Chapter 3 — Keretakan
Antara Kakak Beradik
Bagian 1
Hari keempat masa pemilihan.
“Ngantuk banget…”
“Maaf ya,
Hinako. Hari ini juga harus bangun pagi.”
Selama masa pemilihan OSIS, Hinako datang lebih awal ke sekolah untuk menyesuaikan dengan jadwalku.
Aku khawatir dia akan tertidur selama pelajaran, tetapi sepertinya dia bisa menyesuaikan diri dengan tidur lebih awal.
Setelah berpisah dengan Hinako di ruang kelas, aku segera mengambil selebaran yang sudah kusiapkan di dalam tas dan keluar dari gedung sekolah.
Saat aku berpikir kalau hari ini aku akan mulai dengan membagikan selebaran…
“Tomonari-san, bisa kita berbicara sebentar?”
Ada seseorang yang memanggilku dari belakang, jadi aku berbalik.
“Suminoe-san, ada apa?”
Suminoe-san yang baru saja tiba di sekolah mendekat dengan ekspresi serius.
“Tentang pelaksanaan berbagai kursus yang terdapat dalam janji kampanye Tennouji-sama… apakah benar ada biaya pendaftaran yang sangat tinggi?”
“… Hah?”
“Ada beberapa rumor yang beredar sejak kemarin sore. Tadi aku juga melihat beberapa siswa sedang membicarakan hal tersebut saat berjalan di koridor.”
Kami ingin pelaksanaan kursus etika yang dijanjikan oleh Tennouji-san dapat dilakukan tanpa membebani siswa. Namun, ada banyak hal yang tidak bisa diputuskan tanpa berkonsultasi dengan pihak manajemen akademi, dan rincian lebih lanjut tidak bisa dibahas sampai terpilih.
“Itu sama sekali tidak benar. Melaksanakan kursus yang membatasi peserta jelas bertentangan dengan janji kampanye Tennouji-san…”
“… Benar juga.”
Menjadikan akademi tempat di mana semua orang dapat hidup dengan mulia—itulah janji ideal yang diusung oleh Tennouji-san. Jika pesertanya dibatasi, impian ideal tersebut akan hancur. Lagipula, jika siswa di Akademi Kekaisaran ini mengatakan “mahal,” jumlah harganya pasti sangat tinggi. Aku tidak percaya kursus etika akan semahal itu.
Rumor aneh memang bisa muncul. Saat aku berpikir begitu—.
“Ah,
Tomonari-kun.”
Kali ini namaku dipanggil oleh Kita.
Kita mendekat dan melihat wajahku dan Suminoe-san.
“Maaf, apa kalian sedang sibuk?”
“Tidak, tidak masalah. Apa ada yang ingin kamu sampaikan?”
Ketika aku bertanya, Kita menunjukkan ekspresi canggung.
“Jadi, mengenai salon yang ada dalam janji kampanye Miyakojima-san… ada rumor yang mengatakan bahwa itu bersifat undangan, dan hanya siswa dari keluarga tertentu yang dapat masuk…”
Aku bertukar tatapan dalam diam dengan Suminoe-san.
Apa? Apa ada rumor aneh yang beredar di pihak Narika juga?
“… Tidak ada fakta seperti itu.”
“Be-Begitu ya. Aku juga berpikir begitu, tapi…”
Kita menggerakkan bibirnya dengan ragu.
“… Rumor ini sepertinya sudah menyebar cukup luas.”
◆◆◆◆
Istirahat makan siang. Tanpa sempat menghabiskan makan siang, rapat darurat dimulai di koridor lantai dua gedung sekolah.
“… Jadi begitu ya, reputasi buruk kita sudah menyebar.”
Pagi ini a ku sudah menyampaikan informasi dasar, tetapi aku menjelaskan situasi kepada semua orang sekali lagi. Tennouji-san,
Nari ka, Kita, dan Suminoe-san masing-masing mengakui masalah ini.
“Ya. Itulah sebabnya, aku sudah memperbaiki isi pidato. Tolong di periksa sekali lagi.”
Aku memberikan naskah pidato yang sudah direvisi yang aku buat dengan susah payah selama waktu istirahat kepada keduanya. Mungkin kami tidak akan bisa menyesuaikan dengan pidato siang yang dijadwalkan dimulai dalam tiga puluh menit, tetapi aku ingin mereka bisa menyelesaikannya untuk pidato se pulang sekolah. Aku juga sudah meminimalkan perubahannya.
“Maafkan aku karena harus meminta kalian berdua untuk bertindak cepat.”
“ Apa boleh buat.”
“Benar.
Ini bukan tanggung jawab I ts uki.”
Aku sudah memperkirakan mereka akan mengatakan hal itu, tetapi…
“Jika aku menjelaskan semuanya dari awal, mungkin rumor semacam ini tidak akan muncul. Mungkin aku terlalu fokus pada dampak.”
“Jika ada satu hal diuntungkan, maka hal lain akan dirugikan. Jika kita hanya memberikan penjelasan rinci dari awal, pasti semua orang akan merasa bosan.”
B erbeda denganku, mereka berdua sama sekali tidak goyah.
Namun, aku justru merasakan tekanan d ari situasi ini. Menurut berita pemilihan pagi ini, Tennouji-san dan Nari ka masing-masing kehilangan dukungan sebesar 2%, sementara Jo u to berhasil meningkatkan dukungan sekitar 5%. J ika dilihat dari angkanya saja, sepertinya aktivitas Joto lebih sukses dibandingkan aktivitas Tenno u ji-san dan Narika yang bermasalah, namun hubungan sebab akibat dengan rumor tersebut tidak bisa diabaikan.
“Di pidato berikutnya, kita akan menghapus rumor, ‘ kan?
Jika demikian, aku juga berpikir tidak masalah.”
Terlalu banyak berpikir bisa mengganggu semangat positif keduanya, jadi aku harus berhati-hati…
Namun, seharusnya hari ini mereka berbicara tentang janji kampanye yang telah direvisi. Kami terpaksa menurunkan ritme karena dikejar oleh rumor yang tidak berdasar.
“ Secara spesifiknya, rumor sepert apa yang beredar?”
“Rumor yang sangat dangkal.”
Suminoe-san m enjawab pertanyaan Tennouji-san dengan ekspresi menyesal.
Aku sudah menjelaskan tentang rumor bahwa biaya kursus etika sangat tinggi. Selain itu…
“Misalnya, ada juga rumor bahwa pengajar tamu yang diundang adalah orang yang memiliki hubungan dengan Grup Tennouji, dan mereka hanya ingin menguntungkan diri mereka sendiri…”
Itu terlalu dangkal.
Mana mungkin
Tennouji-san berpikir an seperti itu.
“Selain itu, jika dipikirkan dengan tenang, ada rumor yang mengatakan bahwa rambut pirang nya itu bukan warna asli…”
“ I-I-I-I-I-Itu sama sekali tidak benar desuwa !?”
Itu adalah rumor yang cukup peka.
Atau lebih tepatnya, bukannya itu sudah tidak ada hubungannya dengan pemilihan OSIS …
“Kita harus makan siang, jadi mari kita bubar dulu untuk sekarang. Kita mel anjutkan nya lagu setelah sekolah.”
Rapat darurat ditutup di sini. Kami sudah menghabiskan cukup banyak waktu. Pidato tinggal dua puluh menit lagi. Seberapa banyak naskah pidato yang telah direvisi bisa mereka ingat sampai saat itu?
Setelah masing-masing dari kami bubar, saat aku hendak kembali ke kelas, aku menyadari bahwa Asahi-san sedang memperhatikanku.
“Asahi-san?
Ada apa?”
“Ah, eh m … tidak, bukan apa-apa.”
Dia terlihat tidak baik-baik saja, tetapi Asahi-san mengalihkan pandangannya dan keluar meninggalkan kelas.
Apa dia khawatir karena kami berbicara dengan serius?
(… Kurasa aku juga harus bergabung dengan Hinako.)
Hinako seharusnya sudah menuju ke gedung bekas OSIS … tetapi karena dia gampang sekali tersesat, aku sudah bilang padanya untuk berhenti jika dia merasa bingung.
Saat aku keluar dari gedung sambil membawa bento di tangan, aku menemukan Hinako. Setelah memastikan tidak ada orang di sekitarnya, aku memanggilnya dengan nada suara yang biasa.
“Maaf,
Hinako. Aku membuatmu menunggu.”
“Hmm…”
Ekspresi
Hinako saat dia menoleh menunjukkan bahwa dia tampak lebih lelah dari biasanya.
“…… Ap a ada sesuatu yang terjadi?”
“…… Tidak apa-apa.”
Apa ada sesuatu yang terjadi saat dia menungguku?
Untuk sementara ini, aku mulai berjalan menuju tempat biasa kami.
“Apa ka lian akan makan siang sekarang?”
Aku dihampiri oleh seorang siswa laki-laki dengan rambut acak-acakan, dan aku menghentikan langkahku.
“ Jo u to-kun…”
“Senang bertemu denganmu, Tomonari-kun.”
Sepertinya ia juga mengenali wajahku. Jo u to menyapa kami dengan ramah.
Ketika aku mendengarkan pidatonya, aku tidak bisa melihatnya dari jarak jauh, tetapi saat ia berdiri di dekatku, tubuhnya lebih tinggi dari yang aku bayangkan. Apa ia juga berolahraga? Meskipun rambutnya terlihat acak-acakan, jika dilihat lebih dekat, rahangnya terlihat tajam dan memiliki fitur wajah yang menonjol.
“Boleh aku berbicara sedikit dengan Konoh ana-san?
Sambil makan siang. Tentu saja, kamu juga bisa ikut an, Tomonari-kun.”
Sembari mengatakan itu, Joto mengangkat bento yang dipegangnya dengan ringan.
Akademi
Kekaisaran seharusnya ada kantin dengan koki-koki terbaik, tetapi sepertinya Jo u to juga memilih bento seperti kami.
Aku melirik Hinako, dan dia tampak lelah. … Aku juga ingin merapikan pikiranku, dan sepertinya tidak akan ada waktu untuk berbicara lama. Maaf, tapi aku akan menghindar.
“ Maaf.
Kami ingin beristirahat dengan tenang selama waktu istirahat.”
“……
Begitu ya. Kalau begitu, setidaknya izinkan aku berbicara selama tiga menit di sini.”
Tiga menit saja, ya … pikirku, mau tak mau aku merasa bahwa waktu tiga menit saja tidak masalah tapi ini tergantung pada Hinako.
Hinako mengangguk pelan. Jika dia terlalu keras kepala menolaknya, itu akan terasa tidak wajar, jadi tidak ada pilihan lain.
“Aku rasa kamu sudah ditanya berkali-kali, tapi… kenapa kamu tidak mencalonkan diri sebagai ketua?”
Ekspresi
Hinako sedikit tegang. Dari situ, aku menyadari alasan mengapa Hinako tampak lelah. Dia pasti sudah ditanya mengenai itu terus-menerus. Tanpa sepengetahuanku,
Hinako telah ditanya oleh berbagai siswa mengapa dia tidak ingin menjadi ketua.
Tentu saja dia merasa terbebani…
Namun, sekarang dirinya sedang di depan umum. Dia tidak bisa meruntuhkan citra nya sebagai
Ojou-sama yang sempurna.
“ Aku menjawab kepada semua orang dengan cara yang sama, yaitu karena urusan keluargaku sibuk. Tidak ada alasan lain.”
Hinako menjawab dengan lembut. Namun, Jo u to tidak mundur.
“Tapi, aku meyakini kalau Konoh ana-san pasti bisa memimpin akademi ini ke arah yang benar lebih da t ri siapa pun. … Bisakah kamu memikirkan nya kembali?
Meskipun mencalonkan diri pada waktu seperti ini mungkin belum pernah terjadi sebelumnya, seharusnya tidak ada masalah menurut aturan. Jika Konoh ana-san mencalonkan diri sekarang, kamu bisa mengumpulkan suara.”
Oi, oi, oi …
Jangan-jangan, ia benar-benar menyuruh Hinako untuk mencalonkan diri sekarang…?
Jika dilihat dari raut wajah Jo u to, sepertinya ia memang serius.
Hinako yang biasanya berperilaku seperti Ojou-sama pun tampak ke bingung an dengan ini.
Sepertinya aku perlu memberikan bantuan…
“ Karena orang y ang mencalonkan diri sebagai ketua adal ah kamu sendiri, bukannya peran untuk memimpin akademi seharusnya diambil oleh dirimu,
Jo u to-kun?”
“Itu…”
Tentu saja, aku ingin menyerahkan peran itu kepada Tennouji-san atau Narika…
Ekspresi Jo u to tampak gelisah, ia mengalihkan pandangannya tanpa arah.
“…… Aku tidak yakin bisa melakukannya sebaik Konoh ana-san.”
Jouto mengatakan itu s ambil menatap lantai.
Eh, apa yang barusan ia katakan…
Pernyataan itu seharusnya tidak diucapkan oleh seseorang yang mencalonkan diri sebagai ketua OSIS.
Bagaimana jika orang yang mendukung Jo u to mendengar kata-kata ini?
“ Aku merasa sangat tersanjung bahwa kamu memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap diriku.”
Hinako sedikit menundukkan kepalanya.
“Tapi, aku juga memiliki banyak hal yang harus dilakukan. Aku tidak akan membiarkan diri ku malas, jadi tolong percayalah pada itu.”
“…………
Mengerti.”
Mungkin karena melihat sikap Hinako, Jo u to merasa bahwa mustahil untuk terus meyakinkannya, jadi dirinya mengangguk sambil menggigit bibirnya.
Setelah itu, Jo u to melihat ke arahku.
“Tomonari-kun.
Aku rasa sulit untuk mendukung dua orang sekaligus, tapi semoga kamu berhasil.”
“……
Terima kasih.”
“Sepertinya ada rumor aneh yang beredar sekarang. Jika di perlu kan, aku akan memperbaikinya dalam pidato.”
“Memperbaiki?
Jo u to-kun yang akan melakukannya?”
Seharusnya kami bersaing untuk merebut kursi ketua OSIS yang sama.
Meskipun kami menginginkan persaingan yang adil, bukanlah tindakannya terlalu baik?
Seolah -olah bisa membaca keraguanku, Jo u to tersenyum dengan ragu.
“…… Ak u hanya berpikir bahwa selama akademi ini bergerak ke arah yang lebih baik, siapa pun yang menjadi ketua OSIS sama sekali tidak masalah.”
Jouto berkata demikian d engan suara yang tidak bersemangat dan sikap yang agak lemah. Mungkin di riny a berpikir bahwa karena ia sudah melihat gambaran besar nya, tidak perlu baginya untuk melakukannya. Meskipun aku merasakan ketidaknyamanan dari sikapnya yang terkesan seolah -olah itu bukan urusannya, aku merasa pernah mendengar pernyataan itu sebelumnya.
“Rintarou juga pernah mengatakan hal yang serupa.”
“…… Apa kamu pernah berbicara dengan Rintarou? Ya, ia juga memiliki pemikiran yang mirip denganku.”
Jo u to menghela napas dalam-dalam.
“Maaf telah mengganggu waktumu.”
Jo u to kembali ke arah gedung sekolah.
Aku dan
Hinako mengantarnya dengan tatapan.
“…… Aku pernah sekali direkrut ke pihak sana.”
“Eh, masa …?”
Aku mengangguk kepada Hinako yang terkejut.
“Tapi, meskipun begitu…”
“…… Hmm.
Ada yang aneh.”
Sepertinya
Hinako juga merasakan ketidaknyamanan. Meskipun ia berusaha merekrut orang lain, sikapnya tidak terlihat terlalu aktif dalam pemilihan.
Sebenarnya, sampai saat ini, bukan hanya soal keaktifan saja …
“…… Apa
Jo u to benar-benar ingin menjadi ketua OSIS ?”
◆◆◆◆
Pagi hari, hari kelima masa pemilihan.
Hari ini, sama seperti biasa, aku berangkat lebih awal ke sekolah dan memeriksa perubahan tingkat dukungan melalui berita pemilihan.
(……
Hampir sama dengan kemarin)
Tidak ada perubahan besar. Tennouji-san memiliki 39%, Narika 35%, dan Jo u to 26%.
Tingkat dukungan yang diumumkan dalam berita adalah hasil penghitungan dari hari sebelumnya. Karena tidak ada perubahan besar dalam kegiatan pemilihan kami dan
Jo u to kemarin serta hari sebelumnya, bisa jadi alasan penurunan tingkat dukungan yang diumumkan sebelumnya adalah karena rumor buruk.
Namun, rumor buruk yang beredar di sekolah seharusnya sudah bisa diatasi melalui pidato kemarin. Saat istirahat siang dan se pulang sekolah, aku mendengarkan pidato keduanya, dan mereka bisa menjelaskan dengan baik bahwa rumor itu salah. Tingkat dukungan yang turun akibat rumor buruk seharusnya kembali normal begitu diketahui bahwa itu hany alah kesalahpahaman. Mungkin besok dukungan mereka akan kembali ke empat puluh persen masing-masing.
(Apa yang membuatku khawatir adalah… Jo u to.)
Aku mulai memikirkan banyak hal s etelah pulang ke rumah kemarin.
Jouto m ungkin sudah menyerah pada pertandingan ini. Tennouji-san dan Narika, keduanya merupakan orang terkenal di akademi. Jadi akan s ulit baginya untuk mengubah tingkat dukungan mereka.
Saat ini, meskipun jarak dukungan menyusut karena rumor buruk, ini sulit untuk dianggap sebagai kekuatan Jo u to.
Jika Jo u to memiliki ambisi untuk menjadi ketua dengan cara apa pun, di riny a pasti akan melihat rumor buruk ini sebagai kesempatan dan berusaha untuk mengumpulkan dukungan secara aktif. Namun, Jo u to kemarin justru tampak bersimpati mendengar rumor buruk tentang kami.
“Tomonari-kun!”
“……
Kita-kun?”
Saat aku sedang membagikan selebaran di lapangan sekolah, Kita berlari mendekat dari arah gedung sekolah. Sepertinya ia berniat untuk mulai membagikan selebaran juga. Di tangannya ada tumpukan selebaran.
“Ada apa?”
“Rumor nya masih belum berhenti sama sekali ! Malah an jadi semakin banyak!”
Kepalaku menjadi kosong seketika.
Rumor buruk tidak berhenti sama sekali ? Kenapa…?
“…… Rumor macam apa yang beredar?”
“Katanya, demi bisa mewujudkan salon, kafe akademi akan dihancurkan. Dan… ada rumor bahwa semua janji kampanye Mi yakoji ima dibuat oleh
Tomonari-kun.”
Apa -apaan itu…?
Kita menjelaskan lebih lanjut tentang rumor buruk yang didengar nya. Semuanya adalah rumor yang sama sekali tidak beredar sampai kemarin.
“Tomonari-san.”
Suminoe-san datang dengan ekspresi serius.
Dari wajahnya, aku bisa menebak keperluannya.
“…… Apa rumor nya masih belum berhenti?”
“Ya.
Kemarin, seharusnya kami telah menangani rumor tersebut, tetapi kini ada rumor lain yang beredar.”
“Bisa kah kamu memberitahuku rumor seperti apa yang beredar ?”
Isi rumor yang diceritakan Suminoe-san benar-benar berbeda dari kemarin, dan ada berbagai jenisnya. Seperti Narika, rumor buruk tentang Tennouji-san juga tampaknya baru menyebar.
Cara penyebaran rumor ini terasa tidak wajar. Seolah-olah keraguan yang sudah ada berkembang menjadi rumor baru, bukan hanya sekadar memperbesar yang sudah ada.
Arah rumor ini tampak liar, dan jika semua ini adalah suara siswa, maka terlalu tidak terarah.
Apa mungkin setelah kami menangani rumor sebelumnya, tiba-tiba muncul banyak rumor baru sebagai penggantinya?
Kemarin, kami telah menyelidiki semua rumor yang beredar di akademi dan memperbaikinya satu per satu. Aku tidak berpikir bahwa setelah kami memperbaiki, semua rumor buruk akan hilang dalam semalam. Namun, mengapa saat ini, pada waktu yang sama, banyak rumor baru yang muncul yang tidak ada sebelumnya?
“Ini…………”
Akhirnya, aku memahami situasi dengan benar.
Ada perasaan bahwa rumor ini disebarkan sedikit demi sedikit. Hal ini membuat kami terus-menerus dikejar untuk menyangkal rumor, sehingga kami tidak bisa fokus untuk meningkatkan kualitas pidato.
Situasi di mana kami terpaksa terjebak adalah sesuatu yang diciptakan secara sengaja.
“………… Ini adalah kampanye negatif.”
Kampanye negatif.
Dengan sengaja menyebarkan citra negatif kekuatan lawan untuk meningkatkan citra mereka sendiri secara relatif. … Ini adalah strategi klasik dalam pemilihan.
Tiba-tiba, aku teringat percakapanku dengan Takuma-san.
— — Ngomong-ngomong, I ts uki-kun. A da sesuatu yang dihilangkan dalam permainan manajemen. Apa kamu tahu apa itu?
A h… aku jadi mengerti sekarang.
Kini, aku menyadari.
Jawabannya adalah――――strategi licik.
Sebuah taktik untuk menjatuhkan orang lain.
Permainan manajemen adalah pertarungan angka. Sistem membedakan antara apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan, dan itu menjadi aturan yang ketat.
Masalah ketika Suminoe-san berusaha mengakuisisi perusahaanku, jika dilihat dari sudut pandang seorang pengusaha, itu adalah strategi yang memiliki peluang sukses.
Itu adalah rencana untuk memperluas perusahaannya, bukan sebuah konspirasi.
Namun sekarang, hal yang kuhadapi saat ini i alah――tindakan jahat yang bisa dibilang sangat keji.
Aku mengira semua siswa d ari Akademi Kekaisaran adalah orang-orang yang berperilaku baik, tetapi… apa pemikiranku itu terlalu naif?
(…… Apa
Jo u to yang menyebarkannya?)
Sekarang setelah aku menyadari bahwa ini merupakan upaya kampanye negatif, pelakunya pasti dari pihak Jo u to.
Namun, di balik banyaknya data rumor yang beredar, aku tidak bisa melihat wajah
Jo u to.
Sepertinya, dalangnya bukan Jo u to.
I a adalah orang yang menyarankan untuk menyangkal rumor kami dalam pidatonya.
Mungkin karena ia tidak bersemangat dalam pemilihan ini, atau mungkin di riny a terlalu baik hati, bagaimanapun juga, aku tidak bisa membayangkan di riny a sebagai pelaku dari kampanye negatif ini.
“Tomonari-kun, ada apa?”
Ketika namaku dipanggil, aku mengangkat wajahku dan melihat Asahi-san yang tampak bingung menatapku.
Asahi-san membawa tas. Sepertinya dia baru saja tiba di sekolah. Di tengah jalan menuju gedung sekolah, dia melihat kami yang memancarkan suasana berat di sudut lapangan, dan tampaknya dia peduli.
“Asahi-san, sebenarnya…”
Karena dia memiliki koneksi yang luas, mungkin Asahi-san bisa memberikan pendapat yang baik tentang bagaimana menangani kampanye negatif ini. Dengan pikiran itu, aku menjelaskan situasinya kepada Asahi-san.
Bahwa h ari ini, rumor buruk baru telah menyebar. Dari situasi yang ada, kemungkinan besar kami sedang diserang dengan kampanye negatif oleh pihak Joto.
Setelah menjelaskan secara singkat…
“……!”
Wajah
Asahi-san berubah pucat karena terkejut.
Reaksi itu membuat kami juga terkejut.
Seolah-olah dia memiliki firasat tentang sesuatu――.
“…… Maaf kan aku ! Aku ada urusan mendadak!”
Asahi-san melemparkan tasnya dan berlari menuju gedung sekolah.
“Asahi-san!?”
Urusan mendadak …? Dalam situasi seperti ini, jelas -jelas bahwa dia berlari karena ada hubungannya dengan kampanye negatif.
Aku mengambil tas Asahi-san.
“Maaf!
Aku percayakan pembagian selebaran padamu!”
Aku menyerahkan selebaran kepada Kita dan mengejar Asahi-san.
Setelah masuk ke dalam gedung sekolah, Asahi-san berlari lurus di koridor tanpa mengganti sepatunya. Untuk mengejarnya, aku juga harus masuk ke gedung dengan sepatu kotor.
(Gedung kelas satu…?)
Gedung kelas satu di Akademi Kekaisaran terletak terpisah dari gedung utama. Setelah melewati koridor dan menaiki tangga, Asahi-san masuk ke gedung kelas satu dan langsung melangkah ke dalam kelas.
“――Rintarou!”
Suara marah Asahi-san menggema di sepenjuru ruang kelas.
Rintarou yang berada di dalam kelas membuka matanya lebar-lebar karena kedatangan mendadak kakak perempuan nya.
“ Nee-san, ada apa?”
“ Padahal sudah kubilang kalau cara seperti ini tidak boleh digunakan !”
Asahi-san berteriak d engan ekspresi marah.
Aku belum pernah melihat Asahi-san seperti ini. Dia tipe orang yang selalu ceria, periang, dan optimis, dan jika dipikir-pikir, dia juga sangat peka terhadap suasana di sekitarnya. Itulah sebabnya dia menjadi penghangat suasana di kelas 2 A.
Namun sekarang, dia mengabaikan semua tatapan orang di sekitarnya dan berteriak.
“Tenanglah.
Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan――”
“――Kampanye negatif!”
Wajah Rintarou seketika menegang.
Mata Rintarou sejenak mengalihkan pandangannya ke arahku yang berdiri di belakang Asahi-san. Tatapannya terasa sangat dingin, tetapi dalam sekejap kembali normal.
“……Apa maksudmu?”
“Jangan berpura-pura bodoh! Aku bisa menge tahu inya ! Karena cara yang digunakan sama persis!”
Suara
Asahi-san dipenuhi kemarahan sekaligus terdengar seperti ingin menangis.
Apa maksudnya bahwa cara yang digunakan sama?
Tidak, yang lebih penting lagi, apakah
Asahi-san berpikir bahwa kampanye negatif ini merupakan ulah Rintarou?
“Rintarou…… berhentilah melakukan hal seperti ini. Aku mengerti perasaanmu, tetapi……”
Asahi-san menggigit bibirnya dengan ekspresi sedih.
Di dalam kelas yang sunyi, Rintarou menghela napas.
“ Kamu b erisik sekali.”
Rintarou menatap Asahi-san dengan tajam.
Tatapannya tidak kalah dari Asahi-san sebelumnya…… menyala dengan kemarahan yang tak terhingga.
“ Apa yang ingin kamu ajarkan padaku, dasar pengkhianat yang sok hebat ?”
“――”
Asahi-san terdiam.
Kemudian Rintarou mengalihkan pandangannya dari Asahi-san yang terdiam kepadaku dan menundukkan kepala nya.
“T omonari -senpai, maaf kan aku karena sudah melibatkanmu dalam hal aneh ini.”
“Tidak, aku……”
“Jangan khawatirkan itu. Ini hanya pertengkaran antara saudara, semuanya tidak ada hubungannya dengan pemilihan kali ini.”
Setelah mengatakan itu, Rintarou juga menundukkan kepala kepada teman-teman sekelasnya.
Siswa-siswa kelas satu yang kebingungan perlahan-lahan mulai kembali ke suasana damai dan ceria.
Asahi-san tidak berbicara. Sebagai gantinya, dia pergi meninggalkan gedung kelas satu dengan langkah yang kuat, seolah-olah giginya menggeretak.
◆◆◆◆
Setelah keluar dari gedung kelas satu, Asahi-san tampaknya sudah sedikit lebih tenang, dia melepas sepatu luar yang masih dipakainya dan mulai berjalan dengan kaus kakinya. Aku juga melepas sepatu dan berjalan satu langkah di belakang Asahi-san.
Aku pikir
Asahi-san akan mengambil sepatu dari kotak sepatu, tetapi dia justru mengenakan kembali sepatunya di tengah koridor dan menuju ke arah taman.
Aku juga melakukan hal yang sama, mengenakan sepatu dan mengikuti langkahnya.
“……Pelajaran sudah mau mulai, lho?”
Tanpa menoleh ke arahku, Asahi-san berhenti dan berkata.
“ Aku tidak bisa membiarkan Asahi-san sendirian dalam keadaan seperti ini.”
“……Kamu memang baik sekali ya, Tomonari-kun.”
Suara
Asahi-san terdengar sedikit bergetar.
“Seandainya aku bisa sebaik itu juga……”
Asahi-san tertawa kering dengan nada me ncela dirinya sendiri, lalu mendekati meja di bagian dalam taman dan duduk di kursi yang kosong.
Asahi-san mengulurkan kedua tangannya dan mendorongku untuk duduk di hadapannya.
Aku duduk di depan Asahi-san. …Aku akan minta izin untuk tidak mengikuti pelajaran pertama.
“Asahi-san.
Aku rasa belum tentu Rintarou adalah otak di balik kampanye negatif ini.
Mungkin Asahi-san hanya salah paham――”
“――Rintarou lah pelakunya.”
Asahi-san menyatakan dengan tegas.
“Rintarou melakukan hal yang sama di rumah, jadi aku bisa tahu.”
Asahi-san mulai bercerita.
“ Keadaan p erusahaan kami, sebenarnya sedikit rumit. Manajemennya memang bisa berjalan baik, tetapi ada ketegangan antara karyawan……”
Mungkin dia berbicara tentang perusaan
Jaze Holdings.
Aku pernah mencari informasi tentang perusahaan itu saat permainan manajemen.
Seharusnya mereka adalah perusahaan yang baik dengan keuntungan yang terus berlanjut selama bertahun-tahun……
“Papa ku yang men jadi presiden perusahaan sebenarnya lulusan Akademi Kekaisaran. Tapi sepertinya pandangannya terlalu sempit, sehingga karyawan tidak bisa mengikuti nya. Kepekaannya terhadap finansial dan ketidakberdayaan yang terlihat dari kata-katanya merusak kepercayaan. …Sepertinya dia menghabiskan terlalu banyak uang untuk makan malam dengan klien. Bagi Papa, itu adalah klien penting, jadi di riny a hanya ingin bersikap baik.”
Asahi-san tersenyum kosong.
Kamu tidak bisa tahu apa yang benar…… aku bisa mendengar suara hatinya.
“Karena tidak ada masalah dalam manajemen, kurasa ia memiliki pemahaman yang benar tentang pekerjaan. Namun, kesalahan terjadi dalam hubungan antar manusia. Hal semacam itu tidak diajarkan di akademi, iya ‘ kan? …Banyak karyawan di perusahaanku adalah orang-orang biasa, jadi tipe orang seperti Papa dianggap sangat asing.”
Asahi-san berkata dengan sedih.
“Aku dan Rintarou melihat kesulitan Papa sejak masih kecil.
…Karena kami melihatnya secara langsung, kami mulai merasa bahwa kami tidak boleh menjadi seperti itu.”
Sepertinya
Asahi-san sudah mengalami banyak kesulitan sejak kecil. Tentu saja itu bukan perasaan yang baik. Ayahnya dianggap tidak diinginkan di perusahaan. Perasaan
Asahi-san ketika melihat punggung ayahnya sangat sulit untuk dibayangkan.
“Jadi, ketika kami masih kecil, aku dan Rintarou berjanji. Kita akan membuat perusahaan yang benar-benar menjadi sekutu masyarakat biasa.”
Setelah mendengar masa lalu Asahi-san, titik-titik yang ada dalam pikiranku mulai terhubung. Rintarou pernah mengatakan bahwa dia ingin berwirausaha di masa depan. Dan…… Rintarou menyebut Asahi-san sebagai pengkhianat.
“……Kalian berdua berjanji untuk berwirausaha bersama, ya?”
“Ya.
Tapi, aku melanggar janji itu.”
Asahi-san mengangguk pelan dan menancapkan kukunya di punggung tangannya di atas meja.
Seolah-olah itu adalah penebusan dosa nya. Ada rasa bersalah yang mendalam dalam diri Asahi-san, seolah-olah dia merasa harus merasakan sakit saat menceritakan hal ini.
“Aku memutuskan untuk mewarisi perusahaan keluarga. …Dan Rintarou yang merasa dikhianati, tidak lagi memilih cara untuk mendirikan perusahaannya sendiri.”
Aku teringat pada tatapan dingin Rintarou yang membuat merinding sejenak.
“Rintarou mulai memanfaatkan posisinya sebagai anak presiden untuk masuk dan keluar dari perusahaan. Tak lama setelah itu, ketegangan antara karyawan semakin parah.”
Mengapa ketegangan itu memburuk?
Asahi-san menceritakannya dengan ekspresi yang menyedihkan.
“Rintarou menyebarkan rumor buruk tentang Papa. Pada saat yang sama, ia mengungkapkan niatnya untuk berwirausaha dan mulai merekrut karyawan yang berbakat. …Rintarou membentuk fraksi. Dia mengejek orang-orang yang mendukung Papa sebagai golongan borju is, dan menciptakan suasana bahwa mereka adalah golongan rakyat. Rintarou berencana untuk menyatukan orang-orang dari golongan rakyat biasa dan akhirnya merekrut semuanya.”
Karena Rintarou pernah melakukan hal semacam itu di masa lalu, Asahi-san tampaknya beranggapan bahwa kampanye negatif kali ini juga dilakukan oleh Rintarou. Memang, situasinya terasa mirip.
“Ketika aku menyadari tindakan Rintarou, semuanya sudah terlambat. …Pada saat itu, seorang anak SMP dengan tenangnya masuk dan keluar dari perusahaan, bahkan lebih dekat dengan Papa daripada aku. Rintarou memiliki bakat seperti itu. I a menggunakan kecerdikan…… tidak, siasat untuk mencapai tujuannya.”
Asahi-san berbicara dengan suara yang lemah.
Kesedihan
Asahi-san ketika melihat bakat adiknya yang luar biasa dapat dirasakan dalam suaranya.
“Tapi, pada dasarnya semua ini bermula …… karena aku yang membuat Rintarou sendirian.”
Asahi-san mengeluh bahwa dialah yang mendorong bakat itu.
“Aku yang membuat Rintarou tertekan. …Bagaimana mungkin kata-kata itu bisa sampai, jika aku yang mengatakan untuk berhenti?”
Asahi-san berkata d engan pandangan yang tertunduk.
Jika dilihat dari sudut pandang Rintarou, alasan kemarahannya sangat jelas. Mereka berdua telah berjanji untuk berwirausaha bersama. Namun, kakaknya memilih untuk mengkhianati dan mewarisi perusahaan. Ada ruang untuk bersimpati terhadap Rintarou yang terpaksa berjuang sendirian, sehingga ia tidak lagi memilih cara dalam keputusasaannya.
“……Maaf ya! Padahal kamu sudah sibuk dengan pemil ihan OSIS, adikku justru malah merepotkanmu!”
Asahi-san tiba-tiba mengangkat wajahnya dan berkata dengan nada ceria seperti biasa.
“ Aku b enar-benar minta maaf! Suasana jadi suram begini, dan aku sekarang paling keji, ‘ kan!?
Maksudku, pelajaran pertama sudah dimulai! Ayo cepat ke ruanng kelas! Tomonari-kun, ini waktu yang penting, jadi kamu pasti tidak ingin menarik perhatian guru, kan!?”
Asahi-san meminta maaf d engan kedua tangan bersatu dan kepala menunduk.
Dia tidak lagi merasa terpuruk. Dia baik-baik saja. Dia sudah pulih sepenuhnya, jadi tidak perlu khawatir.
Aku menatap Asahi-san yang berusaha menunjukkan semangat dengan gerakan tubuhnya.
“ Kamu t idak perlu memaksakan diri.”
Senyum
Asahi-san seketika membeku.
“ Orang yang paling terluka saat ini adalah Asahi-san. Ja di, kamu tidak perlu meng khawatirkan aku.”
Aku mengerti bahwa dia berpura-pura ceria karena mengkhawatirkanku.
Tapi…… itu juga menyakitkan bagiku.
Asahi-san yang wajahnya serius mulai meneteskan air mata. Ini adalah pertama kalinya aku melihat Asahi-san seperti ini, dan justru karena itu, aku merasa bisa melihat wajah aslinya.
Asahi-san merupakan orang yang s elalu ceria dan menjadi penggembira suasana. Namun,
Asahi-san juga adalah seorang manusia yang menyimpan sesuatu. S ama s eperti orang lain, dia juga bisa marah dan menangis.
“Maaf…… hanya sedikit, hanya sedikit saja……”
Butiran a ir mata Asahi-san semakin besar, dan dia mulai menangis seolah-olah bendungan nya telah jebol.
“Aku akan segera…… kembali seperti biasa……”
“……Ya.”
M ungkin itu sudah menjadi sifat Asahi-san karena m eskipun dirinya begitu terluka, dia masih memikirkan orang di depannya. Aku ingin mengatakan bahwa dia tidak perlu kembali seperti biasa, tetapi mungkin bagi Asahi-san, kembali seperti biasa merupakan semacam pelindung. Sebuah perlindungan untuk melindungi hatinya.
Sejak hari pemilihan dimulai, Asahi-san terkadang terlihat canggung.
Dia pasti sudah lama berpikir sendirian tentang bagaimana harus menghadapi Rintarou.
Melihat
Asahi-san yang diam-diam menangis, aku merasa ada satu hal yang harus kulakukan.
Pada jam i stirahat siang ini―― aku akan berbicara dengan Rintarou.
◆◆◆◆
Istirahat siang. Saat aku menuju gedung kelas satu, aku melihat Rintarou berjalan di koridor dan memanggilnya.
“Rintarou, ada sesuayu yang ingin ku bicarakan denganmu.”
“ Baiklah.”
Rintarou tampaknya sudah berencana untuk membantu pidato Jo u to, tetapi ia segera menerima ajakanku. Kami berpindah ke meja yang afa di taman. Rintarou yang menyadari bahwa percakapan yang akan berlangsung tidak ingin didengar orang lain, sengaja berjalan ke tempat yang lebih jauh ke dalam.
Secara kebetulan, tempat yang diduduki Rintarou merupakan tempat yang dipenuhi penyesalan Asahi-san.
“Apa yang ingin kamu bicarakan? Apa kamu ingin bergabung dengan kami, Tomonari-senpai ?”
“Tidak.”
“Sayang sekali. Aku benar-benar berharap bahwa itu lah yang ingin kamu bicarakan ……”
Begitu kami berdua duduk, Rintarou menatapku dengan harapan, tetapi aku menggelengkan kepala.
Kurasa ia mungkin meninggalkan bantuan pidato untuk meluangkan waktu berbicara denganku karena ada harapan itu. Aku merasa menyesal telah membuatnya berharap.
“Aku ingin membahas tentang Asahi-san.”
Setelah mengatakannya dengan jelas, Rintarou menghela napas kecil.
“Aku akan mengatakannya lagi, itu hanya pertengkaran antar saudara. T omonari-senpai tidak perlu meng khawatir kan itu …… Pada dasarnya, kakakku berpikir bahwa aku telah melakukan kampanye negatif terhadapmu, tetapi tidak ada bukti――”
“―― Dalangnya itu kamu, iya ‘kan? Rintarou.”
Aku mengulangi pernyataanku kepada Rintarou yang terdiam.
“Yang melakukan kampanye negatif adalah Rintarou.”
“……Bagaimana kamu bisa begitu yakin?”
Aku menjelaskan alasanku kepada Rintarou berusaha berbohong. Alasan mengapa firasat Asahi-san benar.
“Saat ini, ada beberapa rumor buruk tentang Tennouji-san yang beredar. Apa kamu tahu isinya?”
“……Ya, aku juga terlibat dalam pemilu, jadi aku mendapatkan beberapa informasi nya.”
Kalau begitu, pembicaraan ini akan cepat.
Korban dari kampanye negatif bukan hanya Nar i ka, tetapi juga Tennouji-san. Aku menyebutkan satu rumor yang kudengar dari
Suminoe-san pagi ini.
“Pelajaran etika berpakaian dibagi berdasarkan tingkat sosial yang dihadiri siswa sehari-hari, sehingga perbedaan latar belakang keluarga menjadi terlihat.…… Begitulah rumor yang beredar.”
“ Aku m emang pernah mendengar rumor seperti itu.”
Seolah-olah bertanya, “ Memangnya kenapa ?” Rintarou menatapku.
“Tennouji-san tidak pernah mengatakan apa-apa tentang pelajaran etika berpakaian.”
Rintarou terkejut.
“……Tetapi,
T omonari-senpai pernah mengatakan nya padaku, ‘ kan? Dalam pidato berikutnya, dia akan menjelaskan tentang tujuan mengadakan pelajaran etika berpakaian.”
“Dia membatalkannya.
Dia berpikir bahwa jika dia membahas ini dalam pidato, itu akan menciptakan kesalahpahaman seperti yang sedang dirumorkan sekarang.”
Aku membicarakannya dengan Tennouji-san di menit-menit terakhir dan memutuskan untuk membatalkan penjelasan tentang kursus pelajaran etika berpakaian.
Kami ingin menjadikan akademi ini tempat di mana semua orang bisa hidup dengan mulia. Ketika melihat tujuan itu, dia memutuskan untuk tidak melanjutkan janji yang sedikit memperlihatkan perbedaan latar belakang keluarga.
Namun entah mengapa, ada rumor yang menyebutkan bahwa Tennouji-san akan melaksanakan kursus pelajaran etika berpakaian, dan bahkan ada kampanye negatif terhadapnya.
Seseorang telah membocorkan rencana kami.
“Satu-satunya yang tahu bahwa kami merencanakan pelajaran etika berpakaian adalah…… hanyalah kamu,
Rintarou.”
Rintarou mengatupkan bibirnya dan terdiam.
Saat ini, kampanye negatif yang beredar di akademi menguntungkan pihak Jo u to. Pada titik ini, aku sudah memperhatikan Jo u to dan Rintarou.
Namun, jika ada alasan lain untuk meragukan Rintarou, itu adalah kecepatan penyebaran rumor.
Siapa pun yang mengenal Tennouji-san dan Nar i ka dengan baik pasti akan segera menyadari bahwa rumor tersebut sama sekali tidak benar.
Kehidupan mereka yang mulia terukir dalam ingatan banyak siswa, dan itulah sebabnya mereka terkenal di akademi, sehingga posisi mereka bisa sejajar dengan Hinako. Siapa pun yang mengetahui tentang mereka tidak akan menyebarkan rumor begitu saja, dan lebih memilih untuk tidak menghiraukannya.
Namun, rumor itu menyebar.
Artinya, orang-orang yang tidak mengenal Tennouji-san dan Narika dengan baik yang menyebarkan rumor tersebut. Menyadari hal ini, aku berpikir bahwa sumber rumor itu pasti bukan dari teman sekelas. Mungkin dari siswa kelas tiga atau kelas satu …… Siswa kelas 3 pasti sudah melihat Tennouji-san ketika mereka masih di kelas 2, jadi aku mencurigai bahwa pelakunya berasal dari kelas satu.
Api rumor itu menyebar di antara kalangan siswa kelas satu.
Tempat itu seperti panggung pribadi Rintarou, sebuah wilayah yang sulit dijangkau oleh kami. Jadi ketika rumor itu sampai ke telinga kami, sudah terlalu terlambat untuk menghentikannya.
Rintarou menghela napas seolah menyerah dan menundukkan kepalanya.
“Aku menyerah. Persis s eperti yang di duga Senpai, akulah yang mendalangi kampanye negatif ini.”
“……Ka m u mengakuinya begitu saja.”
“ Terlepas dari situasi dan buktinya, aku tidak bisa membantah setelah mendengar penjelasan seperti itu.……
Ini benar-benar seperti pepatah, ‘strategi yang cerdik terjebak dalam strateginya sendiri. ’ Aku terdesak oleh penyebaran rumor dan tidak bisa mendengarkan pidato Tennouji-san dengan baik.”
Rintarou mengungkapkan penyesalannya.
Memang benar, jika ia mendengarkan pidato Tennouji-san dengan baik, ia pasti akan menyadari bahwa kami membatalkan kursus pelajaran etika berpakaian.
“Sejujurnya, aku berencana untuk memberitahu T omonari-senpai tentang kampanye negatif ini pada waktu yang tepat, jadi ini hanya masalah waktu saja.”
……Apa i a berniat memberitahuku?
Mengapa dia merasa itu baik-baik saja bagiku?
“………………Apa ka m u meremehkanku?”
Ketika aku menunjukkan kejengkelanku,
Rintarou menatapku dengan ekspresi terkejut.
“……T omonari-senpai juga bisa emosional, ya.
Aku pikir ka m u adalah orang yang lebih rasional.”
“Aku bukan nya orang yang rasional. Hanya saja di Akademi Kekaisaran, ada banyak hal tidak berjalan baik hanya dengan berdasarkan emosi.”
Itulah sebabnya, aku juga bisa marah.
Aku jadi teringat dengan
Asahi-san ketika kami mengobrol pagi ini. Aku membayangkan bagaimana perasaan
Asahi-san saat dia menangis ketika dirinya yang biasanya ceria.
Aku tidak ingin melihat wajah seperti itu lagi pada Asahi-san.
“Aku sudah mendengar dari Asahi-san. Setelah
Asahi-san memutuskan untuk mewarisi bisnis keluarga, Rintarou yang kini sendirian tertekan dan melakukan segala cara demi tujuanmu.”
“……Aku tidak menyangkalnya.”
Rintarou mengangguk.
“Sejujurnya, aku merasa ber simpati padamu.…… Namun, cara seperti ini tidak baik.”
Rintarou yang terasing pasti sangat terluka.
Demi bisa memulai bisnis di kehidupan nyata, di riny a harus melewati rintangan yang jauh lebih berat daripada permainan manajemen. Apalagi Rintarou pasti mengejar bisnis yang mungkin cukup besar. Sulit bagi seseorang untuk mencapai segalanya sendirian.
Aku tidak bisa membayangkan seberapa dalam terpuruk nya
Rintarou dalam tekanan itu.
Namun――――.
“Tolong, aku mohon padamu. Tolong berhenti menyebarkan rumor lebih jauh lagi. Asahi-san merasa bertanggung jawab dan menderita.”
Aku menundukkan kepala ku kepada Rintarou.
Tennouji-san dan Narika juga pasti terluka di dalam hati karena reputasi buruk yang tidak berdasar.
Ini sama sekali bukan strategi. Melainkan hanya konspirasi. Mungkin ini adalah taktik yang masuk akal bagi Rintarou dan yang lainnya untuk menang dalam pemilihan, tapi ada orang-orang yang terluka karena tindakan nya.
Ada orang yang diam-diam menangis.
“……Tolong angkat kepalamu.”
Ketika aku perlahan mengangkat kepala, Rintarou menatapku dengan tenang.
“Begitu……”
Setelah berpikir sejenak, Rintarou membuka mulutnya.
“Kalau begitu, jika Senpai mau bergabung dengan pihak kami, aku akan menghentikannya.”
“Ka m u……. !! ”
“Jangan salah paham dulu. Aku tidak mengejekmu, Senpai.”
Ketika aku berdiri karena mengira dirinya sedang bercanda, Rintarou mengatakannya dengan serius.
Tatapan matanya serius. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang dipikirkan Rintarou, tetapi tatapan serius itu menusukku dan membuat kemarahan di dalam diriku tidak memiliki tempat untuk dijadikan pelampiasan.
“Sekarang, ka m u sedang berusaha menyerap simpatisan Konohana-senpai, iya ‘ kan?”
“Bagaimana ka m u bisa menge tahu i itu……?”
“Sepertinya ka m u sudah membagikan suvei. Pertanyaan tentang apa yang diinginkan orang-orang jika Konohana-senpai menjadi ke tua OSIS.
Kuesioner itu juga sampai dikirimkan pada ku.”
Hal tersebut merupakan usulan yang diminta Tennouji-san untuk mengetahui apa yang diinginkan orang-orang yang ingin mendukung Hinako. Ternyata kuesioner itu telah sampai ke tangan Rintarou juga.
Ada b anyak hasil yang didapat. Ternyata kuesioner itu sudah sampai ke siswa kelas satu dalam setengah hari.
“Ide ini sungguh luar biasa, tapi yang paling mengejutkan adalah Tennouji- senpai yang biasanya bersaing dengan Konohana-senpai, bersedia menerima hal ini.…… semuanya itu pasti karena pengaruhmu. Kekuatan T omona ri-senpai yang sangat berbeda dari Akademi Kekaisaran mempengaruhi orang-orang di sekitar mu.”
Rintarou menundukkan kepala.
“T omona ri-senpai, tolong bergabunglah dengan kami. Kami membutuhkanmu.”
Posisi nya telah terbalik.
Namun, aku tidak mengerti.
Aku sama sekali tidak tahu apa yang diinginkan Rintarou.
Rasa hormat Rintarou padaku tidak terasa seperti kepura-puraan. Aku tidak berpikir bahwa ia hanya ingin memperbaiki situasi ini.
Meski begitu…… tidak peduli apapun tujuan Rintarou, keinginanku masih tidak akan berubah.
“ Ada orang lain yang ingin aku jadikan ketua.”
Rintarou tidak mengangkat kepalanya yang menunduk.
Aku tidak mengerti bagaimana perasaan Rintarou yang begitu tertekan saat ini.
Chapter 3 — Keretakan
Antara Kakak Beradik
Bagian 2
Se pulang sekolah hari itu. Ketika aku kembali ke kediaman keluarga
Konohana, aku secara alami menjelaskan situasinya kepada Hinako.
“…… Begitu rupanya, jadi rumor itu disebarkan oleh adik laki-lakinya
Asahi-san, ya.”
Rintarou berusaha menjebak kami. Hanya itu lah yang bisa aku jelaskan.
Kurasa l ebih baik kalau aku tidak membicarakan masalah keluarga Asahi-san. Mengungkapkan kehidupan pribadinya tanpa izin adalah sesuatu yang tidak pantas.
“……Apa rumor itu akan berhenti?”
“…… Entahlah, aku t idak tahu. Mungkin, itu tidak akan berhenti.”
Rintarou mengatakan bahwa ia akan menghentikannya jika aku bergabung dengan pihak Jo u to.
Karena aku menolak tawaran itu, kemungkinan Rintarou akan menghentikan kampanye negatif sangat kecil.
“ Yah, dari apa yang kudengar, sepertinya anak yang bernama
Rintarou -kun itu tidak akan berhenti melakukan kampanye negatif. Faktanya, itu sudah menunjukkan efek dalam pemilihan. ”
Tak uma-san yang muncul di layar laptop berkata dengan santai. Hinako melihat layar laptop dengan wajah tidak suka.
“……Itsuki.
Boleh aku memutuskan panggilan dengan orang ini?”
“ Tidak boleh. Lagipula, kamu sendiri yang ikut nimbrung ke dalam percakapan antara aku dan Itsuki. ”
“Hmm ph ……”
Hinako mengembungkan pipinya karena disodori argumen yang benar.
Saat aku melaporkan situasi pemilihan OSIS kepada
Tak uma-san melalui video call, Hinako masuk ke dalam kamarku.
Sebenarnya, pernyataan Tak uma-san yang menjadi alasan aku ingin masuk ke d alam OSIS, dan aku secara rutin melaporkan kemajuan pemilihan kepadanya.
“Aku sudah mengetahui apa yang dihilangkan dalam permainan manajemen yang dibicarakan Tak uma-san.…… Ini tentang strategi licik, ‘ kan?”
“ Benar sekali. Tapi rasanya sudah terlambat jika kamu baru menyadarinya setelah mengalami kerugian. Itsuki -kun, kamu harus lebih curiga terhadap orang lain. ”
Aku sadar bahwa kewaspadaanku mulai ber kurang.
Aku hanya fokus mendukung kegiatan Tennouji-san dan Narika. Kadang-kadang, aku memperhatikan pihak Jo u to, tapi itu hanya untuk membedakan janji-janji dan mengadopsi teknik pidato nya. Lebih dari sekadar kewaspadaan, itu lebih kepada niat untuk mengambil referensi.
Meski begitu, aku merasa kalau setidaknya aku masih tetap waspada. Aku memperhatikan apakah mereka bisa merebut tempat pidato atau menggunakan perlengkapan yang akan digunakan dalam kegiatan pemilihan sebelum kami. It u lah hal-hal yang aku perhatikan.…… Kampanye negatif adalah serangan yang melampaui prediksiku.
“……Aku tidak pernah membayangkan bahwa siswa Akademi Kekaisaran akan melakukan hal seperti itu.”
“ Jika kamu berada di dekat Hinako, wajar saja jika kamu berpikir demikian. ”
Apa maksudnya itu ?
“Ada banyak orang di akademi itu yang penuh ambisi, jadi seharusnya ada juga yang menggunakan cara-cara kotor seperti itu.…… Namun, tidak ada yang berani melakukan hal semacam itu di depan
Hinako. Meskipun mereka merencanakan trik-trik kecil, tapi tidak ada yang bisa mengalahkan Hinako. ”
Meskipun
Hinako terlihat santai, tapi dia merupakan orang yang sangat berbakat.
Memang, orang-orang seperti Hinako tidak akan terpengaruh oleh trik murahan semacam itu.
Karena selalu berada di dekat Hinako, mungkin aku telah dilindungi sampai sekarang.
Dari pihak-pihak ambisius yang bisa melukai orang lain.
“U mumnya ada dua jenis orang di Akademi Kekaisaran.
Tipe pengusaha yang merupakan anak-anak pemilik perusahaan, dan tipe politikus yang merupakan anak-anak politisi.…… ada b anyak dari tipe politikus yang menggunakan cara-cara seperti itu. Mereka telah hidup dalam dunia strategi dan intrik sejak kecil.…… Jika dipikir-pikir, mungkin kamu tidak bisa membedakan nya karena kamu selalu bergaul dengan orang-orang dari tipe pengusaha. ”
Setelah dipikir -pikirkan kembali, aku memang memiliki banyak kenalan dari tipe yang pertama. Hinako adalah contoh utamanya, dan statusku yang terlihat juga demikian, jadi mungkin itu membuatku cenderung bertemu dengan orang-orang seperti itu.
Seperti halnya ada kecenderungan pada tipe politikus, tampaknya ada kecenderungan tertentu pada tipe pengusaha juga. Mereka selalu mengutamakan hasil yang objektif. Buktinya, sebagian besar peringkat atas di akademi biasanya dari tipe pengusaha.
“ Rintarou -kun sepertinya lahir dari sisi ini, tetapi mungkin ada berbagai hal di masa lalu yang membuatnya menjadi seperti sekarang. Itulah sebabnya, aku me rasa di riny a cocok dengan calon ketua yang didukung nya. ”
Hanya karena mereka lahir sebagai anak pemilik perusahaan, bukan berarti semua orang mengikuti cara hidup yang tipikal. Rintarou mungkin mendekati cara berpikir tipe politikus karena perpisahannya dengan Asahi-san, dan pandangannya mungkin sejalan dengan Jo u to yang secara alami adalah tipe politikus.
Namun, jika memang begitu, maka ――.
“……Bagaimana dengan mu, Takuma-san?”
Aku merasakan sesuatu yang mirip dengan tipe politikus dari Takuma-san…… keinginan untuk menggunakan segala cara.
Takuma-san terdiam sejenak sebelum membuka mulut.
“ Mungkin aku juga memiliki sesuatu di masa lalu. ”
Senyum yang hanya di permukaan membuatku merasa bingung.
Apa itu hanya lelucon? Atau…… mungkin masih ada sesuatu yang tidak bisa ia katakan padaku ?
“ Bagaimanapun juga, bagi sebagian orang, ada beberapa hal yang tidak bisa dicapai tanpa mengandalkan strategi licik. ”
“Haah……”
“ Oleh karena itu, aku ingin kamu juga mempelajari beberapa strategi licik.
Sebenarnya, bidang di mana bakatmu paling bersinar adalah di sana. Jika kamu mau, kamu bisa segera meniru caraku―― ”
Hinako mengoperasikan komputer dan memutuskan panggilan dengan Takuma-san.
“Untuk
Itsuki, hal seperti itu tidak diperlukan.”
“……Terima kasih.”
Rasa percaya yang ditunjukkan Hinako membuatku senang.
Tentu saja, meskipun aku ingin mencapai tujuanku, aku tidak ingin menjatuhkan orang lain.
“Tapi, aneh sekali ……”
Hinako berkata dengan penasaran.
“ Aku tidak tahu banyak t entang Jo u to-kun, tapi …… tak peduli seberapa besar keinginannya untuk menang, dia tidak terlihat akan membiarkan kampanye negatif terjadi.…… Rintarou, bagaimana ia bisa meyakinkannya?”
“……Yah, kalau kita mengikuti logika Takuma-san, Jo u to justru adalah tipe politikus sejati.”
Karena Jo u to berada di puncak kubu, ia pasti menyadari semua tindakan Rintarou sebagai asistennya.
Faktanya, aku melaporkan setiap kegiatan ku kepada Tennouji-san dan Narika secara berkala.
Mengapa
Jo u to membiarkan kampanye negatif yang dilakukan Rintarou?
Atau mungkin, sebenarnya――.
“…… Walaupun Takuma-san mengatakan begitu, tapi……”
Aku menyampaikan pemikiranku kepada Hinako.
“ Menurutku Rintarou bukan tipe yang seperti itu.”
“……Tipe seperti apa?”
“ Bagaimana bilangnya ya …… aku merasa ia bukan tipe yang mengandalkan strategi licik semacam itu.”
“Hmm……?
Tapi kenyataannya, ia melakukan hal buruk……”
Hal buruk, ya……
Pernyataan
Hinako bersifat objektif, dan karena dikatakan dengan santainya, ucapannya itu terasa kejam dan tepat sasaran.
Tindakan Rintarou yang berusaha merusak citra pesaing dengan rumor yang tidak berdasar bisa dianggap sebagai hal yang buruk. Jika seandainya ada sesuatu yang membuat kami bersalah dan Rintarou mengungkapnya demi rasa keadilan, maka pasti ada penyebabnya.
“Itsuki memang baik hati…… apa kamu merasa kasihan pada Rintarou?”
“Yah, memang ada emosi untuk merasa kasihan padanya ……”
Apa kita benar-benar bisa menganggap Rintarou yang terdesak dan tidak memilih cara sebagai orang jahat?
Rasanya seperti sedang mengajarkan teori kebaikan manusia.
Namun……
(……Tapi rasanya, tidak begitu juga sih)
Aku memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak tentang Rintarou.
Untuk mengubah firasat menjadi keyakinan.
“…… Baikl ah”
Meskipun panggilan dengan Takuma-san telah berakhir, aku masih belum menutup laptop ku. Hari ini juga masih ada banyak hal yang harus dilakukan sampai larut malam.
Saat aku mulai mengetik di keyboard, Hinako mengintip dari belakang.
“Pekerjaan pemilihan OSIS ……?”
“Ya. Ada beberapa hal yang ingin kulakukan untuk Asahi-san.”
Aku merasakan kehadiran Hinako yang me miring kan kepala nya di belakang.
“Aku ingin memperbaiki semua rumor buruk yang beredar. Asahi-san merasa bertanggung jawab.”
Aku membuka perangkat lunak spreadsheet.
Dengan bantuan Kita dan Suminoe-san, aku berhasil mengumpulkan rumor yang beredar di akademi ke dalam file di depanku. Setelah itu, aku hanya perlu menyiapkan jawaban untuk masing-masing rumor dan menyebarkannya, tetapi karena ini adalah gelombang kedua kampanye negatif, ada lebih banyak rumor yang lebih kompleks dan beragam dibandingkan sebelumnya.
Jika aku menyiapkan jawaban yang ceroboh, mereka pasti akan memanfaatkannya, dan sepertinya akan memakan waktu untuk menyiapkan jawaban yang tepat untuk semuanya.
(Sebenarnya, aku ingin melakukan lebih dari sekadar memperbaiki……)
Aku tidak yakin bisa menyelesaikannya tepat waktu.
Hari ini adalah hari kelima masa pemilihan, dengan akhir pekan di antara Sabtu dan
Minggu. Rintarou, yang telah memastikan janji kampanye Tennouji-san dan Narika, pasti menghabiskan waktu untuk mempersiapkan kampanye negatif dengan matang.
Sementara itu, aku harus menyelesaikan semua ini dalam waktu singkat, dan seperti yang diharapkan, aku merasa tertekan oleh beban kerja yang banyak.
“Apa aku juga perlu membantu?”
“……Tidak, sebaiknya tidak.”
Aku menghentikan pekerjaan sejenak dan melihat ke arah Hinako.
“ Karena ini berkaitan dengan pemilihan. Jika diketahui bahwa Hinako membantuku, mungkin itu saja sudah cukup untuk membuat banyak orang memberikan suara. Hal tersebut bukanlah sesuatu yang diinginkan Tennouji-san atau Narika, jadi aku akan menerima niat baikmu saja.”
“……Baiklah.”
Hinako tampak sedikit sedih tetapi akhirnya mengerti.
Itu sama sekali tidak masalah jika dia hanya memeriksa naskah pidato yang telah selesai dibaca, tetapi aku tidak ingin tindakan Hinako secara aktif berpengaruh pada hasil kami. Di Akademi K ekaisaran, ada banyak siswa yang meng ingin kan Hinako menjadi ketua OSIS. Jika Hinako mendukung kandidat ketua tertentu, pasti mereka juga akan mendukung kandidat tersebut.
Tentu saja, siswa di Akademi K ekaisaran bukanlah orang bodoh. Mereka tidak akan terus-menerus memperhatikan Hinako yang tidak mencalonkan diri sebagai ketua, dan akhirnya satu per satu mereka akan menyadari hal itu. Oleh karena itu, jika aku memanfaatkan kekuatan Hinako di sini, aku merasa itu akan mengganggu kesadaran mereka.
Sejak masa pemilihan dimulai, semua orang juga mulai menyadari bahwa kami tidak mengadakan pertemuan teh di akademi. Kami tidak berniat memanfaatkan Hinako untuk kepentingan politik. Semoga mereka dapat menghadapi pemungutan suara dengan pikiran terpisah dari Hinako. Niat kami seharusnya sudah tersampaikan dengan baik.
“Maaf,
Hinako.”
“Tidak apa-apa, mau bagaimana lagi.……
Aku terlalu populer.”
Itu benar, tetapi……
Ternyata ada juga o rang yang mengucapkan kalimat itu dengan ekspresi sedih……
(……Aku harus fokus)
Aku menghadapi layar laptopku dan mulai mengisi daftar jawaban untuk rumor.
Namun, untuk memikirkan satu jawaban, aku membutuhkan beberapa menit. Meskipun semangatku tinggi, pekerjaan tidak berjalan secepat yang aku harapkan, dan rasa frustrasi semakin menumpuk.
“Hmm……”
Ketika dia m elihatku mencoba menganalisis jenis rumor, Hinako mengeluarkan suara kecil.
Sementara itu, aku terus bekerja tanpa memperhatikannya……
“Hmmmm………”
Hinako melihat pekerjaanku dengan wajah serius.
S eolah-olah …… sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu……
Mungkin ada yang salah dengan caraku. Namun, karena aku sudah mengatakan bahwa aku tidak memerlukan nasihatnya,
Hinako hanya diam dan mengamati dengan tenang.
(Sebenarnya…… jika terus begini, aku pasti tidak akan selesai tepat waktu)
Demi membuat Tennouji-san dan Narika menang, dan juga untuk Asahi-san, aku ingin menolak semua rumor sebelum pagi. Namun, dengan kemampuanku, sepertinya aku tidak akan bisa menyelesaikannya meskipun begadang.
(……Ngomong-ngomong,
Takuma-san pernah mengatakannya )
I a me nganjurkanku untuk mengandalkan
Hinako.
Dalam hal kemampuan praktis, Hinako adalah seorang jenius yang bahkan diakui oleh Kage n-san. Dalam situasi kritis ini, memilih untuk tidak mengandalkan Hinako adalah tindakan yang tidak jujur dan bodoh, bukan?
“……Meskipun aku tidak bisa meminta bantuan secara langsung,”
Setelah berpikir, aku menemukan solusi kompromi.
“Apa ada tips untuk menangani data yang besar seperti ini?”
“……Ada!”
Hinako tampak sangat senang karena diandalkan.
“Ada sih, tapi…… sebagai imbalan, aku ingin hadiah.”
“Hadiah?”
Ngomongin Hadiah dari mulut Hinako, pastinya itu ……
Aku mengambil sekantong camilan dari laci meja.
“Ini, keripik kentang.”
“B u - B ukan yang itu……!”
“Bukan keripik kentang……!? ”
Apa ini gila!? Apakah besok akan turun salju besar!? Apa ini tanda-tanda bencana!?
“……Jangan kelihatan kaget begitu.”
Itu terlalu berlebihan.
Melihat perilakunya s ampai sekarang, aku yakin hadiah yang dimaksud pasti keripik kentang, tetapi Hinako tampak sedikit tidak senang dengan pipi yang meng g emb u ng.
Hinako mendekat ke tempat tidurku,
“…………Kerjakan di sini.”
Dia menepuk-nepuk kasur.
“ Aku tidak keberatan sih, tapi apa itu hadiahnya?”
“……Hmm.”
Aku tidak begitu mengerti, tetapi memutuskan untuk mengikutinya. Karena aku menggunakan laptop, jadi aku bisa bekerja di atas tempat tidur.
Ketika aku duduk di tempat tidur,
“Jadi…… begini.”
Hinako merangkak di antara aku dan laptop. Dia terjepit di antara kedua kaki ku yang terbuka.
“……Eh,
Hinako. Ini agak…….”
“……K a - K alau begini, akan lebih mudah mengajarinya.”
Aku tidak bisa melihat layar dengan jelas……
Hampir seluruh tubuh kami saling menempel. Setiap kali aku bernapas, a ku bisa mencium aroma manis.
(Tenang, tenang…… Hinako hanya ingin dimanjakan saja ……)
Mungkin k emampuan yang paling terasah sejak aku menjadi pengurus adalah kecepatan beralih hingga bisa menenangkan pikiran. Demi menjaga ketenangan ku, aku sedikit bersandar agar menjauh dari Hinako.
“……Itsuki?”
“A p - A pa?”
Hinako menggenggam kedua lenganku yang berusaha menjauh dan menariknya kembali.
“…………Tolong, pegang dengan baik.”
Sangat sulit untuk menganggap ini sebagai jarak antar anggota keluarga. Jantungku berdebar kencang. Kepalaku merasa seperti akan meledak.
(Ini sudah…… berbahaya!)
Karena kegugupan ku, keringat terus mengucur dari seluruh tubuhku. Kepala yang kosong ini harus dipaksa untuk berpikir. Sebenarnya, kami sedang melakukan apa? …Ah, benar. Aku sedang belajar tentang tips kerja dari Hinako.
“H i - H inako!
Umm, tips apa yang akan kamu ajarkan padaku !?”
Aku tidak bisa berbicara dengan baik, tetapi mungkin Hinako juga tidak dalam keadaan tenang karena dia mengeluarkan suara aneh “nhi……” sambil melihat layar.
Apa sebenarnya tips yang akan diajarkan Hinako untuk menangani jumlah data yang sangat besar?
Setelah berpikir sejenak, Hinako membuka mulutnya lagi.
“ Untuk bisa mengolah b anyak data itu…… seperti, kita harus dibuat ringan dulu sebelum diatur……”
“Ringan……”
Kedengarannya t idak jelas, aku sama sekali tidak me mahaminya.
Di dalam benak ku, muncul gambaran awan yang melayang santai di langit.
“Hmm…… tunggu sebentar, aku akan mengungkapkan nya dengan kata-kata……”
“Jika sulit, tidak apa-apa.”
“Tidak mau…… aku ingin membantu Itsuki……”
Hinako menunjukkan sikap serius saat berpikir.
Aku meyakini bahwa jika diberi waktu, Hinako pasti bisa mengungkapkan pikirannya dengan kata-kata.
Hinako selalu bisa beralih antara keadaan malasnya yang alami dan mode Ojou-sama yang sempurna, tetapi yang dia ubah hanyalah kepribadian di permukaan, sementara kemampuannya sebenarnya tidak berubah. Dalam keadaan malas seperti sekarang, dia benar-benar tidak bersemangat, sehingga kemampuan hidupnya terlihat jelas. Namun, sebaliknya, jika dia memiliki motivasi, dia bisa berperilaku sama seperti saat dalam mode Ojou-sama yang sempurna.
Saat berperilaku sebagai Ojou-sama yang sempurna, Hinako sering mengajarkan pelajaran kepada teman-teman sekelasnya.
Artinya, dia seharusnya memiliki kemampuan untuk mengajarkan sesuatu kepada orang lain.
Kemampuan itu bahkan diandalkan oleh siswa-siswa elit di Akademi K ekaisaran ……
“……Itsuki, kamu memang mahir melihat sisi belakang data, tetapi kamu tidak bisa melihat keseluruhan data.”
Hinako yang telah berhasil mengungkapkan pikirannya dengan kata-kata mengatakannya lagi.
“Semua data harus…… dimulai dengan mengabstraksikannya dan mengklasifikasikannya berdasarkan esensinya. Misalnya, rumor ini dan rumor itu, keduanya pada dasarnya meragukan kepentingan pribadi Tennouji-san……”
“……Begitu.
Jika sudah dianalisis sampai sebanyak itu, maka aku bisa meny elesaikan nya dengan satu jawaban.”
Hinako mengangguk pelan.
“Menurutku, penting untuk memiliki insting yang tajam dalam melihat esensi. Jika kamu hanya melihat masalah di permukaan, interaksinya bisa menjadi berputar-putar…… dan itu juga memakan waktu, jadi rasanya merepotkan.”
Aku mengerti bahwa pernyataan terakhirnya adalah ungkapan jujurnya.
Namun, insting untuk melihat esensi…… rasanya aku baru saja mendapatkan kata yang baik.
Selama ini, aku memang mahir melihat orang-orang di balik data, tetapi data itu sendiri juga memiliki esensi.
Mungkin, aku bisa melihat esensi data dengan caraku sendiri. Contoh yang tepat nya i alah saat bernegosiasi dengan
Ikuno di permainan manajemen. Aku bisa melanjutkan negosiasi setelah melihat apa yang sebenarnya ingin dilakukan Ikuno…… yaitu esensinya. Dengan mengamati orang-orang di balik data, aku yakin bisa mencapai esensi data tersebut.
Namun, jujur saja, cara tersebut masih tidak efisien. Meskipun itu merupakan cara yang baik untuk memproses satu data dengan pasti, tapi untuk menangani banyak data seperti kali ini, hal tersebut memakan waktu terlalu lama. Mengamati orang-orang di balik semua data pasti akan memakan waktu yang sangat lama.
Oleh karena itu, aku harus bisa melihat esensi dari data yang tampak di permukaan.
Kemampuan untuk menangani banyak data. Itulah yang kubutuhkan sekarang.
Jika aku menjadi wakil ketua OSIS, pasti pekerjaan se macam ini akan semakin banyak. …Syukurlah, aku bisa menyadari kekurangan diriku pada waktu yang tepat ini.
……Aku merasa sangat senang.
Mengetahui bahwa aku masih memiliki ruang untuk berkembang, rasanya memang menyenangkan.
“Terima kasih, Hinako. …Aku akan berusaha.”
Hinako dan aku berdempetan dengan erat, tetapi aku melupakan hal itu dan tenggelam dalam apa yang harus dilakukan.
Aku memeriksa kembali jenis-jenis rumor yang beredar di akademi. Alih-alih menangani satu per satu dengan tergesa-gesa, aku merasa perlu untuk membaca keseluruhan dengan cepat terlebih dahulu. Setelah itu, aku akan mengelompokkan rumor yang memiliki esensi serupa dan akhirnya memikirkan solusi untuk masing-masing.
Seperti yang diakui oleh Ka gen-san dan
Takuma-san, aku memang berpikir bahwa kemampuan praktis Hinako sangat jenius.
Namun, dia tidak hanya mengandalkan bakat yang samar-samar.
Ada logika yang jelas di baliknya. Dia sangat memahami pola yang harus diikuti dan berpikir secara sistematis. Ini adalah strategi yang mengutamakan dasar dan berpijak pada kenyataan.
Ini adalah sesuatu yang…… bisa aku tiru.
Setelah bekerja selama sekitar satu jam, perlahan-lahan pikiranku mulai terbiasa dengan cara berpikir sistematis ini. Meskipun awalnya aku tidak tahu harus m em ulai dari mana dengan banyak rumor ini, aku mulai merasa semangat ketika melihat celah untuk memecahkannya.
(Jika begini…… aku bisa melakukan lebih dari sekadar perbaikan yang kuinginkan.)
Sepertinya aku bisa melakukan lebih dari yang aku inginkan sebelumnya. Secara alami, wajahku mulai tersenyum.
Setelah menyelesaikan pekerjaan ku, aku meng gendong Hinako, yang entah sejak kapan tertidur, ke dalam kamarnya, lalu diam-diam menyimpan keripik kentang di laci meja sebelum keluar dari ruangan.
◇◇◇◇
(Sudut
Pandang Rintarou)
Bahkan ketika Asahi Rintarou pulang ke rumah nya, dirinya tidak berbicara dengan siapa pun kecuali ibunya.
I a mengabaikan pelayan yang menyambutnya dan langsung kembali ke dalam kamarnya. Setelah pulang sekolah, Rintarou hanya keluar dari kamarnya saat waktu makan malam dan saat mandi.
Sekarang, ketika ibunya sedang dalam perjalanan dinas, ia sama sekali tidak berbicara dengan keluarganya. Hubungannya dengan kakak perempuan nya sangat buruk, dan ia menjaga jarak sepihak dari ayahnya.
Ayah yang bisa dianggap meremehkan itu lebih menjengkelkan daripada orang asing. Setiap kata dan tindakannya yang masuk ke dalam mata dan telinga Rintarou selalu menyentuh sarafnya. Dulu, sepertinya ia pernah memiliki prestasi yang baik, tetapi mungkin karena tidak berhasil membangun hubungan saling percaya di dalam perusahaan, sekarang ia menunjukkan penampilan yang semakin memburuk.
Ketika masih kecil, Rintarou tanpa ragu-ragu memutuskan untuk menjauh dari ayahnya.
Dengan me mperlakukan ayah nya sebagai musuh bersama, ia berhasil mendapatkan kepercayaan para karyawan, mengesampingkan ayahnya. Saat ini, di dalam Jaze Holdings, ada banyak talenta unggul yang menunggu-nunggu pendirian perusahaan Rintarou. Persiapan untuk merekrut mereka sudah siap sepenuhnya.
I a tidak menyesali keputusannya untuk meninggalkan ayahnya.
Namun, Rintarou merasa sulit untuk memahami mengapa ayahnya tidak pernah menyalahkan dirinya.
(…… Aku tidak mempedulikannya lagi.)
Ayah yang sombong dan duduk santai di atas nilai-nilai yang menyimpang. Meskipun mereka berdua sudah berjanji untuk mengambil jalan yang berbeda dari ayahnya, suatu hari, dia tiba-tiba berkhianat dan memutuskan untuk mewarisi perusahaan demi melindungi diri. Kakak perempuannya yang merupakan pengkhianat.
Bagi Rintarou, rumah ini adalah sarang orang-orang bodoh.
Di sini sama sekali bukan tempatnya.
Ini bukan tempat di mana di riny a seharusnya berada.
“ Ah. ”
Saat kembali ke kamarnya, ia bertemu dengan kakaknya, Karen.
Karena mereka berdua merupakan kakak beradik, jadi kamar mereka berdampingan.
Meskipun jarak di antara mereka semakin jauh secara emosional, kamar mereka tetap berdekatan.
Dalam situasi seperti ini, Karen selalu menunjukkan wajah yang penuh penyesalan.
Namun, hari ini, setelah menunjukkan ekspresi bersalah seperti biasanya, Karen segera pulih dan menatap Rintarou.
Melihat
Karen yang berbeda dari biasanya, Rintarou secara tidak sengaja mengalihkan pandangannya.
Rintarou dengan cepat masuk ke dalam kamarnya dan merasa kesal mengingat per cakapan sebelumnya.
“ …… Cih. ”
Apakah dia sudah berani? Sebagai seorang pengkhianat.
Tidak, sebaiknya berhenti memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Rintarou mengeluarkan laporan pemilu yang ia dapatkan pagi ini dari tasnya dan memeriksa tingkat dukungan masing-masing pihak.
(Tingkat dukungan meningkat dengan baik. Meskipun kampanye negatif akan terus berlanjut, mungkin saatnya meminta Jo u to -senpai untuk berbicara tentang pekerjaan paruh waktu.)
Waktu nya memanfaatkan saran yang diberikan oleh Tomonari Itsuki. Awalnya, ia hanya memikirkan pelaksanaan pengalaman kerja, tetapi mulai dari pidato berikutnya, ia akan mengumumkan bahwa ia juga akan mempertimbangkan izin untuk pekerjaan paruh waktu.
(Tetapi……
Tomonari -senpai sangat menge tahu i tentang pekerjaan paruh waktu, ya.)
Rintarou terkejut bahwa bukan hanya ide pekerjaan paruh waktu saja yang muncul, tetapi juga contoh konkret seperti pekerja konstruksi, pengajar les, dan manajer hotel.
I a tidak tahu sekolah SMA mana yang dihadiri Tomonari
Itsuki sebelum pindah, tetapi karena ia berasal dari keluarga yang bisa masuk ke Akademi Kekaisaran, ia pasti bersekolah di sekolah swasta yang bergengsi. … Itulah yang dipikirkan Rintarou, tetapi saat ini di rinny a merasakan perbedaan yang aneh.
Rintarou, setelah mempelajari kesalahan ayahnya dan mengembangkan perhatiannya ke dunia luar, menyadari adanya ketimpangan nilai di antara siswa Akademi
Kekaisaran. I a mengira Tomonari Itsuki adalah orang yang mirip, tetapi… mungkin berbeda.
Kekuatan Tomonari yang tidak seperti siswa Akademi
Kekaisaran bisa jadi—.
(…Jangan-jangan)
Setelah mencapai satu kemungkinan, Rintarou mengambil smartphone-nya dengan wajah serius. Di riny a memanfaatkan jaringan yang ia bangun sendiri setelah dikhianati oleh kakaknya, menghubungi orang-orang terkait di keluarga Asahi dan karyawan elit yang menjadi kandidat untuk direkrut, untuk menyelidiki kemungkinan yang ia temukan.
◆◆◆◆
(Sudut
Pandang Itsuki)
Hari keenam masa pemilu.
Aku berangkat ke sekolah lebih awal dari biasanya, menggunakan mesin cetak sekolah untuk mencetak data dari dokumen yang aku buat di rumah dan mencetak selebaran.
Ketika aku keluar ke area halaman sekolah dengan setumpuk kertas, aku bertemu dengan seorang teman sekelas perempuan.
“Eh,
Asahi-san?”
“Ah…
Tomonari-kun.”
Asahi-san tampak sedikit canggung.
“Tomonari-kun, apa kamu selalu datang pada waktu sepagi ini selama masa pemilu?”
“Ya. Asahi-san sendiri kenapa …?”
“Ehm… aku ingin meminta maaf kepada mu,
Tomonari-kun.”
Asahi-san mengatupkan bibirnya era- erat dan membuka mulutnya dengan tampang menyesal.
“ Aku minta maaf karena kemarin aku menangis. …Maaf telah membuat banyak kebingungan karena diriku.”
Asahi-san membungkuk dalam-dalam.
Jika aku tetap diam, sepertinya Asahi-san akan terus mengulangi permintaan maafnya.
Aku memang ingin Asahi-san kembali ke sosok ceria seperti biasanya.
A ku berpikir demikian dengan tulus, dan… aku memutuskan untuk menunjukkan kepada Asahi-san apa yang aku buat dengan susah payah semalam.
“Sebetulnya, aku datang lebih awal dari biasanya hari ini.”
Melihat
Asahi-san yang ke bingung an, aku menunjukkan setumpuk kertas yang ada di tanganku.
“Aku ingin mem