukan buku referensi ini, ia pasti langsung bersemangat dan menempel di meja belajar.
Selain itu, semua upaya yang dilakukan Itsuki merupakan demi Hinako.
I a akan belajar demi diriku.
“ …Nfufu. ”
Hinako tersenyum lebar ketika m erasakan ikatan yang kuat antara dirinya dan pengurus nya.
Meskipun masih terlalu awal untuk tidur, karena banyaknya buku referensi, jadi dia berpikir kalau lebih baik menyerahkannya besok. …Setelah menyelesaikan pekerjaan, Hinako akhirnya terbaring di tempat tidur dan menggulingkan tubuhnya.
Sambil memeluk bantal, dia mengingat interaksinya dengan Itsuki hari ini.
―― Mana mungkin aku melupakan nya.
Meskipun di riny a menjadi wakil ketua, sepertinya
Itsuki tidak akan melupakan tugasnya sebagai pengurus.
Mendengar suara seriusnya, semua kekhawatiran yang ada di dalam hati Hinako lenyap sepenuhnya.
(Itsuki hari ini juga sangat keren~~…)
Dia memeluk bantalnya lebih erat.
Itsuki selalu keren. Setiap hari, ia menunjukkan berbagai sisi keren.
Dari cara di riny a serius mengikuti pelajaran.
Saat ia tertawa bahagia bersama teman-temannya. Ketika ia diam-diam keluar dari kelas untuk makan siang berdua. Saat ia mendengarkan pemikiran ketua OSIS dan menyampaikan jawabannya sendiri. Semuanya, semuanya, keren.
(…………Kenapa,
Itsuki bisa begitu keren…?)
Tiba-tiba,
Hinako berpikir dengan tenang.
Rasanya s angat aneh.
Mungkin
Tuhan menciptakan dirinya dengan perasaan khusus.
“ Tapi… ”
Tiba-tiba,
Hinako jadi teringat.
Itu adalah kata-kata yang dia dengar di akademi hari ini.
――Eh mm, Tenno u ji-san… apa jangan-jangan kamu berkencan dengan Tomonari-kun saat game manajemen…!?
Hal itu diucapkan oleh seorang gadis teman sekelas di kelas.
――Eh, apa-apaan dengan suasana i tu ? Jangan-jangan
Tomonari-kun sebenarnya tidak ada hubungan dengan Tenno u ji-san, melainkan dengan Miy akoj ima-san…?
A tau seperti yang diucapkan Asahi-san di acara pesta teh.
“ Mmm…… ”
Hinako k adang-kadang jadi berpikir.
B ukanya b elakangan ini, rumor tentang
Itsuki… terlalu banyak mengenai hubungan nya dengan wanita?
Meskipun di riny a tidak mengatakannya di acara teh, tapi Hinako sering mendengar rumor bahwa Itsuki tidak hanya bersama Tenno u ji-san dan Miy akoj ima-san saja, tetapi juga dengan berbagai gadis lainnya. Misalnya, ia kedapatan berbicara berdua an dengan Asahi-san di kafe, atau ada yang melihat kalau Suminoe-san membungkuk kepadanya …
Rumor yang sulit dibedakan mana yang benar dan mana yang tidak.
Namun, Hinako tidak pernah mendengar rumor tentang dirinya sendiri.
(Aku juga ingin dirumorkan…)
Hinako meng gembung kan pipinya dengan sebal.
(Aku juga ingin semua orang berpikir bahwa aku memiliki hubungan sesuatu dengan Itsuki…!!)
Sambil terus memeluk bantalnya, dia turun dari tempat tidur dan duduk di depan meja.
Pada jam istirahat siang hari ini, Hinako hampir saja memberitahu wakil ketua bahwa sebenarnya dia makan siang berdua an dengan Itsuki setiap hari. Pada s aat itu, Itsuki dengan panik menghentikannya…
(…… Padahal s edikit saja, tidak apa-apa
‘ kan?)
Hanya sedikit.
Hanya cukup diketahui oleh beberapa orang yang peka untuk menyadari nya …
(Misalnya saja, pergi keluar dengan pakaian ser asi …)
Hinako mencatat rencana yang terlintas di pikirannya di dalam buku catatan.
Menurut shoujo manga, ada sesuatu yang disebut [ pakaian serasi] di dunia ini. Meskipun dia tidak pernah mengenakan pakaian santai di Akademi K ekaisaran, bagaimana jika mereka pergi keluar dengan pakaian sera asi pada hari libur?
(Sekali seminggu, pergi ke sekolah dengan mobil yang sama…)
Saat ini, setelah menuju dekat akademi dengan mobil yang sama, Itsuki akan turun lebih dulu dan berpura-pura berjalan kaki, sementara Hinako berpura-pura bersekolah dengan mobil sampai depan akademi. Namun, jika hanya sekali seminggu, bukankah itu bisa diatur…?
Intinya, selama citra sempurna nya sebagai Ojou-sama tidak rusak, mungkin dia bisa membuat alasan yang tepat setiap kali.
“ Uuuuun ~~ …… ”
Hinako juga ingin dirumorkan.
――Katanya, baru-baru ini Tomonari-kun dan Konohana-san berkencan, lho!?
Seperti itu.
―― Jangan-jangan, mereka berdua sebenarnya s epasang kekasih ……!?
Seperti itu.
Di riny a ingin dirumorkan seperti itu.
(Fufufu…
Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja selama tidak ketahuan …)
Dia akan melakukannya secara diam-diam pada hari sekolah berikutnya.
Setelah memikirkan berbagai rencana, Hinako menutup buku catatannya dan terbaring di tempat tidur.
Saat dia me mejamkan matanya dan berusaha untuk tidur――.
“ Permisi. ”
Pintu kamarnya terbuka, dan Shizune masuk ke dalam ruangan.
“ Malam ini diperkirakan akan dingin, jadi saya membawa kan selimut musim dingin. ”
“ Hmm.
Terima kasih. ”
Hinako tetap berbaring, menarik selimut sampai ke kakinya.
“ Tutupkan selimutnya. ”
“ Baiklah.
Meskipun masih terlalu awal untuk tidur…"
Shizune menutupkan selimut untuknya, lalu Hinako menutupi dirinya dengan selimut yang sudah ada.
Shizune berusaha keluar dari ruangan, tetapi sebelum itu, dia memperhatikan meja
Hinako.
Di atas meja, ada buku referensi tentang manajemen yang baru saja dikeluarkan.
“ Apa
Anda sedang belajar manajemen bisnis ? ”
“ ……Bukan aku. Itsuki yang bilang ingin meminjam buku referensi. ”
“ Oh, begitu. ”
S hizune mengambil satu buku referensi dan membalik-balik halamannya.
“ Aku merekomendasikan Itsuki-san untuk bersantai sampai masa pemilihan… tetapi, tampaknya ia sudah tidak sadar dengan sikap seriusnya itu. ”
“ Hmm.
… Itsuki memang selalu begitu. ”
Namun, karena sebab itu, Itsuki tampaknya terlalu tertekan saat permainan manajemen. Dan sepertinya orang yang menegurnya adalah Tenno u ji-san.
Sayang sekali. …Namun, dalam hal ini, mungkin karena Tenno u ji-san yang berhasil menanganinya dengan baik. Hinako juga mengakui bahwa Tenno u ji-san memiliki sifat yang lebih disiplin dibandingkan siapa pun di Akademi K ekaisaran. Oleh karena itu, dia pasti bisa melihat orang yang terlalu tertekan dan gagal.
(………… meskipun a ku tidak akan mengucapkan terima kasih padanya sih.)
Hinako sadar bahwa dia memiliki sifat yang picik. Tapi dia merasa kesal, dan sepertinya dia belum bisa bersikap jujur untuk sementara waktu.
Karena
Tenno u ji-san yang lebih men d ah ulu inya, jadi semua orang di akademi membicarakan rumor antara Itsuki dan Tenno u ji-san.
Bahkan saat dia ber baring di atas tempat tidur, mungkin ada seseorang yang sedang membicarakan rumor tentang
Itsuki dan Tenno u ji-san. Ketika m emikirkan hal itu, Hinako me rasa sangat gelisah.
Meskipun aku…
Meskipun akulah orang yang paling dekat dengan Itsuki…
“ ……Oh?
Buku catatan ini……? ”
Suara
Shizune terdengar dari arah meja.
Buku catatan? Apa dia meletakkan sesuatu seperti itu di meja…?
“ ……Ah!? ”
Hinako d engan panik segera berusaha menghentikan Shizune. Namun, Shizune sudah membaca isi buku catatan tersebut.
Itu adalah buku catatan yang berisi rencana yang baru saja dia pikirkan.
Setelah membaca isinya, wajah Shizune menjadi tegang dan dia menelan ludah dengan susah payah――.
“ …… Ojou-sama. Apakah ini………… rencana untuk menghancurkan Itsuki-san …? ”
“Bu-Bukan begitu ……!! ”
Mana mungkin dia ingin menghancurkannya.
Namun, jika dipikir-pikir, tidak meng heran kan jika terlihat seperti itu.
Belakangan ini, Itsuki sudah terbiasa di akademi sehingga Hinako hampir lupa bahwa Itsuki sedang menyembunyikan identitasnya.
Jika diketahui bahwa Itsuki tinggal di rumah keluarga Konohana, ia akan dipecat dari tugasnya sebagai pengurus.
“Ojou-sama.
Tolong j angan memberi kode-kodean begini, ya. ”
“ …… Kode-kodean ? ”
Hinako mengerutkan kening mendengar kata yang baru pertama kali di dengar nya.
“ Itu berarti mencoba menyampaikan kepada orang-orang di sekitar kita secara tidak langsung bahwa kita memiliki hubungan khusus dengan orang ini. ”
“B egitu ya. …Memberi kode, ada istilah seperti itu. ”
Dia akan mencarinya nanti.
Mungkin itu adalah ungkapan yang akan muncul dalam manga shoujo.
“ Omong-omong, biasanya yang melakukan memberi kode-kodean begini dalam manga shoujo adalah tokoh antagonis. ”
“ Eh…!? ”
“ Karena itu cara yang berputar-putar dan bisa dianggap sebagai tindakan yang pengecut. Lebih baik jika kita bertindak dengan cara yang lebih terbuka. ”
“ Terbuka… ”
Apa yang dimaksud dengan cara yang tidak berputar-putar dan terbuka?
Mungkin berkencan secara biasa, atau berpegangan tangan dengan normal… seperti itu.
“ Jadi… itu mungkin sedikit… masih terlalu cepat… ”
Wajah Hinako langsung memerah seketika.
Hanya dengan memikirkan hal itu, dia sudah merasa seperti ini. Melakukan tindakan nyata masih terlalu dini.
Melihat
Hinako yang seperti itu, Shizune menunjukkan wajah serius.
“ Pokoknya, apa pun yang tertulis di sini, jangan sekali-kali dilaksanakan. ”
“ Baik… ”
“Ya ampun …
Sej ujur nya, situasi ini sudah cukup membuat banyak petunjuk muncul tanpa perlu me lakukan apa-apa. Jika Anda melakukannya dengan sengaja, itu bisa menjadi bencana besar… ”
Shizune mengusap dahinya dan berkata demikian.
Meskipun sangat di saya ngkan bahwa semua rencana hancur, jika dipikir-pikir, itu memang bisa dianggap ti ndakan pengecut.
Dia harus belajar lebih banyak tentang cinta.
Setelah m emikirkan hal itu, Hinako meraih manga shoujo yang dipinjam dari Yuri yang ada di atas meja.